oleh Li Xinru

Upaya komunis Tiongkok memperketat pengawasan di daratan Tiongkok terus diperluas. Perangkat pengenalan wajah yang digunakan di Xinjiang untuk memantau para warga etnis minoritas, kini diperluas bahkan sampai ke Beijing.

Masyarakat khawatir bahwa teknologi yang dikembangkan untuk tujuan pemantauan dan kontrol masyarakat ini akan dipopulerkan di seluruh wilayah Tiongkok.

Beberapa tahun terakhir, Teknologi pengenalan wajah ini telah dimanfaatkan komunis Tiongkok  untuk memantau 11 juta warga etnis Uighur di Xinjiang.

VOA mengutip ‘TechCrunch’, sebuah majalah online yang mengkhususkan diri dalam pemberitaan pada industri teknologi, pada Jumat (3/5/2019) mengungkap perluasan pengawasan pengenalan wajah ini.

Diperluas sampai 16 Provinsi

Teknologi pengenalan wajah kini telah meluas sampai 16 provinsi termasuk kota Hangzhou, Wenzhou dan Fujian.

The New York Times mengutip orang dalam pada 14 April menyebutkan bahwa departemen keamanan publik di Sanmenxia, Kota di pesisir Sungai Kuning yang sejak tahun lalu telah menggunakan teknologi ini untuk melakukan 500.000 inspeksi dalam sebulan, guna memantau apakah ada warga etnis Uighur di antara penduduk.

The New York Times menemukan bahwa hampir 24 kantor polisi di 16 provinsi di Tiongkok mulai menggunakan teknologi pengenalan wajah sejak tahun 2018.

Tahun lalu, departemen penegakan hukum Provinsi Shaanxi bahkan berencana untuk membuat sistem kamera pintar yang dapat mendukung pengenalan wajah yang mampu membedakan karakteristik etnis antar Uighur dengan non-Uighur.

Selain itu, Wall Street Journal pernah memberitakan melalui artikel berjudul Tiongkok Membangun Jaringan Pemantauan yang Komprehensif Melalui Teknologi Pengenalan Wajah. Disebutkan bahwa komunis Tiongkok menerapkan teknologi pengenalan wajah di jalan-jalan, stasiun kereta bawah tanah, bandara dan tempat-tempat penyeberangan perbatasan.

Kebocoran pada data pemantauan

‘TechCrunch’ melaporkan, seorang peneliti keamanan jaringan telah menemukan bahwa database pemantauan wajah penyedia layanan komputasi awan dan e-commerce Tiongkok Alibaba terdapat “pintu belakang” yang tanpa langkah pengamanan, sehingga dapat diakses secara bebas oleh pengguna.

Data pemantauan yang ditemukan oleh peneliti tersebut dikumpulkan dari dua daerah perumahan di Beijing, salah satunya adalah Liangmaqiao, yang merupakan distrik kedutaan. Ketika ditemukan, data dalam basis masih meningkat pesat, menunjukkan bahwa pemantauan sedang berlangsung. Salah satu target pemantauan adalah perbedaan antara etnis Uighur dengan etnis Hans. Diperkirakan pemantauan terhadap apakah ada warga etnis Uighur sedang berlangsung.

Siapa pun dapat me-replay “rute perjalanan harian seseorang” berdasarkan data pemantauan ini. Para ahli khawatir bahwa pelanggaran data seperti itu akan disalahgunakan oleh orang-orang yang memiliki niat buruk (misalnya, untuk tujuan seperti merencanakan penculikan atau pemerasan).

Seorang reporter majalah Forbes kemudian menghubungi Alibaba Cloud agar mereka bisa segera menangani masalah ini.

Kasus database pengenalan wajah dibocorkan itu bukan yang pertama kalinya terjadi. Pada pertengahan bulan Februari tahun ini, sebuah perusahaan pembuat perangkat pengenalan wajah di kota Shenzhen, ‘SenseNets’ terungkap “berpintu belakang” sehingga isi database bisa diambil.

Di dalam database tersebut berisi lebih dari 2,5 juta informasi pribadi, termasuk nomor ID, masa berlakunya, jenis kelamin, kebangsaan, alamat, tanggal lahir, izin perjalanan, nama majikan, dan rekaman kamera tentang tempat-tempat yang dikunjungi dalam 24 jam terakhir.

Victor Gevers, seorang peneliti keamanan siber di organisasi nirlaba Belanda GDI Foundation mengungkapkan bahwa informasi pribadi yang begitu penting ini tersedia semuanya yang dengan mudah dapat diakses siapa saja secara online, bahkan oleh editor. Informasi yang dibocorkan ini dalam kondisi tanpa perlindungan selama berbulan-bulan.

Selain itu, menurut organisasi riset pasar internasional IDC pada bulan Januari tahun ini, hingga tahun 2022, penyebaran kamera pengawas yang dipasang komunis Tiongkok akan mencapai 2,76 miliar buah. Jumlah kamera pengintai ini hampir mencapai 2 kali lipat jumlah populasi Tiongkok yang kini 1,4 miliar jiwa.  Jadi setiap penduduk Tiongkok rata-rata dipantau lewat 2 buah kamera.

Mantan insinyur perangkat lunak senior Intel, Gao Mu pernah mengatakan kepada Epoch Times bahwa teknologi pengenal wajah digunakan untuk melacak warga negara mana pun, itu adalah hal yang mengerikan, karena dapat digunakan oleh komunis Tiongkok untuk menganiaya pengacara, warga yang mengajukan petisi, pemohon hak asasi manusia, kelompok agama, dan kelompok-kelompok etnis minoritas lainnya. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Atau Simak Ini : 

Share

Video Popular