Erabaru.net. Pada 20 Mei 2019 lalu, Fox News Channel 11, Amerika Serikat menyiarkan film investigasi khusus yang berjudul ‘Sister’s Salvation’ atau Penebusan Seorang Kakak. Film itu adalah laporan mendalam untuk pertama kalinya tentang penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong oleh komunis Tiongkok selama 20 tahun. Kekejaman yang muncul dalam adegan film itu mengejutkan penonton.

 ‘Sister’s Salvation’ menceritakan sepasang kakak beradik Tiongkok yang menjadi praktisi Falun Gong.

 18 tahun silam, Wang Kefei, seorang karyawati berusia 35 tahun dari Bank Pertanian di Changchun, Tiongkok dianiaya hingga tewas oleh para petugas Kamp Kerja Paksa ‘Heizuizi’, Changchun karena berlatih Falun Gong yang menganut prinsip Sejati-Baik-Sabar.

 Kakeknya Wang Dafang yang tinggal di California, berusaha untuk meminta jenasah adik perempuannya selama 18 tahun. Namun komunis Tiongkok terus menghalangi dengan tujuan menutupi penyebab kematian Wang Kefei.

 Beberapa adegan dalam film Fox  tergambarkan kira-kira seperti ini.

 Petugas Kamp Kerja Paksa ‘Heizuizi’, “Jika Anda ingin melihat jenasahnya, saya bisa pergi (untuk melakukan), (syaratnya) jika Anda bisa mengakui bahwa ia bukan mati karena dianiaya”.

 Keluarga Wang Kefei : “Ia meninggal secara tidak wajar !”

 Laporan dimulai dengan kisah kakak beradik Wang Kefei dan meluas hingga penganiayaan komunis Tiongkok terhadap Falun Gong yang berlangsung selama 20 tahun.

 Selama 20 tahun terakhir, komunis Tiongkok telah menganiaya para praktisi Falun Gong dengan berbagai cara siksaan yang kejam dan memaksa mereka untuk meninggalkan keyakinan. Tingkat kesadisan telah membuat setiap orang yang beragama merasa sangat terkejut.

 Pembuat film Fox telah memperpanjang laporan yang aslinya 3 menit menjadi hampir 10 menit setelah secara sistematis memahami kebenaran yang terjadi, bagaimana Falun Gong diperlakukan oleh rezim komunis Tiongkok.

 Selama investigasi yang makan waktu 3 bulan, sempat muncul rasa khawatir dalam pimpinan Fox. Terjadi konflik psikologis apakah adegan yang disajikan terlalu kejam. Namun mendapat jawaban dari reporter : “Tapi ini semua kenyataan”.

 “Begitu besar skalanya, cara penganiayaan terhadap ratusan juta praktisi Falun Gong jauh melebihi apa yang kita lihat di televisi. Termasuk pengambilan organ dari tubuh hidup praktisi Falun Gong. Dan itu semua masih terjadi di daratan Tiongkok hingga sekarang. Tiongkok di abad ke-21 ini masih saja melakukan penganiayaan dalam skala besar, menyiksa, membunuh, dan bebas dari tanggung jawab hukum”, kata Zhang Erping.

 Sementara itu Shawn Steel, seorang anggota Komite Nasional Partai Republik California menyerukan dalam film itu bahwa andaikan semua orang mau berfokus pada penganiayaan, mungkin saja banyak nyawa bisa diselamatkan.

 Tanggapan datang dari reporter Fox News, Bill Melugin.

 “Shawn Steel juga mengatakan kepada kita bahwa ia berencana untuk memberitahu pemerintahan Trump agar mereka lebih memahami bahwa komunis Tiongkok masih terus menganiaya Falun Gong,” kata Bill Melugin.

 Banyak adegan dalam film itu berasal dari Yu Ming, seorang praktisi Falun Gong Shenyang yang sempat ditahan secara ilegal dan disiksa oleh komunis Tiongkok. Dengan  menggunakan kamera lubang jarum, Yu Ming memotret momen-momen kerja paksa dalam kamp dan penjara, serta penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong. Adegan-adegan itu nyata.

 “Pembuat film juga terkejut melihat saya memiliki rekaman ini, cukup membantunya memahami apa yang sesungguhnya terjadi secara nyata, bukan karangan,” kata Yu Ming.

 Menurut Yu Ming, sejauh yang dia tahu, Yu Ming percaya bahwa komunis Tiongkok menginjak-injak hak asasi manusia, termasuk penganiayaan terhadap banyak praktisi Falun Gong di Tiongkok. Hal itu benar-benar berpengaruh terhadap pondasi pembentukan negara Amerika Serikat.

 Yu Ming percaya bahwa jika kejahatan itu tidak diungkapkan, maka sampai sekarang komunis Tiongkok masih berusaha untuk menutup-nutupi masalah itu dan masih menipu masyarakat internasional. Kemudian penetrasi yang Komunis TIongkok lakukan terhadap media berita di Amerika Serikat akan berdampak besar pada masyarakat Amerika.

 Di akhir laporan, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pembawa acara Fox mengangkat perhatian pemirsa Amerika.

 “Mengapa komunis Tiongkok sangat takut terhadap Falun Gong ?” Tanya Pembawa acara Fox.

 Reporter Bill Melugin mengatakan : “Ada puluhan juta praktisi Falun Gong di Tiongkok. sehingga komunis Tiongkok melihat ini sebagai ancaman terhadap kekuasaan mereka”.

 Menurut Zhang Erping, nilai Falun Gong adalah Sejati-Baik-Sabar. Prinsip itu bertolak belakang dengan filosofi komunis Tiongkok. Apa yang dibicarakan selama sekian puluh tahun, komunis Tiongkok berkuasa adalah perjuangan kelas. Jika semua orang dalam masyarakat Tiongkok mengikuti karakteristik alam semesta yang Sejati-Baik-Sabar, maka nilai-nilai tradisional Tiongkok pasti akan terpulihkan. Dan masyarakat Tiongkok bukan lagi merupakan masyarakat komunis, atau masyarakat yang tidak dapat lagi dikuasai oleh Partai Komunis.

 Film itu menimbulkan reaksi besar di kalangan warga Los Angeles dan banyak diposting oleh media lainnya. Banyak netizen memberikan tanda jempol di akun Fox 11 Facebook dan berkomentar : “Falun Gong telah menderita tekanan selama 20 tahun, dan banyak orang telah mendengarnya, tetapi adegan yang ditampilkan dalam film itu masih membuat banyak orang tercengang.”

 Komentar juga disampaikan oleh Chen Weiming, pematung ‘Tankman 4 Juni’.

“Hanya setelah tertumpasnya komunisme, dunia baru bisa bahagia dan damai. Ini adalah penilaian paling dasar saya sebagai seorang manusia,” kata Chen Weiming.

 Komentar lain dari Wang Dafang. Katanya,  “Begitu banyaknya orang yang menelepon dan meninggalkan pesan untuk saya setelah melihat film yang disajikan oleh Fox News. Bertanya kepada saya tentang situasi jenasah adik perempuan saya, mereka bertanya bagaimana mereka bisa memberikan bantuan kepada saya, mereka akan mendukung saya”.

 Menurut Wang Dafang, masih ada ribuan keluarga praktisi Falun Gong di Tiongkok yang menderita sama seperti yang ia alami. Ia menyerukan kepada media arus utama Barat agar lebih fokus untuk membantu mengatasi bencana yang sedang menimpa hak asasi manusia di Tiongkok. (sin/rp/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular