Penyebab Utama Tren Aborsi di Amerika

Abad lalu, di Amerika maupun dunia Barat terjadi tren kemerosotan moral yang sangat signifikan, salah satu peristiwa penyebabnya adalah karena masuknya teori evolusi dan atheisme ke dalam buku-buku pelajaran sekolah menengah di AS.

Tahun 1959 adalah seabad setelah Darwin mempublikasikan teori evolusi. Sejumlah ilmuwan yang mendukung teori evolusi mulai meragukan sekolah-sekolah yang tidak mengajarkan teori evolusi, akibatnya, sejak awal era 1960-an, dalam buku pelajaran sekolah menengah teori evolusi pun menggantikan teori penciptaan dunia (dari Alkitab). Lewat tuntutan pengadilan, para pendukung teori evolusi itu bahkan berusaha menghapuskan undang-undang yang hanya mengijinkan sekolah mengajarkan teori penciptaan dunia.

Di era 1960an abad lalu, Mahkamah Agung AS telah melarang kegiatan berdoa dan membaca “Alkitab” di dalam sekolah, di saat yang sama masyarakat pun memasuki era kebebasan seks; di era 1970an, lewat legalisasi aborsi nasional, telah terjadi hampir 60 juta janin bayi dibunuh di dalam rahim ibu mereka; di era 1980an, terjadi gerakan legalisasi homoseksual dan pernikahan sejenis, hanya dalam tempo tiga dekade saja, pernikahan sejenis kini telah legal di seluruh negeri, dan telah terjadi kekacauan jenis kelamin, dan gerakan pria dan wanita menggunakan toilet yang sama.

Di balik semua gerakan ini, atheisme dan teori evolusi telah menjadi faktor pendorong utamanya. Oleh karena itu, tradisi dan kriteria moralitas di Amerika pun merosot drastis. Konstitusi AS yang bersumber dari hukum alam, hukum alam bersumber dari ajaran dan kriteria Tuhan terhadap manusia. Selain kondisi yang khusus, aborsi sebenarnya adalah pembunuhan terhadap mahluk hidup. Aborsi telah menjadi tren di AS, adalah fenomena kekacauan yang terjadi akibat masyarakat telah meninggalkan tradisi dan ajaran Tuhan.

Dalam sebuah buku baru dari editorial 9 komentar yang berjudul “Iblis Tengah Menguasai Dunia Kita” dijelaskan:

Mendorong “hak aborsi” adalah cara lain iblis untuk menghancurkan manusia. Sejak Awal mempertimbangkan melegalkan aborsi hanya karena alasan yang sangat terpaksa, seperti korban pemerkosaan, kejahatan inses; atau karena kondisi kesehatan ibu yang tidak memungkinkan, seperti sakit jiwa, penyakit psikologis dan lain sebagainya.

Pendorong ‘gerakan kebebasan seksual’ berpendapat hubungan seksual tidak harus dibatasi pada pasangan suami istri saja, tapi halangan terbesar dalam hubungan seksual di luar suami istri adalah kehamilan, karena kontrasepsi kehamilan masih bisa saja gagal, jadi legalisasi aborsi menjadi cara penyelamatan atas kontrasepsi yang gagal. Dalam UN Cairo Population Conference tahun 1994, secara blak-blakan bahkan telah meluaskan penjelasan tentang ‘hak melahirkan’, salah satunya dengan menyebutkan bahwa manusia memiliki hak untuk ‘mendapat kepuasan dan keamanan hubungan seksual’, oleh sebab itu juga memiliki hak aborsi.

Hak untuk menentukan apakah akan menggugurkan atau melahirkan janin bayi. Begitulah, aborsi yang awalnya ‘karena terpaksa’, telah berkembang menjadi bisa ‘sekehendak hati’ mengakhiri hidup janin bayi. Saat iblis mengumbar nafsu manusia, memanfaatkan feminisme dan kebebasan seksual untuk mendorong pembunuhan terhadap janin, tidak hanya membuat manusia melakukan kejahatan besar, juga membuat manusia telah menginjak-injak konsep keagungan jiwa yang tradisional.

Era “Legalisasi Aborsi” Akan Kembali Diakhiri

Walaupun dalam 10 tahun terakhir, jumlah klinik aborsi di berbagai tempat di AS telah menurun drastis: di negara bagian Louisiana di tahun 1980 terdapat 11 klinik telah berkurang menjadi hanya 3 klinik, sebanyak 7 negara bagian sekarang hanya ada 1 klinik aborsi.

Tetapi, di bulan Januari 2019, negara bagian New York telah melonggarkan pembatasan aborsi kehamilan lanjut (late-term abortions), yakni mengijinkan dilakukannya aborsi setelah kehamilan lebih dari 24 minggu. Ini menunjukkan, betapa sengitnya ‘pertempuran’ antara kubu pendukung aborsi dengan penentang aborsi di seputar masalah legalisasi aborsi di Amerika.

Sebuah lembaga survey masyarakat yang telah melakukan survey atas sikap warga AS terhadap aborsi selama lebih dari 10 tahun menyatakan, data terbaru menunjukkan telah terjadi perubahan yang sangat besar dalam hal apakah masyarakat AS mendukung atau menentang aborsi. Lembaga bernama Marist Poll ini melakukan survey lewat telepon terhadap 1.008 orang warga dewasa AS mulai tanggal 12 Februari hingga 17 Februari lalu.

Survey menemukan, sebanyak 47% warga AS menentang aborsi; sebulan sebelumnya, suatu survey serupa menunjukkan, lebih banyak orang Amerika berubah sikap dari yang tadinya mendukung pengguguran legal, rasio dukungan pengguguran legal dari 55% menurun hingga hanya 38% saja.

Direktur teknis dan manajemen data Marist yakni Barbara Carvalho mengatkan, ini adalah kali pertama sejak tahun 2009 begitu banyak pendukung pengguguran legal berubah menjadi penentang aborsi. Dia mengatakan, perubahan ini terutama berasal dari masyarakat berusia 45 tahun ke bawah dan pendukung Partai Demokrat.

Pada 27 Februari 2018, saat diundang menghadiri “The 75th National Religious Broadcasting Conference”, Wakil Presiden AS Pence menyatakan, Trump adalah presiden yang paling menentang aborsi sepanjang sejarah AS, Pence secara jelas menyebutkan: “Era ‘legalisasi aborsi’ akan segera diakhiri lagi”.

Pence menyatakan, awalnya ia adalah umat Kristen, lalu menjadi kaum konservatif, baru kemudian menjadi anggota Partai Republik. Sejak Trump menjadi presiden, pemerintah AS telah mengambil tindakan pembatasan legalisasi aborsi di Amerika maupun negara lain di dunia, termasuk mengijinkan negara bagian menghentikan sementara subsidi bagi pusat perencanaan kelahiran, dan mengaktifkan kembali “Mexico City Policy”.

“Mexico City Policy” adalah instruksi administratif yang dikeluarkan di tahun 1984 oleh Presiden Reagan, yang menuntut ormas non-pemerintah (NGO) saat menerima subsidi pemerintah federal, harus menyetujui “tidak akan melakukan di negara lain atau bekerjasama dalam program keluarga berencana yang mendorong aborsi”.

Kebijakan ini juga disebut sebagai “Global Abortion Ban”. Mantan Presiden Clinton telah menghapus instruksi tersebut di tahun 1993, lalu di masa pemerintahan Presiden Bush Junior kembali diaktifkan, kemudian kembali dihapus oleh Presiden Obama pada tahun 2009.

Pence menekankan, Presiden Trump “telah menepati janjinya sejak hari pertama menjabat”, di hadapan setiap nyawa, aborsi sudah bukan lagi pilihan. “Saya sangat percaya, jika setiap dari kita berusaha sekuat tenaga, kita akan bisa sekali lagi, di era ini, menempatkan kembali makna sakral sebuah nyawa di tengah undang-undang Amerika Serikat.”

Pence berkata, akan mengakhiri legalisasi aborsi ini ‘di era kita ini’. “Ini akan menjadi era kembalinya tradisi Amerika.” (SUD/WHS/asr)

Share

Video Popular