Erabaru.net. Kepercayaan terhadap ekonomi Amerika Serikat telah mendorong Presiden Donald Trump untuk mengambil sikap lebih keras terhadap Tiongkok, dengan menaikkan tarif pada tanggal 10 Mei untuk menjangkau impor Tiongkok senilai USD 200 miliar. Donald Trump dalam serangkaian kicauannya pada tanggal 13 Mei memperingatkan, “Tiongkok akan sangat tersakiti jika Tiongkok tidak membuat kesepakatan.”

Ketegangan antara Amerika Serikat dengan Tiongkok meningkat pada minggu tanggal 6 Mei ketika Beijing mundur untuk memberikan reformasi struktural utama dan Donald Trump menaikkan tarif impor Tiongkok. Pertemuan dua hari pada tanggal 9 Mei dan 10 Mei antara Amerika Serikat dengan delegasi Tiongkok di Washington tidak menghasilkan kesepakatan perdagangan di tengah meningkatnya pertikaian.

Kementerian Keuangan Tiongkok mengumumkan pada tanggal 13 Mei bahwa Beijing akan menaikkan tarif barang Amerika Serikat sebesar USD 60 miliar sebagai balasan atas keputusan Donald Trump untuk menaikkan tarif impor atas barang Tiongkok sebesar USD 200 miliar menjadi 25 persen dari 10 persen.

Dalam serangkaian kicauannya, Donald Trump menuduh Tiongkok mundur dari kesepakatan “hebat” dan “hampir selesai.”

“Saya katakan secara terbuka kepada Presiden Xi Jinping dan semua teman saya di Tiongkok bahwa Tiongkok akan sangat tersakiti jika Tiongkok tidak membuat kesepakatan karena perusahaan- perusahaan akan dipaksa meninggalkan Tiongkok ke negara lain,” tulis Donald Trump.

Dalam tweet terpisah pada tanggal 11 Mei, Donald Trump mengatakan Tiongkok telah mencoba menunda taktik “untuk melihat apakah Tiongkok akan beruntung dan mendapatkan kemenangan Demokrat” dalam pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2020.

“Satu-satunya masalah adalah bahwa Tiongkok tahu saya akan menang,” tulis Donald Trump, mengutip angka ekonomi dan pekerjaan yang kuat.

Menurut ahli analisis, Donald Trump memberanikan diri karena didukung oleh  kekuatan ekonomi dan pasar saham Amerika Serikat, serta ia berpeluang untuk terpilih kembali. Ia juga yakin ekonomi Amerika Serikat dapat menanggung semua tindakan balasan dari Tiongkok.

Meskipun ada ketegangan baru, Donald Trump mengatakan negosiasi dengan Beijing akan terus berlanjut. Namun, ia memperingatkan tarif baru “mungkin atau mungkin tidak dihapus tergantung pada apa yang terjadi sehubungan dengan negosiasi di masa depan!”

Donald Trump juga mengatakan kepada wartawan bahwa Washington sedang bersiap untuk mengenakan tarif 25 persen pada sisa barang Tiongkok sebesar USD 325 miliar, yang akan mencakup 60 persen impor barang konsumsi dari Tiongkok, menurut Citi.

Menurut ahli analisis, Donald Trump menggunakan ancaman tarif sebagai bagian taktik negosiasi untuk meningkatkan tekanan pada Tiongkok. Dan dalam perang dagang yang sedang memuncak, Tiongkok mengalami lebih banyak kerugian secara ekonomi, kata ahli analisis.

Dampak terhadap Ekonomi Tiongkok

Amerika Serikat mulai mengenakan tarif impor Tiongkok pada bulan Juli 2018. Bersama dengan dua putaran tarif sebelumnya, pungutan 25 persen atas total barang Tiongkok senilai USD 250 miliar “diperkirakan akan mengurangi ekspor Tiongkok sebesar 5,6 persen, mengurangi pertumbuhan Produk Domestik Bruto Tiongkok sebesar 1 poin persentase, dan mengurangi lapangan kerja Tiongkok sebesar 4,4 juta,” menurut Citi.

Selain itu, bisnis-bisnis di Tiongkok yang terjebak dalam baku tembak perang dagang berencana untuk memindahkan operasi mereka guna menghindari tarif. Perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok yang berkepanjangan akan memaksa lebih banyak perusahaan untuk menggeser kegiatan rantai pasokan mereka keluar dari Tiongkok, menurut para ahli.

Tarif baru juga mengungkapkan kerentanan pasar saham Tiongkok. Indeks Komposit Bursa Efek Shanghai turun hampir 6 persen sejak ketegangan meletus. Untuk mencegah penurunan dramatis, dana yang didukung negara membeli saham untuk membantu indeks rebound lebih dari 3 persen pada tanggal 10 Mei.

Konsumen Amerika Serikat juga akan menderita sampai tingkat tertentu akibat  sengketa dagang, menurut analis.

“Sejauh ini efek tarif impor barang Tiongkok belum begitu terasa karena tarif dibebankan  pada sebagian kecil barang yang dibutuhkan konsumen dan pada barang yang mudah diganti,” tulis analis Citi dalam sebuah laporan.

Tarif baru pada impor Tiongkok akan menambahkan 0,03 poin persentase tambahan pada inflasi inti Amerika Serikat, sementara tarif 25 persen pada sisa barang Tiongkok senilai USD 325 miliar dapat menambah hampir 0,24 poin persentase pada inflasi inti Amerika Serikat selama setahun, menurut perkiraan Citi.

Donald Trump menyadari beban petani yang merupakan kelompok pemilih kritis pada pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2020. Negara bagian yang merupakan pertanian kedelai seperti Iowa telah menjadi salah satu negara bagian yang paling terpukul oleh perang tarif tersebut.

Saham Amerika Serikat juga jatuh setelah Tiongkok mengumumkan pembalasan pada tanggal 13 Mei. Baik S&P 500 maupun Dow Jones Industrial Average turun hampir 2,5 persen pada awal perdagangan. Meningkatnya ketegangan sejak tanggal 6 Mei membuat indeks S&P 500 maupun Dow Jones turun lebih dari 4 persen.

Namun, sikap keras terhadap Beijing menarik dukungan bipartisan yang kuat di Washington, yang memberi kelonggaran bagi Donald Trump untuk beraksi dalam perang dagang meskipun terjadi gejolak pasar saham.

Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer (D-N.Y.), salah satu kritikus paling menonjol dari pemerintahan di Senat, mendesak Donald Trump untuk “bertahan melawan Tiongkok.”

“Kekuatan adalah satu-satunya cara untuk memperoleh kemenangan dari Tiongkok,” tulis Chuck Schumer di Twitter pada tanggal 5 Mei.

Reaksi Investor

Investor percaya Amerika Serikat dan Tiongkok  pada akhirnya akan mencapai kesepakatan. Namun, reaksi pasar adalah tanda bahwa pasar masih khawatir dengan konsekuensi dari perang dagang yang potensial.

Sebelum acara pekan lalu, pasar saham Amerika Serikat telah menetapkan harga dalam penyelesaian sengketa dagang antara Washington dengan Beijing, kata Robert Johnson, ketua dan CEO Economic Index Associates dan profesor keuangan di Universitas Creighton.

“Dengan benar-benar diberlakukannya tarif pada hari Jumat, kita mungkin akan melihat reaksi negatif yang sangat kuat di pasar ekuitas Amerika Serikat jika tidak ada kemajuan dalam sengketa dagang dalam beberapa minggu mendatang,” kata Robert Johnson.

Menurut David Dietze, presiden dan kepala strategi investasi Point View Wealth Management, perang dagang “lebih penting untuk Tiongkok daripada Amerika Serikat.”

“Masalah dan perbaikannya adalah sangat rumit, jangan berharap berita ini dapat diselesaikan dalam waktu dekat,” kata David Dietze, seraya menambahkan bahwa ia tetap optimis untuk jangka panjang.

“Pembicaraan perdagangan hanyalah salah satu bagian dari cerita yang optimis. Penghasilan tahun ini akan lebih besar dari tahun lalu. Suku bunga jauh lebih rendah dari tahun lalu dan sepertinya tertambat. Ekonomi Amerika Serikat jauh lebih besar daripada perdagangan dengan Tiongkok,” kata David Dietze. (Emel Akan/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular