Erabaru.net. Dia adalah siswa berusia 12 tahun yang duduk di kelas lima sekolah dasar. Orangtuanya termasuk orang berada, ayahnya seorang pengusaha, sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga.

Prestasi di sekolah tidak bagus, setiap ujian selalu mendapat ranking pertama dari belakang, boros (menjajakan uang tanpa kendali), suka mentraktir teman-teman, dan berbelanja. Selalu bergaya “big brother”.

Gurunya juga telah memberinya hukuman berkali-kali dan melaporkan kepada orangtuanya. Tapi dia menganggap semua peringatan itu seperti angin lalu, masa bodoh. Sikapnya tetap tak berubah, selalu semaunya.

Pada saat liburan kenaikan kelas, ia dan teman-temannya keluar bermain. Di tengah jalan, ia jatuh sakit. Teman-temannya segera membawanya ke rumah sakit dan memberi tahu orangtuanya. Ayahnya yang sedang dalam perjalanan bisnis pun buru-buru pulang.

Ibunya sendirian menemaninya di tempat tidur, menatap wajahnya, tangan kasarnya itu dengan lembut membelai kepala anaknya, tampak ekspresi cemas dari raut wajahnya.

Tak lama kemudian, dokter masuk dan berkata kepada ibu anak itu: “Putramu menderita kanker kandung empedu ganas, sangat serius, bisa dioperasi, tetapi kemungkinan berhasilnya sangat kecil. Meski berhasil juga masa hidupnya paling lama 1 tahun setelah operasi.”

Sang ibu mencengkram tangan dokter dan berkata : “Tolong sembuhkan anakku, tolong dok, saya mohon pada kalian!”

Dia yang terbaring lemah di atas ranjang pasien mendengar percakapan ibunya, kemudian menangis sama seperti ibunya yang masih menangis sedih. ……

“Nak, kamu pasti bisa, kamu harus kuat, kamu bisa hidup lama, lama sekali,” hibur ibunya sambil menyeka air mata anaknya.

Ilustrasi.

Operasi berjalan lancar, ayahnya menghentikan semua pekerjaannya. menemani anaknya.

“Ayah, ibu. Aku ingin saya sekolah selama satu bulan lagi, bolehkah ?” katanya memohon.

“Ya, ya boleh, boleh… Lakukan saja apa pun yang kamu suka,” jawab ayahnya.

Pada awal semester baru, ia diam-diam menghitung sisa waktu hidupnya yang masih ada 10 bulan lagi.

“Ayah, ibu. Aku mendapatkan nilai 80. Aku di ranking tengah dari seluruh kelas,” katanya, air matanya menetes menatap lembar ujian bulanannya.

Sekarang dia punya niat untuk sekolah. Dia menemukan minat belajarnya, Setiap kali pulang sekolah, dia selalu belajar keras.

Masih ada 9 bulan lagi …

Dia pergi ke banyak tempat wisata bersama orangtuanya dan bermain banyak permainan. Mengunjungi semua kerabatnya.

Setiap saat akan menangis, dia selalu berusaha menahannya. Dia menjadi tegar dan tatapan matanya tegas.

Tetapi, suatu ketika hujan deras, dia jatuh demam, orangtuanya segera mengantarnya ke rumah sakit. Bibirnya tampak membiru, berbicara yang bukan-bukan, dan saat penyelamatan darurat gagal, dia pun menghembuskan napas terakhirnya, meninggal. Orangtuanmya jatuh pingsan dan baru pulang setelah dihibur dan diantar keluarga.

Usai pemakaman, orangtuanya menemukan sepucuk surat ketika mereka merapikan kamarnya.

Ilustrasi.(Internet)

Mereka membuka surat itu dan melihat sederet tulisan yang berbunyi :

“Ayah ibu tercinta, aku sayang sama kalian. Aku merasa sangat sedih. Mungkin aku akan segera meninggal. Terima kasih ayah ibu yang telah menemaniku selama 1 tahun ini, yang membuatku merasakan cinta dan kasih sayang, langitku tampak cerah berseri.

“Mungkin aku tidak bisa memberikannya langsung kepada kalian, mungkin ketika membaca surat ini, aku sedang menertawakan kerapuhan kalian dari sana, sebentar-sebentar menangis, tidak sekuat aku.”

“Ayah ibu, aku pergi dulu. Aku benar-benar tidak berguna, selalu tidak mau belajar dengan tekun, boros menghabiskan uang semaunya. Aku tidak berguna, sehingga membuat ayah ibu malu di sekolah.

“Aku juga selalu ditegur guru sebagai anak yang nakal, keras kepala, dan tak bisa dididik, sama sekali bukan anak yang berbakat sekolah. Tetapi selama satu bulan itu, aku telah membuktikan bahwa aku tidak sebodoh yang mereka kira, aku bisa, aku bisa meraih juara. Tapi aku tidak punya waktu lagi dan aku juga sudah tak berdaya.

“Ayah, bisakah ayah luangkan lebih banyak waktu untuk menemani ibu di rumah? Ayah selalu sibuk, selalu dinas luar, setiap kali aku selalu bersama ibu di rumah, makan malam bersama ibu dan menonton TV bersama, hanya ayah yang selalu tak pernah bersama kami seperti itu.

“Ayah membuatku tidak merasakan kasih sayang ayah, aku benci sama ayah! Namun, selama setahun itu, ayah membuatku merasakan cinta dan kasih sayang ayah lagi. Aku selalu ingin merasakan kehangatan seperti itu, dan selalu kusimpan dalam hatiku untuk mengenangnya. Aku ingin membawa serta rasa itu, tetapi aku tak bisa juga tak berdaya, aku hanya bisa mengingatnya, mengingatnya setiap hari.

“Ayah, ibu, aku pergi dulu. Ayah, engkau boleh saja membuat ibu sedih, tetapi jangan membiarkan ibu kesepian seorang diri. Ibu juga jangan selalu berkeluh kesah dan menggerutu di depan ayah..

“ Aku selalu merasa bahagia saat kita keluar dan bermain bersama, karena dalam kesanku, aku tidak pernah merasakan kebersamaan keluarga seperti itu. Aku sangat senang, terima kasih, ayah, ibu.

“Ayah, ibu, aku cinta dan sayang sama kalian! Aku benar-benar belum mau pergi … aku masih ingin merasakan curahan cinta dan kasih sayang kalian…..”(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular