Erabaru.net. Setelah pembicaraan perdagangan Amerika Serikat-Tiongkok berakhir tanpa kesepakatan pada tanggal 10 Mei, media pemerintah Tiongkok merespons secara agresif, berulang kali mengklaim bahwa Tiongkok “tidak takut untuk berperang” dan akan “berjuang sampai akhir.” Banyak netizen Tiongkok takut bahwa propaganda yang tampaknya optimis tersebut akan mengorbankan warga sipil Tiongkok saat  rezim Tiongkok berusaha untuk menggalang  mereka untuk bertempur melawan Amerika Serikat dan memenangkan perang dagang.

Pemerintah Amerika Serikat memberlakukan kenaikan tarif impor Tiongkok senilai USD 200 miliar pada tanggal 10 Mei, menjadi 25 persen dari 10 persen.

Sebagai pembalasan, pada tanggal 13 Mei Beijing mengumumkan bahwa Tiongkok akan menaikkan tarif, berkisar dari 5 persen menjadi 25 persen, untuk barang Amerika Serikat senilai USD 60 miliar.

Segera setelah pembicaraan perdagangan berakhir pada tanggal 10 Mei, corong resmi rezim Tiongkok tetap diam. Namun dua hari kemudian, berbagai media yang dikelola pemerintah — seperti CCTV, Harian Rakyat, dan Kantor Berita Xinhua — secara bersamaan memulai perang propaganda dengan mengkritik Amerika Serikat karena gagal mencapai kesepakatan dalam pembicaraan perdagangan, menggambarkan Amerika Serikat sebagai pelaku intimidasi internasional dengan pola pikir hegemonik.

Mereka menyatakan bahwa Tiongkok “tidak takut berperang” melawan  Amerika Serikat, dan perang dagang akan menjadi “perang rakyat,” dan Tiongkok  “rela  melakukan segala macam pengorbanan” untuk bertempur dalam perang dagang ini “sampai akhir.”

Netizen Tiongkok: Kami Akan Dikorbankan

Banyak netizen Tiongkok memposting komentar di Weibo dan WeChat — platform media sosial Tiongkok yang mirip dengan Twitter dan Facebook — mengkritik ungkapan yang lazim “buat segala macam pengorbanan” yang digunakan dalam propaganda untuk meningkatkan moral masyarakat. Beberapa orang mengatakan ungkapan tersebut telah membuat mereka takut karena ungkapan tersebut berarti Partai Komunis Tiongkok  akan mengorbankan kepentingan rakyatnya sendiri untuk mencapai tujuannya.

“Jelas kami akan dikorbankan dan harus menderita,” tulis seorang netizen.

“Kami, yang akan dikorbankan, merasa takut,” tulis seorang netizen lain, dan beberapa orang lain menyetujuinya.

Banyak orang menyatakan pandangan yang serupa:

“(Otoritas Tiongkok) mencoba mentransfer ‘pengorbanan’ ke masyarakat.”

“Anda (penguasa) yang rela berkorban. Tapi, saya minta maaf, jangan tarik saya ke dalam masalah ini. Saya tidak ingin terlibat.”

“Tentu saja pihak berwenang tidak takut untuk bertempur, karena 1,4 miliar rakyat yang akan dikirim ke garis depan.”

“Kami akan ditipu.”

Seorang netizen Tiongkok mengejek Televisi Sentral Tiongkok (CCTV) dan menulis: “Apa gunanya membuat pernyataan angkuh ini di depan rakyat Tiongkok? Apakah anda berani membuat pengumuman yang sama dalam bahasa Inggris dan menyiarkannya di saluran internasional anda? “

“Saya tidak dapat memahami logika anda bahwa anda harus bertarung terus-menerus,” tulis seorang netizen, mengkritik filosofi perjuangan Partai Komunis Tiongkok. “Lanjutkan pertarunganmu. Itu bukan urusan kami. “

Ada juga keluhan mengenai elit Tiongkok yang kaya dan berkuasa. Seorang netizen menulis: “Tentu saja mereka tidak takut. Para pejabat menikmati hak istimewa — mereka makan enak; mereka mendapatkan perawatan medis gratis; istri, piaraan dan anak-anak mereka tinggal di luar negari, dan mereka semua adalah miliarder. Apa yang harus ditakuti? Mereka akan menjarah kekayaan 1,4 miliar rakyat Tiongkok untuk berperang. Itulah yang mereka maksudkan dengan pengorbanan.”

Banyak postingan ini telah dihapus oleh polisi internet.

Warganegara Tiongkok yang tinggal di Amerika Serikat dan Kanada juga ikut berdiskusi di forum-forum berbahasa Mandarin di luar negeri.

Seorang pengguna Weibo dari Vancouver berkomentar bahwa propaganda Tiongkok dimaksudkan untuk mengarahkan rakyat Tiongkok menuju nasionalisme ekstrem dan sentimen anti-Amerika Serikat, yang akan memudahkan Partai Komunis Tiongkok untuk mempertahankan kendalinya terhadap masyarakat.

Seorang pengguna Weibo yang tinggal di Amerika Serikat mengatakan ia telah mempelajari rincian perjanjian perdagangan yang diusulkan. “Delegasi Tiongkok mencoba menipu para delegasi Amerika Serikat, dengan cara bahwa Tiongkok dapat bertindak seperti bajingan untuk melanggar ketentuan dalam perjanjian, dengan alasan bahwa Tiongkok memiliki undang-undang sendiri. Delegasi Amerika Serikat menolak dengan tegas dan menuntut untuk tetap menggunakan perjanjian perdagangan yang asli. Presiden Donald Trump sungguh luar biasa!” tulisnya.

Orang Tiongkok lainnya di Amerika, yang merupakan anggota kelompok WeChat yang disebut “orang Tiongkok yang bekerja atau belajar di Amerika Serikat,” mempelajari rincian perjanjian perdagangan yang diusulkan oleh delegasi Amerika Serikat. Ia mengatakan rincian perjanjian perdagangan ini sebenarnya baik untuk pembangunan ekonomi Tiongkok  dan bagi Tiongkok untuk menjadi anggota terhormat di masyarakat internasional. “Beijing tidak menyukainya karena persyaratan ini akan mengancam aturan Partai Komunis Tiongkok,” tulisnya.

Propaganda Tiongkok Menargetkan Amerika Serikat sebagai Kambing Hitam

Ahli Tiongkok yang berbasis di Amerika Serikat, Heng He mengatakan kepada Epoch Times pada tanggal 14 Mei bahwa rezim Tiongkok yang harus disalahkan karena gagal mencapai kesepakatan selama putaran pembicaraan perdagangan terakhir, karena Partai Komunis Tiongkok menolak untuk melakukan perubahan struktural demi mempertahankan kekuatannya.

“Namun, Partai Komunis Tiongkok tidak akan pernah mengakui kesalahannya, Partai Komunis Tiongkok akan selalu menemukan kambing hitam. Misalnya, gerakan Lompatan Jauh Ke Depan oleh Partai Komunis Tiongkok menyebabkan Kelaparan Hebat dari tahun 1959 hingga 1961, tetapi Partai Komunis Tiongkok membuat dua alasan – bencana alam dan Uni Soviet menekan Tiongkok untuk pembayaran hutang. Sebenarnya, dua alasan ini adalah kebohongan belaka.”

Menurut Heng He, perang dagang akan kembali menghantam perekonomian Tiongkok yang sudah menurun. Partai Komunis Tiongkok harus menemukan alasan lagi kali ini, maka tentu saja propaganda Tiongkok menargetkan Amerika Serikat sebagai kambing hitam. (Olivia Li/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular