Erabaru.net. Terkadang, ikatan yang kita bangun dengan hewan begitu kuat, kita tidak pernah menyangka akan sampai pada titik mereka menghadiri pemakaman kita. Itulah tepatnya yang terjadi pada pria yang dikenal luas sebagai pembisik gajah, Lawrence Anthony.

Anthony adalah seorang pencinta lingkungan dari Afrika Selatan. Mencintai alam sejak kecil, ia mengabdikan hidupnya untuk melindungi lingkungan.

Pada awal 1990, ia membeli tanah seluas 5.000 hektar di Afrika Selatan dan mendirikan tempat bernama Thula Thula: Private Game Reserve dan Safari Lodge.

Pada saat itu, sebuah taman nasional di Afrika Selatan diserang oleh pemburu dan delapan gajah berlari keluar.

Gajah-gajah itu menyebabkan kepanikan bagi penduduk dari desa-desa terdekat. Karena itu, Anthony memutuskan bahwa ia akan mengambilnya sebelum penduduk desa melakukannya.

Bukan niatnya untuk memelihara gajah di Thula Thula, tetapi dia tahu jika dia tidak melakukannya, kawanan gajah akan dibunuh.

(Foto: Thula Thula)

Thula Thula, yang berarti kedamaian dan ketenangan, terletak di Zululand, Provinsi KwaZulu-Natal di Afrika Selatan.

Meskipun pengetahuannya tentang hewan itu sedikit, Anthony mengumpulkan keberaniannya dan perlahan-lahan mendekati hewan-hewan raksasa itu.

Dia berjalan menuju gajah, berbicara dengan lembut kepada mereka dan bahkan menyanyikan lagu pengantar tidur untuk mereka. Tanpa diduga, gajah-gajah itu tenang dan secara mengejutkan mendengarkan kata-katanya.

Sejak itu, Anthony dikenal sebagai pembisik gajah oleh semua orang di sana.

Suatu pagi, pemimpin gajah, Nana bahkan mencoba menjangkau Anthony dengan belalainya. Saat itulah Anthony merasa bahwa titik balik gajah mulai memercayainya.

“Mereka mungkin tidak percaya pada manusia, tetapi saya berharap setidaknya mereka bisa percaya pada saya,” kata Anthony tentang gajah-gajahnya.

Sayangnya, Anthony meninggal karena serangan jantung pada Maret 2012. Sementara istri Anthony berduka atas kematian suaminya, staf mengatakan kepadanya bahwa sekelompok gajah yang dipimpin oleh Nana sedang menuju ke pondok.

Kelompok gajah pertama tiba di pagi hari dan kelompok lain tiba di hari berikutnya.

Ke-21 gajah berbaris di depan pondok dan mengeluarkan suara merengek, mungkin berduka atas kematian malaikat pelindung mereka, Anthony. Menurut putranya, Dylan, gajah-gajah itu hidup cukup jauh.

Namun, Dylan lebih lanjut menjelaskan bahwa mereka pasti merasakan kematian seseorang yang seperti ayah bagi mereka dan melakukan perjalanan selama 12 jam hanya untuk meratapi kepertian pelindunganya.

Setahun kemudian, Nana sekali lagi bersama kelompok gajahnya dan muncul di depan pondok, mengingat kematian penyayang mereka yang tercinta.

Ini adalah bukti luar biasa kepekaan dan kesadaran hewan ketika pemimpin mereka meninggal dan dalam kasus ini, hubungan yang indah ditangkap ketika Nana dan kawanan berkabung untuk Anthony.(yant)

Sumber: Goodtimes

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular