oleh Qin Yufei

Media Hongkong baru-baru ini melaporkan bahwa salah satu alasan kegagalan negosiasi  perdagangan AS – Tiongkok adalah Washington meminta pemerintah Komunis Tiongkok untuk sepenuhnya membebaskan internet dari pengontrolan rezim. Faktor inilah yang ditolak oleh komunis Tiongkok.

Para sarjana Tiongkok dan Amerika percaya bahwa dalam perang dagang AS-Tiongkok, rakyat Tiongkok berada di satu front dengan Amerika Serikat.

South China Morning Post mengutip sumber yang mengatakan pada 30 April tahun ini di Beijing, Wakil Perdana Menteri Liu He berbicara dengan Menteri Keuangan AS Mnuchin dan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer selama satu jam. Setelah itu, suasana berubah 180 derajat.

Sumber itu mengatakan, Washington meminta pemerintah Komunis Tiongkok untuk sepenuhnya membebaskan Internet dari pengontrolan dan melonggarkan peraturan tentang perusahaan Cloud Computing atau Komputasi awan asing yang harus menyimpan semua data di Tiongkok.

Peneliti dari American Enterprise Institute Claude Barfield kepada reporter Epoch Times mengatakan, bahwa seperti yang ia ketahui, usulan yang disampaikan pemerintah AS kepada Tiongkok saat ini adalah membebaskan aliran data perusahaan terlepas dari apakah itu perusahaan komputasi awan, perusahaan keuangan, dan apakah perusahaan milik Tiongkok, milik Amerika, Inggris atau Perancis.

Saat ini Amerika Serikat belum meminta Tiongkok untuk membongkar firewall, meskipun Amerika Serikat percaya bahwa Tiongkok seharusnya tidak melakukannya.

Claude Barfield percaya bahwa jika otoritas Tiongkok dapat menyetujui tuntutan Amerika Serikat, itu akan sangat bermanfaat bagi rakyat Tiongkok. “Karena perusahaan Tiongkok dan perusahaan asing akan memiliki aliran data dan transaksi bisnis terkait Internet yang lebih murah, lebih dapat diandalkan, itu akan membantu rakyat Tiongkok dan warga dari negara lain”.

South China Morning Post mengutip ucapan sumber menyebutkan bahwa pemerintah Komunis Tiongkok menolak permintaan AS untuk membebaskan sepenuhnya Internet. Pasalnya, Komunis Tiongkok percaya bahwa tuntutan seperti itu akan secara langsung mempengaruhi stabilitas politik dan stabilitas sosial.

Claude Barfield percaya bahwa dalam masalah ini, mungkin otoritas Tiongkok juga khawatir jika Amerika Serikat dan rakyat Tiongkok berdiri di front yang sama. “Saya pikir jika pemerintah Tiongkok dapat menyetujui tuntutan AS, itu pada akhirnya akan membantu rakyat Tiongkok, Pemerintah Tiongkok pada dasarnya sedang melukai rakyatnya sendiri,” katanya.

Baru-baru ini, WeChat memposting sebuah artikel dengan topik, ‘Apa hakikat perang dagang ?’ Artikel tersebut merangkum permintaan AS adalah ‘3 nol 2 stop dan 1 izin’ ‘3 nol’ adalah nol tarif, nol hambatan non-tarif, dan nol subsidi. ‘2 stop’ adalah stop pencurian hak kekayaan intelektual dan stop pengalihan teknologi secara paksa. dan ‘1 izin’ adalah memberikan izin kepada orang Amerika untuk mendirikan perusahaan independen di Tiongkok.

Dalam masalah ‘3 nol 2 stop dan 1 izin’ tersebut, menurut artikel itu bahwa kepentingan Amerika Serikat dan kepentingan rakyat Tiongkok pada dasarnya sama, dan kepentingan pemerintah Tiongkok dengan kepentingan rakyatnya belum tentu sama.

Sebagai contoh, hambatan perdagangan Tiongkok yang tidak hanya untuk menghadapi perusahaan asing, tetapi juga untuk rakyat Tiongkok. Pendidikan, kesehatan, budaya, keuangan, perdagangan jasa dan bidang lainnya semua itu dimonopoli oleh pemerintah Tiongkok dan perusahaan milik negara. Korban terbesar bukanlah Amerika Serikat, tetapi rakyat Tiongkok sendiri.

“Setiap kali Anda menurunkan penghalang, itu akan memungkinkan arus komoditas dan arus layanan yang lebih baik, yang berarti bahwa rakyat Tiongkok bisa mendapatkan barang yang lebih baik, barang yang lebih murah – terkadang mendapatkan barang yang lebih baik, terkadang kualitas yang baik dan produk yang murah. Ini baik untuk kedua belah pihak”, kata Claude Barfield.

Xu Youyu, seorang sarjana asal Tiongkok yang tinggal di Amerika Serikat mengatakan bahwa dalam perang perdagangan AS – Tiongkok, banyak warga Tiongkok yang mendukung dan memahami pemerintah AS. Ini adalah fenomena yang patut mendapat perhatian. Mengapa ini terjadi ? “Karena sebagian dari tuntutan pemerintah AS itu sesuai dengan kepentingan rakyat Tiongkok”.

Yang paling jelas adalah dua contoh berikut. Salah satunya adalah masalah obat-obatan penting, tarif yang ditetapkan oleh pemerintah Tiongkok terlalu tinggi, dan itu bertentangan dengan pembelian efek khusus asing.

Dilihat dari sudut pandang pasien, mereka tentu merasa bahwa permintaan AS mengurangi tarif yang signifikan bermanfaat bagi mereka. Contoh lain adalah membeli mobil Amerika. Jika menurunkan tarif yang diminta AS, maka warga Tiongkok membeli mobil Amerika tidak perlu membayar mahal”.

Dalam artikel ‘Hakikat perang dagang’ juga disebutkan,  bahwa perlindungan hak kekayaan intelektual juga diperlukan untuk negara-negara industri baru seperti Tiongkok. Dalam jangka panjang, perlindungan hak kekayaan intelektual memainkan peran penting dalam mempromosikan pembangunan ekonomi, mempromosikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kemakmuran budaya.

Ketika orang asing membuka perusahaan di Tiongkok, mereka dapat membawa model, teknologi, dan kebutuhan baru, sehingga rakyat dapat menikmati produk dan layanan yang lebih baik dengan harga lebih murah.

Artikel itu mengatakan bahwa permintaan AS yang ‘3 nol 2 stop dan 1 izin’ bukan merupakan perjanjian yang tidak adil. Ini justru kesempatan yang sangat baik bagi Tiongkok untuk “bergabung kembali dengan WTO”.

Alasan mengapa komunis Tiongkok menolak permintaan AS adalah karena kepentingan pribadi yang enggan melepas kekuasaan dan keuntungan materi. “Liberalisasi” berarti kehilangan kekuatan kontrol atas ekonomi dan kekuasaan.

Xie Zuoshi, seorang profesor di Sekolah Ekonomi dan Perdagangan Internasional Universitas Keuangan dan Ekonomi Zhejiang mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Epoch Times pada tahun 2018 bahwa permintaan AS sebenarnya baik bagi Tiongkok. Dalam pembicaraan perdagangan ini, semakin banyak Tiongkok mengalah, akan semakin banyak kemajuan yang dapat dibuat Tiongkok.

“Amerika Serikat menghendaki Tiongkok membuka pasarnya dan mengurangi proporsi ekonomi milik negara. Tiongkok memang dituntut untuk melakukan reformasi pasar. Sudah barang tentu harusnya terbuka. Mengapa sampai perlu orang lain yang datang menekan? Jika saja mundur selangkah, akan menjadi lebih terbuka, menurunkan tarif. Ini juga suatu tindakan mengalah bukan ?!” (Sin/asr)

Share

Video Popular