Erabaru.net. Di usianya yang ke-18 tahun musim panas ketika itu, dia menerima surat pemberitahuan hasil ujian masuk perguruan tinggi. Dia gagal diterima di perguruan tinggi. Perasaannya serasa diiris sembilu, dia merasa dirinya adalah orang yang paling menderita di dunia, dan air matanya pun berlinang.

Dia lahir di desa, adalah seorang gadis yang rapuh sekaligus sosok orang yang ingin terlihat tegar. Meskipun itu adalah usia yang sedang mekar-mekarnya dan penuh dengan gairah muda, tetapi gagal diterima di universitas bagaikan sembilu yang menyayat hatinya, perih tak terkira.

Terlintas dalam benaknya satu kata yang tidak pernah ada dalam pikirannya- Mati. Namun sebelum mati, dia memutuskan untuk pulang dulu dan menjenguk orangtuanya yang telah membesarkannya dengan susah payah.

Ilustrasi.(Internet)

Ketika dia berjalan ke rumah dengan muka sayu, orangtuanya langsung bisa melihat kemuraman di wajahnya.

Ketika melahirkannya, ibunya nyaris kehilangan nyawanya karena distosia (kesulitan persalinan normal). Orangtuanya selalu menyayanginya bak putri raja, tidak pernah sedikit pun membiarkannya hidup menderita.

Sepanjang sore itu, dia mengurung diri di rumah, tidak mau makan dan minum. Dia diam membisu dan tidak mau membukakan pintu meski dibujuk orangtuanya dengan cara apa pun.

Menjelang malam, kepiluan di hatinya juga semakin menyiksanya. Suara orangtuanya perlahan-lahan melemah dalam helaan nafas.

Pada dini hari, dia memperkirakan orangtuanya pasti sudah tertidur, perlahan-lahan dia membuka pintu dan bermaksud menyelinap keluar kemudian secara diam-diam mengakhiri hidupnya.

Tetapi ketika dia membuka pintu, dia melihat ayahnya sedang menjaga ibunya yang menangis. Dia pun tertegun di tempat!

Di usianya yang ke-24 tahun musim gugur kala itu, dia memadu kasih yang tak terlupakan selama tiga tahun, namun, pacarnya menghilang begitu saja tanpa meninggalkan alasan apa pun.

Dia yang tidak pernah merasakan putus cinta, merasa dunianya serba gelap. Dia sekali lagi merasa bahwa dia adalah orang yang paling menderita.

Dia merasa dia adalah orang yang dilahirkan secara khusus untuk cinta, dan cinta adalah udara yang dia hirup, adalah makanan dalam hidupnya. Tanpa cinta, dia merasa tidak ada artinya lagi hidup.

Ilustrasi.(Internet)

Sekali lagi dia berpikir tentang mati, dan sekali lagi terbayang pada orang yang telah melahirkan, membesarkannya, sosok orang yang paling dekat dengannya di dunia, yakni orangtuanya.

Sambil membawa serta luka hatinya yang tersayat, dia seperti dedauan kering dari sudut kota yang jatuh ke sisi orangtuanya di kampung.

Melihat sosoknya yang sayu tak bergairah, orangtuanya langsung mengerti apa yang terjadi. Putrinya yang tampak sangat tersiksa itu seperti palu yang berat menghancurkan hati orangtuanya.

Hanya dalam waktu semalam, dia melihat orangtuanya menjadi tua 10 tahun. Melihat itu, dia kembali merasakan getaran yang kuat akan rasa sakitnya yang dibebankan kepada orangtuanya!

Pada usia 30 tahun di musim dingin tahun ketiga pernikahannya, dia dan suaminya mengalami pertengkaran pertama sejak pernikahan mereka.

Sebelum menikah, suaminya berjanji padanya, dan berkata manis, sehingga membuat hatinya berbunga-bunga setiap hari seperti taman bunga yang harum semerbak dan penuh pesona.

Tapi sekarang, dia menjadi tidak romantis, sepertinya tidak lagi mencintainya seperti dulu, dan bahkan terkadang tidak pulang tanpa sebab yang jelas. Karena itu, dia tidak tahan dengan pernikahan yang menyakiti hatinya itu.

Sekali lagi, dia merasa bahwa dia adalah orang yang paling sengsara di dunia. Dia mengemasi pakaiannya dan bersikeras untuk pulang ke rumah orangtuanya, dan tampaknya tidak akan pernah kembali lagi.

Ilustrasi.(Internet)

Namun sebelum masuk ke pintu rumah orangtuanya, air matanya mulai berlinang. Orangtuanya yang sudah tua kembali sedih melihatnya seperti itu dulu lagi. Ketika dia melihat pandangan sedih orangtuanya, dia seakan melihat kepiluan di mata orangtuanya …

Hatinya mulai bergetar hebat, bukan karena rasa sakitnya pada dirinya, tetapi orangtuanya. Dia mulai mengenang kembali lika-liku hidup yang pernah dialaminya, rasa sakit karena gagal kuliah, rasa sakit karena putus cinta, rasa sakit karena gagalnya perkawinan dan rasa sakit lainnya.

Meskipun semua kegagalan itu membuat pilu hatinya, tetapi sampai di sini perjalanan hidup yang dialaminya, dia baru mulai dengan serius memahami dan merasakan kepedihan orangtuanya – setiap saat ketika dia disiksa oleh kepiluan, dia selalu berpikir bahwa dirinya adalah orang yang paling menderita di dunia.

Tapi saat Anda tersiksa oleh kesedihan, selalu ada orang yang lebih merasakan kepiluan itu daripada Anda, dan sosok orang itu adalah orangtua yang melahirkan dan membesarkan Anda dengan segenap jiwa raganya.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular