Erabaru.net. Sekitar waktu Olimpiade Beijing pada musim panas 2008, Yu Ming terbaring di tempat tidur di sebuah rumah sakit yang berhubungan  dengan Kamp Kerja Paksa Masanjia yang terkenal kejam setelah mengalami penyiksaan hebat.

Faktanya, penyiksaan yang ditimpakan pada wirausahawan sukses selama 12 tahun penahanannya di kamp kerja paksa dan penjara di Tiongkok begitu tiada henti dan ekstrem sehingga sulit untuk memahami kini ia selamat.

Ia berulang kali disetrum dengan tongkat listrik bertegangan tinggi — termasuk pada alat kelaminnya — dan dikunci selama tiga bulan di dalam sangkar besi kecil tempat ia tidak dapat berdiri atau duduk. Kepalanya dipukul dengan sebatang besi yang membuatnya koma selama seminggu.

Ia dipaksa untuk melakukan kerja keras, dipukuli dan diinjak-injak, dicekok makanan secara paksa setelah memprotes mogok makan, dipanggang teriks sinar matahari untuk waktu yang lama, digantung dengan bertumpu pada kedua pergelangan tangan selama beberapa hari berturut-turut, dan dikurung di sel soliter. Ini hanya beberapa contoh.

Beberapa kali ia hampir mati. Pada satu tahap, setelah di leher, dada, tangan, dan kaki diikat ke kursi selama berbulan-bulan, ia menderita dua kali serangan jantung. Berat badannya turun drastis dan otot-ototnya berhenti berkembang sampai ia tidak mampu menegakkan punggungnya tanpa bantuan atau tidak mampu mengangkat kedua lengan dan tangannya.

Dan itu semua hukuman itu dikarenakan ia berlatih Falun Gong, atau Falun Dafa, sebuah disiplin meditasi tradisional berprinsip pada Sejati, Baik, dan Sabar di mana para praktisinya telah menjadi korban kampanye penganiayaan brutal yang diluncurkan oleh rezim Tiongkok pada tahun 1999.

Sebuah gambar yang menunjukkan jenis kandang tempat Yu Ming pernah ditahan selama tiga bulan. (Minghui.org)

Ketika berbaring di ranjang rumah sakitnya, Yu Ming memiliki keinginan kuat untuk mengungkapkan penyiksaan yang merupakan bagian dari persiapan Tiongkok untuk Olimpiade. Ia melihat semakin banyak orang yang tiba di Masanjia, telah dijatuhi hukuman karena “berencana melakukan perampokan” atau “bersiap untuk mencuri.”

Menurut laporan Chinese Epoch Times, untuk memastikan “keamanan” Beijing sebelum Olimpiade pada tahun 2008, lebih dari 3 juta orang diusir dari ibu kota Beijing, lebih dari 60.000 rumah dihancurkan, dan sekitar 1 juta orang dikirim ke kamp kerja paksa.

Di dalam kamp kerja paksa, ​​para penjaga meningkatkan upayanya untuk “mengubah” praktisi Falun Gong: memaksa praktisi Falun Gong – dengan cara apa pun yang diperlukan – untuk melepaskan keyakinannya, mengidentifikasi orang lain yang berlatih Falun Gong, dan menyatakan kesetiaan kepada Partai Komunis Tiongkok.

Yu Ming tidak tahan melihat lebih banyak orang tak berdosa menderita perlakuan tidak manusiawi seperti itu. Selain itu, ia berpikir dunia harus tahu bahwa, rezim Tiongkok bukannya meningkatkan hak asasi manusianya seperti yang diharapkan oleh komunitas internasional setelah dianugerahi Olimpiade, rezim Tiongkok malah menganiaya dan bahkan membunuh rakyatnya karena menyelenggarakan Olimpiade. Menurut Minghui.org, tingkat penangkapan praktisi Falun Gong sangat meningkat menjelang Olimpiade, dengan banyak praktisi Falun Gong yang akhirnya disiksa sampai mati atau terluka parah.

Jadi Yu Ming berencana membantu dua rekan praktisi Falun Gong melarikan diri yang kemudian berusaha menghubungi wartawan asing yang berada di Beijing untuk meliput Olimpiade, berharap situasi brutal di kamp akan menarik perhatian dan membawa perubahan.

Yu Ming mengangkat tangannya yang diborgol saat tiba di pengadilan di kota Shenyang pada tanggal 20 November 2014. (Minghui.org)

Melarikan Diri dengan Berani, Namun Singkat

Yu Ming membutuhkan barang-barang tertentu untuk mewujudkan rencananya. Karena keamanan yang lemah di rumah sakit, ia berhasil mendapatkan ponsel, uang tunai, dan, yang terpenting, pisau gergaji.

Karena banyak narapidana di kamp kerja paksa sering dikirim ke rumah sakit dan kemudian dibawa kembali ke kamp, ​​melalui komunikasi yang melelahkan dan perhitungan yang rumit, Yu Ming dapat mengoordinasikan pelarian itu.

Yu Ming menemukan orang-orang di luar datang untuk membantu dua orang praktisi Falun Gong yang melarikan diri tersebut setelah berhasil melarikan diri dari kamp, ​​dan Yu Ming menemukan orang lain untuk menyewa tempat bagi kedua praktisi tersebut  untuk bersembunyi sementara polisi akan mencari mereka dengan panik.

Rencana itu mulai berlaku pada tanggal 11 Agustus 2008. Pertandingan Olimpiade sudah berjalan lancar, dimulai tiga hari sebelumnya. Menggunakan gergaji, jeruji besi jendela sel dipotong dan kemudian dibengkokkan, dan kedua praktisi tersebut merayap turun dari lantai tiga menggunakan tali yang terbuat dari selimut.

Awalnya, semuanya berjalan lancar. Mereka dijemput di waktu dan tempat yang tepat oleh orang yang tepat, sampai…orang yang seharusnya menyewa tempat tinggal bagi kedua praktisi tersebut tidak muncul. Tidak ada yang tahu apa yang salah. Yu Ming harus mengatur agar istrinya, Ma Li, mengambil dua praktisi tersebut dan menyembunyikannya di rumahnya, dengan sadar betapa risikonya tindakan tersebut.

Tiga hari kemudian, ratusan polisi, beberapa dilengkapi dengan senjata, mengepung daerah dekat rumah Yu Ming dan menciduk dua praktisi tersebut, serta Ma Li.

Upaya pelarian selama Olimpiade Beijing dari kamp kerja “model” membuat marah pemimpin tertinggi rezim komunis. Pelarian itu digolongkan sebagai “insiden besar”; setidaknya tujuh petugas polisi dipecat, dan dua wakil direktur kamp itu dihukum.

Yu Ming dan kedua pelarian itu disiksa dengan kejam.

Yu Ming digantung di pintu, dengan tangan terentang, dan kakinya hampir tidak menyentuh tanah. Ia digantung dalam posisi ini selama lebih dari sebulan, siang dan malam. Terkadang, ia dibebaskan ketika ia perlu buang air besar; terkadang, polisi tidak akan membebaskannya. Jadi ia menelan   sesedikit mungkin makanan atau air yang dicekokkan ke mulutnya.

Ia hampir mati.

Dua pelarian tersebut disiksa lebih kejam, kata Yu Ming. Kamp kerja diberi kuota dua kematian setelah percobaan melarikan diri, yang berarti bahwa dua orang tersebut dapat disiksa sampai mati tanpa risiko.

Selain disiksa hampir mati, mereka bertiga diperpanjang satu tahun lagi tinggal di kamp. Sedihnya bagi Yu Ming, jika ia tidak merencanakan pelarian, ia mungkin sudah  dibebaskan sekitar 20 hari lagi.

Ditanya apakah upaya itu bermanfaat, terutama mengingat upaya tersebut tidak berhasil, Yu Ming menjawab tanpa ragu: “Ya, bermanfaat.”

“Kami harus melakukannya. Lebih dari 10 rekan praktisi Falun Gong di sekitar saya telah disiksa sampai mati. Bagaimana anda mengukur nilai kehidupan? Saya tidak pernah menyesal mempertaruhkan hidup saya untuk mencegah lebih banyak pembunuhan,” kata Yu Ming.

Istri Yu Ming, Ma Li, dan praktisi Falun Gong lainnya memprotes penangkapan kembali Yu Ming dan menuntut pembebasannya di depan Konsulat Tiongkok di San Francisco, pada tanggal 12 November 2013. (Minghui.org)

Menemukan Kebebasan di Amerika Serikat

Yu Ming dibebaskan pada tahun 2017, dan pada akhir 2018 ia melarikan diri ke Thailand, di mana ia dapat memperoleh visa ke Amerika Serikat. Istrinya telah memperoleh status pengungsi dari pemerintah Amerika Serikat.

Pada tanggal 27 Januari, setelah hampir 12 tahun disiksa dan dianiaya di sistem penjara Tiongkok, ia bergabung dengan istri dan anaknya di San Francisco.

Dan ia tidak pergi dengan tangan kosong.

Sebelum melarikan diri ke Thailand, Yu Ming mengumpulkan koleksi bukti — mulai dari dokumen resmi hingga video rahasia yang direkam menggunakan kamera tersembunyi — yang memberikan laporan langsung mengenai penganiayaan Falun Gong yang sedang berlangsung di Tiongkok. Bukti juga mencakup informasi baru mengenai “kamp pendidikan ulang” di wilayah Xinjiang di mana sejumlah besar Muslim Uighur ditahan.

Jika ia tertangkap dengan bukti ini, ia pasti akan kembali ke penjara dan kemungkinan tidak akan pernah melihat keluarganya lagi. Tetapi ia berhasil dan kini melakukan semua yang ia dapat lakukan untuk membantu mengungkap pelanggaran yang dideritanya dan disaksikannya sendiri. (Jennifer Zeng & Joan Delaney/ Vv)

Yu Ming bertemu kembali dengan istri dan putranya di Bandara Internasional San Francisco pada tanggal 27 Januari 2019. (The Epoch Times)
Yu Ming di Washington, D.C., pada tanggal 19 Februari 2019. (Samira Bouaou / The Epoch Times)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular