Erabaru.net. Pemerintahan Donald Trump telah meningkatkan upaya untuk melindungi para petani Amerika Serikat yang menghadapi dampak negatif yang parah akibat perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok, mengumumkan paket bantuan baru sebesar USD 16 miliar dalam upaya untuk menjaga para petani tetap dapat melanjutkan hidup.

“Dana USD 16 miliar akan membantu menjaga pertanian kita yang berharga untuk tetap berkembang dan menjelaskan bahwa tidak ada negara yang memiliki hak veto terhadap keamanan ekonomi dan nasional Amerika Serikat,” kata Presiden Donald Trump pada tanggal 23 Mei saat pertemuannya dengan para petani dan peternak di Gedung Putih.

Sebagai bagian paket bantuan, Departemen Pertanian Amerika Serikat akan membayar  USD 14,5 miliar langsung kepada produsen. Tambahan USD 1,4 miliar akan digunakan untuk membeli makanan seperti buah, sayuran, daging, dan susu untuk bank makanan, sekolah, dan gerai lainnya yang melayani individu berpenghasilan rendah.

Donald Trump menyarankan Tiongkok akan membayar bantuan tersebut.

“Itu semua berasal dari Tiongkok. Selama periode waktu, kita akan menerima ratusan miliar dolar dari tarif dan biaya yang dikenakan kepada Tiongkok,” kata Donald Trump.

Paket bantuan baru adalah jaminan kedua pembayaran hutang bagi petani. Pada tahun 2018, administrasi Donald Trump mengumumkan bantuan sebesar USD 12 miliar kepada petani untuk mengimbangi kerugian petani akibat perang tarif.

Donald Trump menuduh Tiongkok menargetkan petani Amerika Serikat sejak awal konflik dagang pada tahun 2018.

“Tiongkok memuat sebuah iklan besar di sebuah surat kabar dari Iowa, mengatakan banyak hal buruk mengenai pemerintahan, mengenai fakta bahwa kita bernegosiasi terlalu sulit. Tapi Tiongkok mencuri kekayaan intelektual, yang bernilai miliaran dolar Amerika Serikat,” kata Donald Trump.

Donald Trump menyuarakan optimisme mencapai kesepakatan dagang dengan Beijing, meskipun terjadi ketegangan tarif baru.

“Saya tetap berharap bahwa pada titik tertentu, kita mungkin akan bersama dengan Tiongkok. Jika hal itu terjadi, maka adalah bagus. Jika hal itu tidak terjadi, maka adalah baik-baik saja. Sungguh baik-baik saja,” kata Donald Trump.

Donald Trump mengatakan akan bertemu dengan pemimpin Tiongkok Xi Jinping pada akhir Juni selama KTT G-20 di Osaka, Jepang.

Donald Trump juga menyerukan “front persatuan” melawan Tiongkok untuk mencapai hasil maksimal bagi rakyat Amerika Serikat.

“Saya menghargai dukungan bipartisan yang luar biasa yang dimiliki pemerintahan saya dalam kebijakan perdagangan dan perdagangan, terutama yang berkaitan dengan penempatan tarif yang sangat besar kepada  Tiongkok.”

‘Gerakan Maju Barisan Panjang Baru

Pernyataan Donald Trump muncul setelah Xi Jinping, pada tanggal 20 Mei, meminta warga Tiongkok untuk memulai “mars panjang baru” ketika ketegangan perang dagang meningkat. ‘Mars panjang’ mengacu pada militer penarikan mundur selama setahun yang dilakukan oleh Tentara Merah Partai Komunis Tiongkok pada tahun 1934, yang dihargai dalam propaganda komunis demi menyelamatkan Tentara Merah Partai Komunis Tiongkok.

“Kita harus mulai dari awal lagi,” kata Xi Jinping. Meskipun ia tidak menyebutkan meningkatknya ketegangan perang dagang dengan Washington, pernyataannya ditafsirkan sebagai indikasi yang jelas bahwa Beijing tidak akan segera menyerah pada tuntutan Amerika Serikat.

Ketegangan meningkat antara Amerika Serikat dengan Tiongkok pada awal Mei, setelah Beijing mundur dari komitmennya untuk melakukan reformasi struktural. Putaran pembicaraan terakhir berakhir dengan tidak ada resolusi, sehingga mendorong pemerintahan Donald Trump untuk memberlakukan tarif baru kepada Tiongkok, dan Tiongkok membalas dengan tarifnya sendiri.

Tarif pembalasan Tiongkok sejak tahun lalu telah memengaruhi sejumlah komoditas Amerika Serikat, termasuk kedelai, jagung, gandum, kapas, beras, dan sorgum, serta produk ternak seperti susu dan babi. Tarif tersebut juga berdampak pada ekspor buah, kacang-kacangan, dan tanaman lainnya.

Menurut Institut Peterson untuk Ekonomi Internasional, pembalasan Tiongkok sejauh ini adalah selektif dan strategis, dengan sasaran petani dan produsen tertentu di Amerika Serikat. Tarif Beijing khususnya menghantam kabupaten di daerah pedesaan Amerika Serikat di dataran Midwestern dan negara bagian Mountain West yang merupakan kubu Republik.

Petani kedelai Amerika Serikat adalah yang paling terpukul, karena kedelai menyumbang 10 persen dari total ekspor Amerika Serikat ke Tiongkok pada tahun 2017.

Pada tanggal 17 Mei, pemerintahan Donald Trump sepakat untuk menaikkan tarif Amerika Serikat terhadap baja dan aluminium dari Kanada dan Meksiko, yang merupakan berita baik bagi para petani Amerika Serikat yang terkena tarif pembalasan. Jepang juga sepakat untuk mencabut pembatasan ekspor daging sapi Amerika Serikat.

Pada tanggal 22 Mei, Menteri Keuangan Amerika Serikat Steven Mnuchin menyuarakan optimisme mencapai kesepakatan dagang dengan Beijing. Tampil di hadapan Komite Jasa Keuangan, Steven Mnuchin mengatakan Tiongkok mengambil “langkah besar mundur ke belakang.”

“Kadang anda harus mundur dahulu sebelum maju. Jadi saya masih berharap kami dapat  kembali ke meja perundingan.”

Pada tanggal 10 Mei, Washington menaikkan bea atas produk Tiongkok senilai USD 200 miliar menjadi 25 persen dari 10 persen. Dan pada tanggal 13 Mei Beijing mengumumkan menaikkan tarif barang Amerika Serikat senilai USD 60 miliar sebagai pembalasan. Administrasi Donald Trump berencana untuk menaikkan tarif hingga 25 persen pada daftar impor Tiongkok yang tersisa, bernilai sekitar USD 300 miliar.

Steven Mnuchin mengatakan putaran tarif berikutnya tidak akan diterapkan “selama 30 hingga 45 hari.” (Emel Akan/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular