Erabaru.net. Media Hong Kong melaporkan bahwa seorang pilot pesawat tempur Taiwan secara tidak sengaja menembakkan “senjata bela diri” ketika berhadapan dengan jet tempur Komunis Tiongkok.

Senjata yang ditembakkan pilot tersebut adalah proyektil umpan inframerah. Proyektil umpan biasanya digunakan untuk menghindari terkena rudal musuh yang datang menyerang.

Belum diketahui kapan dan dimana insiden itu terjadi. Namun sumber yang mengetahui masalah tersebut mengungkapkan bahwa insiden itu tidak memicu konflik langsung.

“South China Morning Post” Hong Kong pada Selasa 30 April lalu melaporkannya dengan mengutip sebuah sumber yang mengatakan, bahwa “Penembakan proyektil umpan inframerah adalah tindakan defensif, sehingga tidak menyebabkan pertukaran tembakan.”

Dalam insiden terpisah, pilot Taiwan lainnya secara tidak sengaja menembakkan proyektil umpan inframerah ketika memantau pesawat pengintai P-3C Amerika Serikat di dekat pulau itu.

Angkatan Udara Taiwan tidak menanggapi pertanyaan tentang kedua insiden tersebut. South China Morning Post juga tidak merinci terkait insiden itu.

Rincian dari pertemuan udara antar-pesawat militer yang langka itu menggarisbawahi ketegangan yang meningkat di Selat Taiwan.  Laporan tersebut percaya bahwa perilaku langka Angkatan Udara Taiwan menyoroti meningkatnya ketegangan di Selat Taiwan.

Sejak Tsai Ing-wen terpilih sebagai presiden pada tahun 2016, komunis Tiongkok telah meningkatkan aktivitas militer di dekat Taiwan. Pada akhir Maret, dua jet tempur People’s Liberation Army atau PLA melintasi garis perbatasan yang memisahkan Taiwan dari Tiongkok.

Kementerian Pertahanan Taiwan mengutuk keras tindakan provokatif militer Tiongkok dan menekankan bahwa dalam menghadapi berbagai ancaman provokatif, tentara nasional akan menegakkan prinsip “tidak provokasi, tidak takut musuh.”

Sementara itu, Tsai Ing-wen saat itu memerintahkan “pengusiran paksa” pesawat tempur PLA jika nekat melewati “garis batas”

Collin Koh, seorang pakar militer dari S. Rajaratnam School of International Studies di Singapore’s Nanyang Technological University, mengatakan meningkatnya tekanan militer dari Beijing dapat menyebabkan lebih banyak senjata ditembakkan secara keliru.

Menurut Collin Koh, meskipun tujuan sebenarnya dari pilot Taiwan menembakkan proyektil umpan infra merah sulit untuk dikonfirmasi, namun demikian satu hal yang jelas—dalam keadaan tegang ada risiko penggunaan kekuatan yang tidak disengaja.

Dia menambahkan, jika PLA melanjutkan apa yang disebut patroli pulau di sekitar Taiwan, diharapkan militer Taiwan dapat menjaga respons mereka. Dikhawatirkan dari waktu ke waktu ketegangan yang terus meningkat dapat menjadi bencana yang tak diharapkan.

Laporan itu juga mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir, Taiwan telah mengurangi jumlah peringatan dan pemantauan jet tempur komunis Tiongkok.  

Sehubungan dengan itu, mantan wakil menteri pertahanan Taiwan Lin Chong-pin mengatakan tindakan itu lebih cenderung menjadi tanda bahwa pemerintah Tsai mengambil pendekatan yang bijaksana dan terkendali. (Jon/asr)

Video Rekomendasi : 

 

Share

Video Popular