Wu Ying

Hingga kini negosiasi dagang AS-Tiongkok memasuki tahap akhir, tetapi pihak Tiongkok mengingkari janjinya. Pasalnya, Tiongkok bermaksud menarik kembali janji semula.

Pemerintah Trump memutuskan untuk tidak membuang waktu bernegosiasi dengan komunis Tiongkok. Trump akhirnya mulai memulai langkah-langkah kenaikan tarif bea masuk terhadap barang-barang Tiongkok.

Para ahli mengatakan bahwa jika pembicaraan AS-Tiongkok gagal, maka komunis Tiongkok akan mengalami kerugian yang jauh lebih besar.

Kejadian ini mencuat ketika presiden Trump berkicau di akun twiternya pada Minggu 5 Mei dengan mengatakan bahwa ia akan menaikkan tarif barang-barang Tiongkok senilai 200  miliar dolar AS dari 10 persen menjadi 25 persen. Bahkan, segera mengenakan tarif 25% lagi terhadap sisa barang-barang Tiongkok senilai 325 miliar dolar AS.

Pasca cuitan Trump, keesokan harinya perwakilan dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan bahwa negosiator perdagangan Tiongkok “mengingkari” sejumlah komitmen sehingga mempengaruhi seluruh proses perundingan, dan merekomendasikan kepada Trump untuk meningkatkan tarif bea masuk.

Pihak Tiongkok, yang tidak siap dengan kenaikan tarif AS mempertimbangkannya selama dua hari dan setuju untuk mengutus Wakil Perdana Menteri Liu He ke Amerika Serikat untuk melanjutkan negosiasi di Washington selama dua hari.  

Robert Lighthizer mengatakan bahwa langkah-langkah kenaikan tarif AS pasti akan diterapkan jika pihak Tiongkok “kembali ke jalur semula.” Washington mungkin akan mempertimbangkan kembali langkah-langkah tentang kenaikan tarif bea masuk. Situs web Politico mengutip beberapa pejabat Gedung Putih yang mengatakan bahwa negosiasi Liu He di Washington sangat penting.

Pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa Trump memperhatikan dengan serius keputusan tarif dan tidak ingin membuang-buang waktu seperti presiden sebelumnya. Pejabat Gedung Putih ini menilai Komunis Tiongkok akan mengalami kerugian lebih besar. Ini adalah perhitungan yang sederhana, mereka tidak bisa kehilangan konsumen Amerika.

Negosiasi gagal, pihak Tiongkok akan mengalami kerugian

Pakar masalah Tiongkok Gordon Chang mengatakan kepada finance.yahoo.com bahwa akibat perlambatan ekonomi Tiongkok, di mana jika negosiasi perdagangan AS-Tiongkok menemui jalan buntu, pihak Tiongkok tentu saja akan menghadapi kerugian yang lebih besar daripada Amerika Serikat.

Pada saat yang sama, ekonomi AS dan pasar tenaga kerja sedang tumbuh kuat. Robert Kaplan, presiden Federal Reserve Bank of Dallas, mengatakan di Universitas Peking pada Selasa lalu bahwa ekonomi AS akan tetap sehat dan tidak akan menurun.

Menurut data yang dirilis oleh pemerintah federal untuk pertama kalinya bulan lalu, produk domestik bruto AS tumbuh sebesar 3,2% pada kuartal pertama tahun ini. Angka ini melebihi ekspektasi para ahli sebesar 2,0%, dan lebih tinggi dari ertumbuhan ekonomi 2.9 % pada 2018. Peningkatan 263.000 lapangan kerja pada awal April, tingkat pengangguran turun menjadi 3,6%, mencapai titik terendah dalam 50 tahun terakhir.

Sementara itu, menurut data resmi dari Komunis Tiongkok, tingkat pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini adalah 6,4%. Selama ini, beberapa pengamat merasa curiga bahwa Beijing telah memainkan data-data ini.

Gordon Chang juga mempertanyakan keandalan data tersebut, dengan mengatakan bahwa “pertumbuhan PDB Tiongkok mungkin hanya 1%, atau mungkin lebih kecil.” Dia menuturkan, karena perlambatan pertumbuhan dan beban utang, pemerintah Beijing harus mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Kini, investor dan pengamat ekonomi khawatir tentang apakah kedua belah pihak dapat mencapai kesepakatan minggu ini dan seberapa besar dampaknya pada Tiongkok jika perundingan itu gagal.

Mengenai kemungkinan gagalnya perundingan AS-Tiongkok, Gordon Chang mengingatkan: “Kita harus ingat bahwa ini adalah perang dagang yang dipicu oleh komunis Tiongkok.”

Menurut perkiraan Gordon Chang, tidak ada kesepakatan yang akan dicapai minggu ini. Meskipun demikian, ia percaya bahwa administrasi Trump harus mengatasi masalah ini dengan Tiongkok, seperti pencurian kekayaan intelektual, dan tarif yang lebih tinggi akan berdampak pada konsumen AS.

“Untuk mengatasi masalah ini, kita harus berkorban, penderitaan yang kita rasakan sekarang itu mutlak diperlukan,” ujarnya. (Jon/asr)

Video Rekomendasi : 

Atau simak yang Ini : 

Share

Video Popular