Erabaru.net. Keuntungan perusahaan industri Tiongkok menyusut pada bulan April karena aktivitas manufaktur yang melambat sehingga menghentikan lonjakan bulan sebelumnya, memberikan lebih banyak tekanan pada pembuat kebijakan untuk meningkatkan dukungan bagi ekonomi Tiongkok yang dilanda perang dagang yang pahit dengan Amerika Serikat.

Penghasilan di sektor manufaktur utama Tiongkok telah menurun sejak bulan  November 2018, dengan pengecualian pada bulan Maret, karena permintaan domestik dan global menurun.

Keuntungan industri turun 3,7 persen tahun-ke-tahun menjadi 515,4 miliar yuan (USD 74,80 miliar) pada bulan April, sebagian karena basis perbandingan yang tinggi pada tahun sebelumnya, menurut data yang diterbitkan oleh Biro Statistik Nasional pada tanggal 27 Mei. Membandingkannya dengan lonjakan 13,9 persen di bulan Maret, yang merupakan kenaikan terbesar dalam delapan bulan.

Zhu Hong dari Biro Statistik Nasional mengatakan dalam sebuah pernyataan, hasil bulan Maret diuntungkan dari perusahaan yang membeli barang industri sebelum pemotongan pajak pertambahan nilai (PPN). Perusahaan-perusahaan itu kemudian mengurangi pembelian pada bulan April sebagai pukulan terhadap laba.

Selama empat bulan pertama, perusahaan industri meraih keuntungan 1,81 triliun yuan, turun 3,4 persen dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan penurunan 3,3 persen pada kuartal pertama tahun ini.

Kontraksi laba sejalan dengan lemahnya pertumbuhan output industri pada periode Januari-April. Investasi aset tetap yang lemah juga memicu kekhawatiran akan permintaan karena pesanan pabrik baru, yang tetap lamban pada bulan April, sementara ekspor pengiriman ke Amerika Serikat telah menurun tajam.

Gesekan perdagangan Tiongkok dengan Amerika Serikat meningkat secara tiba-tiba pada bulan Mei, membalikkan kemajuan nyata dalam dialog yang terlihat awal tahun ini, ketika Presiden Donald Trump menaikkan tarif barang Tiongkok senilai USD 200 miliar dan mengancam akan menaikkan tarif hingga 25 persen pada barang impor dari Tiongkok senilai USD 300 miliar.

Amerika Serikat juga telah memasukkan raksasa peralatan telekomunikasi Tiongkok  Huawei Technologies ke dalam daftar hitam, yang secara efektif melarang Huawei berbisnis dengan perusahaan Amerika Serikat.

Keuntungan di bidang telekomunikasi dan manufaktur peralatan elektronik, yang lebih rentan terhadap tarif Amerika Serikat daripada kelas produk lainnya, turun 15,3 persen pada Januari-April, memburuk dari penurunan 7,0 persen dalam tiga bulan pertama.

Iris Pang, ahli ekonomi Greater China di ING, mengatakan keretakan yang meluas antara Tiongkok  dengan Amerika Serikat karena  Huawei bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran di negara lain mengenai keamanan produk Huawei akan menekan ekspor serta pendapatan Tiongkok dari sektor telekomunikasi.

“Ketika perang teknologi berlanjut, keuntungan industri Tiongkok mulai dari bulan Mei kemungkinan akan memburuk lebih cepat [dari Januari-April],” kata Iris Pang, menambahkan bahwa kontraksi 5,0 persen tahun-ke-tahun pada keuntungan Januari-Mei dimungkinkan karena penurunan pendapatan untuk industri telekomunikasi semakin dalam.

Menanggapi ekonomi yang melambat dan tarif impor Amerika Serikat yang lebih tinggi untuk barang Tiongkok, Beijing telah meningkatkan dukungan untuk perusahaan manufaktur yang kekurangan uang. Tiongkok telah menjanjikan miliaran dolar dalam pemotongan pajak tambahan dan pengeluaran infrastruktur, sementara bank sentralnya juga mengumumkan pengurangan tiga fase dalam rasio persyaratan cadangan bagi bank-bank regional untuk mengurangi biaya keuangan perusahaan kecil.

Sektor hulu seperti ekstraksi minyak masih melihat bagian terbesar dari keuntungan dengan pertumbuhan lebih cepat pada Januari-April. Penurunan laba yang diperoleh pabrik baja dan pabrik kimia dimoderasi dari tiga bulan pertama.

Kewajiban perusahaan industri naik 5,5 persen tahun-ke-tahun pada akhir April, kata Biro Statistik Nasional.

Data termasuk perusahaan dengan pendapatan tahunan lebih dari 20 juta yuan dari operasi utama mereka. (Stella Qiu/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular