oleh Tim Editorial “Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis”

The Epoch Times menerbitkan serial khusus terjemahan dari buku baru berbahasa Tionghoa berjudul Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita, oleh tim editorial Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis.

Daftar Isi

Kata Pengantar

1.Keluarga Tradisional Ditata oleh Tuhan
2.Tujuan Komunisme untuk Menghilangkan Keluarga
3.Promosi untuk Bersetubuh dengan Siapa Saja oleh Komunisme
4.Praktek Berbagi Istri di Bawah Naungan Komunisme
a.Berbagi Istri di Uni Soviet
b.Seks Bebas di Yan’an

5.Cara Komunisme Menghancurkan Keluarga di Barat
a.Mempromosikan Seks Bebas
b.Mempromosikan Feminisme dan Menolak Keluarga Tradisional

DAFTAR PUSTAKA

Kata pengantar

Sejak tahun 1960-an, berbagai gerakan anti-tradisional, termasuk feminisme modern, seks bebas, dan hak-hak kaum homoseksual, telah menjadi terkenal di Barat. Institusi keluarga adalah yang paling terpukul. Di Amerika Serikat, Undang-Undang Reformasi Hukum Keluarga tahun 1969 memberi lampu hijau untuk perceraian sepihak. Negara-negara lain segera meluncurkan undang-undang serupa.

Di Amerika Serikat, rasio perceraian dengan pernikahan adalah lebih dari dua kali lipat dari tahun 1960 hingga 1980-an. Pada tahun 1950-an, sekitar 11 persen anak-anak yang lahir dalam suatu pernikahan melihat orangtuanya bercerai, dan pada tahun 1970, rasio perceraian dengan pernikahan melonjak hingga 50 persen. [1] Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, lebih dari 40 persen bayi baru lahir pada tahun 2016 di Amerika Serikat adalah lahir di luar nikah. Pada tahun 1956, angka ini kurang dari 5 persen. [2]

Dalam masyarakat tradisional di Timur dan di Barat, kesucian hubungan pria dan wanita dipandang sebagai suatu kebajikan. Kini, hal tersebut dianggap aneh dan bahkan konyol. Gerakan pernikahan sesama jenis, disertai dengan gerakan feminis, telah berusaha mendefinisikan kembali keluarga dan pernikahan. Seorang profesor hukum yang saat ini menjadi anggota Komisi Kesempatan Kerja Setara Federal Amerika Serikat memprakarsai sebuah deklarasi pada tahun 2006 yang disebut “Beyond Same-Sex Marriage: A New Strategic Vision for All Our Families and Relationships” yang artinya “Melampaui Perkawinan Sama Jenis: Sebuah Visi Strategis Baru untuk Semua Keluarga dan Hubungan Kita,” yang menganjurkan agar orang membentuk segala bentuk baru keluarga, sesuai dengan keinginan mereka (termasuk pernikahan poligami, keluarga pasangan homoseksual bersama, dan sebagainya). Profesor tersebut juga berpendapat bahwa pernikahan tradisional dan keluarga tidak boleh menikmati lebih banyak hak hukum daripada bentuk “keluarga” lainnya. [3]

Di sekolah umum, seks pranikah dan homoseksualitas, yang dianggap memalukan selama ribuan tahun di masyarakat tradisional, tidak hanya dianggap biasa, tetapi di beberapa sekolah, bahkan secara diam-diam atau secara eksplisit didorong untuk melakukan seks pranikah dan homoseksualitas. Dalam pandangan ini, orientasi seksual anak harus dikembangkan dan dipilih secara bebas, yang mengakibatkan peningkatan kasus homoseksualitas, biseksualitas, transgenderisme, dan sebagainya. Sebagai contoh, pada tahun 2012, Distrik Sekolah Rhode Island melarang tradisi sekolah mengadakan tarian ayah dengan putrinya dan permainan bisbol ibu dengan putranya – kegiatan yang secara implisit mendukung peran gender tradisional, di mana anak perempuan menikmati menari dan anak laki-laki menikmati permainan bisbol – mengatakan bahwa sekolah umum tidak berhak menanamkan ide anak-anak, misalnya bahwa anak perempuan suka menari atau bahwa anak laki-laki suka bermain bisbol. [4]

Sekarang menjadi jelas bahwa terjadi kecenderungan menuju kehancuran keluarga tradisional secara bertahap. Penghapusan keluarga yang dianjurkan oleh komunisme akan menjadi kenyataan sebelum penghapusan perbedaan kelas yang telah lama dijanjikan.

Dalam masyarakat Barat, ada banyak aspek penghancuran keluarga, yang mencakup dampak tidak hanya feminisme, seks bebas, dan gerakan homoseksual, tetapi juga latar belakang sosial yang lebih luas dari pembelaan sayap kiri, progresivisme, dan sejenisnya, yang semuanya diklaim berada di bawah panji “kebebasan,” “keadilan,” “hak,” dan “pembebasan.” Ide-ide ini ditopang secara eksplisit dan implisit oleh hukum, interpretasi hukum, dan kebijakan ekonomi yang didukung oleh sesama ahli ideologi. Semua itu memiliki efek mendorong orang untuk meninggalkan dan mengubah konsep pernikahan tradisional dan keluarga.

Ideologi-ideologi ini berasal dari awal abad ke-19 dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor komunis. Roh komunisme yang jahat unggul dalam melakukan mutasi dan penipuan yang terus-menerus, yang telah menyebabkan kebingungan secara terus-menerus terhadap apa yang sebenarnya didukung orang-orang saat mereka mendukung kebijakan dan ideologi ini. Hasilnya adalah dalam memandang dunia, kita dicelupkan ke dalam parameter yang ditentukan oleh ide komunis. Situasi tragis saat ini — degradasi keluarga tradisional dan kebingungan orang-orang mengenai sifat sejati tren ini — adalah hasil dari perencanaan yang cermat dan penerapan semangat komunisme secara bertahap selama dua ratus tahun terakhir.

Konsekuensinya adalah bahwa tidak hanya keluarga dihilangkan sebagai unit dasar stabilitas sosial, tetapi moralitas tradisional yang didirikan oleh Tuhan juga dihancurkan, dan peran yang dimainkan keluarga dalam meneruskan dan memelihara generasi berikutnya dalam kerangka kepercayaan tradisional juga hilang. Dengan demikian, generasi muda tidak dibatasi oleh ide dan kepercayaan tradisional, dan menjadi mainan untuk kepemilikan ideologis oleh roh komunisme.

1. Keluarga Tradisional Ditata oleh Tuhan

Dalam budaya tradisional Timur dan Barat, pernikahan diciptakan oleh Tuhan dan dianggap diatur oleh Surga. Setelah terbentuk, ikatan pernikahan tidak dapat diputuskan. Baik pria maupun wanita diciptakan oleh para dewa, menurut citra para dewa, dan semua manusia adalah sama di hadapan para dewa. Pada saat yang sama, Tuhan juga membuat pria dan wanita berbeda secara fisik, dan menetapkan peran masing-masing untuk mereka. Dalam tradisi Barat, wanita adalah tulang dari tulang pria dan daging dari daging pria. [5] Seorang pria harus mencintai istrinya seolah-olah istrinya adalah bagian dari tubuhnya sendiri, dan jika perlu, mengorbankan dirinya untuk melindungi istrinya.

Pada gilirannya, seorang wanita harus bekerja sama dengan suaminya dan membantu suaminya, menjadi pasangan suami istri sebagai satu kesatuan yang utuh. Pria bertanggung jawab untuk bekerja keras dan mencari nafkah untuk menghidupi keluarga, sementara wanita menderita saat melahirkan. Semua ini bermula dari berbagai dosa asal yang dipikul oleh manusia.

Demikian pula, dalam budaya tradisional Timur, pria dikaitkan dengan ‘yang’ dari ‘yin’ dan ‘yang’, yang secara simbolis terhubung dengan matahari dan langit, yang menuntut pria untuk terus berjuang membuat kemajuan dan memikul tanggung jawab merawat keluarga melalui masa-masa sulit. Wanita termasuk dalam prinsip ‘yin,’ yang secara simbolis terhubung dengan bumi, yang berarti wanita menanggung dan memelihara segala sesuatu dengan kebajikan besar. Wanita harus menghasilkan dan mempertimbangkan orang lain, dan wanita bertugas mendukung suami dan mendidik anak-anaknya. Hanya ketika pria dan wanita bekerja dengan baik sesuai perannya msing-masing, ‘yin’ dan ‘yang’ dapat diselaraskan dan anak-anak tumbuh dan berkembang dengan cara yang sehat.

Keluarga tradisional memainkan peran mentransmisikan kepercayaan dan moralitas dan menjaga stabilitas masyarakat. Keluarga adalah tempat lahirnya kepercayaan dan ikatan untuk transmisi nilai-nilai. Orangtua adalah guru pertama dalam kehidupan anak-anak. Jika anak-anak dapat mempelajari kebajikan tradisional seperti tidak mementingkan diri sendiri, kerendahan hati, rasa terima kasih, ketekunan, dan lainnya dari kata-kata dan perbuatan orangtuanya, maka anak-anak akan mendapat manfaat selama sisa hidupnya.

Kehidupan pernikahan tradisional juga membantu pria dan wanita tumbuh bersama dalam moralitas, di mana suami dan istri harus memperlakukan emosi dan keinginan mereka dengan sikap baru serta saling memperhatikan dan toleran, di mana hal ini pada dasarnya berbeda dari gagasan hidup bersama (kumpul kebo). Emosi manusia berubah-ubah. Jika pasangan itu kumpul kebo karena mereka suka untuk bersama dan kemudian pasangan itu putus karena mereka sudah tidak saling menyukainya lagi, berarti hubungan seperti itu tidak jauh berbeda dari persahabatan biasa yang tidak terikat oleh pernikahan. Akhirnya Karl Marx berharap terjadinya “hubungan seksual tak terbatas” yang meluas, [6] yang tentu saja berarti membubarkan perkawinan tradisional dan dengan demikian, pada akhirnya, menghilangkan institusi keluarga.

2. Tujuan Komunisme untuk Menghilangkan Keluarga

Komunisme percaya bahwa keluarga adalah bentuk kepemilikan pribadi. Oleh karena itu, untuk menghilangkan kepemilikan pribadi, maka keluarga juga harus dihilangkan. Prinsip asli komunisme menganggap faktor ekonomi sebagai kunci dalam menentukan jenis hubungan keluarga yang terbentuk. Marxisme-Freudianisme kontemporer menganggap hasrat seksual sebagai kunci pertanyaan yang terkait dengan keluarga. Karakteristik umum Marxisme-Freudianisme adalah mengesampingkan moralitas dasar manusia, penyembahan materialisme, keinginan, dan kepentingan sesuai keinginan manusia. Semua ini hanya mengubah manusia menjadi binatang. Ini adalah ideologi yang dipelintirkan yang memiliki efek menghancurkan keluarga dengan cara merusak pikiran.

Khayalan fantastis yang berada di jantung komunisme adalah doktrin pembebasan umat manusia, yang tertuju tidak hanya sebagai pembebasan yang seharusnya dalam arti ekonomi, tetapi juga pembebasan umat manusia itu sendiri. Tentu saja, kebalikan dari pembebasan adalah penindasan. Jadi dari mana asalnya penindasan yang harus dilawan? Jawaban komunisme adalah penindasan berasal dari gagasan manusia itu sendiri, yang dipaksakan oleh moralitas sosial tradisional: Patriarki struktur keluarga tradisional menindas perempuan; moralitas seksual tradisional menindas sifat manusia, dan sebagainya.

Gerakan feminisme dan hak-hak kaum homoseksual dari generasi selanjutnya mewarisi dan kemudian memperluas teori pembebasan yang diilhami komunis ini, yang mengarah pada serangkaian konsep yang bertentangan dengan pernikahan tradisional dan keluarga, serta mengarah pada seks bebas, homoseksualitas, dan sejenisnya. Semua gagasan ini telah menjadi alat yang digunakan oleh iblis untuk merusak dan menghancurkan keluarga. Komunisme menentang semua nilai moral tradisional dan berharap untuk menggulingkan semua nilai moral tradisional, seperti yang dinyatakan dengan jelas dalam Manifesto Komunis.

3. Promosi untuk Bersetubuh dengan Siapa Saja oleh Komunisme

Roh komunisme yang jahat menempatkan dirinya melawan keluarga tradisional, yang ingin dihancurkannya. Di awal abad ke-19, Robert Owen, seorang perwakilan sosialisme utopis, menabur benih ideologi iblis. Sebagai pelopor ideologis, Robert Owen mendirikan komunitas utopis Keselarasan Baru di Indiana pada tahun 1824. (Gagal dua tahun kemudian.) Pada hari komunitas tersebut didirikan, ia menyatakan:

Kini saya menyatakan, bagi anda dan dunia, bahwa Manusia, di semua bagian bumi hingga saat ini, telah menjadi budak Tritunggal dari kejahatan yang paling mengerikan yang dapat digabungkan untuk menimbulkan kejahatan mental dan fisik pada seluruh ras manusia. Saya merujuk pada kepemilikan pribadi, atau perorangan — sistem agama yang mustahil dan tidak masuk akal — dan perkawinan, yang dibangun di atas properti perorangan yang dikombinasikan dengan beberapa sistem agama yang irasional ini. [7]

Setelah Robert Owen meninggal, komunis utopis lain yang berpengaruh adalah Charles Fourier dari Prancis, yang pemikirannya sangat mempengaruhi Karl Marx dan Marxis. Setelah kematian Charles Fourier, murid-muridnya membawa pemikirannya ke dalam Revolusi 1848 dan Komune Paris, dan kemudian menyebarkannya ke Amerika Serikat. Charles Fourier pertama kali menciptakan istilah “feminisme” (“féminisme” dalam bahasa Prancis).

Masyarakat komunis berdasarkan ide Charles Fourier (disebut Phalanx), menghina keluarga tradisional, dan memuji mabuk-mabukan dan pesta pora sebagai nafsu batin manusia yang sepenuhnya membebaskan. Charles Fourier juga menyatakan bahwa masyarakat yang adil harus menjaga manusia yang ditolak secara seksual (seperti orang tua atau yang tidak memiliki kepemilikan) untuk memastikan bahwa setiap orang memiliki “hak” untuk kepuasan seksual. Ia percaya bahwa segala bentuk kepuasan seksual, termasuk sadomasokisme, dan bahkan inses dan melakukan aktivitas seksual dengan binatang, harus dibiarkan selama itu atas dasar suka sama suka. Oleh karena itu, Charles Fourier dapat dianggap sebagai pelopor teori aneh, cabang dari gerakan homoseksual kontemporer (termasuk LGBTQ dan sejenisnya).

Karena pengaruh Robert Owen dan khususnya Charles Fourier, belasan komune komunis utopis didirikan di Amerika Serikat pada abad ke-19, meskipun sebagian besar berumur pendek dan berakhir dengan kegagalan. Yang terlama adalah Komune Oneida yang didirikan berdasarkan teori Charles Fourier, yang berlangsung selama 32 tahun. Komune Oneida membenci pernikahan monogami tradisional dan menganjurkan poligami dan seks berkelompok. Anggota mendapat akses seksual “adil” di mana setiap minggu diberi kesempatan untuk berhubungan seks dengan siapa pun yang mereka pilih. Pada akhirnya, pendirinya, John Humphrey Noyes, melarikan diri karena takut akan tuntutan hukum oleh gereja. Komune Oneida dipaksa untuk berbagi istri, meskipun John Humphrey Noyes kemudian menulis buku dan menjadi pencetus Komunisme Alkitab.

Gen bebas komunisme adalah konsekuensi yang tak terhindarkan dari perkembangan teoretisnya. Sejak awal, iblis komunisme menggoda manusia untuk meninggalkan ajaran Ilahi, menyangkal Ilahi, dan menyangkal dosa asal.

Menurut logika ini, masalah sosial yang awalnya disebabkan oleh kemerosotan moralitas manusia dikaitkan dengan kepemilikan pribadi. Komunisme membuat orang percaya bahwa jika kepemilikan pribadi dihancurkan, orang tidak akan memperebutkannya. Namun, bahkan jika semua properti dibagikan, orang mungkin juga memiliki konflik atas pasangan mereka. Oleh karena itu, sosialis utopis secara terbuka menggunakan sistem berbagi istri untuk memecahkan masalah yang melekat pada sifat manusia.

“Surga” komunis ini secara langsung menantang keluarga tradisional atau menganjurkan sistem istri bersama, yang membuat komunitas lokal, gereja, dan pemerintah memandang “surga” komunis sebagai tantangan bagi moralitas dan etika tradisional, dan mengambil tindakan untuk menekan “surga” komunis. Berbagi kekayaan dan berbagi istri ala komunis yang keji tersebut menjadi dikenal secara luas.

Kegagalan komune utopis memberi pelajaran pada Karl Marx dan Engels: Ini belum waktunya untuk secara terbuka menganjurkan berbagi istri secara bebas. Meskipun tujuan menghilangkan keluarga dalam Manifesto Komunis tidak berubah, mereka mengadopsi pendekatan yang lebih tersembunyi untuk mengedepankan teori mereka dan menghancurkan keluarga.

Setelah kematian Karl Marx, Engels menerbitkan buku The Origin of the Family, Private Property, and the State, in the Light of the Researches of Lewis H. Morgan yang artinya Asal Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara, dalam Cahaya Penelitian Lewis H. Morgan untuk melengkapi teori Karl Marx mengenai keluarga dan lebih jauh menguraikan pandangan Marxis mengenai pernikahan: “[Kemunculan monogami] didasarkan pada supremasi pria, tujuan yang jelas adalah untuk menghasilkan anak-anak dari ayah yang sah; ayah seperti itu dituntut karena di kemudian hari anak-anaknya akan datang ke tanah milik ayahnya sebagai ahli warisnya, maka kekuatan ikatan pernikahan yang jauh lebih besar, yang tidak lagi dapat dibubarkan atas keinginan salah satu pasangan, itulah yang berbeda dengan pernikahan tanpa ikatan.”[8]

Engels berpendapat bahwa monogami berbasis di sekitar properti pribadi, dan begitu semua properti dibagikan, akan ada model baru pernikahan yang murni berdasarkan cinta. Secara dangkal, hal itu terdengar sangat mulia — tetapi sebenarnya tidak.
Upaya pertahanan Karl Marx dan Engels tampaknya lemah mengingat penerapan aktual teori komunis. Perasaan tidak dapat diandalkan. Jika seseorang mencintai seseorang pada hari ini dan mencintai orang lain pada esok harinya, apakah hal tersebut tidak mendorong terjadinya persetubuhan dengan siapa saja? Persetubuhan dengan siapa saja yang terjadi setelah berdirinya Uni Soviet dan rezim komunis Tiongkok, yang dijelaskan pada bagian berikutnya, pada kenyataannya, adalah hasil dari doktrin Marxis terapan.

Hubungan antara suami dan istri tidak selalu berjalan lancar. Sumpah “sampai maut memisahkan kita” selama pernikahan tradisional adalah sumpah untuk Tuhan, yang juga mewakili gagasan bahwa suami dan istri siap untuk menghadapi dan mengatasi semua kesulitan bersama. Yang mempertahankan pernikahan bukanlah hanya emosi atau perasaan, tetapi juga rasa tanggung jawab. Memperlakukan suami/istri sebagai belahan jiwa, merawat anak-anak dan keluarga dengan baik akan mengubah suami menjadi pria dewasa dan mengubah istri menjadi wanita dewasa, di mana keduanya dipenuhi dengan tanggung jawab moral.

Karl Marx dan Engels membual dalam The Origin of the Family, Private Property, and the State yang dalam masyarakat komunis, kepemilikan pribadi menjadi milik umum; pekerjaan rumah tangga menjadi profesional; tidak perlu khawatir urusan merawat anak-anak karena merupakan tanggung jawab negara untuk merawat dan mendidik anak-anak.

Karl Marx dan Engels menulis: “Hal ini menghilangkan semua kecemasan mengenai ‘konsekuensi,’ yang saat ini merupakan faktor sosial terpenting – moral dan ekonomi – faktor yang mencegah seorang gadis menyerahkan dirinya kepada pria yang ia cintai. Tidakkah hal tersebut cukup untuk menghasilkan secara bertahap pertumbuhan hubungan seksual tanpa batasan dan berkat hal tersebut opini publik menjadi lebih toleran terhadap kehormatan seorang gadis dan rasa malu seorang wanita?”[9]

Apa yang dipromosikan Karl Marx dan Engels, meskipun menggunakan frasa “kebebasan,” “pembebasan,” dan “cinta” untuk menyembunyikan fakta, adalah untuk meninggalkan tanggung jawab moral pribadi. Mereka mendorong manusia untuk bertindak semata-mata atas keinginannya. Namun, selama era Karl Marx dan Charles Fourier, kebanyakan manusia tidak sepenuhnya meninggalkan ajaran saleh dan bersikap waspada terhadap promosi bersetubuh dengan siapa saja oleh komunisme. Namun, bahkan Karl Marx sendiri pun sulit membayangkan rasionalisasi yang akan muncul pada abad ke-20 dan setelahnya, untuk merangkul kekacauan seksual ala pemikiran Marxis dan terus mendesak terwujudnya penghilangan keluarga.

Setan merah mengatur manusia tertentu untuk menabur benih-benih kehati-hatian dan penyimpangan ini. Setan merah juga secara sistematis mengatur untuk memikat manusia untuk mengikuti keinginannya dan menentang ajaran saleh, sehingga secara bertahap merusak manusia, sampai akhirnya tercapai tujuan menghilangkan keluarga, yang pada akhirnya akan mengakibatkan penyimpangan hati manusia dan membuat manusia jatuh ke dalam genggaman iblis.

4. Praktek Berbagi Istri di Bawah Naungan Komunisme

Kekacauan seksual yang digambarkan di atas adalah bagian bawaan dari komunisme. Karl Marx diyakini telah memperkosa pembantunya dan meminta Engels membesarkan anak haram tersebut. Engels hidup bersama dengan dua saudara perempuan. Lenin melakukan perselingkuhan dengan seorang wanita bernama Inesa selama 10 tahun, dan melakukan perzinahan dengan seorang wanita Prancis. Lenin juga tertular sipilis dari pelacur. Stalin juga sama bejatnya dan diketahui telah mengambil keuntungan dari istri orang lain.

Setelah Uni Soviet merebut kekuasaan, mereka melembagakan praktik berbagi istri. Pada saat itu Uni Soviet dapat dipandang sebagai pelopor seks bebas di Barat. Dalam edisi kesepuluh majalah Rusia Rodina, yang dicetak pada tahun 1990, fenomena berbagi istri selama pemerintahan awal Soviet terungkap. Kutipan tersebut juga menggambarkan kehidupan pribadi para pemimpin Soviet Trotsky, Bukharin, Antonov, Kollontai, dan lainnya, yang mengatakan bahwa mereka mirip anjing dalam kegiatan seksualnya.

a. Berbagi Istri di Uni Soviet

Pada awal tahun 1904, Lenin menulis: “Nafsu dapat membebaskan energi roh — bukan untuk nilai-nilai keluarga-semu, tetapi untuk kemenangan sosialisme haruslah bekuan darah ini dihilangkan.” [10]

Pada pertemuan Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia, Trotsky mengusulkan bahwa begitu kaum Bolshevik merebut kekuasaan, prinsip fundamental baru hubungan seksual akan disusun. Teori komunis menuntut penghancuran keluarga dan transisi ke periode kepuasan hasrat seksual yang tidak terbatas. Trotsky juga mengatakan bahwa tanggung jawab untuk mendidik anak-anak harus berada di tangan negara.

Dalam sepucuk surat kepada Lenin pada tahun 1911, Trotsky menulis: “Tidak diragukan lagi, penindasan seksual adalah cara utama untuk memperbudak seseorang. Sementara terjadi penindasan semacam itu, tidak mungkin ada masalah kebebasan sejati. Keluarga, seperti lembaga borjuis, telah sepenuhnya hidup lebih lama dari dirinya sendiri. Penting untuk berbicara lebih banyak mengenai hal ini kepada para buruh.”

Lenin menjawab: “Dan bukan hanya keluarga. Semua larangan yang berhubungan dengan seksualitas harus dihapuskan… Kami memiliki sesuatu untuk dipelajari dari hak pilih: Bahkan larangan mencintai sesama jenis harus dicabut.”[11] Setelah kaum Bolshevik merebut kekuasaan, Lenin mengeluarkan serangkaian peraturan yang secara efektif menghapuskan pernikahan dan hukuman homoseksualitas. [12]

Pada waktu itu, ada juga slogan “Hilangkan rasa malu!” Ini adalah bagian upaya Bolshevik untuk menciptakan “manusia baru” menurut ideologi sosialis. Kadang para pengikut Bolshevik bahkan berkeliaran di jalanan tanpa busana, meneriakkan slogan-slogan histeris seperti “Rasa malu ada di masa borjuis rakyat Soviet yang telah berlalu.” [13]

Pada tanggal 19 Desember 1918, untuk merayakan hari peringatan dekrit yang secara efektif menghapuskan perkawinan, kelompok lesbian merayakan. Trotsky menulis dalam memoarnya bahwa berita mengenai lesbian yang merayakan hari peringatan dekrit dengan berparade membuat Lenin sangat bahagia. Lenin juga mendesak lebih banyak orang untuk telanjang dalam parade tersebut. [14]

Pada tahun 1923, novel Soviet berjudul Cinta Tiga Generasi mempopulerkan kata “bersetubuh bagaikan minum air.” Penulis, Komisaris Rakyat untuk Kesejahteraan Sosial Alexandra Kollontai, adalah seorang revolusioner dari keluarga tradisional yang berjuang untuk masuk ke faksi Bolshevik, mencari “pembebasan perempuan.” “Bersetubuh bagaikan minum air” yang dipromosikan oleh novel ini, sebenarnya, adalah istilah untuk kesenangan seksual: Dalam masyarakat komunis, memuaskan hasrat seksual adalah normal dan semudah meminum segelas air. “Bersetubuh bagaikan minum air” tersebar luas di kalangan buruh pabrik dan terutama siswa remaja.

“Moralitas remaja kita saat ini dirangkum sebagai berikut,” tulis komunis terkenal Madame Smidovich dalam surat kabar Pravda (21 Maret 1925):

Setiap anggota, bahkan di bawah umur, dari Liga Pemuda Komunis dan setiap siswa di Rabfak [sekolah pelatihan Partai Komunis] memiliki hak untuk memuaskan hasrat seksualnya. Konsep ini telah menjadi postulat, dan pantang dianggap sebagai gagasan borjuis. Jika seorang pria bernafsu mengejar seorang gadis muda, apakah gadis itu adalah seorang mahasiswa, buruh, atau bahkan gadis usia sekolah, maka gadis itu harus memenuhi nafsu pria tersebut; jika tidak, gadis itu akan dianggap sebagai putri borjuis, tidak layak disebut komunis sejati. [15]

Perceraian juga menjadi sesuatu yang normal dan meluas. “Angka perceraian meroket ke tingkat yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia. Singkatnya, tampaknya semua orang di Moskow bercerai,” kata Paul Kengor dalam bukunya Takedown: From Communists to Progressives, How the Left Has Sabotaged Family and Marriage Pelepasan: Dari Komunis Menjadi Progresif, Bagaimana Kaum Kiri Telah Menyabotase Keluarga dan Perkawinan. Pada tahun 1926, majalah Amerika The Atlantic menerbitkan sebuah artikel mengenai situasi yang mencengangkan di Uni Soviet, berjudul “Upaya Rusia untuk Menghapuskan Pernikahan.” [16]

Fenomena “keluarga Swedia” —yang, tidak ada kaitannya dengan Swedia, mengacu pada sekelompok besar pria dan wanita yang hidup bersama dan terlibat dalam seks bebas — juga muncul selama periode seks bebas, yang membuka pintu bagi persetubuhan dengan siapa saja, kekacauan seksual, homoseksualitas, keruntuhan moral, kehancuran keluarga, penyakit menular seksual, pemerkosaan, dan banyak lagi. [17]

Menyusul perluasan komune sosialis, “keluarga Swedia” ini menyebar ke seluruh Uni Soviet, yang dikenal sebagai “nasionalisasi” atau “sosialisasi” wanita. Pada tahun 1918, para wanita sosialis di Yekaterinburg adalah contoh yang menyedihkan: Setelah kaum Bolshevik merebut kota, mereka mengeluarkan peraturan bahwa wanita muda yang berusia antara 16 tahun hingga 25 tahun harus “disosialisasikan.” Perintah itu dilaksanakan oleh beberapa pejabat Partai, dan 10 wanita muda “disosialisasikan.” [18]

Bolshevik dengan cepat memperketat kebijakan mengenai seks di akhir tahun 1920-an. Selama percakapan dengan aktivis feminis Clara Zetkin, Lenin menyesalkan filosofi “bersetubuh bagaikan minum air,” menyebutnya “anti-Marxis” dan “anti-sosial.” [19] Alasannya adalah seks bebas mengakibatkan sesuatu yang tidak diinginkan: banyak bayi baru lahir, banyak di antara bayi tersebut ditinggalkan oleh orangtuanya.

Sekali lagi, ditunjukkan bahwa kehancuran keluarga pada akhirnya menyebabkan keruntuhan masyarakat.

b. Seks Bebas di Yan’an

Selama tahun-tahun awal Partai Komunis Tiongkok, situasinya mirip dengan Uni Soviet. Tentu saja, partai-partai komunis ini semuanya adalah varietas buah beracun dari pohon yang sama. Chen Duxiu, seorang pemimpin komunis awal, dikenal karena kehidupan pribadinya yang rusak. Menurut memoar Zheng Chaolin dan Chen Bilan, komunis seperti Qu Qiubai, Cai Hesen, Zhang Tailei, Xiang Jingyu, dan Peng Shuzhi memiliki sejarah seksual yang agak membingungkan, dan sikap mereka terhadap seks mirip dengan “bersetubuh bagaikan minum air” yang dianut oleh para revolusioner Soviet awal.

“Seks bebas” dianut tidak hanya oleh para pemimpin intelektual Partai Komunis Tiongkok, tetapi juga oleh orang-orang biasa yang tinggal di “Soviet” awal Partai Komunis Tiongkok (kantong-kantong revolusioner yang didirikan sebelum Partai Nasionalis digulingkan) di Hubei, Henan, dan Anhui. Karena promosi kesetaraan perempuan, dan kebebasan absolut untuk menikah dan bercerai, pekerjaan revolusioner sering terganggu untuk memuaskan hasrat seksual.
Orang-orang muda di wilayah Uni Soviet kadang terlibat dalam urusan romantis atas nama berhubungan dengan massa. Bukan hal yang aneh bagi wanita muda untuk memiliki enam atau tujuh pasangan seksual. Menurut Collection of Revolutionary Historical Documents in the Hubei-Henan-Anhui Soviet Districts, di antara para kepala partai lokal di tempat-tempat seperti Hong’an, Huangma, Huangqi, Guangshan, dan di tempat lain, “sekitar tiga perempat dari mereka terus berhubungan seksual dengan puluhan atau ratusan wanita.”[20]

Pada akhir musim semi 1931, ketika Zhang Guotao mengambil alih distrik Soviet Hubei-Henan-Anhui, ia mencatat bahwa sifilis begitu merajalela sehingga ia harus melapor ke Pusat Partai untuk mendatangkan dokter yang ahli dalam mengobati sifilis. Bertahun-tahun kemudian, dalam memoarnya, ia dengan jelas mengingat kisah-kisah wanita di distrik Soviet Hubei-Henan-Anhui yang dilecehkan secara seksual, termasuk beberapa simpanan jenderal senior. [21]

Pada tahun 1937, Li Kenong menjabat sebagai direktur Kantor Tentara Rute Kedelapan Partai Komunis Tiongkok di Nanjing, membuatnya bertanggung jawab untuk mengumpulkan tunjangan militer, obat-obatan, dan persediaan. Pada satu kesempatan, ketika memeriksa daftar obat dari Tentara Rute Kedelapan, staf Pemerintah Nasional menemukan sejumlah besar obat-obatan untuk mengobati penyakit menular seksual. Staf tersebut bertanya kepada Li Kenong, “Apakah ada banyak orang di pasukan anda menderita penyakit ini?” Li Kenong tidak yakin harus berkata apa, jadi ia berbohong dan mengatakan obat tersebut untuk mengobati penduduk setempat.[22]

Namun, pada tahun 1930-an, seks bebas dianggap sebagai ancaman bagi rezim. Terjadi masalah disintegrasi sosial yang sama dengan yang ditemukan di Soviet Rusia, dan para wajib militer Tentara Merah mulai khawatir bahwa istri mereka akan berselingkuh atau menceraikan mereka begitu mereka bergabung dengan revolusi, di mana hal ini memengaruhi efektivitas tempur pasukan. Selain itu, tren bersetubuh dengan siapa saja tampaknya memperkuat ketenaran slogan “hak milik bersama, isteri bersama.” Dengan demikian, distrik Soviet Hubei-Henan-Anhui mulai menerapkan kebijakan yang melindungi pernikahan militer, membatasi jumlah perceraian, dan banyak lagi.

5. Cara Komunisme Menghancurkan Keluarga di Barat

Tren ideologis roh jahat menemukan asal usulnya pada abad ke-19. Setelah satu abad transformasi dan evolusi di Barat, roh jahat akhirnya muncul di Amerika Serikat pada tahun1960-an.

Pada tahun 1960-an, dipengaruhi dan didorong oleh neo-Marxisme dan berbagai ideologi radikal lainnya, muncul gerakan sosial dan budaya yang dimanipulasi oleh roh jahat, yang mencakup kontra-kebudayaan hippie, Kiri Baru yang radikal, gerakan feminis, dan revolusi seksual. Gerakan sosial yang bergolak ini adalah bagian serangan sengit terhadap sistem politik Amerika, sistem nilai tradisional, dan tatanan sosial.

Gerakan-gerakan itu dengan cepat menyebar ke Eropa, dengan cepat mengubah cara pemikiran arus utama mengenai masyarakat, keluarga, jenis kelamin, dan nilai budaya. Sementara ini terjadi, gerakan hak-hak kaum homoseksual juga meningkat. Pertemuan kekuatan-kekuatan ini menyebabkan melemahnya nilai keluarga tradisional Barat dan penurunan institusi keluarga tradisional dan sentralitasnya dalam kehidupan sosial. Pada saat yang sama, gejolak sosial memicu serangkaian masalah, termasuk menjamurnya pornografi, penyebaran penyalahgunaan narkoba, runtuhnya moralitas seksual, meningkatnya tingkat kejahatan remaja, dan perluasan kelompok yang tergantung pada kesejahteraan sosial.

a. Mempromosikan Seks Bebas

Seks bebas (juga dikenal sebagai revolusi seksual) berasal dari Amerika Serikat pada tahun 1960-an. Penyebarannya yang cepat ke seluruh dunia menghasilkan pukulan yang menghancurkan nilai moral tradisional — khususnya, nilai keluarga tradisional dan moralitas seksual.

Roh jahat membuat banyak persiapan untuk menggunakan seks bebas melawan masyarakat Barat. Gerakan “cinta bebas” membuka jalan untuk secara bertahap mengikis dan menghancurkan nilai keluarga tradisional. Konsep “cinta bebas” melanggar moralitas seksual tradisional, dan berpendapat bahwa aktivitas seksual dari semua bentuk harus bebas dari regulasi sosial. Dalam pandangan ini, aktivitas seksual individu, termasuk pernikahan, aborsi, dan perzinaan, tidak boleh dibatasi oleh pemerintah atau hukum, atau dikenakan sanksi sosial.

Para pengikut Charles Fourier dan John Humphrey Noyes adalah yang pertama kali menciptakan istilah “cinta bebas.”

Belakangan ini, pendukung utama gagasan “cinta bebas” hampir semua adalah sosialis atau orang yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran sosialis. Misalnya, di antara mereka yang memelopori gerakan “cinta bebas” di Inggris adalah filsuf sosialis Edward Carpenter, yang juga seorang aktivis awal untuk hak-hak kaum homoseksual. Pengacara gerakan hak-hak kaum homoseksual yang paling terkenal, filsuf Inggris Bertrand Russell, adalah seorang sosialis yang diakui dan anggota Masyarakat Fabian. Ia mengklaim bahwa moralitas seharusnya tidak membatasi dorongan naluriah manusia untuk kesenangan dan menganjurkan seks pranikah dan di luar nikah.
Cikal bakal utama gerakan “cinta bebas” di Prancis adalah Émile Armand, seorang anarko-komunis di masa awalnya yang kemudian membangun komunisme utopis Fourier, mendirikan anarkisme individualis Prancis (yang berada di bawah kategori sosialisme yang lebih luas), dan menganjurkan bersetubuh dengan siapa saja, homoseksualitas, dan biseksualitas. Pelopor gerakan “cinta bebas” di Australia adalah Chummy Fleming, seorang anarkis (cabang sosialisme lainnya).

Gerakan “cinta bebas” di Amerika menghasilkan buah yang penting: Playboy, majalah erotis yang didirikan pada tahun 1953. Majalah ini memanfaatkan kertas berlapis untuk menciptakan kesan artistik dan tidak lusuh, yang juga menggunakan pencetakan warna yang mahal, di mana hasilnya adalah konten porno biasanya dianggap kelas rendah dan vulgar dengan cepat memasuki arus utama, dan Playboy menjadi majalah rekreasi “kelas tinggi”. Selama lebih dari setengah abad, Playboy telah menyebarkan racun seks bebas bagi manusia di seluruh dunia dan telah mengepung moral dan persepsi tradisional mengenai seks.

Di pertengahan abad ke-20, dengan semakin populernya budaya hippie dan “cinta bebas” mendapatkan penerimaan luas, revolusi seksual (juga dikenal sebagai seks bebas) melakukan debut resminya. Istilah “revolusi seksual” diciptakan oleh Wilhelm Reich, pendiri psikoanalisis komunis Jerman. Wilhelm Reich menggabungkan Marxisme dengan psikoanalisis Freudian, dan percaya bahwa Marxisme membebaskan manusia dari “penindasan ekonomi,” sementara psikoanalisis Freudian membebaskan manusia dari “penindasan seksual.”

Pendiri lain teori seks bebas adalah Herbert Marcuse dari Sekolah Frankfurt. Selama gerakan kontra-kebudayaan Barat pada tahun 1960-an, slogan Herbert Marcuse adalah “Bersetubuh, Bukan Perang” menanamkan gagasan seks bebas yang sangat mendalam di hati manusia.

Sejak saat itu, dengan diterbitkannya Buku Sexual Behavior in the Human Male and Sexual Behavior in the Human Female oleh Alfred Kinsey dan meluasnya penggunaan kontrasepsi oral, gagasan seks bebas melanda Barat. Patut disebutkan bahwa para sarjana kontemporer telah menemukan data statistik yang menyimpang, berlebih-lebihan, penyederhanaan yang berlebihan, dan kekeliruan lainnya dalam karya Alfred Kinsey yang didorong oleh komitmen politik dan ideologisnya. Alfred Kinsey memperkenalkan bahwa seks di luar nikah, seks homoseksual, dan sebagainya adalah hal biasa, dan dengan demikian mengarahkan masyarakat untuk menerima fenomena ini sebagai hal yang biasa, sebuah tugas yang ia capai dengan sukses besar. [22]

Sekaligus, menjadi “dibebaskan secara seksual” menjadi modis. Di antara kaum muda, bersetubuh dengan siapa saja dianggap normal. Remaja yang mengaku masih perawan diejek oleh rekan-rekannya. Data menunjukkan bahwa dari remaja yang berusia 15 tahun antara tahun 1954 dan 1963 (generasi 60-an), 82 persen melakukan hubungan seks pranikah sebelum usia 30 tahun. [24] Pada 2010-an, hanya 5 persen pengantin baru yang masih perawan sebelum menikah, sedangkan 18 persen pengantin wanita memiliki 10 atau lebih pasangan seksual sebelum menikah. [25] Arus utama budaya telah dijenuhkan oleh seks, termasuk dalam sastra, film, iklan, dan televisi.

b. Mempromosikan Feminisme dan Menolak Keluarga Tradisional

Ideologi Komunis Di Balik Gerakan Feminis

Gerakan feminis adalah alat lain yang digunakan roh komunisme untuk menghancurkan keluarga. Ketika dimulai di Eropa pada abad ke-18, gerakan feminis (juga dikenal sebagai feminisme gelombang pertama) menganjurkan bahwa wanita harus diberi perlakuan yang sama seperti pria di bidang pendidikan, pekerjaan, dan politik. Pusat gerakan feminis bergeser dari Eropa ke Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-19.

Ketika feminisme gelombang pertama dimulai, gagasan keluarga tradisional masih memiliki fondasi yang kuat di masyarakat, dan gerakan feminis tidak secara langsung menantang keluarga tradisional. Kaum feminis berpengaruh pada masa itu, seperti Mary Wollstonecraft dari Inggris abad ke-18, Margaret Fuller dari Amerika abad ke-19, dan John Stuart Mill dari Inggris abad ke-19, semuanya menganjurkan bahwa pada umumnya wanita harus memprioritaskan keluarga setelah menikah, bahwa potensi wanita harus dikembangkan dalam domain keluarga, dan bahwa wanita harus memperkaya dirinya demi keluarga (seperti mendidik anak-anak, menatalaksana keluarga, dan sebagainya). Namun, kaum feminis berpikir bahwa beberapa wanita istimewa yang sangat berbakat tidak boleh dibatasi oleh masyarakat dan harus bebas untuk memanfaatkan bakat mereka, bahkan sampai harus bersaing dengan pria.

Setelah tahun 1920-an, ketika hak kaum wanita untuk memilih ditetapkan sebagai undang-undang di banyak negara, gerakan hak kaum wanita gelombang pertama perlahan-lahan surut. Pada tahun-tahun berikutnya, karena dampak Depresi Hebat dan Perang Dunia II, gerakan feminis pada dasarnya tidak aktif.
Pada saat yang sama, roh komunisme mulai menabur benih kehancuran bagi pernikahan tradisional dan etika seksual. Sosialis utopis awal di abad ke-19 meletakkan arah bagi gerakan feminis radikal modern. François Marie Charles Fourier, yang disebut “bapak feminisme,” menyatakan bahwa pernikahan mengubah wanita menjadi milik pribadi. Robert Owen mengutuk pernikahan sebagai kejahatan. Ide-ide sosialis utopis ini diwarisi dan dikembangkan oleh feminis di kemudian hari, termasuk, misalnya, Frances Wright, yang pada abad ke-19 mewarisi ide-ide Charles Fourier dan menganjurkan seks bebas untuk wanita.

Aktivis feminis Inggris Anna Wheeler mewarisi gagasan Robert Owen, dengan keras mengutuk pernikahan karena dianggap mengubah wanita menjadi budak. Aktivis feminis sosialis juga merupakan bagian penting dari gerakan feminis di abad ke-19. Pada saat itu, di antara publikasi feminis yang paling berpengaruh di Prancis adalah La Voix des Femmes, publikasi feminis pertama di Prancis, dan La Femme Libre (kemudian berganti nama menjadi La Tribune des Femmes), serta La Politique des Femmes, antara lain. Para pendiri publikasi ini adalah pengikut Charles Fourier atau Henri de Saint-Simon, penganjur modernitas. Karena hubungan yang erat antara feminisme dan sosialisme, pihak berwenang meneliti feminisme.

Ketika gerakan hak kaum wanita gelombang pertama berlangsung dengan kecepatan penuh, iblis komunisme juga membuat pengaturan untuk memperkenalkan berbagai pemikiran radikal untuk menyerang konsep tradisional keluarga dan pernikahan, membuka jalan bagi gerakan feminis yang lebih radikal yang mengikutinya.

Gerakan feminis gelombang kedua dimulai di Amerika Serikat pada akhir 1960-an, kemudian menyebar ke Eropa Barat dan Utara, dan dengan cepat meluas ke seluruh dunia Barat. Masyarakat Amerika pada akhir 1960-an mengalami masa pergolakan, dengan gerakan hak-hak sipil, gerakan anti-Perang Vietnam, dan berbagai tren sosial radikal. Feminisme, mengambil keuntungan dari rangkaian keadaan yang unik ini, muncul dalam ketegangan yang lebih radikal dan menjadi populer.

Landasan gelombang gerakan feminis ini adalah buku The Feminine Mystique oleh Betty Friedan, diterbitkan pada tahun 1963, dan Organisasi Nasional untuk Perempuan milik Betty Friedan. Menggunakan perspektif seorang ibu rumah tangga kelas menengah di pinggiran kota, Betty Friedan dengan keras mengkritik peran wanita dalam keluarga tradisional, dan berpendapat bahwa citra tradisional mengenai ibu rumah tangga yang bahagia, puas, dan gembira adalah mitos yang dipalsukan oleh masyarakat patriarki. Ia berpendapat bahwa keluarga pinggiran kota kelas menengah adalah “kamp konsentrasi yang nyaman” untuk wanita Amerika, dan bahwa wanita berpendidikan modern harus menolak rasa pencapaian yang dicapainya melalui mendukung suami dan mendidik anak-anaknya, dan sebaliknya menyadari nilai mereka di luar keluarga. [26]

Beberapa tahun kemudian, lebih banyak feminis radikal mendominasi Organisasi Nasional untuk Perempuan, mewarisi dan mengembangkan ide Betty Friedan. Kaum feminis radikal mengatakan bahwa wanita telah ditindas oleh patriarki sejak zaman kuno dan menghubungkan akar penyebab penindasan wanita dengan keluarga. Sebagai tanggapan, mereka datang untuk membela transformasi sistem sosial dan budaya tradisional yang lengkap, dan berjuang dalam semua aspek urusan manusia — ekonomi, pendidikan, budaya, dan keluarga — demi mencapai kesetaraan kaum wanita.

Mengklasifikasikan anggota masyarakat menjadi “penindas” dan “yang tertindas” untuk membela perjuangan, pembebasan, dan kesetaraan sebenarnya adalah komunisme. Marxisme tradisional mengklasifikasikan kelompok berdasarkan status ekonomi mereka, sementara gerakan neo-feminis membagi orang berdasarkan gender.

Betty Friedan bukanlah sosok seperti yang ia jelaskan dalam bukunya, yaitu seorang ibu rumah tangga kelas menengah yang bosan dengan pekerjaan rumah tangganya. Daniel Horowitz, seorang profesor di Smith College, menulis biografi Betty Friedan pada tahun 1998 berjudul Betty Friedan and the Making of ‘The Feminine Mystique.’ Penelitian Daniel Horowitz mengungkapkan bahwa Betty Friedan, dengan nama gadisnya Betty Goldstein, telah menjadi aktivis sosialis radikal sejak kuliah hingga tahun 1950-an. Pada waktu yang berbeda, Betty Goldstein adalah seorang jurnalis profesional, atau penyebar propaganda yang akurat, untuk beberapa serikat buruh radikal di orbit Partai Komunis Amerika Serikat.

Mantan sayap kiri David Horowitz (tidak ada hubungannya dengan Daniel Horowitz) meninjau artikel yang diterbitkan Betty Friedan untuk memahami perkembangan pandangannya. [27] Betty Friedan adalah anggota Liga Komunis Muda saat di Universitas California – Berkeley. Betty Friedan bahkan meminta dua kali, pada waktu yang berbeda, untuk bergabung dengan Partai Komunis Amerika Serikat. Judith Hennessee, penulis biografi resmi Betty Friedan, juga menunjukkan bahwa Betty Friedan adalah seorang Marxis. [28] Kate Weigand, seorang sarjana Amerika, menunjukkan dalam bukunya Red Feminism bahwa pada kenyataannya, feminisme tidak tinggal diam di Amerika Serikat dari awal abad ke-20 hingga tahun 1960-an. Selama periode itu, sekelompok besar penulis feminis merah dengan latar belakang komunis membuka jalan bagi gerakan feminis gelombang kedua berikutnya, termasuk Susan Anthony, Eleanor Flex, Gerda Lerner, Eve Merriam, dan lainnya dengan aliran yang sama. Pada awal tahun 1946, Susan Anthony menerapkan metode analitis Marxis untuk menarik analogi antara putih menindas hitam, dan pria menindas wanita. Karena McCarthyism pada periode itu, para penulis seperti itu tidak berbicara mengenai latar belakang komunis mereka. [29]

Di Eropa, karya ikonis wanita penulis asal Prancis Simone de Beauvoir The Second Sex mengantarkan kegemaran akan feminisme gelombang kedua. Simone de Beauvoir dulu adalah seorang sosialis. Pada tahun 1941, bersama dengan filsuf komunis Jean-Paul Sartre dan penulis lain, ia menciptakan Socialiste et Liberté, sebuah organisasi sosialis bawah tanah Prancis. Seiring meningkatnya reputasinya untuk mempromosikan feminisme pada tahun 1960-an, Simone de Beauvoir menyatakan bahwa ia tidak lagi percaya pada sosialisme, dan mengklaim bahwa ia hanya seorang feminis.

Simone de Beauvoir berkata, “Seseorang tidak dilahirkan untuk menjadi seorang wanita, melainkan menjadi seorang wanita.” Ia menganjurkan bahwa meskipun seks ditentukan oleh karakteristik fisiologis, gender adalah konsep psikologis yang dirasakan sendiri yang terbentuk di bawah pengaruh sosialitas manusia. Ia berpendapat bahwa temperamen kepatuhan, tunduk, kasih sayang, dan kehamilan semua berasal dari “mitos” yang dirancang dengan hati-hati oleh patriarki untuk menindas wanita, dan menganjurkan agar wanita menerobos gagasan tradisional dan menyadari dirinya yang tidak terkendali.

Pada kenyataannya, mentalitas ini terletak di jantung gagasan homoseksualitas, biseksualitas, transgenderisme, dan sejenisnya yang merusak. Sejak itu, berbagai pemikiran feminis telah muncul dalam aliran yang konstan, semua memandang dunia melalui lensa wanita yang ditindas oleh patriarki, yang diwujudkan melalui institusi keluarga tradisional — kemudian membuat keluarga sebagai penghalang untuk mewujudkan kesetaraan wanita. [30]

Simone de Beauvoir berpendapat bahwa wanita dikekang oleh suaminya karena perkawinan, dan menyebut pernikahan sebagai hal yang menjijikkan mirip pelacuran. Ia menolak untuk menikah dan mempertahankan “hubungan terbuka” dengan Jean-Paul Sartre. Dengan cara yang sama, Jean-Paul Sartre Sartre juga berselingkuh dengan wanita lain.

Pandangan Simone de Beauvoir mengenai pernikahan adalah standar di kalangan feminis radikal kontemporer. Hubungan seksual yang kacau balau dan perselingkuhan justru merupakan perwujudan berbagi istri seperti yang dibayangkan oleh Charles Fourier, cikal bakal komunisme utopis di abad ke-19.

Lanjut Baca Bab 7 Bagian II

DAFTAR PUSTAKA

[1] W. Bradford Wilcox, “The Evolution of Divorce,” National Affairs, Number 35, Spring 2018. https://www.nationalaffairs.com/publications/detail/the-evolution-of-divorce

[2] See Table 1–17. “Number and Percent of Births to Unmarried Women, by Race and Hispanic Origin: United States, 1940–2000,” CDC, https://www.cdc.gov/nchs/data/statab/t001x17.pdf

[3] “Beyond Same-Sex Marriage: A New Strategic Vision for All Our Families and Relationships,” Studies in Gender and Sexuality, 9:2 (July 1, 2006): 161–171. https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/15240650801935198.

[4] Victoria Cavaliere, “Rhode Island School District Bans Father-Daughter, Mother-Son Events,”  http://www.nydailynews.com/news/national/rhode-island-school-district-bans-father-daughter-mother-son-events-article-1.1162289#nt=byline.

[5] Genesis 2:23, http://biblehub.com/genesis/2-23.htm.

[6] Engels, Frederick. n.d., “Origins of the Family. Chapter 2 (IV),” accessed June 17, 2018. https://www.marxists.org/archive/marx/works/1884/origin-family/ch02d.htm.

[7] “Robert Owen, Critique of Individualism (1825–1826),” n.d., Indiana University. Accessed June 17, 2018. https://web.archive.org/web/20171126034814/http://www.indiana.edu:80/~kdhist/H105-documents-web/week11/Owen1826.html.

[8] Engels, Frederick, n.d. “Origins of the Family. Chapter II (4.),” accessed June 17, 2018. https://www.marxists.org/archive/marx/works/1884/origin-family/ch02d.htm.

[9] Engels, Ibid.

[10] This translation is from the Russian: Melnichenko, Alexander, 2017. “Великая октябрьская сексуальная революция [The Great October Sexual Revolution].” Russian Folk Line, August 20, 2017, http://ruskline.ru/opp/2017/avgust/21/velikaya_oktyabrskaya_seksualnaya_revolyuciya/. This and other sources draw on the work of former Menshevik Aleksandra Kollontai.

[11] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Ibid.

[14] Ibid.

[15] Наталья Короткая,“Эрос революции: “Комсомолка, не будь мещанкой – помоги мужчине снять напряжение!” https://lady.tut.by/news/sex/319720.html?crnd=68249.

[16] Paul Kengor, Takedown: From Communists to Progressives, How the Left Has Sabotaged Family and Marriage (WND Books, 2015), 54.

[17] See Melnichenko (2017).

[18] Xia Hou, “The Promiscuous Gene of Communism: Sexual Liberation,” The Epoch Times (Chinese edition). April 9, 2017, http://www.epochtimes.com/gb/17/4/9/n9018949.htm; The Weekly Review, Volumes 4–5 (National Weekly Corporation, 1921), 232, available at https://goo.gl/QY1gBc; for the incident of Red Army commander Karaseev socializing 10 girls, see Olga Greig (Ольга Грейгъ), Chapter 7 of “The Revolution of the Sexes,” or “The Secret Mission of Clara Zetkin” (Революция полов, или Тайная миссия Клары Цеткин), available at https://rutlib5.com/book/21336/p/8

[19] Clara Zetkin, “Lenin on the Women’s Question,” My Memorandum (transcribed from the Writings of V.I. Lenin, International Publishers, available at https://www.marxists.org/archive/zetkin/1920/lenin/zetkin1.htm)

[20] Huang Wenzhi, “‘What Happened after Nora Left’: Women’s Liberation, Freedom of Marriage, and Class Revolution: A Historical Survey of the Hubei-Henan-Anhui Soviet Districts (1922–1932),” Open Times no. 4 (2013). Chinese: 黃文治:〈 “娜拉走後怎樣”:婦女解放、婚姻自由及階級革命——以鄂豫皖蘇區為中心的歷史考察(1922~1932)〉《開放時代》,2013年第4期.

[21] Huang Wenzhi (2013), Ibid.

[22] “Yang Ning, “Why Did the Eighth Route Army Purchase Medicines for Sexual Transmitted Diseases?” The Epoch Times (Chinese),  http://www.epochtimes.com/gb/18/1/18/n10069025.htm

[23] Judith A. Reisman, Ph.D.; Edward W. Eichel, Kinsey, Sex and Fraud: The Indoctrination of a People (Lafayette, Louisiana: Lochinvar-Huntington House, 1990);  “Dr. Judith A. Reisman and her colleagues demolish the foundations of the two (Kinsey) reports.”; “Really, Dr Kinsey?” The Lancet, Vol. 337 (March 2, 1991): 547.

[24] L. B. Finer, “Trends in Premarital Sex in the United States, 1954–2003,” Public Health Reports 122(1) (2007): 73–78.

[25] Nicholas H. Wolfinger, “Counterintuitive Trends in the Link Between Premarital Sex and Marital Stability,” Institute for Family Studies,  https://ifstudies.org/blog/counterintuitive-trends-in-the-link-between-premarital-sex-and-marital-stability.

[26] Betty Friedan, The Feminine Mystique (New York: W.W. Norton & Company, 1963).

[27] David Horowitz, Salon Magazine, January 1999, http://www.writing.upenn.edu/~afilreis/50s/friedan-per-horowitz.html  

[28] Joanne Boucher, “Betty Friedan and the Radical Past of Liberal Feminism.” New Politics 9 (3). http://nova.wpunj.edu/newpolitics/issue35/boucher35.htm.

[29] Kate Weigand, Red Feminism: American Communism and the Making of Women’s Liberation (Baltimore, Maryland: Johns Hopkins University Press, 2002).

[30] Simone de Beauvoir, The Second Sex, trans. Constance Borde, Sheila Malovany-Chevallier (New York: Vintage Books, 2011).

BACA SEBELUMNYA 

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Pengantar

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita: Pendahuluan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab I – Strategi Iblis untuk Menghancurkan Kemanusiaan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab II – Awal Komunisme Eropa

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab III – Pembunuhan Massal di Timur

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab IV – Mengekspor Revolusi

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab V – Infiltrasi ke Barat (Bagian I)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab V – Infiltrasi ke Barat (Bagian II)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VI – Pemberontakan Terhadap Tuhan

 

Share

Video Popular