Epochtimes.com

Kaisar Pertama dari Ribuan Zaman 

Pasca ekspedisi perang ratusan tahun, Rakyat dalam  situasi sangat sulit, dinanti suatu dinasti kedamaian.

Ratusan aliran filsafat mengacaukan dunia, menyesatkan – mengaburkan kriteria benar, satu sulutan api mengubahnya jadi debu bertebaran.  Pekerjaan mangkrak menanti dilanjutkan, proyek agung baru dimulai, segala upaya kacau mencerahkan pendirian dinasti.

Membangun landasan ratusan abad, diperbaiki dan dibersihkan secara hakiki, ribuan generasi memuji Kaisar Pertama!

Bab 2.2. Shihuang lahir, mendirikan Qin Agung

Pada bulan Januari tahun 259 SM, Qin Shihuang dilahirkan di Handan, Negara Zhao, menurut cacatan kitab “Shi Ji – Qin Shihuang ben ji“: “Ketika dilahirkan, diberi nama: Zheng (政) bermarga Zhao (趙), Zhao Zheng”.

Dikisahkan dalam kitab “Dong Zhou Lie Guo Zhi”: ‘Ketika dilahirkan sinar merah memenuhi ruangan dan ratusan burung berterbangan. Lihatlah bayi itu, berbadan montok dan bermata panjang, dahi berbentuk persegi dan kelopak matanya berlipat, tumbuh beberapa gigi dalam mulutnya, pada punggungnya terdapat satu bidang sisik naga, suaranya besar dan nyaring hingga terdengar sampai ke jalanan kota.’

Tentang kelahiran seorang penguasa perkasa yang mempersatukan seluruh negeri di Negara Qin Agung sudah diramalkan sejak awal.

Sejak tahun 762 SM, sejumlah warga Qin mendirikan pemukiman di persimpangan sungai Qian dan sungai Wei.

Di suatu malam, ‘(raja) Wengong bermimpi seekor ular kuning turun dari langit dan mendarat di tanah milik Qin, mulutnya berhenti di Fu Yan. Wengong bertanya kepada Shidun, Dun berkata: “Ini pertanda dari Tuhan, paduka perlu menyembahyanginya”.

Maka sang raja mendirikan altar yang disebut Fu Zhi dan menyajikan tiga jenis persembahan dari daging hewan, dipersembahkan kepada Bai Di (salah 1 dari 5 Dewa Tertinggi di zaman Tiongkok kuno, ia menguasai arah barat dan merupakan salah satu target utama dalam persembahan yang dibuat oleh para raja dan kaisar. Red.) dikutip dari kitab “Shi Ji – Feng Chan Shu (Catatan Sejarah – Kitab tentang Persembahan kepada Dewata)”.

Setelah membangun altar Fu Zhi selama 9 tahun, Qin Wengong mendapatkan sepotong benda seperti batu, lalu dipersembahkan di dalam komunitas sebelah utara gunung Chencang. Dewanya terkadang dalam satu tahun pun tidak datang satu kali dan terkadang satu tahun datang beberapa kali.  K

etika datang sering di malam hari, sinar kedatangan Dewa bagai meteor dari arah tenggara yang terpusat di altar tersebut. Bunyinya seperti suara ayam jantan yang keras dan nyaring membuat para ayam hutan berkokok bersahutan di malam hari. Di beri persembahan seekor hewan dan diberi nama Chen Bao.

Menurut keterangan dari berbagai aliran dalam kitab “Shi Ji – Feng Chan Shu”, batu itu memiliki ‘kualitas seperti batu yang mirip dengan paru.’ Berbentuk ‘ayam giok’ atau ‘ayam batu’, maka Chen Bao tempat persembahyan itu juga disebut sebagai tempat sembahyang ‘Bao Ji Shen’.

Nama Kota Bao Ji kini di provinsi Shaanxi berawal dari sini. Disebutkan orang yang mendapatkan Chen Bao kelak akan menjadi penguasa agung.

Tahun 374 SM, raja Qin Xiangong pernah menemui kaisar Lie Wang dari Zhou yang bernama Tai Shi Dan. Tai Shi Dan berkata kepada Xiangong: “Dulu Zhou dengan Negara Qin bersekutu lalu berpisah, setelah berpisah 500 tahun lalu bersatu lagi, setelah bersatu selama 17 tahun bakal muncul penguasa agung”.

Isu Negara Qin akan muncul penguasa agung dan orang Qin-lah yang akan mempersatukan Tiongkok, maka sejak itu nubuat itu tersebar secara rahasia di kalangan pewaris tahta Negara Qin.

Seperti itulah kehendak Langit yang tidak bisa lagi dikendalikan oleh manusia. Qin Shihuang lahir sesuai takdir, lalu mempersatukan Tiongkok dan mendirikan dinasti agung hasil persatuan yang pertama di Tiongkok.

Qin Shihuang setelah lahir dan melewati liku-liku penderitaan, pada akhirnya kembali ke Negara Qin.

Dalam usia belia, 13 tahun, ia dinobatkan sebagai raja. Dalam waktu 9 tahun sebelum Qin Shihuang benar-benar memerintah sendiri karena masih remaja, urusan kenegaraan yang penting ditangani oleh Patih Lu Buwei.

Lu Buwei mengumpulkan teori dari ratusan aliran dan menulis kitab “Lu Shi Chun Qiu”. Di saat Qin Shihuang sudah dewasa dan mulai memerintah secara mandiri.  Karena sebelumnya Lu Buwei dan Lao Du serta Zhao Taihou memiliki ambisi yang sama dan mengacaukan internal istana, akhirnya dia bunuh diri karena takut dihukum.  Tahun 238 SM, Qin Shihuang pada usia 22 tahun dinyatakan sebagai pria dewasa di ibukota lama Yong Cheng dan resmi memerintah sendiri.

“Tahun ke-5 pemerintahannya, sang raja mengutus jendral Ao menyerang Wei, mengincar Negara-negara kota: Suan Zao, Yan, Xu, Chang Ping, Yong Qiu dan Shan Yang Cheng, serta berhasil menduduki 20 kota. Mereka lantas digabung menjadi Negara Dong Jun dan Dong Lei.

Pada tahun ke-6, Negara-negara Han, Wei (衛), Zhao, Wei (魏) dan Chu bersekutu menyerang Qin dan merampas Shou Ling. Qin mengirim pasukan dan 5 Negara menarik pasukan mereka.

Mendongkel Negara Wei (衛), mengancam Negara Dong Jun, Jiao sang raja memimpin anggota keluarganya hijrah ke Ye Wang, menghadang di depan gunung untuk melindungi He Nei (wilayah di utara Sungai Kuning/Huang He) dari Negara Wei (魏).

Tahun ke-7, komet lebih dulu keluar di arah timur, lalu terlihat di utara, pada bulan ke 5 nampak di barat. Tak lama kemudian jendral Ao meninggal. Menyerang Negara: Long, Gu, Qing Du dan berbalik menyerang Xi. Komet terlihat lagi di sebelah barat selama 16 hari. Xia Tai Hou (nenek dari Qin Shihuang) meninggal dunia.

Pada tahun ke-8, adik sang raja, penguasa kota Chang An yakni jendral Cheng Jiao menyerang Negara Zhao, terjadi pemberontakan dan jenderal Cheng Jiao tewas dibunuh di Dun Liu oleh tentaranya sendiri.  Mereka mengungsikan rakyatnya ke Ling Tao. “Shi Ji . Qin Shihuang ben ji” mencatat: tahun ke-10 pemerintahan Qin Shihuang, atau 1 tahun setelah memerintah sendiri, dengan sigap dan cepat ia berhasil memadamkan kekacauan di dalam negeri.   

Qin Shihuang mempercepat langkahnya memecah keenam negara satu demi satu dan negara-negara itu tidak diberi kesempatan bergerak menyatu, strategi beraliansi mereka gagal total.

Pedoman strategi memusnahkan enam Negara adalah dari menyerang yang paling dekat bertahap ke yang jauh, memfokuskan kekuatan menjebol pertahanan mereka satu per satu. Bergerak ke barat dulu menguasai Negara Zhao. Lalu menyerang daerah tengah dan menduduki Wei, ke selatan merebut Negara Han, untuk kemudian bergerak maju lagi menduduki Negara: Yan, Chu dan Qi.   (LIN/WHS/asr)

Bersambung

Share

Video Popular