Erabaru.net. Pada Kamis 9 Mei lalu, para pemimpin dari 27 negara anggota Uni Eropa selain Inggris mengadakan pertemuan di  di Sibiu, Rumania untuk membahas arah Uni Eropa pada masa depan setelah Brexit.

Negara-negara ini juga membahas kekuatan politik komunis Tiongkok terkait tantangan keamanan yang ditimbulkannya di dunia dan hubungan antara Amerika Serikat dan Eropa.

Brexit tetap menjadi salah satu titik fokus, tetapi masalah yang menyebabkan Inggris keluar dari EU telah membuat Uni Eropa lelah, dan tidak ada dalam agenda. Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker mengatakan: “Terserah mereka mau tetap bersama Uni Eropa atau memisahkan diri.”

Persoalan yang menjadi perhatian Uni Eropa saat ini adalah arah masa depannya pasca Brexit. Jerman dan Prancis mengatakan bahwa Uni Eropa harus lebih bersatu.

Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan bahwa hanya dengan persatuan, Eropa baru dapat mempertahankan nilai-nilainya sendiri. Markel menegaskan  deklarasi bersama mengarah untuk mempertegas persatuan meskipun ada perbedaan politik di antara negara-negara Uni Eropa.

Dua minggu kemudian setelah agenda ini adalah pemilihan Parlemen Eropa. Presiden Prancis Macron mengatakan bahwa 400 juta penduduk Eropa harus membuat pilihan.

Tahun ini, tidak hanya menggelar pemilihan parlemen Eropa, presiden Dewan Eropa dan Komisi Eropa akan mundur pada paruh kedua tahun ini.

Saat ini, dua kandidat populer untuk Komisi Eropa adalah Partai Rakyat Eropa, Komite Parlemen Eropa, partai sayap kanan Jerman, dan lainnya adalah wakil ketua pertama Uni Eropa, Koos Timmermans dari Belanda, ia adalah anggota Partai Sosialis Eropa sayap kiri.

Saat pertemuan Uni Eropa pada 28 Mei mendatang, Uni Eropa akan menilai hasil pemilihan Parlemen Eropa dan memulai proses pemilihan pemimpin Uni Eropa.

Jurnalis NTD di Eropa Wang Yuyin melaporkan, Masalah Uni Eropa saat ini bukan hanya Brexit, tetapi juga reposisi hubungan dengan berbagai negara. Bagaimana menangani masalah Huawei, serta perjanjian nuklir Iran, ini semua secara langsung mempengaruhi hubungannya dengan Amerika Serikat.

Menurut Jurnalis NTD, Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, berbagai strategi komunis Tiongkok untuk menaklukkan negara-negara Uni Eropa menjadi semakin jelas. Komunis Tiongkok juga telah membawa banyak kecacatan dari aturan totaliter ke Eropa. Hanya Eropa yang bersatu baru dapat melawan rongrongan komunis Tiongkok secara politik dan ekonomi. (Jon/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular