oleh Song Yue- Soun of Hope

Perang tarif antara Amerika Serikat dengan Tiongkok kembali berkobar. Pada 13 Mei pukul 8 malam waktu Beijing, situs web resmi Kementerian Keuangan Tiongkok mengumumkan bahwa mulai  1 Juni 2019 pukul 00:00, tarif impor atas komoditas AS akan dinaikkan menjadi 5%, 10%, 20%, 25% dengan nilai total sekitar 60 miliar dolar AS.

Pengumuman itu menyebutkan bahwa tarif impor atas 2.493 item komoditas AS akan dikenakan 25 persen, 1.078 item 20 persen, 974 item 10 persen dan 595 item tetap dikenakan 5 persen.

Dipengaruhi oleh berita ini, indeks Dow Jones dibuka dengan turun tajam, turun hampir 600 poin pada saat berita tersebut ditulis, sedangkan indeks Nasdaq turun melebihi 3 persen.

Komunis Tiongkok mengumumkan, kenaikan tarif merupakan pembalasan terhadap Amerika Serikat yang baru-baru ini kembali menaikkan tarif impor komoditas Tiongkok.

Lebih dari seminggu yang lalu, komunis Tiongkok membatalkan komitmennya yang dibuat dalam perundingan dengan AS.

Oleh karena itu pemerintah AS mengumumkan penerapan kenaikan tarif yang ditangguhkan mulai 10 Mei 2019. Tarif impor yang dinaikkan dari 10% menjadi 25% itu berlaku untuk barang-barang Tiongkok senilai 200 miliar dolar AS.

Sebelumnya, Presiden Trump merilis serangkaian pesan via tweet untuk memperingatkan Tiongkok agar tidak melakukan pembalasan demi menghindari “luka parah”. Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat mengenakan tarif 25 persen, konsumen AS hanya menanggung 4 persen, tetapi Tiongkok harus menanggung 21 persen.

Selain itu Trump juga menyebutkan bahwa Produk domesktik bruto AS pada kuartal pertama mencapai 3,2%.  Sebagian besar disebabkan oleh pemasukan dari tarif, dan memperingatkan bahwa banyak perusahaan akan meninggalkan daratan Tiongkok.

Menurut sebuah laporan di Bloomberg pada 12 Mei, bahwa sejumlah tokoh lawan “kelompok elang”, yakni “kelompok merpati” yang cukup berpengaruh di internal komunis Tiongkok juga meminta pemerintah untuk berkompromi dengan Amerika Serikat.

Di bawah kondisi ekonomi sedang tertekan luar biasa ini, komunis Tiongkok sekarang justru memilih untuk menghadapi AS dengan cara keras. Hal ini telah menarik perhatian masyarakat internasional. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular