Roh jahat komunisme tidak lenyap dengan disintegrasi Partai Komunis di Eropa Timur

oleh Tim Editorial “Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis”

The Epoch Times menerbitkan serial khusus terjemahan dari buku baru Berbahasa Tionghoa berjudul Bagaimana Roh Jahat Komunisme Menguasai Dunia Kita, oleh tim editorial Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis.

Daftar ISI (Lanjutan)

6-Kaum Marxis Baru yang Menyembah Setan
7-Pawai Panjang Sayap Kiri Melalui Lembaga
8-Kebenaran Politik: Polisi Berpikiran Iblis
9-Penyebaran Sosialisme di Eropa
10- Mengapa Kita Tertipu oleh Trik Iblis?

Daftar Pustaka

6-Kaum Marxis Baru yang Menyembah Setan

Ketika revolusi jalanan anak-anak muda Barat benar-benar berubah pada tahun 1960-an, ada orang yang mengabaikan kenaifan, ketulusan, dan idealismenya. “Jika seorang radikal sejati  menemukan bahwa berambut panjang secara psikologis menghambat komunikasi dan berorganisasi, maka ia akan memotong rambutnya,” kata Saul Alinsky. Saul Alinsky adalah seorang aktivis radikal yang menulis buku, mengajar mahasiswa, dan secara pribadi mengawasi implementasi teorinya, yang akhirnya menjadi penghasut “para-komunis” dengan pengaruh terburuk selama beberapa dekade.

Selain menyembah Lenin dan Fiedel Castro, Saul Alinsky juga secara eksplisit memuji iblis. Dalam bukunya,  Rules for Radicals , salah satu epigraf mengatakan, “Jangan sampai kita melupakan setidaknya pengakuan berlebihan terhadap radikal utama: dari semua legenda, mitologi, dan sejarah kita (dan siapa yang tahu di mana mitologi pergi dan sejarah dimulai — atau yang mana), radikal pertama yang diketahui oleh orang yang memberontak terhadap kemapanan dan melakukannya dengan sangat efektif sehingga ia setidaknya memenangkan kerajaannya sendiri — Lucifer.”

Alasan mengapa Saul Alinsky disebut sebagai “para-komunis” adalah bahwa, tidak seperti Kiri Lama (sayap kiri politik) tahun 1930-an dan Kiri Baru (sayap kiri kebudayaan) tahun 1960-an, Saul Alinsky menolak untuk secara tegas menggambarkan cita-cita politiknya. Pandangan keseluruhannya adalah bahwa dunia memiliki “si  kaya”, “kelas menengah,” dan “si miskin”. Ia menyerukan “si miskin” untuk memberontak melawan “si kaya” dengan cara apa pun dan untuk merebut kekayaan dan kekuasaan demi mencapai masyarakat yang sepenuhnya “setara”. Ia berusaha merebut kekuasaan melalui cara apa pun, sementara pada saat yang sama menghancurkan sistem sosial yang ada. Ia telah disebut Lenin dari Kiri pasca-komunis dan “Sun-Tzu”. [1]

Dalam Rules for Radicals, yang diterbitkan pada tahun 1971, Saul Alinsky secara sistematis mengemukakan teorinya dan metode pengorganisasian masyarakat. Aturan-aturan ini termasuk “Taktik yang terlalu lama menjadi hambatan”; “Terus lakukan penekanan”; “Ancaman itu biasanya lebih menakutkan daripada ancaman itu sendiri”; “Ejekan adalah senjata paling ampuh bagi manusia”; dan “Pilih target, bekukan, personalisasi, dan polarisasi.” [2] Inti dari aturannya adalah menggunakan cara yang tidak bermoral untuk mencapai tujuannya dan mendapatkan kekuatan.

Sifat aturan Saul Alinsky yang tampaknya membosankan untuk organisasi komunitas menjadi jelas ketika diterapkan di dunia nyata. Ketika Perang Vietnam masih berlangsung pada tahun 1972, George H. W. Bush, saat itu adalah duta besar Amerika Serikat untuk PBB, memberikan pidato di Universitas Tulane. Mahasiswa Universitas Tulane yang menentang perang meminta nasihat dari Saul Alinsky, yang mengatakan bahwa bila mereka memprotes dengan metode biasa maka mereka akan  cenderung disingkirkan. Karena itu Saul Alinsky menyarankan agar mereka mengenakan pakaian Ku Klux Klan, dan setiap kali George H. W. Bush membela Perang Vietnam, mereka berdiri dengan plakat dan berkata, “Ku Klux Klan Mendukung Bush.” Para mahasiswa melakukannya “dengan hasil yang sangat sukses dan menarik perhatian.”[3]

Saul Alinsky dan para pengikutnya senang dengan dua protes lain yang ia rencanakan. Pada tahun 1964, dalam negosiasi dengan otoritas kota Chicago, Saul Alinsky menyusun rencana pengorganisasian 2.500 aktivis untuk menempati toilet di Bandara Internasional O’Hare Chicago, salah satu bandara tersibuk di dunia, untuk memaksa operasinya berhenti. Sebelum benar-benar melaksanakan rencana itu, ia membocorkan rencana itu, sehingga memaksa pihak berwenang untuk bernegosiasi. [4]

Untuk memaksa Kodak, bos besar di Rochester, New York, untuk meningkatkan rasio karyawan kulit hitam dengan kulit putih, Saul Alinsky datang dengan taktik yang sama. Memanfaatkan tradisi kebudayaan yang penting di kota itu — pertunjukan Rochester Philharmonic Orchestra yang akan berlangsung — Saul Alinsky berencana membeli ratusan tiket untuk para aktivisnya dan memberi mereka makan kacang panggang sebelumnya sehingga mereka memenuhi teater dan merusak pertunjukan dengan buang angin. Episode ini tidak membuahkan hasil, tetapi ancaman itu, serta taktik Saul Alinsky lainnya, meningkatkan posisinya dalam negosiasi.

Buku Saul Alinsky meninggalkan kesan bahwa ia adalah seorang individu yang menyeramkan, dingin, dan penuh perhitungan. Cara ia memanfaatkan  “pengorganisasian masyarakat” benar-benar merupakan bentuk revolusi bertahap. [5]

Ada beberapa perbedaan antara Saul Alinsky dengan para pendahulunya. Pertama, baik Kiri Lama dan Kiri Baru setidaknya idealis dalam retorika mereka, sementara Saul Alinsky menanggalkan “revolusi” dari lapisan idealisnya dan mengeksposnya sebagai perjuangan kekuasaan apa adanya. Saat mengadakan pelatihan untuk “organisasi masyarakat,” ia akan secara rutin bertanya kepada peserta pelatihan, “Mengapa berorganisasi?” Beberapa peserta akan mengatakan bahwa berorganisasi untuk membantu orang lain, tetapi Saul Alinsky akan meradang, “Anda ingin mengorganisir kekuasaan!” [6]

Dalam manual pelatihan yang diikuti oleh pengikut Saul Alinsky, dikatakan: “Kami tidak berbudi luhur bila tidak menginginkan kekuasaan… Kami benar-benar pengecut karena tidak menginginkan kekuasaan ”; dan “Kekuatan itu adalah baik… Tanpa kekuatan adalah kejahatan.”[7]

Kedua, Saul Alinsky tidak terlalu memikirkan pemuda pemberontak tahun 60-an yang secara terbuka menentang pemerintah dan masyarakat. Ia menekankan bahwa jika memungkinkan, seseorang harus memasuki sistem, sambil memberikan waktu untuk peluang untuk menumbangkannya dari dalam.

Ketiga, tujuan utama Saul Alinsky adalah menumbangkan dan menghancurkan, bukan untuk menguntungkan kelompok mana pun. Dengan demikian, dalam mengimplementasikan rencananya, perlu untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya dengan tujuan lokal atau bertahap yang tampaknya masuk akal atau tidak berbahaya untuk diri sendiri, untuk memobilisasi kerumunan besar untuk bertindak. Ketika orang terbiasa dimobilisasi, relatif mudah untuk memobilisasi mereka untuk bertindak menuju tujuan yang lebih radikal.

Dalam Rules for Radicals, Saul Alinsky mengatakan: “Setiap perubahan revolusioner harus didahului oleh sikap pasif, setuju, dan tidak menantang terhadap perubahan di antara massa rakyat kita. … Ingat: Sekali anda mengatur orang di sekitar sesuatu yang umumnya disepakati sebagai polusi, maka orang yang terorganisir sedang bergerak. Dari situlah langkah pendek dan alami menuju polusi politik, ke polusi Pentagon.”

Seorang pemimpin dari Pelajar untuk Masyarakat Demokratis yang sangat dipengaruhi oleh Saul Alinsky memaku inti dari meradikalisasi protes: “Masalah tidak pernah menjadi masalah; masalah adalah selalu revolusi.” Radikal Kiri setelah tahun 60-an sangat dipengaruhi oleh Saul Alinsky, dan selalu mengubah respons terhadap masalah sosial menjadi ketidakpuasan terhadap status quo secara keseluruhan, sebagai batu loncatan untuk memajukan perjuangan revolusioner.

Keempat, Saul Alinsky mengubah politik menjadi perang gerilya tanpa kendali. Dalam menjelaskan strateginya untuk pengorganisasian masyarakat, Saul Alinsky mengatakan kepada para pengikutnya bahwa mereka perlu mengenai mata, telinga, dan hidung musuh. Saat ia menulis dalam Aturan untuk Radikal: “Pertama adalah mata; jika anda telah mengorganisasi organisasi orang-orang yang luas dan berbasis massa, anda dapat membuat parade secara nyata di hadapan musuh dan secara terbuka menunjukkan kekuatan anda. Kedua adalah telinga; jika organisasi anda kecil jumlahnya, maka lakukan apa yang Gideon lakukan: sembunyikan anggota dalam kegelapan tetapi buat keributan dan desakan yang akan membuat pendengar percaya bahwa jumlah organisasi anda jauh lebih banyak daripada yang sebenarnya. Ketiga adalah hidung; jika organisasi anda terlalu kecil bahkan untuk membuat kebisingan, tebarkan bau busuk di tempat itu.”

Kelima, dari tindakannya berpolitik, Saul Alinsky menekankan menggunakan aspek paling jahat dari sifat manusia, termasuk kemalasan, keserakahan, kecemburuan, dan kebencian. Kadang peserta dalam kampanyenya akan mendapatkan keuntungan kecil, tetapi hal ini hanya membuat mereka lebih sinis dan tidak tahu malu. Untuk menumbangkan sistem politik dan tatanan sosial negara-negara bebas, Saul Alinsky dengan senang hati memimpin para pengikutnya menuju kebangkrutan moral. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa jika ia benar-benar mendapatkan kekuasaan, ia tidak akan mengurus atau mengasihani mantan rekannya.

Puluhan tahun kemudian, dua tokoh terkemuka dalam politik Amerika yang sangat dipengaruhi oleh Saul Alinsky secara diam-diam membantu mengantarkan pada revolusi yang telah menumbangkan peradaban, tradisi, dan nilai-nilai Amerika. Pada saat yang sama, protes jenis perang gerilya yang tidak dilarang dan tidak dibatasi yang dianjurkan oleh Saul Alinsky menjadi populer di Amerika sejak tahun 1970an. Ini jelas melalui protes “muntah” pada tahun 1999 terhadap Organisasi Perdagangan Dunia di Seattle (di mana para pengunjuk rasa menelan obat yang menyebabkan muntah, kemudian secara kolektif muntah di Plaza dan pusat konferensi), gerakan Menduduki Wall Street, gerakan Antifa, dan seterusnya.

Penting untuk dicatat bahwa di salah satu halaman pengantar Aturan untuk Radikal, Saul Alinsky memberikan “pengakuan kepada radikal utama,” Lucifer. Lebih lanjut, dalam sebuah wawancara dengan majalah Playboy sesaat sebelum kematiannya, Saul Alinsky mengatakan bahwa ketika ia meninggal, ia akan “dengan pasti memilih pergi ke neraka” dan mulai mengatur kelas sosial rendah di sana karena “mereka adalah orang-orang saya yang baik.” [8]

7- Pawai Panjang Sayap Kiri Melalui Lembaga

Adalah Antonio Gramsci, seorang komunis Italia terkemuka, yang mempromosikan gagasan untuk melakukan “pawai panjang melalui lembaga-lembaga.” Ia menemukan adalah sulit untuk menghasut orang-orang beriman untuk memulai revolusi untuk menggulingkan pemerintahan yang sah, dan untuk mewujudkan revolusi, kaum komunis mengandalkan sejumlah besar prajurit yang berbagi visi jahatnya terhadap moralitas, iman, dan tradisi. Maka revolusi kelas sosial rendah harus dimulai dengan subversi agama, moralitas, dan peradaban.

Setelah kegagalan revolusi jalanan di tahun 1960-an, para pemberontak mulai memasuki dunia akademis. Mereka memperoleh gelar; menjadi sarjana, profesor, pejabat pemerintah, dan jurnalis; dan memasuki arus utama masyarakat untuk melakukan “pawai panjang melalui lembaga-lembaga.” Dengan demikian, mereka menyusup dan merusak lembaga-lembaga yang sangat penting untuk pemeliharaan moralitas masyarakat Barat,  termasuk gereja, pemerintah, sistem pendidikan, badan legislatif dan yudikatif, dunia seni, media, dan LSM.

Amerika Serikat, sejak tahun 1960-an, sudah seperti pasien yang menderita sengsara yang tidak dapat dikenali penyebabnya. Ide para-Marxis telah meresap jauh ke dalam masyarakat Amerika dan telah menyebar.

Di antara banyak teori dan strategi revolusioner yang telah dikemukakan, strategi Cloward-Piven yang diajukan oleh dua sosiolog dari Universitas Columbia menjadi yang paling terkenal, dan telah diuji, dengan beberapa tingkat keberhasilan.

Konsep inti strategi Cloward-Piven adalah menggunakan sistem kesejahteraan publik untuk memaksa pemerintah runtuh. Menurut kebijakan pemerintah Amerika Serikat, jumlah orang yang memenuhi syarat untuk tunjangan kesejahteraan jauh lebih besar daripada jumlah orang yang benar-benar menerima tunjangan. Selama orang-orang ini didorong atau diorganisasi untuk mengambil manfaat, mereka akan segera menggunakan dana pemerintah, memastikan bahwa pemerintah tidak akan dapat memenuhi kebutuhan.

The National Welfare Rights Organization (NWRO) atau Organisasi Hak Kesejahteraan Nasional berada di belakang implementasi strategi ini. Menurut statistik, dari tahun 1965 hingga 1974, jumlah keluarga orangtua tunggal yang menerima tunjangan melonjak dari 4,3 juta menjadi 10,8 juta — lebih dari dua kali lipat. Pada tahun 1970, 28 persen dari anggaran tahunan Kota New York dihabiskan untuk biaya kesejahteraan. Rata-rata, dari setiap dua orang yang bekerja, satu orang menerima manfaat. Dari tahun 1960 hingga 1970, jumlah orang yang menerima tunjangan di New York City meningkat dari 200.000 menjadi 1,1 juta. Pada tahun 1975, Kota New York hampir bangkrut.

Strategi Cloward-Piven dimaksudkan untuk menciptakan krisis. Dengan demikian dapat dianggap sebagai implementasi lain dari teori Saul Alinsky, salah satunya adalah untuk “membuat musuh menghayati buku peraturannya sendiri.”

Sejak Revolusi Bolshevik yang dipimpin oleh Lenin, Partai Komunis telah pandai intrik dan licik. Dengan jumlah orang yang sangat sedikit, Partai Komunis menciptakan “revolusi” yang kuat dan “krisis” yang kemudian dimanfaatkan.

Hal serupa terjadi dalam politik Amerika. Sebagai contoh, beberapa gagasan kaum Kiri di Amerika Serikat sangat radikal sehingga tampaknya tidak dapat dipahami oleh kebanyakan orang. Misalnya, mengapa anggota parlemen dan pejabat terpilih tampaknya hanya mewakili suara minoritas ekstrem (seperti transgender ), tetapi mengabaikan masalah penting mata pencaharian mayoritas? Jawabannya sederhana: Mereka tidak mewakili opini publik yang sebenarnya.

Lenin pernah mengatakan bahwa serikat buruh adalah “sabuk transmisi dari Partai Komunis kepada massa.” [9] Komunis menemukan bahwa selama mereka mengendalikan serikat buruh, mereka mengendalikan sejumlah besar suara. Selama mereka mengendalikan suara, mereka dapat membuat pejabat terpilih dan anggota parlemen melakukan penawaran mereka. Oleh karena itu, komunis berusaha untuk mendapatkan kendali atas serikat buruh, dengan demikian mengendalikan sejumlah besar anggota parlemen dan pejabat terpilih untuk mengubah program politik subversif komunis menjadi program politik sayap kiri.

Cleon Skousen menulis dalam bukunya The Naked Communist bahwa salah satu dari 45 tujuan komunis adalah untuk “menangkap satu atau kedua partai politik di Amerika Serikat,” dan ini dicapai melalui operasi semacam itu. Buruh biasa dipaksa untuk bergabung dengan serikat buruh untuk mempertahankan hak-hak dasar dan kepentingan mereka, dan dengan demikian mereka menjadi pion serikat buruh. Suatu prinsip identik adalah di tempat kerja ketika membayar biaya perlindungan kepada geng kejahatan terorganisir.
Analisis Trevor Loudon mengenai bagaimana partai-partai komunis membajak negara-negara demokratis berbicara mengenai hal ini. Ia membagi proses menjadi tiga langkah:

Langkah Satu: Pembentukan Kebijakan. Selama Perang Dingin, Uni Soviet dan sekutunya merumuskan kebijakan yang ditujukan untuk negara-negara demokratis. Tujuannya adalah untuk menyusup dan menghancurkan negara-negara demokratis, mengubah negara-negara demokratis secara damai dari dalam.

Langkah Dua: Indoktrinasi. Selama Perang Dingin, ribuan kaum komunis dari seluruh dunia menerima pelatihan setiap tahun di Uni Soviet dan negara-negara sosialis Timur. Pelatihan ini berfokus pada cara memanfaatkan gerakan buruh, gerakan perdamaian, gereja, dan kelompok non-pemerintah untuk mempengaruhi partai-partai kiri di negara mereka sendiri.

Langkah Tiga: Implementasi. Setelah Perang Dingin, kelompok-kelompok sosialis dan komunis lokal di negara-negara Barat mulai memainkan peran yang lebih dominan. Sejumlah besar orang Amerika yang dipengaruhi oleh ideologi komunis memasuki arus utama sosial. Mereka terlibat dalam politik, pendidikan, atau penelitian akademis, atau memasuki media atau organisasi non-pemerintah. Mereka menggunakan pengalaman yang dikumpulkan selama beberapa generasi untuk mengubah Amerika Serikat dari dalam, dan Amerika Serikat hampir jatuh ke tangan mereka.

Sistem negara-negara demokratis pada awalnya dirancang untuk individu-individu yang memiliki kecenderungan dan standar moral tertentu. Bagi mereka yang menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan jahat, sistem ini memiliki banyak celah untuk dieksploitasi; ada banyak cara dangkal yang sah untuk menumbangkan masyarakat yang bebas.

Ada pepatah di Tiongkok yang berbunyi, “Kami tidak takut pencuri mencuri; kami hanya takut mereka memikirkannya.” Komunis dan mereka yang dengan bodohnya bertindak atas nama komunis mencoba untuk menumbangkan sistem politik dan sosial masyarakat bebas dengan cara apa pun yang mereka mampu. Setelah beberapa dekade perencanaan dan operasi komunis, pemerintah dan masyarakat Amerika Serikat dan negara Barat lainnya telah sangat terkikis, karena pemikiran dan elemen komunis telah memasuki tubuh politik Amerika Serikat.

8- Kebenaran Politik: ‘Polisi’ Berpikiran Iblis

Negara-negara komunis mempraktikkan kendali  ketat atas ucapan dan pemikiran. Namun, sejak 1980-an, bentuk kendali bicara dan pemikiran yang lain telah muncul di Barat. ‘Polisi’ yang berpikiran menggunakan spanduk “kebenaran politik” untuk mengamuk di media, masyarakat, dan sistem pendidikan, menggunakan slogan dan kritik massa untuk menahan ucapan dan pemikiran. Meskipun banyak yang sudah merasakan kekuatan jahat dari kendali ini, mereka belum memahami asal usul ideologisnya.

Frasa seperti “kebenaran politik,” bersama dengan “kemajuan” dan “solidaritas,” telah lama digunakan oleh partai-partai komunis. Makna dangkal mereka adalah untuk menghindari penggunaan bahasa yang diskriminatif terhadap minoritas, perempuan, disabilitas, dan lainnya. Misalnya, “orang kulit hitam” harus disebut “orang Amerika-Afrika,” orang Indian Amerika disebut “orang asli Amerika,” imigran ilegal harus disebut “pekerja tidak berdokumen,” dan seterusnya.

Namun, implikasi tersembunyi di balik kebenaran politik adalah untuk mengklasifikasikan individu ke dalam kelompok sesuai dengan status korban mereka. Karena itu, mereka yang paling tertindas harus diberi penghormatan dan kesopanan paling tinggi. Penilaian ini diberikan semata-mata pada identitas seseorang, dan mengabaikan perilaku dan bakat individu, yang merupakan dasar “politik identitas.”

Gaya berpikir ini sangat populer di Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya. Menurut logika seperti itu, lesbian kulit hitam, yang tertindas di sepanjang vektor ras, jenis kelamin, dan preferensi seksual, berada pada urutan terdepan sebagai korban. Di sisi lain, pria kulit putih yang heteroseksual dianggap yang paling istimewa dan, dalam logika politik korban, harus berada pada urutan paling belakang sebagai korban.

Jenis klasifikasi ini identik dengan apa yang terjadi di negara-negara komunis, di mana individu diklasifikasikan dalam “lima kelas merah” atau “lima kelas hitam” berdasarkan kekayaan dan status kelas mereka sebelum revolusi. Partai Komunis Tiongkok melenyapkan dan menindas para pemilik tanah dan kapitalis karena status kelas mereka yang “salah”, menyerang para intelektual sebagai “Kesembilan Tua yang busuk,” dan meneriakkan bahwa “orang miskin adalah yang paling cerdas; para bangsawan adalah yang paling bodoh.”

Untuk alasan historis yang kompleks, termasuk alasan sosial dan individu, beberapa kelompok memiliki posisi politik dan sosial ekonomi yang lebih rendah, yang tidak dapat dengan mudah dijelaskan sebagai penindasan. Tetapi kebenaran politik menarik batas buatan dalam pikiran orang. Ini membentuk kembaran, yang menyatakan bahwa hanya mereka yang setuju dengan klaim kebenaran politik yang dianggap bermoral, sedangkan mereka yang tidak setuju dituduh rasis, seksis, homofobik, anti-Islam, dan sebagainya.

Universitas, yang seharusnya mempromosikan budaya kebebasan berekspresi, telah menjadi penjara bagi pikiran. Dunia dibungkam dan tidak mampu secara terbuka dan tulus bergulat dengan sejumlah masalah dalam politik, ekonomi, dan budaya. Atas nama kebenaran politik, beberapa organisasi bekerja untuk lebih mendorong agama tradisional keluar dari ruang publik. Selain itu, beberapa negara telah memperluas definisi “pidato kebencian” dan menerapkan definisi yang diperluas ini dalam hukum, sehingga menggunakan hukum untuk memaksa sekolah, media, dan perusahaan internet untuk menyesuaikan diri. [10] Ini adalah langkah menuju pembatasan yang sama terhadap pidato yang ditemukan di negara-negara komunis.

Setelah pemilihan presiden pada tahun 2016, Amerika Serikat menjadi lebih terpecah. Pawai protes meletus di kota-kota besar, dan pelanggaran kebebasan berbicara terjadi dengan frekuensi yang lebih besar. Pada bulan September 2017, sebuah penampilan oleh penulis konservatif Ben Shapiro, yang telah diundang untuk berbicara di Universitas  California – Berkeley, keluar dari topik karena ancaman kekerasan Antifa. Polisi Berkeley siap siaga dan mengirim tiga helikopter polisi; langkah-langkah keamanan diperkirakan menelan biaya lebih dari 600.000 dolar Amerika Serikat. [11]

Seorang reporter bertanya kepada seorang pemerotes mahasiswa muda, “Bagaimana dengan Amandemen Pertama?” Mahasiswa tersebut menjawab bahwa hal tersebut bukan lagi dokumen yang relevan. Ironisnya, satu peristiwa penting yang menandai dimulainya gerakan mahasiswa pada tahun 1964 adalah perjuangan untuk kebebasan berbicara di Berkeley. Saat ini, kaum Kiri menggunakan hak untuk berbicara dalam upayanya untuk menghalangi orang lain memiliki hak untuk berbicara.

Pada bulan Maret 2017, ilmuwan sosial Amerika Charles Murray diundang untuk berbicara di Middlebury College di Vermont. Ketika berada di sana, ia diserang secara fisik dan seorang profesor yang mendampinginya di kampus itu terluka. Pada bulan Maret 2018, profesor berkedudukan tetap bernama Amy Wax dari Fakultas Hukum Universitas Pennsylvania dibebaskan dari beberapa tugas mengajar setelah menerbitkan artikel yang “secara politis tidak benar”. [13] Organisasi lain, yang bertindak di bawah panji-panji menentang kebencian, telah menjuluki kelompok konservatif reguler sebagai “kelompok kebencian.” Selain itu, ada kasus-kasus penulis dan cendekiawan konservatif terancam berbicara di berbagai acara atau menghadiri berbagai acara. [14]

Gangguan terhadap kebebasan berbicara oleh kaum Kiri bukanlah bagian dari perdebatan normal antara orang-orang dengan ide yang berbeda. Sebaliknya, ini adalah mengenai roh jahat komunisme yang menggunakan orang-orang dengan niat buruk, memprovokasi mereka untuk mengaburkan kebenaran dan menekan suara-suara yang lurus, atau setidaknya normal. Pada dasarnya, kebenaran politik adalah mengganti standar politik dan moral yang menyimpang dengan standar yang benar; itu adalah ‘polisi’ yang berpikiran iblis.

9- Penyebaran Sosialisme di Eropa

Sosialis Internasional tumbuh dari Internasional Kedua, yang didirikan oleh Engels pada tahun 1889. Ketika Internasional Kedua didirikan, terdapat lebih dari 100 partai politik di seluruh dunia yang didirikan berdasarkan Marxisme. Dari partai tersebut, 66 adalah partai yang berkuasa yang menganut sosialisme di negara masing-masing. Nama “Sosialis Internasional” berasal pada tahun 1951 setelah Perang Dunia II, dan organisasi tersebut terdiri dari partai-partai sosial demokrat dari seluruh dunia.

Ada partai sosialis yang berasal dari Internasional Kedua di mana-mana di Eropa, di mana banyak dari partai tersebut bahkan menjadi partai yang berkuasa. Sosialis awal termasuk Lenin, yang mendorong revolusi kekerasan, dan orang-orang seperti Karl Johann Kautsky dan Eduard Bernstein, yang mempromosikan reformasi progresif.

Di dalam Sosialis Internasional, demokrasi sosialis dan sosialisme demokratis hampir identik. Keduanya mempromosikan gagasan bahwa sosialisme adalah sistem baru yang akan menggantikan kapitalisme. Saat ini, Sosialis Internasional adalah organisasi politik internasional terbesar di dunia yang terdiri lebih dari 160 organisasi dan anggota.

Partai Sosialis Eropa, yang aktif di Parlemen Eropa, juga merupakan sekutu Sosialis Internasional. Anggotanya adalah partai sosial demokratik dari Uni Eropa dan negara di sekitarnya. Didirikan pada tahun 1992 dan anggotanya dapat ditemukan di sebagian besar organisasi Eropa terkemuka, termasuk Parlemen Eropa, Komisi Eropa, dan Dewan Eropa.

Sampai sekarang, Partai Sosialis Eropa memiliki 32 partai anggota dari 25 negara Uni Eropa dan Norwegia, serta delapan anggota asosiasi dan lima pengamat, dengan total 45 partai politik. Partai Sosialis Eropa terlibat dalam berbagai kegiatan besar. Tujuan utama yang diklaim oleh Partai Sosialis Eropa adalah untuk memperkuat gerakan sosialis dan sosial demokratik di dalam Uni Eropa dan di seluruh Eropa dan untuk mengembangkan kerja sama yang erat antara partai-partai anggota, kelompok parlementer, dan sejenisnya. Pada dasarnya, Partai Sosialis Eropa bekerja dengan giat mempromosikan tujuan sosialis.

Partai Sosial Demokrat Swedia, partai berkuasa di Swedia, secara terbuka mengklaim bahwa ia menggunakan Marxisme sebagai panduan teoretisnya. Selama beberapa dekade di bawah pemerintahannya, partai tersebut mempromosikan ideologi sosialis mengenai kesetaraan dan kesejahteraan. Potret Karl Marx dan Engels masih tergantung di aula partai hingga hari ini.

Prinsip panduan Partai Buruh Inggris didasarkan pada sosialisme Fabian. Seperti dibahas sebelumnya, sosialisme Fabian hanyalah versi lain dari Marxisme, tetapi menekankan menggunakan metode bertahap untuk mempengaruhi transisi dari sosialisme ke komunisme, serta menganjurkan pajak tinggi, tunjangan kesejahteraan tinggi, dan ide sosialis lainnya. Partai Buruh telah menjadi partai yang berkuasa di Inggris berkali-kali dalam beberapa dekade terakhir dan selalu menganjurkan ide sosialis Fabian.

Partai Komunis Inggris juga sangat aktif dalam mencoba mempengaruhi politik Inggris, bahkan menjalankan bisnis korannya sendiri, The Morning Star. Partai ini didirikan pada tahun 1920, dan selama puncaknya, anggotanya dipilih ke House of Commons. Pada awal pemilihan umum tahun 2017 di Inggris, Partai Komunis Inggris tiba-tiba mengumumkan bahwa mereka bermaksud mendukung politisi sayap kiri terkemuka dari Partai Buruh.

Salah satu anggota penting Partai Buruh telah menghabiskan 40 tahun mempromosikan sosialisme dan nasionalisasi aset. Pada bulan September 2015, politisi ini menjadi kepala Partai Buruh, dengan keunggulan yang luar biasa yaitu 60 persen. Politisi ini telah bertahun-tahun menjadi peserta terkemuka dalam acara dan kegiatan LGBT. Ketika seorang wartawan BBC bertanya mengenai pandangannya terhadap Karl Marx, ia memuji Karl Marx sebagai seorang ahli ekonomi yang hebat dan “tokoh yang menarik yang mengamati banyak hal dan darinya kita dapat belajar banyak.”

Partai Sosialis adalah partai politik kiri-tengah terbesar di Prancis dan anggota dari Sosialis Internasional dan Partai Sosialis Eropa. Calon presidennya terpilih untuk memimpin negara itu pada tahun 2012.

Komunis veteran Italia Antonio Gramsci tidak hanya mendirikan Partai Komunis Italia pada tahun 1921 tetapi juga menjabat sebagai sekretaris jenderal Partai Komunis Italia. Hingga tahun 1990-an, Partai Komunis Italia sangat aktif, untuk waktu yang lama mempertahankan posisinya sebagai partai politik terbesar kedua di negara itu. Pada tahun 1991, partai itu berganti nama menjadi Partai Demokrat Kiri.

Jerman tidak terkecuali; Jerman adalah tempat kelahiran Karl Marx dan Engels, dan rumah bagi  Frankfurt School yang berpengaruh, ungkapan lain dari Marxisme.

Negara Eropa lainnya, seperti Spanyol dan Portugal, memiliki partai politik komunis aktif dengan pengaruh yang bermakna. Seluruh Eropa — tidak hanya negara Eropa Timur — didominasi oleh komunisme. Negara-negara non-komunis di Eropa utara, Eropa selatan, dan Eropa Barat semuanya secara sengaja atau tidak sengaja mempromosikan dan menampung ideologi dan kebijakan komunis. Tidaklah berlebihan mengatakan Eropa berada “di tangan musuh.”

10- Mengapa Kita Tertipu oleh Trik Iblis?

Sosiolog Amerika Paul Hollander, dalam bukunya Political Pilgrims, menceritakan kisah banyak intelektual muda yang terpikat dengan komunisme bepergian ke Uni Soviet, Maois Tiongkok, dan Komunis Kuba. Sementara pelanggaran mengerikan terjadi, para peziarah politik muda ini tidak menolaknya, setelah kembali ke negaranya, mereka dengan antusias menulis buku-buku yang mengagungkan kebijakan sosialis. [15]

Ideologi komunis adalah ideologi iblis, dan seiring berjalannya waktu, orang telah melihat semakin jelas bahwa ke mana pun komunisme pergi, komunisme disertai dengan kekerasan, kebohongan, perang, kelaparan, dan kediktatoran. Pertanyaannya adalah, mengapa masih ada begitu banyak orang yang dengan sepenuh hati membantu iblis menyebarkan kebohongannya, bahkan menjadi alat iblis yang patuh?

Di Amerika Serikat, misalnya, orang-orang dari periode waktu yang berbeda tertarik pada komunisme karena berbagai alasan. Anggota awal Partai Komunis Amerika Serikat adalah imigran. Status ekonomi mereka adalah rendah, dan sulit bagi mereka untuk berbaur dengan masyarakat. Maka mereka bergabung dengan Partai Komunis terutama karena pengaruh dari tanah airnya (terutama Rusia dan negara Eropa Timur).

Setelah Depresi Hebat, pengaruh Marxisme di Barat meningkat secara dramatis, dan hampir seluruh kelas intelektual di Barat mulai berbelok ke kiri. Banyak intelektual pergi mengunjungi Uni Soviet dan, setelah kembali ke negara asalnya, memberikan pidato dan menulis buku yang mempromosikan ideologi komunis. Mereka yang terlibat termasuk banyak pemikir berpengaruh, penulis, seniman, dan wartawan.

Generasi baby boomer memasuki perguruan tinggi selama tahun 1960-an, tumbuh dalam kemakmuran pasca-perang, namun mereka disesatkan oleh ideologi yang dipengaruhi komunis untuk mengambil posisi kontra-kebudayaan lainnya, dalam bentuk protes anti-perang, feminisme, dan sejenisnya. Siswa generasi berikutnya diajari materi berhaluan kiri langsung dari buku pelajaran mereka karena guru mereka adalah “radikal yang berkedudukan tetap” – “pawai panjang melalui lembaga-lembaga” komunisme akhirnya berhasil, memulai siklus yang dimaksudkan untuk mereproduksi dan mempertahankan diri selamanya.

Dalam sebuah buku yang didedikasikan untuk mengekspos komunisme, Masters of Deceit, Direktur FBI J. Edgar Hoover, yang jabatannya bertahan selama 37 tahun, mengklasifikasikan aktivis komunis menjadi lima kelompok: anggota partai terbuka, anggota partai bawah tanah, sesama pelancong, oportunis (mereka yang mendukung partai untuk kepentingan pribadi), dan korban penipuan. [16] Pada kenyataannya, ada sangat sedikit aktivis komunis yang sangat jahat dan keras; bukankah masalahnya adalah mayoritas anggota Partai Komunis hanya diterima saja?

Wartawan Amerika John Silas Reed melalui bukunya berjudul Ten Days That Shook the World  dan Edgar Snow dengan bukunya Red Star Over China memainkan peran utama dalam mempromosikan ideologi komunis di seluruh dunia. John Silas Reed adalah satu dari tiga orang Amerika yang dimakamkan di Nekropolis Tembok Kremlin, artinya ia adalah seorang aktivis komunis. Gambarannya mengenai Revolusi Oktober bukanlah pelaporan objektif mengenai peristiwa aktual, tetapi secara hati-hati dikemas sebagai propaganda politik.

Snow adalah sesama pelancong komunisme. Pada tahun 1936, garis besar wawancara yang ia berikan kepada anggota Partai Komunis Tiongkok  termasuk pertanyaan di selusin bidang, mencakup diplomasi, pertahanan melawan invasi musuh, pandangan mengenai perjanjian yang tidak setara, investasi asing, pandangan mengenai Nazi (Sosialis Nasional), dan banyak lagi. Kemudian, Mao Zedong bertemu John Silas Snow di rumah gua di Shanbei (bagian utara Provinsi Shaanxi) untuk menjawab pertanyaan sehingga kesan Partai Komunis Tiongkok yang baik dapat tercipta. John Silas yang masih muda dan naif digunakan sebagai alat oleh Partai Komunis Tiongkok yang berbahaya untuk menyiarkan kebohongan yang dikemas dengan cermat kepada dunia.

Yuri Bezmenov, mantan mata-mata KGB, mengingat pengalamannya menerima “teman” asing ketika ia bekerja sebagai mata-mata. Jadwal mereka sebagian diatur oleh Dinas Intelijen Asing Uni Soviet. Kunjungan mereka ke gereja, sekolah, rumah sakit, taman kanak-kanak, pabrik, dan banyak lagi sudah diatur sebelumnya. Mereka yang terlibat adalah kaum komunis atau orang dapat dipercaya secara politis dan telah menjalani pelatihan untuk memastikan mereka akan berbicara dengan satu suara. Ia mengutip sebagai contoh ketika Look, sebuah majalah besar Amerika di tahun 1960-an, mengirim wartawan ke Uni Soviet dan akhirnya mencetak materi yang disiapkan oleh pasukan keamanan Soviet, termasuk foto dan salinan cetak.

Dengan demikian, propaganda Uni Soviet kepada  publik melalui majalah Amerika Serikat, menyesatkan orang Amerika. Yuri Bezmenov mengatakan bahwa banyak jurnalis, aktor, dan atlet tenar dapat dimaafkan karena buta dengan kenyataan saat mengunjungi Uni Soviet, tetapi perilaku banyak politisi Barat tidak dapat dimaafkan, karena mereka menjalin kebohongan dan mencari kerja sama dengan komunis Uni Soviet untuk reputasi dan keuntungan mereka sendiri, mereka korup secara moral, kata Yuri Bezmenov.[17]

Dalam buku You Can Still Trust the Communists … to Be Communists atau Anda Masih Dapat Mempercayai Kaum Komunis… untuk Menjadi Kaum Komunis, Dr. Fred Schwartz menganalisis mengapa beberapa pemuda dari keluarga kaya memuja komunisme. Ia menyebutkan empat alasan: Pertama, kekecewaan terhadap kapitalisme; kedua, kepercayaan pada filsafat kehidupan materialis; ketiga, keangkuhan intelektual; dan keempat, kebutuhan agama yang tidak terpenuhi. Keangkuhan intelektual mengacu pada pengalaman kaum muda dari usia sekitar 18 tahun hingga 20 tahun yang dengan mudah menjadi mangsa propaganda komunis karena hanya memahami sebagian sejarah, kebencian anti-otoriter mereka, dan keinginan mereka untuk memberontak melawan tradisi, otoritas, dan budaya etnis tempat mereka tumbuh.

“Kebutuhan agama yang tidak terpenuhi” mengacu pada fakta bahwa setiap orang memiliki semacam dorongan agama di dalam dirinya, mendorong mereka untuk melampaui diri mereka sendiri. Namun, ateisme dan teori evolusi yang ditanamkan oleh pendidikan mereka membuat mereka tidak dapat memperoleh kepuasan dari agama tradisional. Fantasi komunis mengenai umat manusia yang membebaskan mengambil keuntungan dari kebutuhan manusia yang terpendam ini dan berfungsi sebagai agama mereka. [18]

Intelektual cenderung tertipu oleh ideologi radikal. Fenomena seperti itu telah menarik perhatian para sarjana. Dalam bukunya berjudul The Opium of the Intellectuals, filsuf dan sosiolog Prancis Raymond Aron menunjukkan bahwa di satu sisi, para intelektual abad ke-20 sangat mengkritik sistem politik tradisional, sementara di sisi lain, mereka dengan murah hati menoleransi atau bahkan menutup mata terhadap kediktatoran dan pembantaian di negara-negara komunis. Ia melihat para intelektual sayap kiri yang mengubah ideologinya menjadi agama sekuler sebagai orang yang munafik, sewenang-wenang, dan fanatik.

Dalam bukunya Intelektual: Dari Marx and Tolstoy hingga Sartre dan Chomsky, Paul Johnson, seorang sejarawan Inggris, menganalisis kehidupan dan pandangan politik radikal Rousseau dan belasan intelektual yang mengikutinya. Ia menemukan bahwa mereka memiliki kelemahan yang fatal yaitu arogansi dan egosentrisme. [19]

Dalam bukunya Intellectuals and Society, sarjana Amerika Thomas Sowell juga menggambarkan secara luas kesombongan yang luar biasa dari para intelektual ini.

Para sarjana ini telah mendasarkan analisis mereka terhadap intelektual komunis berdasarkan penilaian dan analisis yang cermat, tetapi kami ingin memberikan perhatian pada alasan lain, yang belum mereka bahas, yang menjelaskan mengapa para intelektual dapat dengan mudah dibodohi.

Komunisme adalah ideologi setan yang tidak termasuk ke dalam budaya tradisional di masyarakat manusia. Karena komunisme bertentangan dengan kodrat manusia, maka komunisme tidak pernah dapat dikembangkan secara organik oleh manusia, tetapi harus ditegakkan dan ditanamkan dari luar. Di bawah pengaruh ateisme dan materialisme, akademisi dan pendidikan kontemporer telah meninggalkan kepercayaan pada Tuhan. Keyakinan yang membabi buta akan sains dan pemujaan terhadap akal manusia memungkinkan orang untuk menjadi budak dari ideologi setan ini.

Sejak tahun 1960-an, komunisme telah terlibat dalam invasi besar-besaran terhadap pendidikan Amerika. Lebih buruk lagi, banyak anak muda — dibombardir oleh media sayap kiri dan diberi pendidikan yang disederhanakan — memanjakan diri di depan televisi, permainan komputer, internet, dan media sosial. Anak muda berubah menjadi “orang yang percaya diri karena apa yang dilakukannya,” orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan, perspektif global, rasa tanggung jawab, rasa sejarah, dan kemampuan untuk mengatasi tantangan. Melalui kaum komunis atau melalui ideologi komunis diwariskan oleh orangtuanya tertanam dalam diri mereka, mereka  diindoktrinasi dan untuk selanjutnya mereka akan menggunakan kerangka kerja yang keliru untuk mengevaluasi fakta-fakta baru yang mereka lihat dan dengar. Artinya, kebohongan komunis telah membentuk film di sekitar mereka, mencegah mereka memiliki pandangan yang jelas mengenai kenyataan.

Untuk menipu orang, iblis telah secara ekstensif mengeksploitasi kelemahan manusia yaitu kebodohan, ketidaktahuan, keegoisan, keserakahan, dan kepercayaan. Sementara itu, idealisme dan fantasi romantis dari kehidupan yang indah juga telah dimanfaatkan. Ini yang paling menyedihkan dari semuanya.

Faktanya, negara komunis tidak seperti fantasi romantis yang dipercayai oleh kaum komunis sejati. Jika mereka benar-benar hidup di bawah rezim komunis, bukan hanya berkunjung dalam perjalanan yang menyenangkan, mereka mungkin menyadari hal ini.

*****

Roh jahat komunis menyusup ke Barat melalui penyamaran. Hanya ketika kita melampaui fenomena konkret dan menempatkan diri kita pada bidang yang lebih tinggi kita dapat benar-benar melihat wajah dan tujuan hantu komunis.

Alasan sebenarnya roh jahat komunis dapat mencapai tujuannya adalah karena manusia meninggalkan kepercayaannya kepada dewa dan melonggarkan standar moral mereka. Hanya dengan menghidupkan kembali kepercayaan kita kepada Tuhan, memurnikan pikiran kita, dan meningkatkan moralitas kita, kita dapat membebaskan diri kita dari pengaruh dan kendali iblis. Jika semua masyarakat manusia kembali ke tradisi, roh jahat komunis itu tidak akan memiliki tempat untuk bersembunyi.

Lanjut Baca Bab Enam.

DAFTAR PUSTAKA

 [1] David Horowitz, Barack Obama’s Rules for Revolution: The Alinsky Model (Sherman Oaks, CA: David Horowitz Freedom Center, 2009), pp. 6, 16.

[2] Saul Alinsky, “Tactics,” Rules for Radicals: A Practical Primer for Realistic Radicals (New York: Vintage Books, 1971).

[3] David Horowitz, Barack Obama’s Rules for Revolution: The Alinsky Model (Sherman Oaks, CA: David Horowitz Freedom Center, 2009), pp. 42–43.

[4] “Playboy Interview with Saul Alinsky,” New English Review,  http://www.newenglishreview.org/DL_Adams/Playboy_Interview_with_Saul_Alinsky/.

[5] David Horowitz, Barack Obama’s Rules for Revolution: The Alinsky Model (Sherman Oaks, CA: David Horowitz Freedom Center, 2009). https://newrepublic.com/article/61068/the-agitator-barack-obamas-unlikely-political-education

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] “Playboy Interview with Saul Alinsky,” New English Review, http://www.newenglishreview.org/DL_Adams/Playboy_Interview_with_Saul_Alinsky/

[9] V. I. Lenin, “Draft Theses on the Role and Functions of The Trade Unions Under the New Economic Policy,” https://www.marxists.org/archive/lenin/works/1921/dec/30b.htm.

[10] Pinkoski, Nathan. 2018. “Jordan Peterson Marks Right And Left’s Side-Switch On Free Expression.” The Federalist. February 2, 2018. http://thefederalist.com/2018/02/02/jordan-peterson-marks-fulcrum-right-lefts-side-switch-free-expression/

[11] “Antifa protests mean high security costs for Berkeley Free Speech Week, but who’s paying the bill?” Fox News, September 15, 2017.  http://www.foxnews.com/us/2017/09/15/antifa-protests-mean-high-security-costs-for-berkeley-free-speech-week-but-whos-paying-bill.html.

[12] Chris Pandolfo, “TRUE COLORS: Student Leader Says 1A Doesn’t Apply to Ben Shapiro,” Conservative Review. October 20, 2017. https://www.conservativereview.com/news/true-colors-student-leader-says-1a-doesnt-apply-to-ben-shapiro/.

[13] “Penn Law professor loses teaching duties for saying black students ‘rarely’ earn top marks,” New York Daily News, March 15, 2018, http://www.nydailynews.com/news/national/law-professor-upenn-loses-teaching-duties-article-1.3876057.

[14] “Campus Chaos: Daily Shout-Downs for a Week,” National Review, October 12, 2017, https://www.nationalreview.com/corner/campus-chaos-daily-shout-downs-week-free-speech-charles-murray/.

[15] Paul Hollander, Political Pilgrims (New York: Oxford University Press, 1981).

[16] J. Edgar Hoover, Masters of Deceit (New York: Henry Holt and Company, 1958), 81-96.

[17] Tomas Schuman (Yuri Bezmenov), No “Novoste” Is Good News (Los Angeles: Almanac, 1985), 65–75.

[18] Fred Schwartz and David Noebel, You Can Still Trust the Communists…to Be Communists (Socialists and Progressives too) (Manitou Springs, Colo.: Christian Anti-Communism Crusade, 2010), pp. 44–52.

[19] Paul Johnson, Intellectuals: From Marx and Tolstoy to Sartre and Chomsky, 2007 revised edition (Harper Perennial), p. 225.

BACA Sebelumnya 

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Menguasai Dunia Kita : Pengantar

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Menguasai Dunia Kita: Pendahuluan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Menguasai Dunia Kita : Bab I – Strategi Iblis untuk Menghancurkan Kemanusiaan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Menguasai Dunia Kita : Bab II – Awal Komunisme Eropa

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Menguasai Dunia Kita : Bab III – Pembunuhan Massal di Timur

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Menguasai Dunia Kita : Bab IV – Mengekspor Revolusi

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Menguasai Dunia Kita : Bab V – Infiltrasi ke Barat (Bagian I)

Share

Video Popular