Foto-foto dirilis untuk memperingati 30 tahun Pembantaian Lapangan Tiananmen yang akan datang

Erabaru.net. Seorang fotografer untuk pertama kalinya berbagi foto aksi protes Lapangan Tiananmen untuk memperingati peringatan 30 tahun Pembantaian Lapangan Tiananmen yang akan datang.

Semua 2.000 foto ini disembunyikan selama tiga dekade terakhir sampai sekarang.

Fotografer Liu Jian berharap bahwa rakyat Tiongkok tidak akan melupakan pentingnya Pembantaian Lapangan Tiananmen, dan bahwa generasi mendatang akan belajar sejarah peristiwa tersebut  melalui foto-fotonya.

“Lapangan Tiananmen masih ada di sana. Rakyat yang mengalami pembantaian masih hidup. Tetapi anak muda Tiongkok tidak mengetahuinya,” kata Liu Jian kepada The Epoch Times edisi 7 Mei.

Liu Jian mengatakan ketika ia bertanya kepada putri remajanya mengenai peristiwa tersebut awal tahun ini, sang putri tidak tahu mengenai aksi  protes dan pembantaian yang terjadi pada tanggal 4 Juni 1989. Liu Jian menerima tanggapan yang sama dari orang muda lainnya.

“Saya sangat terkejut. Ini adalah peristiwa yang sangat besar, tetapi rakyat Tiongkok tidak mengetahuinya lagi, padahal baru terjadi 30 tahun yang lalu,” kata Liu Jian.

Seorang mahasiswa dari Universitas Ilmu Politik dan Hukum melakukan aksi mogok makan di Lapangan Tiananmen di Beijing, Tiongkok pada bulan Juni 1989. (Disediakan oleh Liu Jian / The Epoch Times)

Liu Jian memutuskan untuk membagikan foto-fotonya dengan harapan bahwa orang lain dapat belajar arti penting sejarah dari peristiwa itu, dan bahwa mereka yang lupa akan peristiwa tersebut akan mengingatnya kembali.

Saat peristiwa tersebut berlangsung, Liu Jian adalah seorang mahasiswa berusia 19 tahun. Sebagai seorang fotografer profesional, ia mengambil foto dari 60 gulungan film dari aksi protes mahasiswa dan dukungan warga, dan mencucinya sendiri — suatu proses dalam mengembangkan film.

Namun, Liu Jian tidak mencetak foto tersebut dan hanya menyimpan film yang dikembangkan. Namun baru-baru ini, ia mencetak dan membaginya secara eksklusif kepada The Epoch Times edisi bahasa Mandarin dan televisi NTD, sebuah outlet media Tiongkok yang berbasis di Amerika Serikat.

Pada tahun 1989, kamera adalah barang mewah di Tiongkok, Liu Jian mengatakan sebagian besar film insiden itu hilang setelah para fotografer mengirimnya ke studio foto untuk mencuci dan mencetak, karena rezim Tiongkok memaksa studio foto tersebut untuk menyerahkan film apa pun yang memuat gambar aksi protes dan pembantaian.

Liu Jian mengatakan 80 persen film yang merekam  protes Lapangan Tiananmen dihancurkan oleh rezim Tiongkok, membuat foto miliknya menjadi semakin berharga.

Mahasiswa di depan potret Hu Yaobang, mantan pemimpin Tiongkok, di Lapangan Tiananmen di Beijing, Tiongkok pada bulan Juni 1989. (Atas perkenan Liu Jian / The Epoch Times)

Kenangan Pahit

Liu Jian mulai mengambil foto aksi protes tersebut pada tanggal 16 April 1989, ketika para mahasiswa melukis potret Hu Yaobang,  mantan pemimpin Partai Komunis Tiongkok.

Hu Yaobang telah melakukan serangkaian reformasi ekonomi dan politik pada tahun 1980-an, tetapi terpaksa mengundurkan diri pada tahun 1987 karena sebagian besar pejabat senior Partai Komunis Tiongkok tidak mendukung kebijakannya. Hu Yaobang meninggal pada tanggal 15 April 1989, dan para mahasiswa yang mendukung demokrasi dan reformasi meratapi kepergiannya di Lapangan Tiananmen, yang menandai awal aksi protes tersebut.

Liu Jian kemudian mulai merekam sejarah itu dengan memotret. Tidak seperti kebanyakan wartawan, Liu Jian tinggal bersama para mahasiswa yang memprotes di Lapangan Tiananmen dan di jalan-jalan Beijing, dan warga yang mendukung para mahasiswa.

“Ketika polisi tidak ada di sana, para mahasiswalah yang menjaga ketertiban dan menjaga jalanan tetap bersih. Tidak ada pencurian, tidak ada kejahatan. Warga mendukung mahasiswa dan bahkan membawakan mereka minuman, makanan, dan pakaian hangat,” kata Liu Jian.

Para pengunjuk rasa di dekat Monumen Pahlawan Rakyat di Lapangan Tiananmen di Beijing, Tiongkok  pada bulan Juni 1989 (Disediakan oleh Liu Jian / The Epoch Times)

Pada tanggal 27 April 1989, para mahasiswa mengadakan parade besar di sepanjang Chang’an Avenue. Banyak warga bergabung dengan para mahasiswa, termasuk pengusaha yang mengendarai becak dan sepeda motor.

“Saat itu, simbol status seorang pebisnis adalah mengendarai sepeda roda tiga. Pada malam hari, ratusan becak dan sepeda motor berpawai di jalan [untuk mendukung para mahasiswa]. Itu sangat menggembirakan,” kata Liu Jian.

Liu Jian terus mengambil foto para mahasiswa dan warga yang melakukan aksi protes hingga tanggal 4 Juni. Setelah militer Tiongkok mulai menembaki para demonstran pada malam 3 Juni, ia mengambil foto banyak mayat di Rumah Sakit Sumber Daya Air, yang berjarak kurang dari 2,5 mil dari Lapangan Tiananmen.

“Saya memasuki Rumah Sakit Sumber Daya Air pada pagi hari tanggal 4 Juni, sebuah rumah sakit kecil yang berafiliasi dengan Kementerian Sumber Daya Air Tiongkok. Mayat yang saya potret memiliki luka tembak. Di ruangan lain, saya melihat tubuh mayat dengan luka tembak di kepala. Mengerikan, dan saya tidak mampu memotret lagi,” kata Liu Jian.

Polisi mendukung para mahasiswa di Lapangan Tiananmen di Beijing, Tiongkok pada bulan Juni 1989 (Disediakan oleh Liu Jian / The Epoch Times)

Liu Jian, yang belum pernah melihat mayat sebelumnya, terkejut melihat begitu banyak mayat.

“Itu adalah mimpi buruk. Siapa yang dapat membayangkan bahwa pemerintah tega menembaki mahasiswa yang hanya mengusulkan untuk membawa alam demokrasi ke Tiongkok? Para mahasiswa hanya ingin membuat Tiongkok menjadi negara yang lebih baik. Tetapi bahkan tentara lapangan memasuki Beijing dan menindas para mahasiswa, ”kata Liu Jian.

Liu Jian ingat pernah mendengar suara tembakan di luar rumah sakit, sehingga ia cepat-cepat pergi dan berlari pulang.

“Foto-foto di rumah sakit adalah yang terakhir saya ambil karena Beijing dikendalikan oleh militer sejak hari itu [4 Juni]. Saya bersembunyi dan tidak berani mengambil foto lagi,” kata Liu Jian.

Para mahasiswa berpawai di jalan untuk mendukung mahasiswa lain mengenai aksi mogok makan di Lapangan Tiananmen di Beijing, Tiongkok pada bulan Juni 1989. (Disediakan oleh Liu Jian / The Epoch Times)

Menyembunyikan Masa Lalu

Liu Jian mencuci semua 60 rol film di rumah setelah pembantaian Lapangan Tiananmen, menyembunyikannya, dan mencoba melupakannya. Ia mengatakan jika rezim Tiongkok menemukan foto-fotonya, ia akan dihukum, termasuk keluarganya. Hukuman dapat berupa denda, dipenjara, dan kehilangan pekerjaan.

“Partai Komunis Tiongkok tidak mengizinkan anda untuk menanggung seluruh tanggung jawab, meskipun anda melakukannya sendiri – semua anggota keluarga dan kerabat anda akan dihukum juga karena perbuatan anda,” kata Liu Jian.

Adegan aksi protes dekat dengan Gerbang Kedamaian Surgawi di Lapangan Tiananmen di Beijing, Tiongkok pada bulan Juni 1989 (Disediakan oleh Liu Jian / The Epoch Times)

Liu Jian mengatakan pembantaian tersebut telah dilupakan oleh rakyat Tiongkok — termasuk dirinya sendiri.

“Kami rakyat Tiongkok telah melupakan aksi protes Lapangan Tiananmen. Itu adalah benar. Kami dicuci otak oleh Partai Komunis Tiongkok untuk melupakannya. Itu adalah sebuah tragedi “

Dalam beberapa dekade sejak tragedi itu, Liu Jian sendiri telah disibukkan dengan menjalankan perusahaan swasta dan menghasilkan uang. Partai Komunis Tiongkok mendorong pencarian pribadi semacam itu sehingga rakyat tidak fokus pada masalah sosial dan politik, katanya.

“Partai Komunis Tiongkok menganjurkan anda untuk menikmati semua jenis makanan dan kesenangan. Rakyat Tiongkok tidak memperhatikan politik. Mereka lebih suka bepergian, mengejar kekayaan, dan gaya hidup yang nyaman,” kata Liu Jian.

Editor dan reporter dari media yang dikelola pemerintah, Legal Daily, mendukung para mahasiswa yang memprotes di Lapangan Tiananmen di Beijing, Tiongkok pada bulan Juni 1989. (Disediakan oleh Liu Jian / The Epoch Times)

Harapan

Liu Jian mengatakan bahwa ia merasa beruntung memiliki foto yang mencatat momen penting dalam sejarah Tiongkok.

“Saya pikir itu adalah kewajiban saya untuk menerbitkan foto-foto ini sehingga anak-anak dan lebih banyak orang akan tahu apa yang dilakukan mahasiswa, bagaimana masyarakat bereaksi pada waktu itu, dan bagaimana para prajurit berperilaku,” kata Liu Jian.

Mahasiswa dari Akademi Pusat Seni Rupa berbaris di jalan untuk mendukung mahasiswa lain yang memprotes di Lapangan Tiananmen di Beijing, Tiongkok pada bulan Juni 1989. (Disediakan oleh Liu Jian / The Epoch Times)

Setelah pembantaian tersebut, banyak profesor dan guru menyaksikan pidato Deng Xiaoping, yang saat itu adalah pemimpin Partai Komunis Tiongkok, di mana ia berkata: “Adalah berharga menewaskan 200.000 orang dengan imbalan 20 tahun stabilitas.”

Mahasiswa yang mogok makan meminta untuk memohon berbicara dengan pejabat Partai Komunis di Lapangan Tiananmen di Beijing, Tiongkok pada bulan Juni 1989. (Disediakan oleh Liu Jian / The Epoch Times)

Kini, 30 tahun telah berlalu. “Saya ingin memberi tahu rakyat: Tolong jangan lupakan sejarah ini!” kata Liu Jian. (Nicole Hao/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular