oleh Zhou Xiaohui

Pada 3 Mei lalu dikatakan pembicaraan perdagangan AS – Tiongkok mengalami banyak kemajuan.  Kedua pihak disebut sudah dekat dengan membuat perjanjian yang sangat bersejarah.  Beselang beberapa hari kemudian, Presiden Trump tiba-tiba pada 5 Mei mencuit di akun Twitternya bahwa ia berencana untuk menaikkan tarif hukuman untuk barang-barang Tiongkok senilai USD. 200 miliar dari 10%menjadi 25% pada 10 Mei mendatang. Tarif ini akan mulai memberlakukan tarif 25% terhadap komoditas  impor dari Tiongkok lainnya yang senilai USD. 325 miliar.

Trump juga menulis : Negosiasi berjalan lambat, mereka (Tiongkok) bermaksud untuk mengadakan negosiasi ulang. Itu mustahil !

Ditinjau dari informasi yang ditulis oleh Trump melalui Twitter terlihat bahwa, sikapnya berubah drastis hanya dalam 2 hari, hal itu bisa saja terjadi akibat munculnya keadaan tak terduga dalam perundingan. Atau sangat mungkin juga Trump mencium adanya maksud Tiongkok menggunakan putaran negosiasi yang akan diadakan pada Rabu 8 Mei untuk meminta perundingan ulang demi membatalkan janji yang sudah mereka lontarkan sebelumnya. Di mana pihak Tiongkok bermaksud mengulur-ulur waktu agar bisa melewati batas waktu akhir negosiasi yang sudah ditetapkan pihak AS.

Walaupun tidak puas, tetapi Trump juga menyadari bahwa Beijing tidak dengan tulus menerima niat baik sampai 2 kali menunda kenaikan tarif, jangan-jangan negosiasi pun tanpa kesepakatan, sehingga ia cenderung untuk kembali memainkan strategi menaikkan tarif.

Dalam situasi ekonomi yang menguntungkan AS, dan tingkat pengangguran AS berada pada posisi terendah selama 20 tahun terakhir, Trump jelas tidak peduli terhadap apakah kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok dapat tercapai atau tidak.

Mungkin saja, seperti yang ia katakan pada 3 Mei : “Jika tidak berhasil, kami tetap baik-baik saja, bahkan mungkin lebih baik”. Ini sudah mencerminkan bahwa tekanan berulangnya pada Beijing tidak sepenuhnya di luar dugaan. Trump tampaknya telah melakukan persiapan jika perundingan gagal.

Setelah Trump menyampaikan pesannya lewat Twitter, penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Fox News bahwa itu adalah peringatan bagi Beijing. Ia juga menekankan bahwa Tiongkok harus berubah. “Masalah struktural dan  penegakan hukum mereka masih ada”.

Namun, Michael Pillsbury, seorang ahli urusan Tiongkok di Institut Hudson berpendapat bahwa pesan Trump di Twitter itu bukan sekadar peringatan. Jika itu diremehkan atau hanya dianggap sekedar peringatan, maka itu akan merusak kredibilitas Amerika Serikat. Ia berspekulasi bahwa pihak Tiongkok berubah sikap setelah Robert Lighthizer memberikan laporan perkembangan perundingan kepada Trump. Pihak Tiongkok telah mengubah sikapnya dan ingin menarik kembali komitmen sebelumnya yang sudah mereka buat pada masalah-masalah tertentu.

Dengan merangkum berita-berita yang dilaporkan pada 3 Mei, VOA berpendapat bahwa perubahan sikap pihak Tiongkok sangat tinggi.

Laporan mengutip media Hongkong ‘South China Morning Post’ yang juga mengutip dari para pejabat negosiator perdagangan Tiongkok mengatakan bahwa tidak perlu menganggap serius apa yang diucapkan Trump tentang ditandatanganinya perjanjian perdagangan pada bulan ini.

Selain itu, akun media sosial Tiongkok ‘Taoran Biji’ dalam postingannya mengatakan bahwa retorika administrasi Trump adalah untuk meningkatkan ketegangan dan menciptakan tekanan kepada negosiator perdagangan Tiongkok. Ini adalah strategi yang sama seperti AS mengancam akan menaikkan tarif, cuma sekedar mengalihkan perhatian dari tekanan ekstrem yang ia lakukan. Anda tidak perlu terlalu serius.

Dilihat dari informasi di atas, tampaknya pemerintah Beijing telah bersiap untuk menghadapi kegagalan perundingan. Oleh karena itu, dapat berprediksikan bahwa strategi Beijing adalah negosiasi berjalan dan berhenti.

Ketika sebagian besar kondisi tampaknya sudah hampir dapat disepakati, lalu dibuat mundur agar bisa dinegosiasikan kembali demi memperpanjang waktu negosiasi yang telah ditetapkan pemerintah AS. Ini adalah strategi mengulur waktu yang biasa dilakukan komunis Tiongkok. Namun, terhadap wawasan Trump dan keputusan cepat yang diambil untuk menaikkan tarif, Bagaimana rezim Beijing yang sempat terkejut akan memberikan tanggapannya ?

Salah satu tanggapan adalah menghentikan negosiasi. Saat ini, telah ada berita beredar bahwa Beijing akan membatalkan kunjungan Wakil Presiden Liu He ke Washington, yang berarti bahwa Beijing akan menanggung tekanan ekonomi yang sangat besar yang diakibatkan oleh tarif hukuman yang akan segera diberlakukan. Penarikan modal asing akan berlangsung lebih cepat, arus keluar modal juga akan meningkat, dan perusahaan swasta akan menghadapi gelombang penutupan usaha yang baru, jatuhnya pasar saham dan pasar valuta asing.

Ekonomi Tiongkok yang sudah terpukul akan menghadapi tekanan lebih keras. Pemimpin senior di Zhongnanhai adalah yang paling jelas. Dan bagaimana bentuk krisis kekuasaan yang akan terjadi,  tidak ada orang yang bisa memprediksinya.

Tanggapan lainnya tentu saja adalah melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat dan mengharapkan kesepakatan, tetapi hanya jika memenuhi persyaratan Amerika Serikat. Tetapi dari perspektif praktis, Beijing masih berharap mencapai kesepakatan. Karena perang dagang yang sudah berlangsung 1 tahun telah menyebabkan semakin banyak perusahaan dan rantai pasokan yang didanai asing meninggalkan daratan Tiongkok, adalah fakta bahwa ekonomi Tiongkok merosot tajam, sejumlah besar perusahaan tutup, dan pengangguran meningkat.

Mata pencaharian masyarakat dan masalah sosial yang disebabkan oleh penurunan ekonomi terus datang silih berganti membuat pejabat senior Zhongnanhai lelah dan kesulitan dalam mengatasinya.

Selain itu, ada banyak hari yang sensitif pada tahun 2019, saraf komunis Tiongkok yang sudah rapuh sudah berada dalam keadaan nyaris gila. Tekanan tinggi terhadap masyarakatnya terus ditingkatkan, demi mempertahankan stabilitas, bayangan Revolusi Kebudayaan kembali dimunculkan di Tiongkok.

Oleh karena itu, eksekutif Beijing berharap untuk mencapai perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat dan mengadakan KTT Trump – Xi Jinping, demi meredakan krisis internal. Namun, dari pernyataan Trump yang berulang-ulang dikatakan bahwa KTT hanya akan terjadi bila mencapai perjanjian yang baik, dan harus menjadi perjanjian besar yang memiliki makna historis. Apalagi Trump juga berulang kali mengatakan bahwa dirinya tidak dalam keadaan memburu kesepakatan.

Sikap Trump sudah jelas dan bola sudah ditendang ke pihak Beijing. Meskipun dilihat dari permukaan tampak kendala yang menghalangi KTT adalah kesepakatan, tetapi perbedaan antara kedua belah pihak dalam perjanjian tersebut menyoroti perbedaan antara kedua sistem.

Pemerintahan Trump telah menjelaskan bahwa sikap Amerika Serikat adalah menghendaki Tiongkok melakukan reformasi struktural, termasuk mengubah pencurian hak kekayaan intelektual yang terjadi saat ini serta pemaksaan untuk mentransfer teknologi kepada perusahaan-perusahaan Tiongkok.

Saat ini, masalah yang belum terselesaikan antara kedua belah pihak terutama terletak pada 2 poin : Pertama, setelah penandatanganan perjanjian, AS bersikeras hanya akan membatalkan beberapa tarif, tetapi Tiongkok bersikeras supaya AS membatalkan seluruh tarif, Kedua, AS menuntut pembentukan pengawasan dan mekanisme penegakan hukum yang sepihak, yaitu, jika Beijing tidak mematuhi Ketentuan perjanjian, Washington akan memiliki hak untuk membalas, tetapi ditolak pihak Tiongkok.

Mengapa Beijing bersikeras menolak setelah Amerika Serikat membatalkan tarif kemudian melakukan pembalasan karena Tiongkok dianggap tidak mematuhi perjanjian ? Seberapa besar ketulusan Beijing untuk mengimplementasikan perjanjian ? Benarkah Beijing bersedia melakukan reformasi struktural ? Sikap Beijing sangat jelas mencerminkan bahwa partisipasi komunis Tiongkok dalam negosiasi ini hanyalah sebuah penipuan.

Setelah Trump kembali mengambil langkah menaikkan tarif, jika Beijing memilih untuk membatalkan kunjungan Liu He ke Washington, maka negosiasi perdagangan Tiongkok – AS tidak diragukan lagi akan terbengkalai. Dan jika hambatan yang menghadang KTT tidak disingkirkan, maka KTT tidak akan terjadi. Dan yang dapat dipastikan sampai 100% adalah bahwa demi kepentingan untuk melindungi kekuasaan komunis Tiongkok, Beijing tidak mungkin melakukan reformasi struktural.

Jadi negosiasi perdagangan tak lain hanya strategi  untuk menunda waktu. Badai apalagi yang akan menimpah Beijing setelah merasakan sakit berat ini ? Mari kita lihat bersama (Sin/asr)

Video Rekomendasi :

Simak yang Ini : 

Share

Video Popular