- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Gelandangan Tua Ini Masuk ke Restoran Makanan Cepat Saji untuk Berteduh, Namun Diusir oleh Pegawainya, Bosnya yang Melihatnya Justru Seketika Berlutut

Erabaru.net. Li Wei adalah pemilik sebuah restoran cepat saji. Sebelumnya dia bekerja di sebuah perusahaan besar. Karena krisis ekonomi perusahaan tempat kerjanya melakukan pengurangan karyawan, dia salah satu karyawan yang kena PHK. Sementara orangtuanya di rumah jatuh sakit, sehingga Li Wei banyak berhutang, dia menjadi stres, dan mabuk sepanjang hari untuk menghilangkan sejenak tekanan hidupnya.

Belakangan, Li Wei mendirikan warung makan sederhana, dan usahanya lumayan lancar. Hanya dalam waktu yang relatif singkat, kurang lebih dua tahun, Li Wei membuka restoran cepat saji. Sekarang dia juga membuka dua cabang lagi, bisa dikata usahanya menjadi semakin lancar dan maju.

[1]

Pada hari itu hujan sangat deras, banyak orang ke restonya untuk berteduh, orang-orang yang berteduh itu memesan makanan, atau hanya sekedar pesan minuman. Namun, ada seorang pria tua dengan tampilan seorang gelandangan tidak memesan apa pun, jelas dia hanya ingin numpang berteduh.

Pegawai restoran yang melihatnya merasa tidak tahan, apalagi sekarang sedang ramai-ramainya pengunjung, kalau pria tua hanya duduk santai di kursi, jelas akan mempengaruhi pengunjung. Kemudian pegawai itu berteriak keras mengusir orang tua itu agar keluar.

[2]

Pengunjung yang sedang makan tidak tahan juga melihat sikap si pegawai, sekarang sedang hujan lebat di luar, orang tua itu pasti akan basah kuyup dan jatuh sakit terkena hujan.

Salah satu tamu mengatakan bahwa ia yang akan membayar makanan untuk orang tua itu. Meminta pegawai jangan bersikap seperti itu, tapi si pegawai tidak mau tahu, ia bersikeras mengusir orang tua itu.

Seorang tamu lainnya juga tidak suka melihat sikap si pegawai. kemudian ia memanggil bos restoran itu agar menegur pegawainya.

Ketika bos restoran itu keluar, dia melihat pria tua yang tampak dekil, seketika berlutut di hadapannya. Para pengunjung sontak terkejut melihat sikap bos itu.

[3]

“Pak, ini saya, sudah lama saya mencari bapak. Kalau tidak ada bapak, saya juga tidak akan sesukses sekarang,” kata bos tersebut.

Para pengunjung semakin bingung dengan sikap pemilik restoran. Bos itu menengur pegawainya dulu, kemudian menyajikan minuman panas untuk pria tua itu sambil menceritakan kisahnya.

Ternyata beberapa tahun yang lalu, sejak dia diberhentikan dari perusahaan, orangtuanya sakit, dan banyak berhutang, sehingga mencoba mengusir stresnya dengan menenggak minuman keras sepanjang hari.

Suatu hari di musim dingin, saat mabuk, ia jatuh pingsan di jalan dan nyaris mati kedinginan. Ketika sadar, ia melihat sehelai selimut kotor menutupi tubuhnya, dan di sampingnya tampak seorang lelaki tua.

[4]

Lelaki tua itu memberikan kepadanya satu-satunya selimutnya untuk menghalau udara dingin, sementara lelaki tua itu hanya menutupi tubuhnya dengan kardus untuk menghalau udara dingin yang menusuk tulang.

Li Wei bermaksud memberi uang pada orang tua itu, tetapi orang tua itu menolaknya dengan halus. Orang tua itu mengatakan bahwa selama dia bisa bergerak, dia tidak akan menambah beban pada masyarakat, dia masih bisa makan dengan menjadi pemulung.

Para tamu yang mendengarkan ceritanya merasa tersentuh, mereka memuji sikap dan tindakan orang tua itu. Kemudian mereka patungan dan mengumpulkan Rp 2 juta rupiah ditambah Rp 4 juta dari pemilik restoran, total ada Rp 6 juta, tapi pria tua itu bersikeras untuk tidak menerimanya.

Pegawai yang tadi bersikap kurang ajar pada si orang tua merasa sangat malu dan menyesal. Dia mengusulkan, daripada memberi ikan lebih baik memberi kailnya, atau dengan kata lebih baik membelikan sepeda motor roda tiga bekas yang ada atapnya.

Pertama, karena orang tua itu tidak mau menerima uang sumbangan dan merepotkan orang lain, kedua dapat melindungi orang tua itu dari hujan, dan memudahkannya memulung.

Bos restorran itu juga mengatakan, orang tua itu bisa datang ke restonya untuk mengisi listrik secara cuma-cuma pada motor listrik roda tiganya.

[5]

Orang-orang menerima saran pegawai restoran itu dan memintanya untuk mengurusnya. Hari itu, hujan sepanjang hari, cuaca sangat dingin. Namun restoran cepat saji selalu dipenuhi dengan kehangatan.

Sikap menolong dan kemandirian pria tua itu, dan pemilik resto yang tahu membalas budi, pegawai yang awalnya angkuh itu juga telah memberi usul yang brilian setelah mendapatkan pelajaran dari keangkuhannya.

Suasana di resto Li Wei terasa hangat meski di musim dingin! Walau pun hidup memberi kita banyak kemalangan, namun, dia juga telah membuat kita melihat kebaikan yang mengesankan di dunia ini, menanam buah yang baik, menghasilkan sebidang hutan yang hangat.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi: