Li Muyang – Epochtimes.com

Bulan Maret tahun ini, Huawei meluncurkan ponsel andalan baru P30 dan P30 Pro dengan harga P30 Pro setinggi 1.150 dolar AS yang cukup menarik perhatian orang.

Namun, dengan munculnya larangan administrasi Trump, ponsel Huawei yang menggunakan sistem operasi Android bakal tidak dapat diperbarui.

Sejumlah besar fitur Google tidak dapat lagi digunakan oleh pembeli ponsel Huawei. Hal ini mengakibatkan harga P30 Pro anjlok.

Baru-baru ini ‘Forbes’ mengutip berita dari ‘musicmagpie’, situs tentang harga pasar ponsel tangan kedua di Inggris melaporkan bahwa ponsel P30 Pro bekas dengan kondisi baik harganya turun menjadi kurang dari 130 dolar AS.

Huawei kini sedang berada di tengah-tengah tahun yang penuh peristiwa. Sedangkan pada internal perusahaan beredar isu tentang rencana PHK karyawan. Namun, Bos Huawei Ren Zhengfei baru-baru ini malahan sering tampil dalam acara wawancara media.

Bloomberg baru saja menerbitkan wawancara dengannya yang terjadi pada 24 Mei lalu. Ren Zhengfei bersesumbar bahwa larangan AS tidak berdampak besar terhadap Huawei. Dia menyebut Huawei akan tetap eksis tanpa Amerika.

Ia mengklaim bahwa Huawei memiliki kemampuan untuk merancang chip dan sistem operasi sendiri. Dia juga mengklaim siap untuk bertarung dalam pertempuran jangka panjang. Tetapi ia menghindar untuk menjawab pertanyaan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu.

Ren Zhengfei sendiri maju ke “front paling depan dari pertempuran” dengan niat untuk menstabilkan mental militer dan pasar, ini sudah jelas kelihatan.

Namun, dunia luar bertanya-tanya, meskipun Ren Zhengfei berusaha untuk “mengiklankan” kesanggupan untuk berdikari tanpa sistem operasi bikinan AS, tetapi apakah Huawei dapat berhasil?

Ren Zhengfei mengatakan bahwa Huawei sudah memiliki rencana “ban serep” dan telah mengembangkan sistem operasi yang dinamakan ‘Hongmeng’.

The Wall Street Journal dalam laporannya menyebutkan bahwa Huawei telah mengembangkan sistem operasi ini dengan kode ‘Project Z’ sebagai solusi cadangan ketika teknologi Amerika seperti Android tidak lagi dapat digunakan.

Yu Chengdong, seorang eksekutif Huawei mengatakan, SO. ‘Hongmeng’ paling cepat akan dipublikasikan pada awal musim gugur tahun ini.

Pekan lalu sistem operasi ini telah diregistrasi Kantor Merek dagang Tiongkok. Namun, menurut orang yang mengetahui persoalan, ‘Hongmeng’ belum tentu dipakai sebagai nama sistem operasi. Alias mungkin namanya diganti.

Nama tidaklah penting, yang penting adalah bagaimana Huawei mampu meyakinkan klien penggunanya. Langkah ini adalah masalah tersulit. Sedangkan masalah yang harus dihadapi Huawei tak bisa dielakkan.

Entahlah, apakah Ren Zhengfei telah memperhatikan pelajaran dari kegagalan orang lain.

Termasuk Samsung dan Microsoft, beberapa raksasa pengembang teknologi telah mencoba untuk mengembangkan sistem operasi milik mereka sendiri. Kedua pengembang ini bermaksud menggantikan sistem operasi Android, tetapi tidak pernah disambut oleh pengguna.

Tahun 2009 Samsung mengusung sistem operasi yang namanya ‘Bada’ untuk menggantikan Android dan iOS. Tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Setelah itu tak satupun produk Samsung yang tidak digantungkan pada OS. Android.

Microsoft yang kuat secara finansial, mencoba untuk mengembangkan sistem operasi ‘WP’ dan mendorong penggunaannya dengan cara sedikit memaksa. Microsoft pernah  meluncurkan ponsel pintar sendiri dan mengambil kesempatan untuk mengakuisisi Nokia. Tetapi pada akhir tahun 2017, pangsa pasar global yang hanya 0.1% memaksa Microsoft untuk mengakhiri penggunaan ‘WP’.

Selama 10 tahun terakhir, tidak kurang dari 10 sistem operasi yang diluncurkan pengembang seperti Samsung dan Microsoft telah mengalami kegagalan. Total-total tidak kurang dari 10 miliar dolar AS habis terpakai, belum lagi biaya puluhan ribu orang karyawan yang berpartisipasi dalam penelitian dan pengembangan. Semua itu berakhir dengan sia-sia.

Pasar menentukan nasib, dan sejumlah besar fakta telah membuktikan bahwa tingkat keberhasilan dari sistem operasi yang dikembangkan sendiri itu sangat rendah.

Menurut data dari perusahaan riset pasar ‘Canalys’, pasar smartphone saat ini hampir dimonopoli oleh dua raksasa. Sekitar 87% smartphone yang dijual di pasar pada kwartal pertama tahun ini menggunakan OS. Android. Sisanya hampir semuanya dikuasai sistem operasi iOS Apple.

Faktor kunci — teknologi dan ekologi adalah kekurangan Huawei

Seperti yang kita ketahui, keberhasilan dari suatu sistem operasi memiliki dua faktor utama : teknologi dan ekologi.

Sebagaimana komentar di situs ‘Sohu’ bahwa, dari perspektif teknis, Huawei mungkin dapat memperkenalkan sistem operasi baru. Namun, sesuai dengan prinsip pengembangan teknologi, nasib sistem baru yang dikembangkan Huawei itu tidak akan berbeda dengan sistem yang dikembangkan Samsung dan Microsoft.

Android dan iOS telah melalui puluhan tahun pengembangan, menelan biaya tidak kecil. Huawei ingin melampaui mereka dalam “semalam”, membuat orang merinding.

Mari dipikirkan dari sudut yang berbeda, jika sistem baru Huawei benar-benar hebat, mengapa baru mau dipakai pada saat yang terdesak ? Tidak perlu susah-susah mencari jawabannya, itu pasti karena sistem buatan sendiri bukan pilihan terbaik, dari segi teknis kalah sama orang lain.

Dilihat dari perspektif ekologis, Huawei bahkan lebih parah, ia tidak memiliki kemampuan ekologis sedikit pun. Android dan iOS memiliki jutaan aplikasi, dan ratusan ribu perusahaan dan pengembang yang menggantungkan pengembangannya. Mereka itulah “raksasa” dalam industri.

Membandingkan Huawei dengan mereka, situs ‘Sohu’ mengungkapkan bahwa Huawei seperti seekor anak ayam yang baru saja keluar dari telur, tanpa lingkungan ekologis dan kurangnya aplikasi. Ini adalah masalah yang fatal.

Analis Jia Mo juga mengatakan bahwa akan sangat sangat sulit bagi Huawei meyakinkan konsumen untuk mencoba menggunakan sistem operasi baru, aplikasi baru, hal-hal yang sangat mendasar itu.

Konsumen di dunia sudah terbiasa dengan pengoperasian sistem Android, tentu tidak mudah untuk mengubah kebiasaan mereka. Apalagi bagi konsumen yang berada di luar Tiongkok. Oleh karena itu, Kemungkinan beralih ke sistem operasi lain bahkan lebih rendah.

Orang dalam juga mengatakan bahwa supaya aplikasi yang banyak digunakan itu dapat berjalan pada sistem operasi ini adalah sebuah tantangan terbesar yang dapat memakan waktu setidaknya 2 atau 3 tahun.

Seperti halnya Samsung yang memiliki kekuatan besar di bidang teknologi, sumber daya maupun pengaruh, atau Microsoft yang memiliki kekuatan mendominasi pasar. Mereka saja “bertekuk lutut” dalam usaha mempopulerkan sistem operasi hasil pengembangan mereka sendiri.

Ketika Huawei ingin “berjuang sendiri”, apakah bisa menemui jalan keluar ? Masalah ini tak dapat diatasi hanya dengan meneriakkan slogan! Jadi, dunia luar sama sekali tidak optimis.

Strategy Analytics, perusahaan riset strategi pasar memperkirakan bahwa jumlah total pengiriman ponsel Huawei akan berkurang sebanyak 24% tahun ini dan 23% tahun depan. Shanghai Intralink Consulting memperkirakan bahwa Huawei mungkin akan mem-PHK ribuan karyawan dan menghilang dari status pesaing global.

Karyawan Huawei ibaratnya dalam istilah Tionghoa “Itik yang lebih dulu merasakan hangatnya air sungai yang memasuki musim semi”. Seorang karyawan yang menggunakan nama samaran ‘Berhati” menyampaikan keluhan melalui sebuah forum internal. Karyawan ini menulis : “Kalian berharap untuk maju dan mundur bersama perusahaan, tetapi bos ingin saya mengemas barang-barang milik sendiri dan kemudian pergi.” Ada juga karyawan yang mengingatkan rekan-rekan sesama pekerja dengan sebuah istilah “agar menjaga kecukupan dana untuk melalui musim dingin.” (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular