Erabaru.net. Presiden Donald Trump mengatakan mantan Wakil Presiden Joe Biden harus diselidiki atas tuduhan bahwa perusahaan investasi milik putra Joe Biden menerima jutaan dolar dari rezim komunis Tiongkok.

“Ini adalah memalukan,” kata Donald Trump pada tanggal 20 Mei dalam sebuah wawancara dengan Fox News, setelah menyetujui bahwa hubungan keluarga Joe Biden dengan rezim Tiongkok harus diselidiki.

Tuduhan tersebut, yang berkaitan dengan putra Biden, Hunter Biden, pertama kali diangkat dalam buku 2018 “Rahasia Dinasti: Bagaimana Kelas Politik Amerika Serikat Menyembunyikan Korupsi serta Memperkaya Keluarga dan Teman” oleh penulis Peter Schweizer.

Dalam buku tersebut, Peter Schweizer menuduh kesepakatan yang terjadi pada tahun 2013 antara perusahaan investasi yang sekarang sudah tidak berfungsi, Rosemont Seneca Partners — yang didirikan bersama oleh Hunter Biden — dan Bank of China yang dikelola pemerintah Tiongkok.

“Pada bulan Desember 2013, Hunter Biden menerbangkan Angkatan Udara 2 ke Beijing, Tiongkok, bersama ayahnya. Ayahnya bertemu dengan pejabat Tiongkok, ia sangat lunak terhadap Beijing. Hal terpenting yang terjadi, dalam 10 hari setelah mereka kembali,” kata Peter Schweizer dalam wawancara bulan Maret dengan Fox News.

“Dan saat itulah firma ekuitas swasta kecil Hunter Biden bernama Rosemont Seneca Partners mendapatkan kesepakatan ekuitas swasta senilai USD 1 miliar dengan pemerintah Tiongkok, bukan dengan perusahaan Tiongkok, tapi dengan pemerintah Tiongkok.

“Dan apa yang perlu disadari orang adalah Hunter Biden tidak memiliki latar belakang di Tiongkok, ia tidak memiliki latar belakang dalam ekuitas swasta, kesepakatan yang didapatnya di zona perdagangan bebas Shanghai, tidak ada orang lain yang memilikinya. Goldman Sachs, Bank of America, Blackstone, tidak ada yang memiliki kesepakatan ini.”

Pada saat itu, seorang ajudan Joe Biden membantah klaim dalam buku Peter Schweizer. Sebagai tanggapan ajudan tersebut mengatakan kepada The Wall Street Journal: “Kami tidak akan terlibat dengan puing-puing kesuksesan yang bermotivasi politik berdasarkan serangkaian kesalahan faktual yang dapat dibuktikan dari seorang penulis yang bergabung dengan Breitbart dan pendukung keuangannya.”

Pada bulan Mei, The Intercept melaporkan bahwa perusahaan investasi Tiongkok milik  Hunter Biden, Bohai Harvest RST, berinvestasi di sebuah perusahaan pengenalan wajah Tiongkok, Face ++, yang digunakan oleh rezim Tiongkok untuk melakukan pengawasan massal terhadap jutaan warga Uyghur dan minoritas umat Muslim lainnya di wilayah Xinjian, barat laut Tiongkok.

Donald Trump juga mengkritik pernyataan kandidat dari Partai Demokrat sebelumnya, yang menolak Tiongkok sebagai pesaing Amerika Serikat.

“Dan kemudian ia mengatakan Tiongkok  bukanlah pesaing Amerika. Tiongkok adalah pesaing besar Amerika,” kata Donald Trump.

“Tiongkok ingin mengambil alih dunia.”

Joe Biden telah ditegur oleh anggota parlemen dari kedua partai atas komentarnya menyepelekan ancaman yang ditimbulkan oleh Tiongkok, ekonomi terbesar kedua di dunia.

Presiden Donald Trump merujuk pada kebijakan industri ambisius rezim Tiongkok “Made in China 2025,” yang bertujuan untuk mengubah Tiongkok menjadi lokomotif manufaktur berteknologi-tinggi pada tahun 2025, sebagai pemimpin dalam berbagai industri termasuk robotika, kecerdasan buatan, dan obat-obatan.

Rencana tersebut telah dikritik karena bergantung pada pencurian teknologi dan rahasia dagang, terutama menargetkan Amerika Serikat dan Eropa.

“Saya berkata kepada Presiden Xi Jinping, rencana tersebut adalah sangat menghina karena rencana tersebut tidak akan terjadi, dan rencana tersebut sangat menghina saya,” kata Donald Trump.

“Dan anda perhatikan, Tiongkok tidak menggunakannya rencana itu lagi.”

Sejak awal perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok bulan Maret lalu, rezim Tiongkok telah menarik kembali referensi kebijakan. Outlet media pemerintah Tiongkok diperintahkan untuk tidak menyebutkan referensi kebijakan tersebut, dan referensi kebijakan tersebut dihapus dari dokumen resmi tertentu.

Donald Trump juga mengatakan mundurnya rezim Tiongkok baru-baru ini pada komitmen yang dibuat selama berbulan-bulan negosiasi perdagangan mungkin telah dipicu oleh harapan Tiongkok dapat menegosiasikan kembali kesepakatan dagang dengan pemerintahan presiden Demokrat di masa depan.

“Jika ada satu alasan bahwa Tiongkok…tidak membuat kesepakatan tersebut, itu dikarenakan Tiongkok berharap bahwa dalam 16 bulan Donald Trump akan dikalahkan oleh salah satu kandidat dari Demokrat dan Tiongkok akan kembali menghasilkan USD 500 miliar setahun,” kata Donald Trump.

“Dan saya mengerti hal tersebut. Maksud saya, saya sungguh memahami hal tersebut, karena hal tersebut tidak akan terjadi pada saya.” (Cathy He/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular