- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Tradisional vs Modern, Perang Sengit Aborsi di AS

Xia Xiaoqiang

Seputar kondisi “perang aborsi” dalam melegalisasi aborsi di AS terus menerus memanas. Sejak terpilihnya Trump menjadi presiden pada pilpres 2016 lalu, kubu anti-aborsi “Defend Life” terus menguat, demikian juga kekuatan kubu setuju-aborsi “Defend Reproductive Rights” juga relatif meningkat.

Pada 22 Februari 2019, pemerintah Trump merilis peraturan baru, membatasi pendanaan federal terhadap kelompok yang memberikan layanan rujukan aborsiseperti: Planned Parenthood di AS. Peraturan tersebut dikeluarkan untuk kali pertama pada tahun lalu oleh Department of Health and Human Services. Jika organisasi dan kelompok institusi mendapat pendanaan federal tersebut, maka tidak boleh memberikan layanan aborsi. Pada saat yang sama peraturan baru juga melarang pemerintah federal untuk memberikan dana bagi layanan rujukan aborsi, maupun segala organisasi dan afiliasinya.

Di saat yang sama, negara bagian Illinois merilis RUU baru yakni “Reproductive Health Act”, rancangan tersebut membatalkan sejumlah kebijakan perlindungan bagi bayi yang belum lahir, termasuk pembatasan terhadap aborsi, praktek aborsi bagi non-dokter, aborsi secara swadaya dan lain sebagainya.

RUU tersebut juga akan mendesak pemberi layanan asuransi kesehatan untuk menyediakan asuransi untuk aborsi, tak terkecuali juga gereja atau organisasi agama lainnya. Jika RUU tersebut diterapkan, maka akan menyebabkan seluruh periode 9 bulan masa kehamilan menjadi legal untuk aborsi. Gubernur negara bagian Illinois JB. Pritzker berjanji, akan membuat negara bagian itu menjadi ‘negara bagian yang bersahabat pada aborsi’ di seluruh Amerika Serikat.

Pada 25 Februari lalu, Senat Federal AS dengan suara 53 lawan 44 membatalkan RUU “Born-Alive Abortion Survivors Protection Act”. Pendorong utama RUU tersebut adalah anggota senat federal Partai Republik dari negara bagian Nebraska bernama Ben Sachs. RUU tersebut menuntut agar pelaku medis yang melakukan aborsi bila gagal mengaborsi dan bayi yang diaborsi tersebut ternyata masih hidup maka mereka harus mengambil tindakan perlindungan jiwa bayi tersebut. Jika tidak maka akan dikenakan sanksi hukum, dan vonis terberat adalah 5 tahun penjara, bahkan bisa dituntut dengan tuduhan pembunuhan tingkat satu.

“Partai Demokrat Senat baru saja memberikan suara menentang RUU yang mencegah pembunuhan terhadap bayi yang baru lahir, sikap Partai Demokrat terhadap aborsi sekarang begitu ekstrim, mereka sama sekali tidak peduli pembunuhan terhadap bayi yang baru lahir. Pemungutan suara hari ini adalah salah satu pemungutan suara paling mengerikan sepanjang sejarah Kongres Amerika Serikat. Jika peristiwa ini adalah hal yang seharusnya disepakati bersama oleh kita semua, maka seharusnya hal itu adalah melindungi nyawa bayi yang tak berdosa,” Cuit Trump di akunnya setelah pengambilan suara di Senat.

Selama dua tahun lebih Presiden Trump menjabat, berbagai bidang telah meraih hasil yang baik, mulai dari politik, ekonomi, militer dan diplomatik, serta membawa AS ke jalan ‘kembali menjadi negara besar’. Khususnya dalam hal nilai hidup, Trump berupaya keras melindungi kebebasan beragama dan kepercayaan, melindungi kehidupan.

Pada 22 Mei 2018 dalam pidatonya Trump berkata: “Setiap mahluk adalah sakral, setiap anak adalah hadiah yang berharga dari Tuhan”.

Kalimat ini menyampaikan pemikiran dan sinyal yang sangat jelas terhadap dunia: bahwa Amerika tengah kembali ke nilai-nilai tradisi.

Sekarang ini, masyarakat AS maupun Eropa dan seluruh dunia, telah terbagi menjadi dua kubu besar yang saling bertolak belakang.

Di balik konfrontasi kedua partai di Amerika, sebenarnya adalah perseteruan antara dua jenis nilai kehidupan yang berbeda, yakni tradisional dan modern, kedua nilai kehidupan yang saling berhadapan ini tengah bertentangan sengit.

Sejarah Singkat Legalitas Aborsi di AS

Pemerintah AS pada abad ke-19 bersikap “menentang aborsi”; di tahun 1803, Inggris meloloskan undang-undang Ellenborough, dan mulai memberlakukan lebih banyak pembatasan terhadap aborsi, karena pengaruh ini, semua negara bagian mulai meniru jejaknya. Hingga tahun 1849, sebanyak 20 negara bagian menetapkan tindakan aborsi sebelum pergerakan fetus (yaitu masa kehamilan 18 bulan) ditetapkan sebagai kejahatan ringan, dan aborsi setelah pergerakan fetus ditetapkan sebagai pembunuhan tingkat dua.

Sejak tahun 1859, selain untuk menyelamatkan nyawa sang ibu, American Medical Association mengecam segala bentuk aborsi, dan mendesak semua negara bagian untuk membuat undang-undang membatasi aborsi. Pada 1859, American Medical Asociation Annual Meeting meloloskan resolusi, mendesak semua negara bagian agar membuat undang-undang melarang aborsi.

Hingga tahun 1910, kecuali negara bagian Kentucky, semua negara bagian di AS telah memberlakukan pembatasan aborsi. Di saat yang sama, walaupun sejumlah kondisi yang memenuhi aturan hukum, hak aborsi juga berada di tangan Komisi Peninjau, yang ditentukan oleh dokter dan bukan oleh pasien aborsi.

Pada 1921, “Birth Control League” didirikan di New York, dimulailah aksi menghindari kehamilan dan aborsi.

Di era 1930-an, dokter berijin setiap tahunnya melakukan 800.000 kasus aborsi, aborsi ilegal pun melonjak drastis. Setelah itu, legalitas aborsi pun merambat naik dengan cepat.

Tahun 1959, Badan Legislatif mengeluarkan “prototipe hukum pidana”, yang meloloskan undang-undang agar kehamilan yang terjadi akibat perkosaan atau kejahatan inses, atau demi kesehatan sang ibu, diperbolehkan menjalani aborsi di rumah sakit yang legal.

Tahun 1965, Pengadilan Tinggi Connecticut memutuskan melegalkan kontrasepsi buatan, dan mendefinisikannya sebagai “hak pribadi”.

Di tahun 1967, negara bagian Colorado menjadi yang pertama meloloskan boleh melakukan bedah aborsi bagi korban pemerkosaan, korban kejahatan inses atau untuk menyelamatkan nyawa sang ibu; negara bagian California dan Oregon pun mengikuti jejak itu.

Tahun 1970, Hawaii menjadi negara bagian pertama yang mengijinkan dilakukannya aborsi dalam kondisi apa pun dan 14 negara bagian lainnya meloloskan undang-undang, setuju diperbolehkannya aborsi dalam kondisi apa pun.

Tahun 1973, Resolusi Roe v. Wade, adalah kasus penting yang ditetapkan oleh Pengadilan Tinggi Federal AS terhadap hak aborsi wanita dan hak privasinya. Terhadap masalah aborsi kaum wanita, Pengadilan Tinggi Federal AS mengakui hak aborsi kaum wanita, yang dilindungi di dalam hak privasi pada konstitusi. Setelah resolusi tersebut ditetapkan semua negara bagian menetapkan berbagai hukum, hanya pembatasannya yang berbeda.

Keputusan Mahkamah Agung atas kasus Roe v. Wade, menetapkan definisi “kesehatan” meluas hingga ke semua elemen: termasuk fisiologis, emosional, psikologis, keluarga, dan usia wanita, ini sama saja dengan memperbolehkan seorang wanita hamil melakukan aborsi yang sah secara hukum dengan alasan apa pun dan dalam kondisi apa pun.

Setelah resolusi Roe v. Wade ini dikeluarkan, Mahkamah Agung AS membatalkan hukum anti-aborsi pada mayoritas negara bagian, dan membentuk “standard 3 tahapan”, sebagai panduan hukum untuk semua negara bagian bagi wanita dengan masa kehamilan berbeda, diijinkan aborsi atau tidak.

“Standard 3 tahapan” yang ditetapkan oleh Mahkamah Agung AS memastikan triwulan pertama kehamilan, wanita dapat memutuskan hak pengambilan keputusannya; pada triwulan kedua kehamilan, demi kesehatan wanita, semua negara bagian dapat membatasi aborsi, tapi tidak bisa melarang aborsi; pada triwulan ketiga, kecuali nyawa ibu dalam bahaya, untuk melindungi janin, semua negara bagian dapat membuat undang-undang membatasi atau melarang aborsi.

Pada 1976, Mahkamah Agung membatalkan pembatasan “anak di bawah umur harus mendapat persetujuan orang tuanya, dan wanita yang telah menikah harus mendapat persetujuan pasangannya untuk melakukan aborsi”.

Di tahun 1993 Presiden AS Clinton mengumumkan perintah administratif untuk mempercepat legalitas pengumpulan dan penelitian janin, penelitian RU486, masyarakat bisa mendapatkan panduan dan informasi aborsi di klinik yang disubsidi oleh pemerintah, RS militer AS juga mulai menyediakan bedah aborsi.

Pada 1994, Presiden Clinton menggunakan “FACE” (Freedom of Access to Clinics Entrance Act), melarang orang-orang dan kelompok anti-aborsi melakukan aksi unjuk rasa di depan klinik yang melakukan praktik aborsi, walaupun ini tadinya adalah kebebasan berpendapat yang dilindungi konstitusi AS.

Tahun 2000, Mahkamah Agung mengumumkan bahwa “undang-undang pelarangan aborsi parsial di negara bagian Nebraska” telah melanggar konstitusi.

Pada 21 Oktober 2003, Kongres dengan suara 64 lawan 34 suara menentang, telah meloloskan RUU larangan aborsi masa kehamilan akhir, menetapkan pada triwulan kedua dan triwulan ketiga kehamilan dilarang melakukan aborsi, Presiden Bush langsung menandatangani UU tersebut.

Di tahun 2009, Presiden Obama menandatangani surat perintah, yang mengijinkan pemerintah mendanai institusi luar negeri untuk mendorong aborsi, menggulingkan larangan presiden sebelumnya.

Pada 2017, tahun pertama masa pemeritahan Presiden Trump, sebanyak 19 negara bagian meloloskan 63 peraturan pembatasan terhadap aborsi, tahun pertama pemeritahan Trump, seluruh Amerika telah membuat 431 peraturan yang membatasi aborsi;

Pada musim pertama 2018, 37 negara bagian meloloskan 308 aturan pembatasan aborsi. Yang berlawanan dengan aturan ini adalah, 44 negara bagian telah meloloskan 700 aturan perlindungan atau perluasan hak menentukan kelahiran.

Tokoh Dalam Kasus Roe v. Wade Berbalik Arah

Pada 18 Februari 2017, Norma McCorvey meninggal dunia pada usia 69 tahun di Texas, Amerika Serikat, dia adalah tokoh utama dalam kasus Roe V. Wade yakni, kasus simbolis yang melegalkan aborsi di AS pada tahun 1973.

Menurut surat kabar “New York Times” tahun 1994, Norma berasal dari keluarga berantakan, dirinya mengaku pernah beberapa kali diperkosa oleh seorang kerabat, dia sudah putus sekolah sejak kecil. Pada usia 16 tahun dia menikah, tapi segera bercerai, pernah 3 kali hamil. Ketiga anaknya adalah dari tiga orang ayah yang berbeda. Putri sulungnya dibesarkan oleh ibunya, sedangkan dua anaknya yang lain dibesarkannya sendiri. Dia pernah terjerat kecanduan alkohol dan narkotika, juga tidak memiliki pekerjaan tetap. Pada 1969, di saat mengandung anak ketiganya, dia bergabung dengan organisasi yang memperjuangkan hak aborsi.

Norma menggunakan nama samaran Jane Roe memberi kuasa pada pengacaranya untuk menuntut undang-undang pidana aborsi Texas yang telah melanggar konstitusi. Dia menyatakan dirinya diperkosa sehingga menuntut aborsi. Namun kasus tersebut ditolak, dia terpaksa harus melahirkan anak ketiga. Kasus itu kembali naik banding, hingga tahun 1973, dia naik banding hingga ke Mahkamah Agung Federal AS dan meraih kemenangan.

Namun surat kabar “New York Times” menyebutkan, dalam kasus ini Norma sangat jarang berkomunikasi dengan si pengacara, juga tidak memberikan keterangan di pengadilan, kasus ini menang di Mahkamah Agung, namun sebenarnya hampir tidak ada kaitannya dengan dirinya.

Hingga era 1980-an, Norma baru mengakui bahwa dirinya adalah pihak penuntut dalam kasus ini. Dia mengungkapkan waktu itu dia tidak diperkosa, hanya berharap kasus itu cepat diproses, agar dia bisa melakukan aborsi. Ia kemudian menjadi biseksual, dan tinggal bersama pasangan homoseksualnya. Setelah mengungkapkan jati dirinya, dia pun gencar ikut ambil bagian dalam aksi memperjuangkan hak aborsi, ikut dalam unjuk rasa, bekerja di klinik wanita, berpidato di depan umum, menulis biografi dan membuat film dokumenter. Dia menjadi tokoh kontroversi yang memperjuangkan hak aborsi dan menjadi sorotan.

Tapi pada 8 Agustus 1995, Norma dibaptis, dia menjadi umat Kristiani, dan sejak saat itu dia pun memulai perjalanannya menentang aborsi. Setelah itu dia bahkan mendirikan sebuah lembaga bernama “Roe No More”, yang mendorong propaganda anti-aborsi. Di tahun 1998, dia menerbitkan biografinya, memaparkan perubahan besar pada jiwanya dari yang semula merupakan tokoh simbolis aborsi berubah menjadi seorang aktivis anti-aborsi yang teguh, bukunya itu berjudul “Won by Love”.

Pada masa awal pilpres tahun 2016 di AS, capres Partai Republik Ron Paul berpidato di depan publik, “Kasus Roe v. Wade sepenuhnya salah, ini sama sekali bukan masalah pada konstitusi. Konstitusi, termasuk amandemennya, tidak ada satu kata pun memiliki makna mendukung aborsi. Hak janin-janin yang tak berdosa yang belum terlahir itu, adalah inti dari idealisme nilai kebebasan Amerika.” Norma dalam hal ini menanggapi: saya mendukung kampanyenya sebagai presiden, karena kami memiliki tujuan yang sama, yakni pada suatu hari nanti dapat sepenuhnya menggulingkan kasus “Roe v. Wade”. Dalam suatu iklan anti-aborsi di TV dia berkata: “Sejak 1973, aborsi telah membunuh lebih dari 50 juta bayi tak berdosa, meninggalkan bekas luka mendalam bagi para orang tua dan keluarga.”

Selama Obama menjabat sebagai presiden, Norma pernah menghadiri forum dengar pendapat di Kongres, mengutuk sikap Obama yang mendukung hak aborsi.  Dia berkata Obama telah “membunuh bayi”, dan Norma pernah dua kali ditangkap saat berpartisipasi dalam unjuk rasa. Norma berkata, “Saya pernah menjadi Jane Roe dalam kasus Roe v. Wade, tapi Jane yang itu telah mati. Saya pikir saya bisa dengan penuh tanggung jawab seluruh gerakan legalisasi aborsi itu dibentuk di atas pondasi kebohongan, dan saya bertekad dengan seluruh kekuatan saya menghancurkan hukum yang dulunya dibuat dengan mengatas-namakan diri saya.”

Aborsi: Hak kaum wanita, ataukah pembunuhan?

Sebenarnya apakah aborsi merupakan hak asasi bagi kaum wanita, ataukah suatu pembunuhan semata? Inilah dua titik ekstrim perbedaan pandangan yang bertolak belakang antara para pendukung aborsi dengan para penentang aborsi.

Fakta yang sekarang umumnya terjadi adalah, aborsi dalam kondisi tertentu sepenuhnya legal, seperti hamil akibat kejahatan inses dan perkosaan, adanya kelainan pada janin, faktor ekonomi dan sosial, atau ancaman yang membahayakan kesehatan sang ibu. Para penentang aborsi beranggapan janin adalah manusia yang juga memiliki hak untuk hidup, aborsi sama saja dengan pembunuhan. Sementara para pendukung aborsi lebih menekankan hak kaum wanita untuk memutuskan kondisi kesehatannya, menekankan HAM pada umumnya.

Perbedaan pandangan mendasar pada para pendukung dan penentang legalisasi aborsi terletak pada tiga sisi: perbedaan pandangan terhadap status janin, perbedaan pandangan pada hak yang dimiliki janin, perbedaan pandangan pada hak kaum wanita.

Alasan yang paling sering dijumpai di kalangan pendukung legalisasi aborsi adalah, jika aborsi dianggap ilegal, aborsi tetap tidak akan berhenti, tetap akan dilakukan, bahkan menjadi lebih berbahaya. Jelas terdapat kelemahan logika pada alasan ini: penentuan terhadap suatu perilaku yang seharusnya dilarang atau tidak, telah meninggalkan kriteria benar salah dan baik jahat, hanya melihat hasil akhir.

Ini seolah mengatakan, jika pencurian dianggap melanggar hukum, aksi pencurian tetap tidak berhenti, hal ini tidak bisa serta merta membuktikan bahwa pencurian bisa dilegalkan. Alasan lain yang lebih penting yang mendukung legalisasi aborsi adalah, menganggap bahwa janin (di masa kehamilan) bukanlah seorang manusia, oleh sebab itu wanita melakukan aborsi tidak melukai orang lain, sebaliknya, janin telah merampas hak wanita untuk mengendalikan tubuhnya sendiri. Alasan terpenting para pendukung aborsi adalah, berdasarkan pada keinginan kaum wanita untuk menguasai hak asasi atas tubuhnya sendiri.

Dalam proses mulai dari sel telur yang dibuahi sampai sepenuhnya berkembang menjadi janin, kapan status kepribadian itu muncul? Teolog Katolik dari Abad Pertengahan Thomas Aquinas mengatakan, janin laki-laki setelah 40 hari telah diberi roh, dan janin perempuan diberi setelah 90 hari. Mayoritas penentang aborsi teguh pada pendirian: begitu kehamilan terjadi, manusia telah eksis.

Sebaliknya, penentang aborsi menganggap sebaliknya. Akar dan karakter perbedaan pandangan seperti ini, sebenarnya adalah pemahaman yang berbeda terhadap asal muasal kehidupan yang hakiki. Dan pada dasarnya, adalah perbedaan pendapat antara atheisme dan theisme.

Sebenarnya, kebanyakan orang yang menentang aborsi berpendapat, dalam kasus pemerkosaan, kaum wanita mempunyai hak untuk aborsi, bahkan lebih besar rasio kaum penentang aborsi berpendapat, jika bertujuan menyelamatkan nyawa sang ibu, maka aborsi dapat diterima secara moral.

Namun dalam sejarah umat manusia, agama ortodoks mana pun berpandangan menghargai setiap insan kehidupan, negara Amerika Serikat didirikan atas dasar agama Kristen, Deklarasi Kemerdekaan dan pondasi Konstitusi sebagian besar bersumber dari konsep “Alkitab” dalam agama Kristen. Oleh sebab itu, agama Kristen dan agama lain beranggapan, hidup manusia adalah berasal dari Tuhan, tidak seorang pun berhak mengambilnya, maka aborsi sama saja dengan membunuh seseorang.

Penyebab Utama Tren Aborsi di Amerika

Abad lalu, di Amerika maupun dunia Barat terjadi tren kemerosotan moral yang sangat signifikan, salah satu peristiwa penyebabnya adalah karena masuknya teori evolusi dan atheisme ke dalam buku-buku pelajaran sekolah menengah di AS.

Tahun 1959 adalah seabad setelah Darwin mempublikasikan teori evolusi. Sejumlah ilmuwan yang mendukung teori evolusi mulai meragukan sekolah-sekolah yang tidak mengajarkan teori evolusi, akibatnya, sejak awal era 1960-an, dalam buku pelajaran sekolah menengah teori evolusi pun menggantikan teori penciptaan dunia (dari Alkitab). Lewat tuntutan pengadilan, para pendukung teori evolusi itu bahkan berusaha menghapuskan undang-undang yang hanya mengijinkan sekolah mengajarkan teori penciptaan dunia.

Di era 1960an abad lalu, Mahkamah Agung AS telah melarang kegiatan berdoa dan membaca “Alkitab” di dalam sekolah, di saat yang sama masyarakat pun memasuki era kebebasan seks; di era 1970an, lewat legalisasi aborsi nasional, telah terjadi hampir 60 juta janin bayi dibunuh di dalam rahim ibu mereka; di era 1980an, terjadi gerakan legalisasi homoseksual dan pernikahan sejenis, hanya dalam tempo tiga dekade saja, pernikahan sejenis kini telah legal di seluruh negeri, dan telah terjadi kekacauan jenis kelamin, dan gerakan pria dan wanita menggunakan toilet yang sama.

Di balik semua gerakan ini, atheisme dan teori evolusi telah menjadi faktor pendorong utamanya. Oleh karena itu, tradisi dan kriteria moralitas di Amerika pun merosot drastis. Konstitusi AS yang bersumber dari hukum alam, hukum alam bersumber dari ajaran dan kriteria Tuhan terhadap manusia. Selain kondisi yang khusus, aborsi sebenarnya adalah pembunuhan terhadap mahluk hidup. Aborsi telah menjadi tren di AS, adalah fenomena kekacauan yang terjadi akibat masyarakat telah meninggalkan tradisi dan ajaran Tuhan.

Dalam sebuah buku baru dari editorial 9 komentar yang berjudul “Iblis Tengah Menguasai Dunia Kita” dijelaskan:

Mendorong “hak aborsi” adalah cara lain iblis untuk menghancurkan manusia. Sejak Awal mempertimbangkan melegalkan aborsi hanya karena alasan yang sangat terpaksa, seperti korban pemerkosaan, kejahatan inses; atau karena kondisi kesehatan ibu yang tidak memungkinkan, seperti sakit jiwa, penyakit psikologis dan lain sebagainya.

Pendorong ‘gerakan kebebasan seksual’ berpendapat hubungan seksual tidak harus dibatasi pada pasangan suami istri saja, tapi halangan terbesar dalam hubungan seksual di luar suami istri adalah kehamilan, karena kontrasepsi kehamilan masih bisa saja gagal, jadi legalisasi aborsi menjadi cara penyelamatan atas kontrasepsi yang gagal. Dalam UN Cairo Population Conference tahun 1994, secara blak-blakan bahkan telah meluaskan penjelasan tentang ‘hak melahirkan’, salah satunya dengan menyebutkan bahwa manusia memiliki hak untuk ‘mendapat kepuasan dan keamanan hubungan seksual’, oleh sebab itu juga memiliki hak aborsi.

Hak untuk menentukan apakah akan menggugurkan atau melahirkan janin bayi. Begitulah, aborsi yang awalnya ‘karena terpaksa’, telah berkembang menjadi bisa ‘sekehendak hati’ mengakhiri hidup janin bayi. Saat iblis mengumbar nafsu manusia, memanfaatkan feminisme dan kebebasan seksual untuk mendorong pembunuhan terhadap janin, tidak hanya membuat manusia melakukan kejahatan besar, juga membuat manusia telah menginjak-injak konsep keagungan jiwa yang tradisional.

Era “Legalisasi Aborsi” Akan Kembali Diakhiri

Walaupun dalam 10 tahun terakhir, jumlah klinik aborsi di berbagai tempat di AS telah menurun drastis: di negara bagian Louisiana di tahun 1980 terdapat 11 klinik telah berkurang menjadi hanya 3 klinik, sebanyak 7 negara bagian sekarang hanya ada 1 klinik aborsi.

Tetapi, di bulan Januari 2019, negara bagian New York telah melonggarkan pembatasan aborsi kehamilan lanjut (late-term abortions), yakni mengijinkan dilakukannya aborsi setelah kehamilan lebih dari 24 minggu. Ini menunjukkan, betapa sengitnya ‘pertempuran’ antara kubu pendukung aborsi dengan penentang aborsi di seputar masalah legalisasi aborsi di Amerika.

Sebuah lembaga survey masyarakat yang telah melakukan survey atas sikap warga AS terhadap aborsi selama lebih dari 10 tahun menyatakan, data terbaru menunjukkan telah terjadi perubahan yang sangat besar dalam hal apakah masyarakat AS mendukung atau menentang aborsi. Lembaga bernama Marist Poll ini melakukan survey lewat telepon terhadap 1.008 orang warga dewasa AS mulai tanggal 12 Februari hingga 17 Februari lalu.

Survey menemukan, sebanyak 47% warga AS menentang aborsi; sebulan sebelumnya, suatu survey serupa menunjukkan, lebih banyak orang Amerika berubah sikap dari yang tadinya mendukung pengguguran legal, rasio dukungan pengguguran legal dari 55% menurun hingga hanya 38% saja.

Direktur teknis dan manajemen data Marist yakni Barbara Carvalho mengatkan, ini adalah kali pertama sejak tahun 2009 begitu banyak pendukung pengguguran legal berubah menjadi penentang aborsi. Dia mengatakan, perubahan ini terutama berasal dari masyarakat berusia 45 tahun ke bawah dan pendukung Partai Demokrat.

Pada 27 Februari 2018, saat diundang menghadiri “The 75th National Religious Broadcasting Conference”, Wakil Presiden AS Pence menyatakan, Trump adalah presiden yang paling menentang aborsi sepanjang sejarah AS, Pence secara jelas menyebutkan: “Era ‘legalisasi aborsi’ akan segera diakhiri lagi”.

Pence menyatakan, awalnya ia adalah umat Kristen, lalu menjadi kaum konservatif, baru kemudian menjadi anggota Partai Republik. Sejak Trump menjadi presiden, pemerintah AS telah mengambil tindakan pembatasan legalisasi aborsi di Amerika maupun negara lain di dunia, termasuk mengijinkan negara bagian menghentikan sementara subsidi bagi pusat perencanaan kelahiran, dan mengaktifkan kembali “Mexico City Policy”.

“Mexico City Policy” adalah instruksi administratif yang dikeluarkan di tahun 1984 oleh Presiden Reagan, yang menuntut ormas non-pemerintah (NGO) saat menerima subsidi pemerintah federal, harus menyetujui “tidak akan melakukan di negara lain atau bekerjasama dalam program keluarga berencana yang mendorong aborsi”.

Kebijakan ini juga disebut sebagai “Global Abortion Ban”. Mantan Presiden Clinton telah menghapus instruksi tersebut di tahun 1993, lalu di masa pemerintahan Presiden Bush Junior kembali diaktifkan, kemudian kembali dihapus oleh Presiden Obama pada tahun 2009.

Pence menekankan, Presiden Trump “telah menepati janjinya sejak hari pertama menjabat”, di hadapan setiap nyawa, aborsi sudah bukan lagi pilihan. “Saya sangat percaya, jika setiap dari kita berusaha sekuat tenaga, kita akan bisa sekali lagi, di era ini, menempatkan kembali makna sakral sebuah nyawa di tengah undang-undang Amerika Serikat.”

Pence berkata, akan mengakhiri legalisasi aborsi ini ‘di era kita ini’. “Ini akan menjadi era kembalinya tradisi Amerika.” (SUD/WHS/asr)