Tokoh Dalam Kasus Roe v. Wade Berbalik Arah

Pada 18 Februari 2017, Norma McCorvey meninggal dunia pada usia 69 tahun di Texas, Amerika Serikat, dia adalah tokoh utama dalam kasus Roe V. Wade yakni, kasus simbolis yang melegalkan aborsi di AS pada tahun 1973.

Menurut surat kabar “New York Times” tahun 1994, Norma berasal dari keluarga berantakan, dirinya mengaku pernah beberapa kali diperkosa oleh seorang kerabat, dia sudah putus sekolah sejak kecil. Pada usia 16 tahun dia menikah, tapi segera bercerai, pernah 3 kali hamil. Ketiga anaknya adalah dari tiga orang ayah yang berbeda. Putri sulungnya dibesarkan oleh ibunya, sedangkan dua anaknya yang lain dibesarkannya sendiri. Dia pernah terjerat kecanduan alkohol dan narkotika, juga tidak memiliki pekerjaan tetap. Pada 1969, di saat mengandung anak ketiganya, dia bergabung dengan organisasi yang memperjuangkan hak aborsi.

Norma menggunakan nama samaran Jane Roe memberi kuasa pada pengacaranya untuk menuntut undang-undang pidana aborsi Texas yang telah melanggar konstitusi. Dia menyatakan dirinya diperkosa sehingga menuntut aborsi. Namun kasus tersebut ditolak, dia terpaksa harus melahirkan anak ketiga. Kasus itu kembali naik banding, hingga tahun 1973, dia naik banding hingga ke Mahkamah Agung Federal AS dan meraih kemenangan.

Namun surat kabar “New York Times” menyebutkan, dalam kasus ini Norma sangat jarang berkomunikasi dengan si pengacara, juga tidak memberikan keterangan di pengadilan, kasus ini menang di Mahkamah Agung, namun sebenarnya hampir tidak ada kaitannya dengan dirinya.

Hingga era 1980-an, Norma baru mengakui bahwa dirinya adalah pihak penuntut dalam kasus ini. Dia mengungkapkan waktu itu dia tidak diperkosa, hanya berharap kasus itu cepat diproses, agar dia bisa melakukan aborsi. Ia kemudian menjadi biseksual, dan tinggal bersama pasangan homoseksualnya. Setelah mengungkapkan jati dirinya, dia pun gencar ikut ambil bagian dalam aksi memperjuangkan hak aborsi, ikut dalam unjuk rasa, bekerja di klinik wanita, berpidato di depan umum, menulis biografi dan membuat film dokumenter. Dia menjadi tokoh kontroversi yang memperjuangkan hak aborsi dan menjadi sorotan.

Tapi pada 8 Agustus 1995, Norma dibaptis, dia menjadi umat Kristiani, dan sejak saat itu dia pun memulai perjalanannya menentang aborsi. Setelah itu dia bahkan mendirikan sebuah lembaga bernama “Roe No More”, yang mendorong propaganda anti-aborsi. Di tahun 1998, dia menerbitkan biografinya, memaparkan perubahan besar pada jiwanya dari yang semula merupakan tokoh simbolis aborsi berubah menjadi seorang aktivis anti-aborsi yang teguh, bukunya itu berjudul “Won by Love”.

Pada masa awal pilpres tahun 2016 di AS, capres Partai Republik Ron Paul berpidato di depan publik, “Kasus Roe v. Wade sepenuhnya salah, ini sama sekali bukan masalah pada konstitusi. Konstitusi, termasuk amandemennya, tidak ada satu kata pun memiliki makna mendukung aborsi. Hak janin-janin yang tak berdosa yang belum terlahir itu, adalah inti dari idealisme nilai kebebasan Amerika.” Norma dalam hal ini menanggapi: saya mendukung kampanyenya sebagai presiden, karena kami memiliki tujuan yang sama, yakni pada suatu hari nanti dapat sepenuhnya menggulingkan kasus “Roe v. Wade”. Dalam suatu iklan anti-aborsi di TV dia berkata: “Sejak 1973, aborsi telah membunuh lebih dari 50 juta bayi tak berdosa, meninggalkan bekas luka mendalam bagi para orang tua dan keluarga.”

Selama Obama menjabat sebagai presiden, Norma pernah menghadiri forum dengar pendapat di Kongres, mengutuk sikap Obama yang mendukung hak aborsi.  Dia berkata Obama telah “membunuh bayi”, dan Norma pernah dua kali ditangkap saat berpartisipasi dalam unjuk rasa. Norma berkata, “Saya pernah menjadi Jane Roe dalam kasus Roe v. Wade, tapi Jane yang itu telah mati. Saya pikir saya bisa dengan penuh tanggung jawab seluruh gerakan legalisasi aborsi itu dibentuk di atas pondasi kebohongan, dan saya bertekad dengan seluruh kekuatan saya menghancurkan hukum yang dulunya dibuat dengan mengatas-namakan diri saya.”

Aborsi: Hak kaum wanita, ataukah pembunuhan?

Sebenarnya apakah aborsi merupakan hak asasi bagi kaum wanita, ataukah suatu pembunuhan semata? Inilah dua titik ekstrim perbedaan pandangan yang bertolak belakang antara para pendukung aborsi dengan para penentang aborsi.

Fakta yang sekarang umumnya terjadi adalah, aborsi dalam kondisi tertentu sepenuhnya legal, seperti hamil akibat kejahatan inses dan perkosaan, adanya kelainan pada janin, faktor ekonomi dan sosial, atau ancaman yang membahayakan kesehatan sang ibu. Para penentang aborsi beranggapan janin adalah manusia yang juga memiliki hak untuk hidup, aborsi sama saja dengan pembunuhan. Sementara para pendukung aborsi lebih menekankan hak kaum wanita untuk memutuskan kondisi kesehatannya, menekankan HAM pada umumnya.

Perbedaan pandangan mendasar pada para pendukung dan penentang legalisasi aborsi terletak pada tiga sisi: perbedaan pandangan terhadap status janin, perbedaan pandangan pada hak yang dimiliki janin, perbedaan pandangan pada hak kaum wanita.

Alasan yang paling sering dijumpai di kalangan pendukung legalisasi aborsi adalah, jika aborsi dianggap ilegal, aborsi tetap tidak akan berhenti, tetap akan dilakukan, bahkan menjadi lebih berbahaya. Jelas terdapat kelemahan logika pada alasan ini: penentuan terhadap suatu perilaku yang seharusnya dilarang atau tidak, telah meninggalkan kriteria benar salah dan baik jahat, hanya melihat hasil akhir.

Ini seolah mengatakan, jika pencurian dianggap melanggar hukum, aksi pencurian tetap tidak berhenti, hal ini tidak bisa serta merta membuktikan bahwa pencurian bisa dilegalkan. Alasan lain yang lebih penting yang mendukung legalisasi aborsi adalah, menganggap bahwa janin (di masa kehamilan) bukanlah seorang manusia, oleh sebab itu wanita melakukan aborsi tidak melukai orang lain, sebaliknya, janin telah merampas hak wanita untuk mengendalikan tubuhnya sendiri. Alasan terpenting para pendukung aborsi adalah, berdasarkan pada keinginan kaum wanita untuk menguasai hak asasi atas tubuhnya sendiri.

Dalam proses mulai dari sel telur yang dibuahi sampai sepenuhnya berkembang menjadi janin, kapan status kepribadian itu muncul? Teolog Katolik dari Abad Pertengahan Thomas Aquinas mengatakan, janin laki-laki setelah 40 hari telah diberi roh, dan janin perempuan diberi setelah 90 hari. Mayoritas penentang aborsi teguh pada pendirian: begitu kehamilan terjadi, manusia telah eksis.

Sebaliknya, penentang aborsi menganggap sebaliknya. Akar dan karakter perbedaan pandangan seperti ini, sebenarnya adalah pemahaman yang berbeda terhadap asal muasal kehidupan yang hakiki. Dan pada dasarnya, adalah perbedaan pendapat antara atheisme dan theisme.

Sebenarnya, kebanyakan orang yang menentang aborsi berpendapat, dalam kasus pemerkosaan, kaum wanita mempunyai hak untuk aborsi, bahkan lebih besar rasio kaum penentang aborsi berpendapat, jika bertujuan menyelamatkan nyawa sang ibu, maka aborsi dapat diterima secara moral.

Namun dalam sejarah umat manusia, agama ortodoks mana pun berpandangan menghargai setiap insan kehidupan, negara Amerika Serikat didirikan atas dasar agama Kristen, Deklarasi Kemerdekaan dan pondasi Konstitusi sebagian besar bersumber dari konsep “Alkitab” dalam agama Kristen. Oleh sebab itu, agama Kristen dan agama lain beranggapan, hidup manusia adalah berasal dari Tuhan, tidak seorang pun berhak mengambilnya, maka aborsi sama saja dengan membunuh seseorang.

Share

Video Popular