Erabaru.net. “Setiap kali aku memikirkan Kamp Kerja Paksa Masanjia yang terkenal kejam, hatiku bergetar,” kata Yin Liping.

Kamp Kerja Paksa Masanjia di Tiongkok dikenal di kalangan praktisi Falun Gong sebagai “sarang kejahatan” karena penyiksaan kejam yang dilakukan oleh petugas penjaganya.

Yin Liping berada di Masanjia pada bulan September 2000. Ia telah ditahan dan disiksa di kamp-kamp kerja paksa lainnya tetapi tetap menolak untuk “diubah” – sebuah istilah untuk memaksa praktisi Falun Gong melepaskan latihan meditasi tradisional Tiongkok yang mereka latih – maka ia dikirim ke Masanjia.

Masanjia dikhususkan untuk mengubah praktisi Falun Gong dengan segala cara yang diperlukan — termasuk pelecehan seksual dan penyiksaan yang di luar akal sehat.

Tidak diketahui jumlah praktisi Falun Gong yang dikirim ke Masanjia pada tahun-tahun setelah rezim Tiongkok meluncurkan kampanye penganiayaan terhadap Falun Gong, pada bulan Juli 1999.

Banyak praktisi Falun Gong yang tidak selamat, atau akhirnya menjadi cacat ataupun gila akibat penyiksaan yang mereka alami di kamp kerja paksa tersebut.

Selama dua minggu pertama setelah tiba di kamp Masanjia, ​​Yin Liping, yang saat itu berusia 32 tahun, dipaksa untuk mendengarkan propaganda yang memfitnah latihan spiritual Falun Gong dari jam 5 pagi sampai jam 2 pagi, setiap hari. Ketika hal tersebut tidak berefek mengubah dirinya, maka siksaan fisik dimulai.

Ia dipukuli, ditendang, ditinju, dan disetrum berulang kali di bagian tubuh yang sensitif dengan tongkat listrik bertegangan tinggi oleh salah satu penjaga.

“Ia mulai menyetrum wajah, leher, kaki dan tanganku dengan dua tongkat listrik. Aku  sangat kesakitan. Aku kesulitan bernapas dan wajahku terus berkedut. Aku tidak mampu berdiri lagi dan terjatuh ke belakang,” kata Yin Liping dalam sebuah wawancara dengan Minghui.org setelah ia melarikan diri ke Thailand pada tahun 2013.

“Aku diseret kembali ke sel. Ketika aku sadar kembali, aku melihat tangan, wajah, leher dan punggungku terdapat bekas luka bakar dan lepuh. Aku sangat lemah. Melihat betapa parahnya aku disiksa, seorang wanita tua di sel menangis dan berkata, “Aku tidak tahu apakah kamu sanggup mengatasinya. Hanya sedikit orang yang tahan siksaan di sini. Jika kamu tidak sanggup bertahan, cukup tulis pernyataan yang mereka inginkan.”

Teman satu sel Yin Liping tersebut merujuk pada “tiga pernyataan” bahwa tahanan hati nurani Falun Gong dipaksa untuk menandatangani suatu pernyataan, sebagai bagian dari perubahan, yang terdiri dari surat pertobatan, jaminan untuk tidak pernah lagi berlatih Falun Gong, dan menulis daftar nama serta alamat semua praktisi Falun Gong yang mereka kenal.

Yin Liping dan putranya sebelum penganiayaan terhadap pengikut Falun Gong dimulai pada tahun 1999. (Minghui.org)

Derita berikutnya adalah dikurangi jam tidur, dikurung sendirian, dan dipukuli oleh narapidana lainnya.

“Narapidana lain membenturkan kepalaku ke dinding, yang menyebabkan telingaku berdering keras,” kata Yin Liping.

“Ketika mereka lelah memukuliku, mereka memaksaku setengah jongkok dengan tangan terentang rata. Mereka menaruh jarum di pergelangan tanganku. Jika tanganku terkulai jatuh, mereka akan mencubitku. Dalam waktu kurang dari dua jam, pergelangan tanganku dicubit dengan sangat parah sehingga darah mengalir. Jika aku memindahkan tanganku dari jarum tersebut, mereka akan memukuliku  dengan tongkat kayu dan menampar wajahku.”

Suatu hari, Yin Liping diseret lagi ke kantor wanita kepala divisi Zhang Xiurong dan dipaksa untuk menandatangani “tiga pernyataan.”

“Aku menolak. Zhang Xiurong dan dua penjaga memukuli dan menghinaku. Zhang Xiurong memelukku di lantai dan memotong rambutku dengan gunting. Kemudian ia tertawa liar dan berkata aku tampak seperti pasien sakit jiwa,” kata Yin Liping.

Penyerangan Seksual di Kamp Kerja Paksa Pria

Pada tanggal 19 April 2001, ketika Yin Liping telah menjalani lebih dari 15 bulan dari hukuman 18 bulan, ia dan sembilan praktisi Falun Gong lainnya yang menolak untuk diubah, dibawa dengan bus ke Kamp Kerja Paksa Pria Zhangshi.

Di sana, mereka dipisahkan, di mana masing-masing ditempatkan di satu ruangan. Empat pria sudah berada di kamar Yin Liping. Ketika ia pergi ke aula untuk menggunakan kamar mandi, ia melihat sebuah ruangan besar dengan 30 pria tidur di lantai. Yin Liping takut dan bertanya-tanya apa yang ia lakukan di tempat ini.

Yin Liping meminta para pria tersebut untuk meninggalkan kamarnya agar ia bisa tidur. Seorang pria paruh baya mengatakan kepadanya, “Kau ingin tidur? Tidak seorang pun diizinkan tidur tanpa diubah. Seorang wanita ‘dilatih’ di sini selama 18 hari dan tidak diizinkan tidur. Pada akhirnya, ia menjadi gila.”

Yin Liping mengangkat foto Kamp Kerja Paksa Masanjia ketika ia bersaksi di depan Komisi Kongres-Eksekutif mengenai Tiongkok yang berjudul “Penerapan Penyiksaan yang Menyeluruh di Tiongkok” di Washington pada tanggal 14 April 2016. Yin Liping adalah seorang praktisi Falun Gong yang selamat dari penyiksaan, dipaksa menjadi tenaga kerja, dan mengalami kekerasan seksual di Masanjia dan kamp kerja paksa lainnya di Tiongkok. (Lisa Fan / The Epoch Times)

Kemudian Yin Liping mendengar teriakan ketakutan dari lorong. Ia tahu itu adalah suara temannya Zhou Guirong dan berlari keluar untuk mencoba melindunginya, tetapi para tahanan pria menyerang mereka berdua.

“Para tahanan pria berulang kali memukuli kami. Mata kananku bengkak karena dipukul dan pakaianku sobek dan dilucuti. Zhou Guirong dan aku diseret kembali ke sel kami. Aku dipukuli oleh empat atau lima pria hingga menjadi linglung. Akhirnya, aku terpaksa berbaring telentang. Seorang pria duduk di dekatku dan memukuliku. Aku menjadi pusing dan pingsan,” kata Yin Liping.

“Ketika aku sadar kembali, aku mendapati  tiga pria berbaring di sebelahku dengan tangan dan tubuh mereka ada di sekitarku. Dua pria berdiri di antara kakiku, di mana satu pria sedang merekam video dan pria yang lain sedang menonton video. Mereka terus berbicara kotor. Mereka mengucapkan kata-kata kotor dan salah satu dari mereka terus berkata, “Jangan berpura-pura mati. Kau harus melepaskan Falun Gong bahkan jika kau mati!”

“Aku tidak dapat mempercayai apa yang kulihat. Aku memuntahkan darah dan ada darah di sekujur tubuhku,” kata Yin Liping. Ia menyadari bahwa ia telah direkam ketika sedang diperkosa oleh sekelompok pria itu, saat ia pingsan.

Sementara itu ia masih mampu mendengar Zhou Guirong menjerit. Yin Liping berusaha  menjauh dari para pria tersebut untuk pergi membantu temannya tetapi salah satu dari mereka memukul kepalanya dengan gantungan baju yang terbuat dari kayu.

“Tiba-tiba aku merasakan cairan hangat mengalir di wajahku, tetapi aku kesulitan untuk bangun. Aku tidak punya konsep hidup atau mati. Tidak ada yang dapat menghentikanku. Aku menabrak pintu kamar sekeras mungkin sementara para tahanan memukuli tubuhku. Aku terus memanggil nama Zhou Guirong, dan kemudian ia bergegas ke kamarku. Ia mengangkatku, dan kami berlari ke pintu di ujung aula.”

Walaupun kami dapat membuka pintu, tetapi kemudian para pria tersebut menyeret kami kembali ke kamarnya. Kami diizinkan tidur malam itu sementara empat narapidana berjaga-jaga.

Pada bulan Oktober 2000, enam bulan sebelum peristiwa di Kamp Kerja Paksa Pria Zhangshi yang dijelaskan oleh Yin Liping, 18 wanita praktisi Falun Gong dalam keadaan  telanjang dimasukkan ke dalam sel pria di Kamp Kerja Paksa Masanjia. Ukiran kayu ini menggambarkan pemandangan tersebut. (Minghui.org)

Keesokan harinya, para tahanan pria yang telah menyiksa Yin Liping malam sebelumnya datang ke kamarnya lagi dengan kamera video dan mencoba mengubahnya. Ketika ia tidak mau bekerja sama, mereka memukulinya.

“Dan saat itu malam hari, dan hal yang sama terjadi seperti malam sebelumnya,” kata Yin Liping. “Mereka mulai menyiksaku seperti malam sebelumnya — pelecehan seksual. Para polisi penjaga telah diganti — mereka bukan polisi penjaga dari malam sebelumnya.”

Para polisi penjaga juga menggunakan tongkat listrik untuk menyetrum puting, alat kelamin, dan bagian tubuh sensitif lainnya.

Hal itu berlangsung selama tiga hari di mana para wanita ditahan di kamp pria. Pada saat para wanita dibawa kembali ke Masanjia, mereka tidak hanya terluka serius tetapi juga benar-benar kehilangan semangat hidup dan merasa terhina.

Dari sembilan praktisi Falun Gong wanita yang mengalami pelecehan seksual di Kamp Kerja Paksa Pria Zhangshi, Zhou Guirong dan Su Juzhen kemudian meninggal akibat penyiksaan di sana. Sebelum meninggal, Su Juzhen menderita gangguan mental.

Peragaan penyiksaan seksual. (Minghui.org)

Ia Meninggal Dalam Pelukanku

Yin Liping sudah lemah ketika ia tiba di Masanjia pada bulan September 2000.

Ia dijatuhi hukuman 18 bulan karena memohon untuk diakhirinya penindasan brutal terhadap Falun Gong. Sebelum tiba di Masanjia, ia disiksa dan dipaksa melakukan kerja paksa di dua kamp.

Di Kamp Kerja Paksa Liaoyang, rambut Yin Liping berubah menjadi abu-abu dan periode menstruasinya berhenti akibat pekerjaan yang melelahkan, pekerjaan yang harus dia lakukan termasuk membantu memuat delapan ton batang baja ke truk di siang hari dan mengikat bunga buatan di malam hari hingga pukul 2 pagi. Berat badannya turun drastis dari 75 kilogram menjadi 61 kilogram, dan ia mulai muntah darah secara teratur.

Setelah menyelesaikan tugas pertamanya di Masanjia, Yin Liping dikirim kembali ke sana dua kali lagi dan penyiksaan brutal berlanjut. Pada dua kali keberadaannya di Masanjia, ia dibebaskan lebih awal karena ia berada di ambang kematian.

Pada satu tahap, ia diborgol ke tempat tidur dan disuntik dengan obat yang tidak diketahui selama lebih dari dua bulan, dengan jumlah obat dua botol per hari. Akibatnya, untuk sementara ia kehilangan penglihatannya dan mengalami gangguan hormon, tidak dapat menahan keinginan untuk buang air kecil, dan air seninya mengandung darah.

Selama bertahun-tahun penahanan dan penganiayaannya secara ilegal, Yin Liping  tetap teguh pada imannya dan tidak pernah berubah.

Setelah melarikan diri ke Thailand pada bulan Agustus 2013, Yin Liping kemudian memperoleh status pengungsi di Amerika Serikat pada tahun 2015. Pada sidang dengar pendapat Kongres mengenai penerapan penyiksaan secara sistematis di fasilitas penahanan oleh Tiongkok, di Washington pada 14 April 2016, Yin Liping menceritakan kisah pelecehan yang dialaminya selama bertahun-tahun di Masanjia, yang berakhir pada tahun 2013.

Pada tanggal 14 April 2106 di Washington, Yin Liping memberikan kesaksian di hadapan Komisi Kongres-Eksekutif mengenai “Penerapan Penyiksaan yang Menyeluruh di Tiongkok.” (Gary Feuerberg / Epoch Times)

Pada sidang dengar pendapat tersebut, Yin Liping mengatakan bahwa ia menyaksikan beberapa penyerangan dan kejahatan seksual yang dijelaskan dalam buku tahun 2014 “Vaginal Coma,” oleh mantan jurnalis foto New York Times bernama Du Bin, yang mengungkap penyiksaan seksual secara brutal terhadap praktisi wanita Falun Gong yang ditahan.

Sambil mengangkat buku “Vaginal Coma,” ia berkata, “Tiga sikat gigi diikat, dan dimasukkan ke dalam vagina dan mengaduk-aduk vagina. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri sekelompok pria memukuli seorang wanita tua praktisi Falun Gong di kamar kecil. Mereka secara paksa memasukkan sebuah tongkat sapu yang rusak ke vaginanya.”

Air mata mengalir di wajahnya saat Yin Liping berbicara. Ia mengatakan 30 praktisi Falun Gong yang ia kenal secara pribadi menderita gangguan mental akibat penyiksaan dan 10 praktisi Falun Gong meninggal, baik di penjara atau setelah mereka dibebaskan.

“Nona Wang Jie adalah salah satunya, ia meninggal dalam pelukanku pada tanggal 21 April 2012,” kata Yin Liping sambil memegang foto temannya.

“Wang Jie, Zhou Guirong, dan aku sendiri telah mengalami penganiayaan brutal dan jahat. Kami berjanji satu sama lain bahwa siapa pun dari kami yang selamat akan mengungkap penganiayaan ini kepada dunia. Hari ini aku berbicara mewakili mereka, para korban yang membisu untuk selamanya.” (Joan Delaney/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

 

Share

Video Popular