- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Ketika 130.000 Warga Hong Kong Menentang ‘Kirim Buron ke Tiongkok’ dan Tuntut Bubarkan Komunis Tiongkok

oleh Chang Chun

Sekitar 130.000 warga Hong kong pada 28 April lalu berunjuk rasa. Kali ini mereka berunjuk rasa untuk menentang pemerintah Hong kong merevisi undang-undang tentang warga Hong Kong yang buron. Warga Hongkong khawatir jika rancangan itu disahkan setelah direvisi, siapapun warga yang tidak disukai pemerintah Tiongkok dapat dikirim ke daratan Tiongkok untuk diadili.

Warga yang berpartisipasi dalam unjuk rasa mengatakan bahwa unjuk rasa kali ini menampakkan kembali adegan ketika 500.000 orang warga berdemo anti-undang-undang nomor 23. Ada netizen mengatakan bahwa warga Hongkong menggunakan darah, keringat serta kehidupan mereka sendiri untuk mengungkapkan kebohongan komunis Tiongkok tentang apa yang ia janjikan yakni Satu Negara Dua Sistem.

Rancangan ‘Kirim buron ke Tiongkok’ mungkin akan disahkan oleh  Dewan Legislatif Hongkong pada bulan Juli tahun ini. Warga Hongkong khawatir sehingga turun ke jalan untuk berunjuk rasa menentang.

Alasan Undang-Undang buron direvisi adalah bahwa pada awal tahun lalu, warga Hongkong bernama Chen Tongjia kembali ke Hongkong setelah membunuh pacarnya di Taiwan. Karena antara Hongkong dengan Taiwan tidak ada pengaturan ekstradisi, jadi pemerintah Hongkong gagal mengekstradisi tersangka dari Taiwan untuk diadili. Pemerintah Hongkong kemudian memutuskan untuk merevisi undang-undang tersebut.

Pada awal tahun 2003, Pemerintah Hong kong mencoba untuk memberlakukan undang-undang Pasal 23 yang memicu 500.000 orang warga Hongkong untuk turun ke jalan. Menurut Pasal 23, Pemerintah Hongkong harus membuat undang-undang sendiri yang melarang tujuh tindakan merugikan negara seperti pengkhianatan, memecah belah negara, menghasut pemberontakan,  menumbangkan pemerintah pusat dan sebagainya. Beberapa hari yang lalu, ada berita bahwa pemerintah Beijing siap untuk berpartisipasi aktif dalam menginterpretasikan pasal no.23.

Pada saat yang sama, draft untuk revisi peraturan buron yang kontroversial sudah diserahkan  kepada Dewan Legislatif untuk dipertimbangkan. Sampai nantinya rancangan tersebut disetujui, maka tersangka kriminal Hongkong akan dapat diekstradisi untuk diadili di Taiwan, Makau atau daratan Tiongkok.

Warga Hongkong khawatir jika revisi akan dijadikan alasan bagi pihak Komunis Tiongkok untuk meminta pemerintah Hongkong mengekstradisi tahanan politik, mengambil kesempatan untuk menangkap warga atau orang asing di Hongkong yang tidak puas terhadap rezim komunis Tiongkok.

Ketua LSD (League of Social Democrats) Avery Ng mengatakan : “Parade kali ini diatur dalam waktu yang relatif singkat. Itu pun begitu banyak warga Hongkong yang keluar rumah untuk berpartisipasi. Hal ini menunjukkan bahwa warga Hongkong memiliki rasa kekhawatiran yang sama seperti saat RUU Pasal 23 akan disahkan pada lebih 10 tahun yang lalu. Khawatir dengan ancaman terhadap kebebasan dan keamanan pribadi yang kita miliki.”

Pada 28 April sore hari, Civil Human Rights Front, Hongkong meluncurkan unjuk rasa menentang ‘kirim buron ke Tiongkok’, barisan menyerukan kepada warga Hongkong untuk turun ke jalan menentang pemerintah merevisi undang-undang tentang buron. Penyelenggara unjuk rasa mengatakan : Setidaknya ada 130.000 orang warga yang berpartisipasi.

Pengacara senior Hongkong Liang Jiajie mengatakan : “Dalam unjuk rasa, saya juga melihat beberapa orang Hongkong mengatakan kepada saya bahwa mereka pada dasarnya tidak berpartisipasi lagi dalam unjuk rasa sejak protes 4 Juni 1989 (8964), tetapi ia memutuskan untuk berpartisipasi karena merasakan besarnya masalah, tidak semestinya disepelekan, jadi kita harus keluar untuk membela kebebasan dan hak asasi manusia Hongkong beserta sistem  hukumnya.”

Barisan unjuk rasa dimulai dari East Point Road di Causeway Bay dan berjalan sampai ke gedung Dewan Legislatif Hongkong. Para peserta berteriak : “Tarik kembali draf revisi undang-undang tentang buron”, “Carrie Lam (Kepala Eksekutif Hongkong Lam Cheng Yuet-ngor) turun, John Lee Ka-chiu turun” dan “Menentang kirim ke Tiongkok, anti-Hukum Jahat”.

Pengacara Liang Jiajie mengatakan bahwa banyak warga Hongkong baru tahu setelah lebih dari 2 bulan berlalu. Ternyata ada udang di balik batu dalam rencana merevisi undang-undang tentang buron yang tujuannya tak lain adalah untuk menyesuaikan kepentingan Beijing.

“Sekarang Anda mengekstradisi warga (tahanan) Hongkong ke daratan Tiongkok, maka Anda mau tak mau mengikuti prosedur interogasi yang berlaku di daratan Tiongkok, dan begitu Anda dijatuhi hukuman, Anda akan menjalaninya di penjara Daratan. Lebih penting lagi, berdasarkan pengamatan saya, kasus yang berkaitan dengan politik, atau kasus-kasus di mana komunis Tiongkok merasa itu adalah ancaman bagi kekuasaannya, maka semua kasus kriminal tersebut biasanya akan dimintai saran atau petunjuk dari otoritas administratif terlebih dahulu baru diserahkan ke pengadilan untuk diputus”, kata pengacara Liang Jiajie.

Itu juga dikarenakan pemerintah Hongkong akan merevisi undang-undang tentang buron. Lin Rongji, mantan manajer toko buku di Causeway Bay khawatir bahwa ia mungkin akan diekstradisi ke Tiongkok untuk diadili dan memutuskan untuk menetap di Taiwan. Lin Rongji mendirikan Toko Buku Causeway Bay pada tahun 1994 dan menjual banyak buku terlarang yang tidak dapat diterbitkan di Tiongkok. Pada akhir bulan Oktober 2015, ia dituduh oleh otoritas Tiongkok atas penjualan buku-buku yang ilegal dan ditahan selama hampir 8 bulan di Tiongkok.

Dalam sebuah wawancara dengan media Taiwan, Lin Rongji mengatakan bahwa jika revisi itu disahkan, tidak hanya warga Hongkong, tetapi banyak orang asing yang diburu komunis Tiongkok ketika melewati Hongkong juga dapat ditahan sesuka hati, tidak ada orang yang bisa menghindar.

Dari barisan unjuk rasa pada 28 April itu dapat terlihat baik tua dan muda, ada yang sekeluarga turun ke jalan untuk berpartisipasi, ada juga orang yang sambil mendorong kereta bayi dan menggendong balita, ada juga warga berusia lanjut berjalan sambil membawa tongkat. Ketika barisan berjalan banyak warga di tepi jalan berteriak : Bubarkan komunis Tiongkok !

Beberapa warga dalam barisan membawa slogan bertulisan : Lebih baik masuk neraka daripada dipenjara di Daratan. Masyarakat menilai : Partai Komunis Tiongkok adalah rezim yang paling jahat dalam sejarah umat manusia. Lebih buruk menghuni neraka daripada berada dalam tahanan di daratan Tiongkok.

Avery Ng mengatakan : “Bagi warga masyarakat Hongkong, tingkat hak asasi manusia dan demokrasi telah mengalami penurunan dalam 10 tahun terakhir, jadi saya juga tidak merasa terkejut dengan banyaknya orang yang tidak puas dengan komunis Tiongkok dan ingin menjatuhkannya.”

Beberapa netizen mengirim berita tweet yang isinya mendukung unjuk rasa di Hongkong tersebut. Netizen berharap bahwa “percikan api di Hongkong dapat menimbulkan kobaran di daratan Tiongkok”. Bahkan ada netizen yang menulis : Kapan masyarakat daratan Tiongkok dapat turun ke jalan untuk berunjuk rasa dan berteriak ‘Bubarkan Partai Komunis Tiongkok’ ? (Sin/asr)

Video Rekomendasi :