Brussels — Belanda akan berhenti mempromosikan diri sebagai tujuan liburan. Mereka bahkan mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih drastis, termasuk jenis pajak baru dan menutup tempat-tempat wisata.

Belanda kini tengah berjuang untuk mengatasi ledakan pariwisata. Pihak berwenang di negara berpenduduk 17 juta jiwa ini, sedang mempertimbangkan serangkaian rekomendasi baru setelah lonjakan jumlah pengunjung membuat Amsterdam sangat padat. Kincir angin ikonik serta ladang tulip mereka dibanjiri oleh wisatawan.

Dalam sebuah laporan, Dewan Pariwisata dan Konvensi Belanda (NBTC) memperingatkan bahwa, tekanan terhadap kemampuan hidup di dalam dan sekitar hotspot wisata paling populer di negara itu mencapai tingkat yang tidak sehat.

Belanda adalah tujuan yang sangat populer bagi wisatawan dan pelancong dari negara-negara tetangga termasuk Jerman, Inggris, Belgia, dan Prancis.

Namun, tekanan juga meningkat pada negara kecil itu, yang hanya seluas 16.000 mil persegi dan memiliki salah satu kepadatan populasi tertinggi di dunia. Lonjakan pengunjung dari Amerika Utara dan Tiongkok juga turut menjadi penyumbang signifikan.

Pemandangan Gereja Saint Nicholas saat matahari terbenam dengan perahu wisata di Amsterdam, Belanda. (Foto : Aurore Belot/AFP/Getty Images/The Epoch Times)

Angka resmi NBTC menunjukkan jumlah pengunjung dari Amerika Serikat diperkirakan akan meningkat 6 persen tahun ini, mencapai 1.640.000 orang. Sementara itu, akan ada pertumbuhan sebesar 5 persen pada wisatawan dari Tiongkok, yang akan berjumlah 350.000.

“Sejauh ini, pemerintah Belanda dan industri perhotelan sebagian besar telah mempromosikan Belanda untuk menarik lebih banyak pengunjung. Kita sekarang tahu bahwa lebih banyak tidak selalu lebih baik, pasti tidak, di mana-mana,” kata dewan pariwisata dalam laporannya.

“Tekanan pada tingkat kehidupan kota-kota kita dan lokasi-lokasi ikonik akan meningkat karena meningkatnya jumlah pengunjung. Sementara bagian lain di Belanda tidak atau kurang mendapat manfaat dari peluang dan dorongan sosial-ekonomi yang dapat ditawarkan oleh (sektor) pariwisata.”

Dalam proposal yang menarik dalam laporan yang dirancang untuk mencegah kepadatan penduduk adalah ‘pajak turis’. Ini untuk membuat pengunjung kembali ke komunitas lokal dan, dalam keadaan ekstrem, bahkan menutup beberapa objek wisata sama sekali.

“Jika kelompok-kelompok tertentu menyebabkan masalah di bidang tertentu dan penegakan hukum tidak memiliki efek yang memadai, langkah-langkah alternatif harus diambil. Jika semuanya gagal, atraksi yang mereka kunjungi mungkin harus ditutup,” tambah laporan itu.

Proposal ini merupakan referensi terselubung untuk masalah lama di Amsterdam, yang telah menjadi tujuan populer untuk pesta bujangan dari negara-negara seperti Inggris, sehingga mengakibatkan wabah perilaku anti-sosial.

Pada bulan April, toko bunga terapung terakhir yang tersisa di kota akhirnya ditutup. Pemiliknya menyalahkan turis yang berkerumun di sekitar perahunya untuk mengambil foto narsis tanpa membeli apa pun. Hal itu juga menghalangi pelanggan yang hendak berbelanja.

Namun, bukan hanya kota paling terkenal di Belanda yang menderita karena masuknya terlalu banyak wisatawan. Ladang tulip dan kincir angin yang ikonis di negara ini juga mulai merasakan ketegangan.

Giethoorn, sebuah desa berpenduduk 2.500 orang, telah menjadi gambaran bagi kehidupan pedesaan Belanda, yang menyebabkan gelombang besar wisatawan yang menjelajahi kanal-kanal dan mengambil foto narsis di luar situsnya yang ramai.

Pihak berwenang di Den Haag bahkan mengatakan bahwa peningkatan besar dalam jumlah wisatawan, mencapai 18 juta pada tahun 2018 dan diperkirakan akan mencapai 29 juta pada tahun 2030. Itu berarti negara itu akan kehilangan target iklim Uni Eropa.

Seorang juru bicara untuk NBTC mengatakan strategi baru akan dilakukan untuk menemukan ‘keseimbangan’ yang lebih baik antara penduduk lokal yang kelelahan, kebutuhan bisnis dan ekonomi, dan ‘rasa-haus’ pengunjung internasional untuk melihat negara itu.

Salah satu rencana adalah dengan mendorong pengunjung berulang, seperti turis dari Jerman dan Inggris, untuk menjelajahi daerah yang kurang terkenal di negara itu daripada kembali ke destinasi pariwisata yang sama.

“Kami masih melakukan promosi, tetapi bukan promosi untuk ibukota kami dan daerah-daerah yang terkenal. Tentu saja, kami melakukan promosi untuk daerah yang tidak begitu terkenal di luar negeri,” kata juru bicara NBTC.

“Tentu saja ketika ada turis dari Amerika Serikat mereka akan mengunjungi Amsterdam, seperti jika saya adalah turis di Amerika Serikat saya akan mengunjungi New York, tetapi jika Anda sering pergi ke Belanda maka secara umum Anda terbuka untuk mengunjungi daerah lain.”

Dia menambahkan bagian utama dari visi mereka adalah menciptakan keseimbangan antara minat penduduk lokal, pengunjung, dan bisnis.

“Itulah masalahnya saat ini di Amsterdam, tidak ada keseimbangan, seperti di Venesia atau Barcelona.” (NICK GUTTERIDGE/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular