Erabaru.net. Elit kaya Tiongkok sedang mencari cara baru untuk mengalihkan asetnya ke luar negeri, karena pengumuman oleh badan pengatur valuta asing Tiongkok baru-baru ini.

Karena negosiasi perdagangan dengan Amerika Serikat berakhir tanpa kesepakatan pada awal bulan ini, nilai yuan turun ke level terendah terhadap dolar Amerika Serikat dalam empat bulan.

Ketika Yuan terdepresiasi, orang kaya Tiongkok melihat pundi-pundi mereka berkurang. Sebelumnya, upaya orang kaya Tiongkok untuk memindahkan uangnya ke luar negeri secara massal terhalang oleh pembatasan rezim Tiongkok.

Hal ini karena arus keluar modal secara besar-besaran dapat memiliki efek merusak pada perekonomian Tiongkok: Mengeringkan likuiditas, melemahnya mata uang, menipisnya cadangan, dan meningkatkan biaya pinjaman.

Dengan meningkatnya ketegangan perdagangan baru-baru ini dan tidak ada kompromi yang terlihat, rezim Tiongkok mungkin telah mengantisipasi bahwa orang kaya Tiongkok yang gugup akan pendapatannya yang terdepresiasi sehingga berusaha untuk memindahkan uang keluar negeri.

Pada tanggal 19 Mei, Administrasi Valuta Asing Negara Tiongkok mengumumkan 17 kasus pelanggaran nilai tukar mata uang asing, merinci bagaimana bank, perusahaan, dan individu dihukum karena mentransfer aset ke luar negeri di luar batas yang diizinkan pihak berwenang.

Hukuman

Di bawah peraturan Tiongkok, setiap warganegara Tiongkok hanya diperbolehkan mengirim uang senilai USD 50.000 ke luar negeri setiap tahun.

Banyak orang kaya Tiongkok yang mengakali pembatasan moneter ini dengan meminta teman atau kerabat untuk mengirim uang atas nama mereka.

Tetapi pada bulan Januari 2017, karena yuan terus mengalami depresiasi, otoritas Tiongkok melarang praktik ini, sehingga menjadikannya ilegal bagi siapa saja yang menukar atau mengirim mata uang asing atas nama orang lain. Selain itu, otoritas Tiongkok melarang pembelian valuta asing untuk membeli real estat atau melakukan investasi pada sekuritas di luar negeri.

Menurut Administrasi Valuta Asing Tiongkok, total denda untuk pelanggar terbaru bertambah hingga 84,44 juta yuan (USD 12,23 juta).

Untuk pelanggar perusahaan, transfer dana ilegal mereka dilakukan antara tahun 2016 hingga 2018, sedangkan pelanggaran individu sebagian besar terjadi antara tahun 2014 hingga 2018.

Di antara orang kaya Tiongkok tersebut, seorang multi-jutawan di Provinsi Zhejiang bermarga Hong mentransfer 312 juta yuan (USD 45,18 juta) melalui bank bawah tanah, kemudian menukar yuan ke mata uang asing untuk membeli real estat di luar negeri. Jumlah ini adalah yang tertinggi di antara semua pelanggar individu dalam daftar. Ia didenda 24,97 juta yuan (USD 3,62 juta), hukuman terberat bagi pelanggar individu.

Seorang jutawan di kota Chongqing yang mentransfer 13,84 juta yuan (USD 2 juta) dalam 16 batch melalui bank bawah tanah didenda 968.500 yuan (USD 140.236). Seorang jutawan di Provinsi Hubei yang mentransfer 8,99 juta yuan (USD 1,30 juta) dalam 34 batch melalui bank bawah tanah didenda 719.500 yuan (USD 104.182).

Di antara enam kasus pelanggaran perusahaan, lima perusahaan mentransfer dana ke luar negeri dengan kedok transaksi perdagangan palsu, sementara perusahaan keenam melanggar peraturan bahwa penjamin pinjaman luar negeri harus terdaftar di Tiongkok Daratan.

Sebagai contoh, Guangzhou Yangfan Trading Co. memberikan faktur palsu kepada bank Tiongkok, mengklaim telah melakukan pembelian padahal sebenarnya itu adalah cara untuk mentransfer USD 92,86 juta ke luar negeri. Perusahaan tersebut didenda 37,34 juta yuan (USD 5,41 juta), denda terbesar dalam daftar.

Arus Keluar Modal

Shadow banking adalah masalah utama bagi Tiongkok karena berupaya untuk membatasi aliran modal keluar. Sebagian besar bank bawah tanah ini beroperasi dengan menyamakan orang-orang yang ingin membawa uang ke Tiongkok dengan orang-orang yang ingin mengeluarkan uang dari Tiongkok.

Dalam setiap transfer, dua klien yang telah diidentifikasi sebagai pasangan akan menyetor uang ke akun masing-masing — satu di Tiongkok, yang lainnya di Hong Kong. Bank bawah tanah, bertindak sebagai perantara, mendapat untung dengan membebankan biaya layanan tinggi untuk memungkinkan transaksi.

Meskipun dana tidak benar-benar melintasi perbatasan, kedua klien pada dasarnya memindahkan uang dari satu yurisdiksi ke yurisdiksi lainnya, sambil menghindari batasan USD 50.000. Metode transfer dana ini sangat sulit dilacak oleh regulator.

Terlepas dari langkah-langkah ketat pemerintah Tiongkok, warganegara Tiongkok telah menemukan banyak cara “kreatif” untuk mentransfer uang ke luar negeri — terutama karena devaluasi mata uang dan krisis ekonomi yang membayangi di Tiongkok mengancam aset mereka. Banyak yang membeli real estat di luar negeri sebagai tempat yang aman untuk “memarkir” uangnya.

Menurut data Asosiasi Realtors Nasional Amerika Serikat, warganegara Tiongkok telah menjadi pembeli asing utama perumahan di Amerika Serikat selama enam tahun berturut-turut dari tahun 2013 hingga 2018. (Olivia Li/ Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular