Erabaru.net. Setelah pemerintah Amerika Serikat menaikkan tarif barang Tiongkok senilai USD  200 miliar menjadi 25 persen dari 10 persen, Tiongkok membalas dengan menaikkan tarif barang Amerika Serikat senilai USD 60 miliar.

Menurut daftar tarif yang disusun oleh Komisi Tarif Bea Cukai Tiongkok, hampir 100 farmasi, obat-obatan, dan peralatan medis buatan  Amerika Serikat kini dikenai bea tambahan.

Netizen Tiongkok menyatakan kemarahannya, mencatat bahwa banyak obat yang menyelamatkan jiwa untuk pasien yang sakit kritis. Untuk beberapa obat, ada beberapa obat yang memiliki obat pengganti atau ada obat yang tidak memiliki obat pengganti yang dibuat oleh perusahaan farmasi Tiongkok.

Di antara obat-obatan dan produk medis yang dikenakan tarif 25 persen adalah insulin manusia untuk perawatan diabetes; leukotrien untuk pengobatan asma; hormon adrenokortikal yang digunakan untuk mengobati sejumlah penyakit, termasuk infeksi akut dan penyakit autoimun; dan agen radiokontras digunakan untuk meningkatkan visibilitas struktur internal dalam pencitraan berbasis sinar-X.

Audiometer, yang merupakan perangkat yang digunakan untuk mengukur ketajaman pendengaran; instrumen pengukuran tekanan darah; dan instrumen rontgen gigi termasuk di antara produk dikenakan tarif di bawah 20 persen.

Plester gigi, ibuprofen untuk menghilangkan nyeri, peralatan P3K, endoskopi, perangkat terapi mekanik, perangkat terapi oksigen, perangkat terapi pernapasan, dan instrumen radiasi sinar gamma untuk perawatan kanker adalah di antara barang yang dikenakan tarif 10 persen.

Sebaliknya, Amerika Serikat telah mengecualikan obat-obatan buatan Tiongkok  dan mineral langka, yang sangat penting untuk membuat perangkat elektronik, dari daftar tarif impor Tiongkok.

Banyak netizen Tiongkok menyatakan kemarahannya di bagian komentar dari laporan media Tiongkok mengenai tarif tambahan untuk obat-obatan buatan Amerika Serikat.

“Produk yang terkait dengan mata pencaharian masyarakat digunakan sebagai leverage. Bagaimana itu dapat terjadi?”

“Pejabat Tiongkok menikmati perawatan kesehatan gratis. Tentu saja, mereka tidak peduli dengan tagihan medis rakyat biasa,” komentar yang lain.

Ren Ruihong, mantan eksekutif senior di Palang Merah Masyarakat Tiongkok, mengatakan kepada Radio Free Asia selama wawancara pada tanggal 20 Mei bahwa selain tarif, ada sejumlah biaya tersembunyi yang sudah dikenakan oleh otoritas Tiongkok pada obat-obatan impor, yang membuat harga obat-obatan buatan Amerika Serikat sangat mahal bagi konsumen Tiongkok.

Menurut Ren Ruihong, otoritas Tiongkok telah menerapkan biaya tersembunyi ini dengan alasan melindungi industri farmasi dalam negeri.

Ren Ruihong menambahkan bahwa sebagian besar obat yang diimpor dari Amerika Serikat tidak dapat diganti dengan obat alternatif domestik. “Misalnya, beberapa obat untuk pengobatan kanker, yang tidak memiliki pengganti di Tiongkok. Perusahaan farmasi Tiongkok mencoba mengembangkan produk serupa, tetapi kinerja obatnya sangat buruk.”

Di Tiongkok, rumah sakit yang dikelola pemerintah adalah sarana utama bagi rakyat  untuk membeli obat-obatan. Sekitar 75 persen dari penjualan ritel semua obat terjadi dalam sistem perawatan kesehatan nasional Tiongkok, menurut Zhu Hengpeng, wakil kepala Institut Ilmu Ekonomi Akademi Ilmu Sosial Tiongkok, seperti yang dilaporkan dalam laporan bulan Juli 2018 di portal berita Tencent.

Dengan demikian, rumah sakit yang hampir memonopoli penjualan obat-obatan telah mendorong kenaikan harga obat. Rumah sakit kemudian berada dalam posisi untuk meningkatkan pendapatannya dengan meresepkan obat-obatan asing dan domestik yang mahal bagi pasien, daripada meresepkan obat generik yang lebih murah. (Olivia Li & Frank Fang/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular