Erabaru.net. Bisnis Hong Kong dan Taiwan berencana untuk menarik sebagian produksinya dari Tiongkok setelah pemerintah Amerika Serikat mengumumkan bahwa barang manufaktur Tiongkok sekitar USD 200 miliar akan menerima kenaikan tarif hingga 25 persen dari 10 persen.

Tarif tarif baru mulai berlaku tanggal 10 Mei, setelah Presiden Donald Trump mengumumkan langkah tak terduga lima hari sebelumnya di Twitter. Dalam sambutan berikutnya, para pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa Tiongkok telah mengingkari komitmen yang dibuat selama putaran negosiasi sebelumnya.

Sementara itu, pembicaraan perdagangan selama dua hari di Washington berakhir tanggal10 Mei tanpa kesepakatan.

Setelah pertemuan berakhir, Donald Trump mengatakan di Twitter bahwa tarif “mungkin dihapus atau mungkin juga tidak dihapus tergantung pada apa yang terjadi sehubungan dengan negosiasi di masa depan.”

Ribuan produk Tiongkok akan dikenakan pajak 25 persen, termasuk furnitur, peralatan telekomunikasi, plastik, makanan laut, dan onderdil mobil.

Banyak dari produk ini dibuat oleh perusahaan Hong Kong dan Taiwan yang telah lama memiliki fasilitas manufaktur di Tiongkok, karena tenaga kerjanya yang murah. Sekarang, perusahaan-perusahaan ini merelokasi beberapa produksi untuk menghindari biaya tambahan terkait dengan tarif Amerika Serikat.

Hongkong

Sejak tahun 1989, Lau Tat-pong, salah satu ketua kehormatan Asosiasi Perusahaan Kecil dan Menengah Hong Kong, telah mengoperasikan pabrik di Dongguan, sebuah kota industri di selatan Tiongkok. Ia berkecimpung dalam bisnis produk cat dan aluminium.

Dalam sebuah wawancara telepon baru-baru ini dengan Epoch Times berbahasa Mandarin, cabang Hong Kong, Lau Tat-pong menjelaskan bahwa ia telah berpikir untuk memindahkan beberapa produksi ke negara-negara di Asia Tenggara sejak dimulainya perang dagang Sino-Amerika Serikat. Namun, Lau Tat-pong mengatakan ia tidak melakukan tindakan apa pun, sebaliknya berharap kesepakatan perdagangan akan segera tercapai.

“Sekarang, saya harus pindah,” kata Lau Tat-pong setelah kenaikan tarif berlaku sejak tanggal 10 Mei. “Seminggu yang lalu, saya masih berharap bahwa tarif 10 persen akan dihapus,” kata Lau Tat-pong.

Lau Tat-pong mengatakan para pelanggan Amerika Serikat sejauh ini telah membayar tagihan untuk tarif 10 persen, tetapi ia berspekulasi bahwa pelanggannya mungkin tidak mau membayar, di mana terjadi kenaikan hingga 25 persen.

Lau Tat-pong menambahkan bahwa sektor manufaktur di Tiongkok dapat mengalami  pukulan serius, karena negara-negara di Asia Tenggara akan menjadi lebih kompetitif dari segi biaya, sementara rantai pasokan di negara-negara tersebut akan menjadi lebih matang, karena semakin banyak perusahaan menarik produksinya keluar dari Tiongkok.

Banyak produsen teknologi, seperti pemasok ke raksasa teknologi Amerika Serikat, Apple, telah membuat rencana untuk memindahkan produksinya ke Vietnam, Malaysia, Filipina, dan di tempat lain, hengkang dari Tiongkok, setelah tarif Amerika Serikat pertama kali diumumkan pada bulan Maret 2018.

Sementara itu, Kit Sze, yang berkecimpung dalam bisnis arloji dan pengemasan, telah menemukan bisnis yang berkembang karena ia memindahkan pabriknya ke Kamboja bertahun-tahun yang lalu dari Dongguan.

Berbicara kepada biro Hong Kong Epoch Times berbahasa Mandarin di telepon pada tanggal 9 Mei, Kit Sze mengatakan ia telah menerima lebih banyak pesanan baru-baru ini dari klien Amerika Serikat dan berharap untuk menerima lebih banyak pesanan dari perusahaan Amerika Serikat di masa depan.

Taiwan

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengadakan konferensi pers pada tanggal 10 Mei menyusul pertemuan tingkat tinggi keamanan nasional untuk membahas strategi Taiwan dalam menghadapi kenaikan tarif Amerika Serikat terbaru.

Tsai Ing-wen mengatakan bahwa model perdagangan segitiga yang ada – perusahaan Taiwan menerima pesanan dari klien Amerika Serikat, memenuhi pesanan dengan memproduksi produk di Tiongkok, dan mengekspor produk ke Amerika Serikat dari Tiongkok – kemungkinan akan berubah sebagai akibat dari perang dagang, menurut untuk pernyataan yang diposting di situs web kantor presiden.

Tsai Ing-wen menambahkan bahwa pemerintahnya akan mempercepat proses membantu perusahaan Taiwan kembali ke Taiwan, sementara menetapkan tujuan penandatanganan perjanjian perdagangan bilateral dengan Amerika Serikat. Tsai Ing-wen menyimpulkan bahwa sebagian besar ekspor ke Amerika Serikat, yang kini dilabel “Made in China,” akan segera digantikan oleh produk berkualitas tinggi yaitu “Made in Taiwan.”

Kementerian Urusan Ekonomi Taiwan meluncurkan program “selamat datang kembali” pada bulan Januari, yang memberikan insentif bagi perusahaan Taiwan untuk kembali ke Taiwan, seperti sewa gratis untuk dua tahun pertama, pinjaman bank yang menguntungkan, dan akses ke konsultasi pajak.

Central News Agency Taiwan melaporkan bahwa 52 perusahaan Taiwan — yang berbasis di Taiwan tetapi beroperasi di Tiongkok  — telah berjanji untuk berinvestasi di Taiwan dengan nilai total investasi lebih dari 279 miliar dolar Taiwan Baru (sekitar USD 9 miliar dolar) sejak awal tahun ini, mengutip data dari Kementerian Ekonomi Taiwan.

Tsai ng-wen mengatakan angka itu telah melampaui target pemerintah sebesar 250 miliar dolar Taiwan Baru, menambahkan bahwa ia akan menaikkan target baru menjadi 500 miliar dolar Taiwan Baru.

Di antara perusahaan yang kembali ke Taiwan adalah Yageo, perusahaan manufaktur komponen elektronik. Menurut Central News Agency, Yageo akan menginvestasikan 16,5 miliar dolar Taiwan Baru (sekitar USD 533 juta) untuk pengadaan peralatan baru dan memperluas pabrik yang ada di Taiwan.

Sementara itu, Hsieh Chih-tong, ketua produsen furnitur Taiwan Shane Global, mengatakan bahwa perusahaan mengakuisisi produsen furnitur di Thailand pada paruh kedua tahun lalu, dengan tujuan meminimalkan biaya yang terkait dengan tarif Amerika Serikat, menurut artikel tanggal 7 Mei oleh surat kabar harian Hong Kong Apple Daily. Hsieh Chih-tong menambahkan bahwa perusahaan sedang berpikir untuk mengakuisisi pabrik di Amerika Serikat, serta mendirikan fasilitas baru di Kamboja.

Tarif 25 persen kini akan memaksa banyak produsen pakaian dan tas Taiwan di Tiongkok untuk menutup pabriknya atau memindahkan produksinya ke Asia Tenggara, jika mereka belum pindah, kata Zhuo Qing-ming, ketua Asosiasi Regional Taiwan untuk Pewarnaan Cetak Kain Filamen dan Industri Penyelesaian, menurut wawancara tanggal 11 Mei dengan penyiar Taiwan FTV.

Zhuo Qing-ming menjelaskan bahwa para produsen tekstil ini, yang sebagian besar mengekspor ke Amerika Serikat dan menikmati laba kotor saat ini sekitar 10 hingga 20 persen ketika manufaktur di Tiongkok, tidak akan dapat melanjutkan bisnisnya bila tarif 25 persen yang dibebankan pada produknya.

Dalam menghadapi tarif yang lebih tinggi, Aaron Yeh, wakil ketua kantor akuntan KPMG Taiwan, menyarankan agar perusahaan Taiwan mempertimbangkan untuk memindahkan produksi ke Indonesia daripada bertahan di Tiongkok, menurut sebuah artikel Liberty Times.

Pemerintah Indonesia tahun lalu mulai menawarkan program pembebasan pajak baru kepada perusahaan asing yang berinvestasi di 18 sektor di Indonesia, termasuk baja, minyak bumi, dan telekomunikasi, kata Aaron Yeh. (Frank Fang/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular