Erabaru.net. Pemerintah Tiongkok baru-baru ini memastikan bahwa hama ulat fall armyworm  telah menginvasi 11 dari 31 provinsi di Tiongkok, menghancurkan jagung dan tanaman pokok lainnya. Pada tanggal 9 Mei, pemerintah Tiongkok memperkirakan bahwa hama tersebut akan meluas ke Provinsi Hebei, Beijing, dan semua wilayah Tiongkok pada musim panas ini.

Hama ulat fall armyworm berasal dari Amerika, dan dalam tahap larva, fall armyworm dapat makan tanaman dan menyebabkan kerusakan pada tanaman seperti jagung, beras, gandum, sorgum, barley, tebu, kapas, kedelai, dan kacang tanah.

Saat ini tidak ada solusi skala besar untuk menghilangkan hama tersebut.

Departemen Pertanian Amerika Serikat menerbitkan laporan pertanian luar negeri  pada tanggal 30 April yang menjelaskan bahwa hama pemakan tanaman ini pertama kali terdeteksi di Tiongkok pada akhir Januari, masuk dari Burma. Hama ulat fall armyworm tidak memiliki predator alami di Tiongkok.

Jika Tiongkok tidak dapat menghentikan penyebaran hama ulat fall armyworm, maka dapat menghancurkan panen tahun ini dan mengancam ketahanan pangan Tiongkok.

Sejak pertama kali mendarat di Afrika Barat pada awal tahun 2016, hama ulat fall armyworm telah menyebar dengan cepat ke lebih dari 40 negara di benua Afrika. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB melaporkan bahwa hama ulat fall armyworm telah merambah jutaan hektar jagung di Afrika, mengancam penghidupan 300 juta orang Afrika. Pada bulan Februari 2018, hama ulat fall armyworm telah menyebabkan kerugian hingga USD 4,8 miliar untuk produksi jagung saja.

Menghancurkan Tanaman Tiongkok

Mengutip informasi dari Pusat Layanan Penyuluhan Teknologi Pertanian Nasional, sebuah agen di bawah Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan Tiongkok, surat kabar pemerintah Beijing News melaporkan bahwa hama ulat fall armyworm telah menginvasi 11 provinsi di selatan Tiongkok pada tanggal 8 Mei, yaitu Yunnan, Guangxi, Guizhou , Guangdong, Hunan, Hainan, Fujian, Zhejiang, Hubei, Sichuan, dan Jiangxi.

Beijing News mengatakan bahwa 230 kabupaten dan 52 kota dari provinsi tersebut telah melaporkan bahwa ladang jagung mereka telah dirusak oleh hama ulat fall armyworm. Larva tersebut dapat makan semua daun dan biji-bijian di ladang tanaman dalam waktu semalaman, lalu pindah ke ladang tanaman yang lain dengan cepat, demikian laporan dari pihak pertanian.

Seekor ngengat fall armyworm dapat terbang sejauh 500 kilometer (300 mil) selama masa hidupnya, dan menghasilkan 1.000 hingga 1.500 telur. Telur dapat menetas menjadi larva dalam beberapa hari.

Kementerian Pertanian Tiongkok memperkirakan bahwa ketika suhu musim semi naik, fall armyworm akan terus bergerak ke utara, menyerang ladang tanaman muda. Kementerian Pertanian Tiongkok meramalkan pola penyebaran fall armyworm: ia akan menyerang provinsi di sepanjang sungai Yangtze dan sungai Huai pada pertengahan bulan Mei, kemudian bergerak di sepanjang sungai Kuning pada bulan Juni dan Juli, yang akhirnya mencakup seluruh Tiongkok.

Pada tanggal 7 Mei, Beijing News juga melaporkan bahwa Kementerian Pertanian Tiongkok telah mengatur untuk memasang perangkap untuk ngengat fall armyworm di 220 kabupaten yang berlokasi di 26 provinsi.

Departemen Pertanian Amerika Serikat mengatakan dalam laporannya tanggal 30 April bahwa Akademi Ilmu Pengetahuan Pertanian Tiongkok bekerja sama dengan perusahaan perlindungan tanaman untuk menemukan solusi pengendalian kimia dan non-kimia yang tepat untuk menyingkirkan fall armyworm.

Kesengsaraan Perang Dagang

Fall armyworm mengancam panen pada waktu yang sensitif, karena produksi kedelai dan jagung dalam negeri Tiongkok merosot pada tahun 2018 akibat kekeringan dan cuaca yang sangat dingin.

Sementara itu, sengketa dagang dengan Amerika Serikat juga membatasi impor tanaman. Pada bulan April 2018, Beijing memberlakukan tarif pembalasan 25 persen atas barang Amerika Serikat senilai USD 50 miliar, sebagian besar memengaruhi produk pertanian. Meskipun di masa lalu Tiongkok sangat bergantung pada tanaman kedelai Amerika Serikat, yang sebagian besar digunakan untuk membuat pakan ternak, rezim Tiongkok memberlakukan tarif sendiri yang mengakibatkan penurunan impor kedelai yang tajam pada tahun 2018.

Pada tanggal 13 Mei, rezim Tiongkok membalas kenaikan tarif yang diumumkan di Amerika Serikat atas barang Tiongkok sebesar USD 200 miliar pekan lalu dengan memberlakukan tarif tambahan terhadap 5.140 produk Amerika Serikat yang tertera dalam daftar baru. Namun, hasil pertanian tidak ada dalam daftar baru tersebut.

Seorang petani Tiongkok menyemprotkan pestisida di ladang gandum di daerah Chiping di Liaocheng, provinsi Shandong, timur Tiongkok pada tanggal 15 Maret 2017. (STR / AFP / Getty Images)

Krisis Pangan di Tiongkok

Namun, fall armyworm mengancam sereal pokok Tiongkok; ternak dan unggas diberi makan biji-bijian; dan produk makanan yang terbuat dari biji-bijian seperti minyak nabati, cuka, dan minuman keras.

Sebagai konsumen daging babi terbesar di dunia, Tiongkok juga terhuyung-huyung dihajar demam babi Afrika, yang telah melenyapkan pasokan daging babi negara tersebut.

Pada malam 10 Mei, Sekretaris Makanan dan Kesehatan Hong Kong Sophia Chan Siu-chee mengumumkan bahwa terjadi wabah demam babi Afrika yang pertama di Hong Kong, yang disebarkan oleh babi yang diangkut dari provinsi tetangga yaitu Guangdong di Tiongkok Daratan.

Kasus Hong Kong terbaru menunjukkan epidemi demam babi Afrika masih parah, meskipun otoritas Tiongkok berusaha membantahnya.

Sejak wabah demam babi Afrika pertama terjadi di timur laut Tiongkok pada bulan Agustus 2018, penyakit ini telah menyebar ke semua provinsi dan wilayah Tiongkok. Sejak bulan Januari, tetangga Tiongkok yaitu  Mongolia, Vietnam, dan Kamboja telah melaporkan wabah demam babi Afrika, sementara Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan telah mendeteksi dan menyita produk daging babi yang terinfeksi demam babi Afrika buatan Tiongkok yang dibawa oleh para pelancong melalui bea cukai. (Nicole Hao/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular