Liu Yi

Ricoh pada Minggu (16/5/2019), mengumumkan secara resmi  akan mengalihkan lini produksi mesin foto copy yang diekspor ke AS dari Tiongkok ke Thailand. Ini menunjukkan bahwa dampak dari eskalasi perang dagang AS-Tiongkok semakin meluas terhadap produk-produk Tiongkok.

Ricoh, salah satu perusahaan asal Jepang yang memproduksi barang elektronik, terutama kamera dan peralatan kantor seperti printer, mesin fotokopi, mesin fax

Melansir laman The Liberty Times-Taiwan, Ricoh menyatakan bahwa pengalihan jalur produksi ini akan memakan waktu sekitar dua bulan. Ricoh memiliki lini produksi untuk mengekspor mesin fotokopi ke Amerika Serikat di Shenzhen, Tiongkok, dan Changwat, Thailand. Semua model ekspor mendatang ke AS akan diproduksi di Thailand.

Menurut laporan, dalam keadaan perang dagang AS-Tiongkok yang belum berakhir, dampak strategis Amerika Serikat terhadap tarif pada perusahaan-perusahaan kini semakin meluas.

Seiring dengan pernyataan  Amerika Serikat yang akan memberlakukan tarif 25% untuk produk Tiongkok di masa depan, atau sekitar $ 300 miliar, banyak perusahaan AS dan Jepang mulai menyesuaikan rantai pasokan produk mereka.

Melansir laman Nihon Keizai Shimbun, Rabu, 15 Mei lalu, menghadapi kenaikan tarif pada “putaran keempat” AS terhadap hampir semua barang impor dari Tiongkok, industri Jepang dan Amerika berturut-turut menyesuaikan sistem produksi mereka. Selain itu, kewaspadaan terhadap aksi pembalasan komunis Tiongkok sangat kuat, banyak perusahaan Jepang dan Amerika sedang mempersiapkan konfrontasi tarif lebih lanjut.

Musim panas tahun ini, GoPro, sebuah perusahaan kamera kecil asal AS akan memindahkan lini produksinya untuk produk-produk AS dari Tiongkok ke Meksiko. CEO perusahaan Nick Woodman mengatakan, “Ini adalah langkah untuk mencegah risiko tarif antara Tiongkok dan Amerika Serikat.”

Perusahaan sepatu SKECHERS USA juga berencana untuk meningkatkan produksi di tempat-tempat seperti India dan Vietnam.

Sementara itu, perusahaan mainan Hasbro berencana mengurangi tingkat pembelian 70% di Tiongkok saat ini menjadi 60% pada akhir tahun 2020 mendatang.

Menurut survei yang dilakukan oleh Bain & Company, sebuah perusahaan konsultan manajemen asal AS, 60% dari 200 perusahaan AS mengatakan, bahwa mereka akan “Mulai penyesuaian rantai pasokan dalam waktu 12 bulan.”

Citizen Arloji memproduksi arloji dengan harga murah hingga menengah di Tiongkok untuk pasar Amerika Serikat, direktur perusahaan tersebut mengatakan bahwa jika arloji termasuk dalam ruang lingkup tarif hukuman, maka pihaknya “perlu mempertimbangkan produksi di Thailand dan Tiongkok”, dan sistem produksi akan disesuaikan.

Sebagian kamera digital Sony yang diproduksi di Tiongkok dan diekspor ke Amerika Serikat. Sony mengatakan bahwa jika kamera digital menjadi target tarif hukuman, maka pihak Sony akan mengambil “tindakan penanggulangan yang diperlukan.”

Selain itu, produk lain seperti pakaian juga kemungkinan akan menjadi target pengenaan tarif 25%. Produsen Uniqlo’s, Fast Retailing mengekspor sebagian produknya dari Tiongkok ke AS, selanjutnya mungkin akan mengekspor dari lokasi produksi di negara-negara seperti Vietnam dan Bangladesh.

Laporan itu mengatakan bahwa setelah AS menaikkan tarif terhadap komoditas Tiongkok, Senin 10 Mei 2019 lalu, pejabat senior komunitas bisnis AS mengirim surat elektronik darurat kepada perusahaan anggota untuk mengingatkan bahwa selain tarif pembalasan dari Komunis Tiongkok, langkah lainnya adalah peninjauan ulang bea cukai dan penundaan administrasi dari otoritas komunis Tiongkok.  AS telah mengimbau anggotanya untuk menghadapi perang dagang yang berkesinambungan. (Jhon/asr)

Video Rekomendasi : 

 

Share

Video Popular