- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Steven Mnuchin Berkata akan Ada Lebih Banyak Peningkatan Tarif Pajak Amerika Serikat di Tiongkok Minimal Satu Bulan Lagi

Erabaru.net. Setidaknya Amerika Serikat butuh satu bulan sejak diberlakukannya tarif impor barang Tiongkok senilai USD 300 miliar untuk mempelajari dampaknya terhadap konsumen, kata Menteri Keuangan Amerika Serikat Steven Mnuchin pada tanggal 22 Mei.

Bulan ini Washington menaikkan tarif barang Tiongkok senilai USD 200 miliar menjadi 25 persen dari 10 persen, mendorong Beijing untuk membalas dengan tarif impor Amerika Serikat, ketika pembicaraan untuk mengakhiri perang dagang selama 10 bulan antara dua ekonomi terbesar dunia terhenti.

Presiden Donald Trump, yang telah merangkul proteksionisme sebagai bagian agenda “Mengutamakan Amerika” yang bertujuan untuk menyeimbangkan kembali perdagangan global, telah mengancam akan menaikkan tarif hingga 25 persen pada daftar tambahan impor Tiongkok yang bernilai sekitar USD 300 miliar.

“Tidak akan ada keputusan apa pun yang mungkin untuk 30 hingga 45 hari lagi,” kata Steven Mnuchin dalam dengar pendapat di hadapan Komite Layanan Keuangan DPR Amerika Serikat.

Jendela 30 hari akan mewakili jadwal yang dipercepat dibandingkan dengan putaran tarif Amerika Serikat sebelumnya dan akan berarti bahwa kumpulan pungutan berikutnya akan siap saat Donald Trump bertemu dengan pemimpin Tiongkok Xi Jinping, seperti yang diharapkan, pada pertemuan puncak para pemimpin G20 di Jepang pada tanggal 28-29  Juni.

“Saya masih berharap kami kembali ke meja perundingan. Kedua presiden kemungkinan akan saling bertemu pada akhir Juni,” kata Steven Mnuchin, seraya menambahkan bahwa dampak tarif terhadap konsumen Amerika adalah pertimbangan utama dalam strategi perdagangan Amerika Serikat.

Steven Mnuchin mengatakan pemerintahan Donald Trump terbuka untuk mengadakan pembicaraan baru dengan Tiongkok jika kedua belah pihak dapat melanjutkan perundingan berdasarkan negosiasi sebelumnya.

Tidak ada pembicaraan antara para perunding top Tiongkok dan Amerika Serikat yang dijadwalkan sejak akhir dua hari pembicaraan di Washington pada tanggal 10 Mei, di mana pada hari yang sama Donald Trump memberlakukan pungutan yang lebih tinggi pada barang Tiongkok.

Benih-benih kebuntuan saat ini ditabur lebih awal bulan ini ketika para pejabat Tiongkok mencari perubahan besar pada teks kesepakatan yang diusulkan yang menurut administrasi Donald Trump sebagian besar telah disepakati.

Pada hari Rabu, diplomat top rezim Tiongkok Wang Yi mengatakan bahwa pintu Tiongkok  akan selalu terbuka untuk pembicaraan perdagangan lebih lanjut dengan Amerika Serikat.

Kesengitan antara kedua negara ini meningkat sejak pekan lalu ketika Washington menempatkan perusahaan peralatan telekomunikasi Tiongkok Huawei Technologies dalam daftar hitam yang membatasi akses Huawei ke komponen buatan Amerika Serikat.

Langkah ini merupakan pukulan yang berpotensi menghancurkan Huawei yang telah mengacaukan rantai pasokan teknologi dan investor.

Beberapa operator seluler, termasuk unit Ymobile dari Softbank Corp Jepang dan saingannya KDDI Corp, menunda rencana peluncuran telepon pintar Huawei P30 Lite yang baru pada hari Rabu.

Perusahaan besar Tiongkok lainnya, pembuat peralatan pengawasan video Hikvision Digital Technology, juga mungkin menghadapi batas kemampuannya untuk membeli teknologi Amerika Serikat, New York Times melaporkan, mengutip orang yang mengetahui masalah ini, mengirim saham perusahaan yang terdaftar di Shenzhen turun 5,54 persen.

[1]
Kontainer pengiriman berada di Pelabuhan Los Angeles, pelabuhan kontainer tersibuk di Amerika Serikat, pada tanggal 18 September 2018. (Mario Tama / Getty Images)

Nada Sengit

Sementara Tiongkok belum mengatakan apakah atau bagaimana akan membalas terhadap tindakan yang menargetkan Huawei, media pemerintah Tiongkok bernada semakin sengit dan nasionalistis serta berjanji bahwa Beijing tidak akan tunduk pada tekanan Amerika Serikat.

Situasi internasional semakin kompleks dan Tiongkok harus mengatasi risiko dan tantangan yang besar, kata kantor berita Xinhua mengutip Xi Jinping dalam perjalanan minggu ini ke Provinsi Jiangxi di selatan Tiongkok, tempat lahir revolusi Komunis Tiongkok.

“Kita harus sadar akan sifat jangka panjang dan kompleks dari berbagai faktor yang tidak menguntungkan di dalam dan luar negeri, dan secara tepat mempersiapkan berbagai situasi sulit,” kata Xi Jinping.

Laporan tersebut tidak menguraikan kesulitan-kesulitan yang dimaksud, dan tidak secara langsung menyebutkan perang dagang atau Amerika Serikat.

Perusahaan Amerika Serikat mengatakan dalam sebuah survei yang dirilis pada hari Rabu bahwa mereka menghadapi pembalasan di Tiongkok atas perang dagang.

Kamar Dagang Amerika Tiongkok dan cabangnya di Shanghai, mengatakan para anggota melaporkan peningkatan hambatan seperti inspeksi pemerintah, kelonggaran bea cukai yang lebih lambat dan lebih lama menunggu persetujuan untuk lisensi dan aplikasi lainnya.

Para anggota Kamar Dagang Amerika Tiongkok  juga mengatakan 40,7 persen responden mempertimbangkan atau telah merelokasi fasilitas manufaktur di luar Tiongkok. Dari hampir 250 responden yang disurvei, yang dilakukan setelah putaran terakhir perang tarif Amerika Serikat dengan Tiongkok, hampir tiga perempat responden mengatakan pungutan tersebut merusak daya saing mereka.

Komunitas bisnis Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir menganjurkan garis yang lebih keras terhadap kebijakan perdagangan Tiongkok yang diskriminatif.

Amerika Serikat mencari perubahan besar pada kebijakan perdagangan dan ekonomi, termasuk diakhirinya transfer teknologi paksa dan pencurian rahasia dagang Amerika Serikat. Washington juga ingin membatasi subsidi untuk perusahaan milik negara Tiongkok dan meningkatkan akses untuk perusahaan Amerika Serikat di pasar Tiongkok.

Selama bertahun-tahun Tiongkok telah memblokir perusahaan teknologi Amerika Serikat yang utama, termasuk Google dan Facebook, agar tidak sepenuhnya beroperasi di pasar Tiongkok. Batasan-batasan tersebut dan lainnya telah memicu seruan dari komunitas bisnis Amerika Serikat bagi Washington untuk mengejar lebih banyak kebijakan timbal balik.

“Idenya bukanlah untuk memiliki tarif, idenya bagi Tiongkok adalah memperlakukan perusahaan kami secara adil,” kata Steven Mnuchin kepada anggota parlemen Amerika Serikat, menambahkan bahwa administrasi Trump “sangat fokus” pada dampak terhadap petani Amerika Serikat. (Jason Lange, David Lawder & Michael Martina/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI