Erabaru.net. Beberapa perusahaan Jepang memindahkan beberapa jalur produksinya keluar dari Tiongkok, dalam upaya untuk menghindari pembayaran tarif Amerika Serikat saat ini untuk barang manufaktur Tiongkok, serta kemungkinan tarif di masa depan — karena tidak ada tanda-tanda perjanjian perdagangan yang akan segera terjadi antara Beijing dengan Washington.

Negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand, Kamboja, dan Vietnam telah menjadi lokasi pilihan produksi bagi banyak produsen teknologi sejak tarif Amerika Serikat pertama kali diumumkan pada bulan Maret 2018, dalam sengketa dagang yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dengan Tiongkok mengenai dugaan pencurian kekayaan intelektual dan praktik perdagangan tidak adil.

India juga menjadi pilihan populer sebagai pengganti posisi Tiongkok.

Perusahaan elektronik Jepang, Ricoh berencana untuk mengalihkan produksi printer (mesin cetak) yang dikirim ke pasar Amerika Serikat dari Tiongkok ke fasilitas yang ada di Thailand, menurut laporan tanggal 16 Mei oleh media Jepang Nikkei.

Saat ini, Ricoh membuat printer yang terikat dengan Amerika Serikat di kota Shenzhen, selatan Tiongkok dan Provinsi Rayong, selatan Thailand. Menurut Nikkei, perpindahan lokasi produksi akan berlangsung pada awal musim panas ini. Setelah perpindahan lokasi selesai, lokasi produksi di Thailand akan menghasilkan semua printer merk Ricoh yang ditujukan untuk pasar Amerika Serikat.

Pada tanggal 10 Mei, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa barang manufaktur Tiongkok senilai USD 200 miliar akan dikenakan kenaikan tarif menjadi 25 persen dari 10 persen. Pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa Tiongkok telah mengingkari komitmen yang dibuat selama putaran negosiasi sebelumnya.

Donald Trump telah memerintahkan Perwakilan Dagang Amerika Serikat Robert Lighthizer untuk memulai proses resmi menaikkan tarif pada kategori impor Tiongkok yang tersisa, bernilai sekitar USD 300 miliar. Perwakilan Dagang Amerika Serikat telah menyusun daftar baru 3.805 kategori produk untuk dikenakan kenaikan tarif.

Menurut Reuters, kantor Robert Lighthizer telah menetapkan dengar pendapat publik untuk tanggal 17 Juni dan periode komentar publik yang berakhir pada tanggal 24 Juni — yang berarti putaran baru tarif Amerika Serikat akan diberlakukan setelah tanggal tersebut.

Printer, komponen printer, dan aksesori tercakup dalam daftar tersebut. Untuk mengantisipasi dikenakan tarif, maka Ricoh terpicu untuk mengalihkan produksinya ke Thailand, menurut Nikkei.

Nikkei menunjukkan bahwa lokasi produksi Ricoh di Shenzhen akan terus membuat printer untuk pasar Eropa, Asia, dan Jepang.

Menurut Nikkei, pasar Amerika Serikat adalah pasar terbesar kedua Ricoh setelah Jepang, terhitung sekitar 30 persen dari sekitar USD 10 miliar penjualan printer untuk tahun yang berakhir pada bulan Maret.

Produsen printer Jepang lainnya, Fuji Xerox dan Canon, juga memonitor perkembangan dalam negosiasi perdagangan Amerika Serikat dengan Tiongkok, untuk menentukan tindakan terbaik di masa depan, menurut Nikkei.

Beberapa produsen mesin Jepang juga telah berencana mengalihkan produksinya dari Tiongkok, jauh sebelum kenaikan tarif pada tanggal 10 Mei.

Sumitomo Heavy Industries, produsen mesin dan peralatan, telah mengalihkan pembuatan komponen untuk reduksi motornya dari Tiongkok kembali ke Jepang tahun ini, menurut laporan tanggal 11 Mei oleh agensi media Jepang Kyodo News.

Mitsubishi Electric, Komatsu, dan Toshiba Machine juga telah selesai memindahkan produksinya dari Tiongkok pada tahun 2018, menurut Kyodo News. Kobe Steel sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk memindahkan produksi komponen yang terikat dengan Amerika Serikat untuk ekskavator hidrolik dari Tiongkok ke Jepang, Thailand, dan Amerika Serikat.

India

Telepon pintar adalah kategori produk lain yang tercakup dalam daftar tarif yang diusulkan Perwakilan Dagang Amerika Serikat. Akibatnya, beberapa produsen dan pemasok telepon pintar telah memilih India sebagai tempat produksi baru mereka.

Wistron, perusahaan berbasis di Taiwan yang merakit iPhone Apple, menerima persetujuan dari Kementerian Teknologi Informasi India pada bulan Maret untuk investasi USD 710 juta untuk memperluas fasilitas produksinya di India untuk merakit model iPhone terbaru, menurut surat kabar berbahasa Inggris India The Economic Times , mengutip komentar yang dibuat oleh Menteri Teknologi Informasi Ravi Shankar Prasad.

Wistron termasuk salah satu dari tujuh perusahaan Taiwan yang memasok untuk Apple yang menyatakan minat pada bulan November 2018 untuk mengalihkan sebagian produksinya dari Tiongkok karena perang dagang Tiongkok dengan Amerika Serikat.

Perakit Apple lainnya, Foxconn, juga mengalihkan produksi dari Tiongkok. Pada bulan Maret, ketua perusahaan Foxconn, Terry Gou, mengumumkan rencana untuk memindahkan produksi di kota Tianjin, Tiongkok, kembali ke Taiwan. Bulan berikutnya, Terry Gou mengatakan kepada Bloomberg bahwa iPhone akan masuk ke produksi massal di India tahun ini.

The Economic Times, dalam artikel lain yang diterbitkan pada tanggal 2 Mei, melaporkan bahwa Samsung menginvestasikan sekitar USD 356 juta untuk membangun dua entitas manufaktur komponen baru di India untuk memproduksi display dan baterai untuk telepon seluler.

“Kami berharap perubahan bermakna dari manufaktur ke luar Tiongkok menjadi tren multi-tahun dan peluang emas potensial bagi India,” tulis Gautam Chhaochharia, kepala penelitian India di bank investasi UBS, dalam artikel opini yang diterbitkan oleh The Economic Times pada tanggal 10 Mei.

Gautam Chhaochharia menjelaskan bahwa tren hengkang dari Tiongkok akan terus berlanjut walaupun kesepakatan perdagangan akan ditandatangani, dengan menyebut daya tarik India sebagai tujuan manufaktur, seperti kemudahan berbisnis.

Donald Trump dan pemimpin Tiongkok Xi Jinping dijadwalkan akan bertemu untuk pembicaraan selama KTT G-20 yang diadakan di Jepang pada bulan Juni 2019. (Frank Fang/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular