Erabaru.net. Aku tidak pernah benar-benar tahu tentang ayahku dan aku tumbuh membenci dia karena meninggalkan kami. Kami tidak pernah secara sadar mengambil sesuatu darinya dan itu sangat merugikan kami.

Ketika aku berusia 3 tahun, ibuku pulang kembali ke keluarganya dan membantu di restoran mie daging sapi yang mereka miliki. Itu adalah usaha kecil yang dikelola oleh ibuku, bibi dan tiga pekerja. Itu selalu ramai dengan pelanggan selama aku bisa ingat. Orang-orang dewasa bekerja keras ketika aku bermain di halaman belakang dengan sepupuku.

Aku pikir ayahku sudah meninggal karena aku belum pernah melihatnya, tetapi ketika aku bertanya kepada ibu apakah kami bisa melihat makamnya, dia akan dengan tegas mengatakan kepadaku untuk mengeluarkan pikiran itu dari kepalaku.

Aku melihat dia untuk pertama kalinya pada hari orangtuaku bertemu untuk bercerai. Ayahku dulu mencoba bersifat baik padaku dengan memberi aku cokelat tetapi ibuku telah memperingatkanku, :”Jika kamu mengambil sesuatu dari pria itu, kamu tidak akan lagi menjadi anakku!”

Aku sangat takut, aku tidak pernah berani mengambil apa pun darinya dan segera aku mulai membencinya juga.

Ilustrasi. (Foto: Pxhere)

Ayahku pindah ke kota untuk memulai bisnis di sana dan segera, dia bertemu dengan seorang wanita dan menjadi istrinya. Dia baru saja melupakan kita. Dia menulis surat lebih sedikit dan lebih sedikit sampai akhrinya dia tidak memberi kabar kepada kita lagi.

Kami melanjutkan hidup kami dan segera aku lulus dari perguruan tinggi dan memulai pekerjaan pertamaku. Aku masih tinggal dengan ibu dan bekerja keras untuk merawatnya.

Setelah semua kesulitan yang dia lalui dalam membesarkanku, aku pernah bermimpi untuk membayarnya. Aku masih menyimpan dendam pada ayahku karena meninggalkannya.

Ilustrasi.

Selama bertahun-tahun aku mendengar kerabat berbicara tentang kesombongan ayahku dan bagaimana dia tidak akan pernah meninggalkan satu sen pun untuk saya warisi. Aku berpikir dalam hati,: “Jika dia memberi sesuatu padaku, aku akan membakar semuanya!”

Tahun berganti tahun pun berlalu dan pikiranku tentang ayag perlahan menghilang. Aku menikahi wanita yang aku cintai dalam hidupku dan punya anak, aku akan menyerahkan segalanya untuk itu. Dalam perjalanan pulang dari kerja suatu hari, Aku melihat seorang pria tua yang berantakan di depan rumahku dan ketika aku mendekatinya, dia menyerahkan sekotak cokelat padaku.

Dia mengatakan,: “Ketika kamu kecil, kamu suka makan cokelat,” berulang-ulang.

Aku mengambil kotak itu dan pulang ke rumah untuk memberi tahu ibu apa yang telah terjadi. Ketika kami membuka kotak itu, kami tercengang. Di dalamnya ada buku tabungan dengan saldo yang lebih dari Rp 14 miliar di dalamnya.

Aku mengatakan kepada ibu apa yang terus dikatakan pria itu dan ibu lantas menangis mengetahui bahwa pria itu sebenarnya ayahku.

Ibu tidak menyentuh uang itu tetapi ketika dia jatuh sakit, kami tidak punya pilihan selain menggunakannya untuk menutupi biaya operasinya.

Ilustrasi.

Beberapa bulan berlalu ketika aku menerima telepon dari orang asing. Dia mengaku dirinya sebagai istri ayahku dan dia menelepon untuk memberi tahu bahwa ayahku menderita stroke. Dia terus memanggil namaku dan aku tidak bisa tidak pergi dan melihatnya.

Ketika aku melihat tubuhnya yang lemah terbaring di ranjang rumah sakit, aku menyadari bahwa aku sudah berhenti membencinya sejak lama. Dia koma dan aku berada di sisinya selama berhari-hari. Ketika akhirnya dia bangun, dia menoleh padaku dan dengan senyum tipis dia berkata,: “Nak, ayah akan membelikanmu cokelat.”

Semua orang terkejut karena dengan demensia-nya, dia tidak bisa mengenali siapa pun selama bertahun-tahun tetapi pada akhirnya ingat aku.

Ilustrasi.

Aku tidak lagi menyalahkannya karena meninggalkan kami, karena ibu tidak mengatakan yang sebenarnya tentang apa yang terjadi. Meskipun ayahku masih belum sehat, aku hanya berharap untuk dapat menghabiskan sisa waktunya bersama untuk menebus waktu yang hilang.(yant)

Sumber: Goodtimes

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular