6. Bagaimana Partai Komunis Tiongkok Menghancurkan Keluarga

a. Memecah Keluarga Demi Kesetaraan

Slogan Mao Zedong “Wanita Memegang Setengah Langit” kini telah membuka jalannya ke Barat sebagai slogannya feminis yang trendi. Ideologi bahwa pria dan wanita adalah sama, dipromosikan di bawah pemerintahan Partai Komunis Tiongkok, pada dasarnya tidak berbeda dengan feminisme Barat. Di Barat, “diskriminasi gender” digunakan sebagai senjata untuk mempertahankan keadaan “kebenaran politik.” Di Tiongkok, meskipun berbeda dalam praktiknya, label “chauvinisme pria” digunakan untuk efek perusakan yang serupa.

Kesetaraan gender yang dianjurkan oleh feminisme Barat menuntut kesetaraan hasil antara pria dan wanita melalui langkah-langkah seperti kuota gender, kompensasi finansial, dan standar yang diturunkan. Di bawah slogan Partai Komunis Tiongkok bahwa wanita memegang setengah langit, wanita diharapkan untuk menunjukkan kemampuan yang sama dalam pekerjaan yang sama yang dilakukan oleh rekan pria. Wanita yang berusaha melakukan tugas yang hampir tidak memenuhi syarat dipuji sebagai pahlawan dan diberikan kehormatan sebagai pemegang spanduk merah pada Hari Wanita Sedunia pada tanggal 8 Maret.

Poster-poster propaganda pada tahun 1960-an atau 1970-an biasanya menggambarkan wanita yang tegap dan kuat secara fisik, sementara Mao Zedong secara antusias meminta wanita untuk mengubah hobi berias menjadi hobi memakai seragam militer. Menambang, memotong kayu, membuat baja, bertarung di medan perang – setiap jenis pekerjaan atau peran terbuka untuk wanita.

Pada tanggal 1 Oktober 1966, People’s Daily memuat cerita berjudul “Para Gadis Juga Dapat Menyembelih Babi,” yang menjelaskan seorang gadis berusia 18 tahun yang adalah seorang selebritas setempat, bekerja sebagai pekerja magang di rumah jagal, di mana mempelajari Pemikiran Mao Zedong membantunya bekerja dengan berani untuk menyembelih babi. Ia berkata, “Jika anda tidak mampu membunuh babi, bagaimana anda berharap untuk membunuh musuh?” [33]

Meskipun wanita Tiongkok “memegang setengah langit,” kaum feminis di Barat masih menemukan bahwa kurangnya kesetaraan gender di banyak daerah di Tiongkok. Komite Tetap Politbiro Partai Komunis Tiongkok, misalnya, tidak pernah memiliki anggota wanita, karena khawatir hal ini akan mendorong gerakan sosial untuk hak-hak politik yang lebih, seperti demokrasi, yang akan menjadi ancaman bagi aturan totaliter Partai Komunis Tiongkok.

Karena keprihatinan yang sama, Partai Komunis Tiongkok juga menahan diri untuk tidak mendukung homoseksualitas secara publik, alih-alih bersikap netral terhadap masalah ini. Namun, melihat homoseksualitas sebagai alat yang mudah digunakan dalam penghancuran umat manusia, Partai Komunis Tiongkok mendorong homoseksualitas untuk tumbuh di Tiongkok dengan menggunakan pengaruh media dan budaya populer. Sejak tahun 2001, Perhimpunan Psikiatri Tiongkok tidak lagi mencantumkan homoseksualitas sebagai gangguan mental. Media juga diam-diam mengganti kata “gay” dengan “kawan,” sebuah istilah dengan konotasi yang lebih positif. Pada tahun 2009, untuk pertama kalinya Partai Komunis Tiongkok menyetujui acara LGBT Tiongkok – Shanghai Pride Week.

Pendekatannya mungkin berbeda-beda, tetapi di mana-mana iblis mengejar tujuan yang sama: Untuk menghapuskan cita-cita tradisional istri yang baik dan ibu yang pengasih, untuk memaksa wanita meninggalkan karakter lembutnya, dan untuk menghancurkan harmoni antara pria dan wanita yang diperlukan untuk menciptakan keluarga yang seimbang dan membesarkan anak-anak dengan baik.

b. Menggunakan Perjuangan Politik untuk Mengubah Suami dan Istri Melawan Satu Sama Lain

Nilai tradisional Tiongkok didasarkan pada moralitas keluarga. Iblis tahu bahwa cara paling efektif untuk merusak nilai tradisional adalah mulai dari menyabotase hubungan manusia. Dalam perjuangan politik berkelanjutan yang dimulai oleh Partai Komunis Tiongkok, anggota keluarga melaporkan satu sama lain kepada pihak berwenang dalam persaingan gila untuk memperoleh status politik yang lebih baik. Dengan mengkhianati orang terdekatnya, anggota keluarga dapat menunjukkan sikap taat yang lebih tegas dan lebih loyal dalam mendukung peraturan Partai Komunis Tiongkok.

Pada bulan Desember 1966, sekretaris Mao Zedong bernama Hu Qiaomu diseret ke Institut Besi dan Baja Beijing, di mana putri kandungnya naik ke panggung dan berteriak, “Hancurkan kepala anjing Hu Qiaomu!” Meskipun sang putri tidak benar-benar menghancurkan kepala ayahnya, ada orang yang melakukannya. Pada saat itu, ada keluarga “kapitalis” di kecamatan Dongsi di Beijing. Pengawal Merah memukuli pasangan tua keluarga tersebut sampai hampir mati dan memaksa putra mereka yang masih menuntut ilmu di sekolah menengah pertama untuk memukul orangtuanya. Sang putra menggunakan halter untuk menghancurkan kepala ayahnya yang menjadi gila sesudahnya. [34]

Seringkali, orang-orang yang dikutuk oleh Partai Komunis Tiongkok sebagai “musuh kelas” akan memungkiri keluarganya supaya keluarganya terhindari dari dampak. Bahkan “musuh kelas” yang melakukan bunuh diri pertama-tama harus memutuskan ikatan keluarga untuk mencegah Partai Komunis Tiongkok memburu anggota keluarganya setelah ia bunuh diri.

Misalnya, ketika ahli teori sastra Ye Yiqun dianiaya dan didesak untuk bunuh diri dalam Revolusi Kebudayaan, surat perpisahannya berbunyi, “Ke depan, satu-satunya hal yang dituntut dari anda adalah untuk dengan tegas mendengarkan kata-kata Partai Komunis Tiongkok, berpihak pada Partai Komunis Tiongkok dengan teguh, secara bertahap mengakui dosa-dosaku, membangkitkan kebencian terhadapku, dan dengan teguh memutuskan hubungan keluarga kami.”[35]

Penganiayaan terhadap latihan spiritual Falun Gong, yang telah berlanjut sejak tahun 1999, adalah kampanye politik terbesar yang diluncurkan oleh Partai Komunis Tiongkok di era modern. Strategi umum yang digunakan pihak berwenang terhadap praktisi Falun Gong adalah memaksa anggota keluarga mereka untuk membantu penganiayaan.

Partai Komunis Tiongkok memaksakan pelecehan administratif, hukuman keuangan, dan bentuk intimidasi lainnya kepada anggota keluarga agar mereka menggunakan segala cara untuk menekan praktisi Falun Gong agar melepaskan keyakinannya. Partai Komunis Tiongkok menyalahkan para korban penganiayaan karena berlatih Falun Gong, memberitahu praktisi Falun Gong bahwa keluarga mereka terlibat karena mereka menolak untuk mengkompromikan keyakinannya.

Banyak praktisi Falun Gong telah diceraikan atau dilucuti oleh orang yang mereka cintai karena bentuk penganiayaan ini. Mengingat banyaknya orang yang berlatih Falun Gong, keluarga yang tak terhitung jumlahnya telah tercabik-cabik oleh kampanye Partai Komunis Tiongkok.

c. Menggunakan Aborsi Secara Paksa untuk Mengendalikan Penduduk

Tidak lama setelah feminis Barat berhasil dalam pertempuran untuk melegalkan aborsi, wanita di Republik Rakyat Tiongkok melakukan aborsi yang diterapkan padanya oleh kebijakan keluarga berencana Partai Komunis Tiongkok. Pembunuhan massal terhadap bayi dalam kandungan telah mengakibatkan bencana kemanusiaan dan sosial dalam skala yang tak terhitung.

Partai Komunis Tiongkok mengikuti materialisme Marxis dan percaya bahwa melahirkan adalah suatu bentuk tindakan produktif yang tidak berbeda dengan produksi baja atau pertanian. Dengan demikian mengiringi filosofi perencanaan ekonomi diperluas ke keluarga, Mao Zedong berkata, “Manusia harus mengendalikan diri dan menerapkan pertumbuhan yang direncanakan. Kadang mungkin sedikit meningkat, dan terkadang berhenti.”[36]

Pada tahun 1980-an, rezim Tiongkok mulai menerapkan kebijakan satu anak dengan tindakan ekstrem dan brutal, seperti yang diperlihatkan oleh slogan-slogan yang dibentangkan di seluruh negeri: “Jika satu orang melanggar hukum, maka seluruh desa akan disterilkan.” “Lahirkan anak pertama, ikat kedua saluran rahim setelah melahirkan anak kedua, gugurkan kehamilan ketiga dan keempat!” (Slogan ini disederhanakan menjadi” Bunuh, bunuh, bunuh bayi ketiga dan keempat.”)” Kami lebih suka melihat darah yang mengalir daripada melihat banyak bayi dilahirkan.” “Sepuluh lebih kuburan lebih baik daripada tambahan satu kehidupan.” Aturan haus darah seperti itu ada di mana-mana di seluruh Tiongkok.

Komisi Keluarga Berencana menggunakan denda yang berat, penjarahan, pembongkaran, penyerangan, penahanan, dan hukuman lain semacam itu untuk menangani pelanggaran kebijakan satu anak. Di beberapa tempat, pejabat keluarga berencana membenamkan bayi-bayi di sawah. Wanita hamil yang tua juga tidak lolos. Bahkan beberapa hari lagi akan melahirkan, mereka dipaksa untuk melakukan aborsi.

Menurut statistik tidak lengkap yang diterbitkan dalam Buku Kesehatan Tahunan Tiongkok, jumlah total aborsi di Tiongkok antara tahun 1971 hingga 2012 setidaknya adalah 270 juta. Yaitu, lebih dari seperempat miliar bayi dalam kandungan dibunuh oleh Partai Komunis Tiongkok selama periode ini.

Salah satu konsekuensi paling serius dari kebijakan satu anak adalah bayi perempuan digugurkan atau dibuang, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan yang serius dalam rasio jenis kelamin orang Tiongkok di bawah usia 30 tahun. Karena kekurangan bayi perempuan, diperkirakan pada tahun 2020, akan ada sekitar 40 juta pria muda yang tidak dapat menikahi wanita usia subur.

Ketidakseimbangan seks buatan manusia di Tiongkok telah memicu masalah sosial yang serius, seperti peningkatan kasus pelecehan seksual dan pelacuran, perkawinan komersial, dan perdagangan wanita.

7. Konsekuensi Serangan Komunisme terhadap Keluarga

Karl Marx dan komunis lainnya menganjurkan penghapusan keluarga dengan menunjukkan dan membesar-besarkan keberadaan fenomena seperti perzinahan, pelacuran, dan anak haram, meskipun kenyataannya komunis sendiri juga bersalah atas hal-hal ini.

Kemerosotan moralitas yang terjadi secara bertahap di era Victoria mengikis institusi pernikahan yang sakral dan membawa manusia menjauhi ajaran Ilahi. Komunis mendesak wanita untuk melanggar sumpah perkawinannya demi kebahagiaan pribadi, tetapi akibatnya malah memperparah masalah.

“Solusi” hantu komunisme untuk penindasan dan ketidaksetaraan sama dengan menyeret standar moralitas manusia ke kedalaman neraka, yang menyebabkan perilaku yang dahulu secara universal dikutuk sebagai sesuatu buruk dan tidak termaafkan menjadi suatu norma baru. Dalam “kesetaraan” komunisme, semua menuju nasib yang sama — kehancuran.

Roh komunisme menciptakan kepercayaan yang keliru bahwa dosa bukan disebabkan oleh kemerosotan moralitas, tetapi oleh penindasan sosial. Roh komunisme menuntun manusia untuk menemukan jalan keluar dengan berpaling dari tradisi dan menjauh dari Tuhan. Roh komunisme menggunakan retorika kebebasan dan pembebasan yang indah untuk menganjurkan feminisme, homoseksualitas, dan penyimpangan seksual. Martabat wanita telah dilucutinya, tanggung jawab pria telah dirampoknya, dan kesucian keluarga telah diinjak-injaknya, mengubah anak-anak zaman sekarang menjadi mainan setan.

Lanjut Baca Bab Delapan.

DAFTRA PUSTAKA

[1]  “Jordan Peterson Debate on the Gender Pay Gap, Campus Protests and Postmodernism,” Channel 4 News, (January 16, 2018). https://www.youtube.com/watch?v=aMcjxSThD54&t=781s.

[2] Alan Findermay, “Harvard Will Spend $50 Million to Make Faculty More Diverse,” New York Times, (May 17, 2005). https://www.nytimes.com/2005/05/17/education/harvard-will-spend-50-million-to-make-faculty-more-diverse.html

[3] C. P. Benbow and J. C. Stanley, “Sex Differences in Mathematical Ability: Fact or Artifact?” Science, 210 (1980):1262–1264.

[4] C. Benbow, “Sex Differences in Ability in Intellectually Talented Preadolescents: Their Nature, Effects, and Possible Causes,” Behavioral and Brain Sciences 11(2) (1988): 169–183.

[5] Friedrich Hayek, The Road to Serfdom (Chicago: University of Chicago Press, 1994).

[6] Susan Edelman, “Woman to Become NY Firefighter Despite Failing Crucial Fitness Test,” New York Post, (May 3, 2015). https://nypost.com/2015/05/03/woman-to-become-ny-firefighter-despite-failing-crucial-fitness-test/.

[7] Una Butorac, “These Female Firefighters Don’t Want a Gender Quota System,” The Special Broadcasting Service, (May 24, 2017). https://www.sbs.com.au/news/the-feed/these-female-firefighters-don-t-want-a-gender-quota-system.

[8] Commonwealth of Pennsylvania, by Israel Packel, Attorney General, v. Pennsylvania Interscholastic Athletic Association (March 19, 1975).

[9] Christina Hoff Sommers, The War Against Boys: How Misguided Feminism Is Harming Our Young Men (New York: Simon & Schuster, 2013).

[10] Simon Osbone, “Angry Parents Blame New NHS Guidelines for Rise in Children Seeking Sex Changes,” The Daily and Sunday Express, (October 30, 2017). https://www.express.co.uk/news/uk/873072/Teenage-gender-realignment-schoolchildren-sex-change-nhs-tavistock-clinic-camhs.

[11] Declaration of Feminism. Originally distributed in June of 1971 by Nancy Lehmann and Helen Sullinger of Post Office Box 7064, Powderhorn Station, Minneapolis, Minnesota 55407 (November 1971).

[12] Vivian Gornick, as quoted in The Daily Illini (April 25, 1981).

[13] Robin Morgan, Sisterhood Is Powerful: An Anthology of Writings From the Women’s Liberation Movement (New York: Vintage, 1970), 537.

[14] Darlena Cunha, “The Divorce Gap,” The Atlantic,  https://www.theatlantic.com/business/archive/2016/04/the-divorce-gap/480333/.

[15] Hilary White, “The Mother of the Homosexual Movement – Evelyn Hooker, Ph.D.,” The Life Site News, (July 16, 2007). https://www.lifesitenews.com/news/the-mother-of-the-homosexual-movement-evelyn-hooker-phd

[16] Robert L. Kinney, III, “Homosexuality and Scientific Evidence: On Suspect Anecdotes, Antiquated Data, and Broad Generalizations,” Linacre Quarterly 82(4) (2015): 364–390.

[17] Ibid.

[18] P. Cameron, W. L. Playfair, and S. Wellum, “The Longevity of Homosexuals: Before and after the AIDS Epidemic,” Omega 29 (1994): 249–272.

[19] P. Cameron, K. Cameron, W. L. Playfair, “Does Homosexual Activity Shorten Life?” Psychological Reports 83(3 Pt 1) (1998): 847–66.

[20] David W. Purcell, Christopher H. Johnson, Amy Lansky, Joseph Prejean, Renee Stein, Paul Denning, Zaneta Gau, Hillard Weinstock, John Su, and Nicole Crepaz, “Estimating the Population Size of Men Who Have Sex with Men in the United States to Obtain HIV and Syphilis Rates,” The Open AIDS Journal 6 (2012): 98–107.

[21] R. S. Hogg, S. A. Strathdee, K. J. P. Craib, M.V. O’Shaughnessy, J. S. G. Montaner, M. T. Schechter, “Modelling the Impact of HIV Disease on Mortality in Gay Men,” International Journal of Epidemiology 26(3) (1997): 657–61.

[22] Joseph Nicolosi,“Who Were the APA ‘Task Force’ Members?”  https://www.josephnicolosi.com/collection/2015/6/11/who-were-the-apa-task-force-members

[23] Matthew Hoffman, “Former President of APA Says Organization Controlled by ‘Gay Rights’ Movement,” The Life Site News, (June 4, 2012). https://www.lifesitenews.com/news/former-president-of-apa-says-organization-controlled-by-gay-rights-movement.

[24] Phyllis Schlafly, Who Killed The American Family? WND Books, (Nashville, Tenn. (2014).

[25] “Programme of Action of the International Conference on Population and Development,” International Conference on Population and Development (ICPD) in Cairo, Egypt, (5–13 September 1994).

[26] The Vice Chairman’s Staff of the Joint Economic Committee at the Request of Senator Mike Lee, “Love, Marriage, and the Baby Carriage: The Rise in Unwed Childbearing,” https://www.lee.senate.gov/public/_cache/files/3a6e738b-305b-4553-b03b-3c71382f102c/love-marriage-and-the-baby-carriage.pdf.

[27] Ibid.

[28] Robert Rector, “How Welfare Undermines Marriage and What to Do About It,” Heritage Foundation Report, (November 17, 2014). https://www.heritage.org/welfare/report/how-welfare-undermines-marriage-and-what-do-about-it

[29] Schlafly, Who Killed The American Family?

[30] Ron Haskins, “Three Simple Rules Poor Teens Should Follow to Join the Middle Class,” Brookings, (March 13, 2013). https://www.brookings.edu/opinions/three-simple-rules-poor-teens-should-follow-to-join-the-middle-class/   

[31] Rector, “How Welfare Undermines Marriage and What to Do About It.”

[32] Mark Regnerus, “Cheap Sex and the Decline of Marriage,” The Wall Street Journal (September 29, 2017). https://www.wsj.com/articles/cheap-sex-and-the-decline-of-marriage-1506690454

[33] Yang Meiling, “Girls Can Slaughter Pigs Too,” People’s Daily (October 1 1966).

[34] Yu Luowen, My Family: My Brother Yu Luoke, World Chinese Publishing (2016).

[35] Ye Zhou, “The Last Decade of Ye Yiqun,” Wenhui Monthly no. 12 (1989).

[36] Pang Xianzhi, Jin Chongji, Biography of Mao Zedong (1949–1976), Central Party Literature Press, (Beijing 2003).

BACA SEBELUMNYA 

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Pengantar

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita: Pendahuluan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab I – Strategi Iblis untuk Menghancurkan Kemanusiaan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab II – Awal Komunisme Eropa

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab III – Pembunuhan Massal di Timur

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab IV – Mengekspor Revolusi

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab V – Infiltrasi ke Barat (Bagian I)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab V – Infiltrasi ke Barat (Bagian II)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VI – Pemberontakan Terhadap Tuhan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VII – Penghancuran Keluarga (Bagian I)

Share

Video Popular