5. Teori Karl Marx Mengenai Eksploitasi: Pembalikan Kebohongan yang Baik dan Jahat

Karl Marx mengatakan bahwa hanya tenaga kerja yang menciptakan nilai. Jika pemilik perusahaan menginvestasikan 10 juta dolar Amerika Serikat tahun ini, dan pendapatan perusahaan adalah 11 juta dolar Amerika Serikat, maka laba 1 juta dolar Amerika Serikat ini dihasilkan oleh karyawan.

Menurut teori Marxis, modal — yang meliputi etalase perusahaan, barang, dan alat produksi lainnya — tidak menciptakan nilai, tetapi hanya diubah menjadi biaya barang. Nilai yang dibuat oleh karyawan perusahaan (11 juta dolar Amerika Serikat) lebih tinggi dari biaya perusahaan (termasuk gaji karyawan, yang merupakan biaya tenaga kerja mereka). Dalam teori Marxis, laba, 1 juta dolar Amerika Serikat, adalah “nilai lebih” yang dihasilkan oleh karyawan namun diambil secara tidak adil oleh kapitalis.

Karena itu, Karl Marx mengklaim bahwa ia telah menemukan rahasia bagaimana kapitalis menghasilkan uang dan percaya bahwa itu adalah dosa asli kaum borjuis: eksploitasi. Investasi kapitalis dalam pendirian pabrik dan perusahaan adalah jelas untuk keuntungan, sehingga menurut Karl Marx, kaum kelas sosial rendah (kelas buruh) pasti akan dieksploitasi.

Dosa asli eksploitasi ini melekat dalam sistem kapitalis, yang menjadi milik seluruh borjuis. Dengan demikian Karl Marx menyimpulkan bahwa untuk menghilangkan dosa ini, seluruh masyarakat kapitalis harus dihancurkan — yaitu, kaum borjuis harus dihilangkan dan aset mereka disita, sementara barisan depan partai mengoleksi properti dan melembagakan komunisme.

Kemustahilan eksploitasi dari teori Karl Marx terutama tercermin dalam dua aspek.  Pertama, ia membagi rakyat menjadi dua kelas yang berseberangan: borjuasi yang memiliki modal, dan kaum sosial rendah tanpa modal.

Bahkan, sejak masyarakat industri maju ke depan, mobilitas kelas telah meningkat pesat. Mobilitas kelas di era Karl Marx (awal 1800-an hingga 1850-an) mirip dengan tahun 1970-an di Inggris Raya dan Amerika Serikat. [10] Pertukaran antar kelas adalah proses yang dinamis; seorang anggota kelas sosial rendah seharusnya tidak lagi berada di antara kelas sosial rendah jika ia membeli ekuitas publik di sebuah perusahaan, misalnya. Jika tugas kelas dapat diubah begitu mudah, upaya membagi rakyat ke dalam kelompok-kelompok seperti ini tidak memiliki tujuan lain selain untuk menghasut kebencian kelas.

Di sisi lain, melalui serangkaian “teori” yang dirancang dengan rumit, “Marxisme menipu rakyat untuk mengganti standar moral tradisional dengan standar buruk yang membalikkan yang benar dan yang salah.

Dalam pandangan Marxis, apakah seseorang itu adalah baik atau buruk tidak didasarkan pada moralitas dan tindakannya, tetapi lebih pada tempatnya dalam hierarki modal (terbalik). Seseorang yang termasuk dalam kelas kapitalis adalah bersalah mengeksploitasi kaum kelas sosial rendah, dan karena kaum kelas sosial rendah adalah yang tertekan dan dieksploitasi, para anggotanya secara alami menempati tempat tinggi moral.

Tidak peduli bagaimana mereka memperlakukan kapitalis, mereka dapat mengangkat kepala mereka tinggi-tinggi. Ini memang telah mengubah kepemilikan properti menjadi kejahatan, memutarbalikkan pencurian kekayaan menjadi keadilan, dan melegalkan dan membenarkan pengambil-alihan yang kejam. Kebalikan dari yang benar dan yang salah, baik dan jahat, telah mendorong kejahatan.

Di Tiongkok, bekas Uni Soviet, dan negara komunis di Eropa Timur, partai komunis mencuri tanah, mengikat tuan tanah, dan merampok pabrik kaum kapitalis. Lebih buruk lagi, partai komunis bahkan membunuh “musuh kelas,” dengan cara dibakar, menyita kekayaan generasi, menghancurkan sifat manusia, dan mengobarkan kampanye terorisme negara secara keseluruhan terhadap rakyat. Semua kejahatan ini adalah hasil dari teori-teori ini.

Sementara itu, standar moral tradisional, serta kepercayaan pada yang Ilahi, orang-orang suci, dan cendekiawan dan tokoh terkemuka lainnya, dicap sebagai milik “kelas-kelas yang mengeksploitasi” dan harus diserang dan dijatuhkan.

Teori Karl Marx telah banyak dikritik di kalangan ekonomi dan filsafat. [11] Berikut ini hanyalah beberapa contoh yang menggambarkan kemustahilan eksploitasi teori Karl Marx.

Karl Marx berpendapat bahwa kerja menciptakan nilai, dan nilai itu ditentukan oleh waktu kerja yang diperlukan untuk produksi. Ini adalah teori yang konyol. Nilai suatu komoditas bukanlah salah satu dari sifat intrinsiknya. Sebagian besar waktu, manusia menambahkan elemen subjektif pada setiap komoditas — yang paling penting, penawaran dan permintaan.

Banyak ahli ekonomi telah mengeksplorasi proses penilaian, dan tidak seperti monisme sempit Marx, sebagian besar pemikir ekonomi percaya bahwa banyak faktor yang terlibat dalam penciptaan nilai — termasuk tanah, modal, tenaga kerja, ilmu pengetahuan dan teknologi, manajemen, risiko investasi, dan sebagainya.

Kegiatan ekonomi adalah sistem yang kompleks, yang melibatkan mata rantai yang berbeda dalam rantai produksi. Faktor produksi yang berbeda memiliki persyaratan manajerial tertentu, dan orang yang berbeda memainkan peran yang berbeda, yang sangat diperlukan untuk seluruh rantai dan memberikan kontribusi pada penciptaan “nilai residu.”

Sebagai contoh, seorang kapitalis berencana untuk menghabiskan 1 juta dolar Amerika Serikat, ia mempekerjakan dua orang insinyur untuk merancang dan memproduksi mainan baru tertentu. Seorang pemasar juga disewa untuk mempromosikan mainan baru.

Dua tahun kemudian, mainan baru ini mendapatkan popularitas dan menghasilkan laba sebesar 50 juta dolar Amerika Serikat. Apakah tenaga kerja para insinyur dan pemasar yang menciptakan nilai sisa 50 juta dolar Amerika Serikat? Tentu saja tidak. Alasan mainan baru itu menghasilkan jutaan adalah karena orang menginginkannya. Wawasan kapitalis mengenai pasar, kemampuan untuk mengatur dan mengelola orang lain, dan keberanian untuk mengambil risiko semuanya berkontribusi pada nilai mainan.

Seandainya kreativitas dalam mainan itu berasal dari salah satu insinyur — maka, apakah nilai residu dari 50 juta dolar Amerika Serikat itu berasal dari kenyataan bahwa kapitalis mengeksploitasi kreativitas insinyur tanpa memberikan imbalan apa pun? Tentu saja tidak. Jika insinyur itu berpikir kreativitasnya tidak dihargai secara memadai, ia dapat menemukan perusahaan lain yang menawarkan bayaran lebih tinggi.

Di pasar bebas, keseimbangan pada akhirnya akan dicapai dalam keterampilan yang cocok dan ambisi dengan modal. Kapitalis yang menuntut laba yang tidak masuk akal akan kalah dalam persaingan atau tidak mampu menarik bakat.

Selain itu, karena menunggu pengembalian modal yang diinvestasikan, menunda pengeluaran atau kenikmatan lain dari modal itu, keuntungan juga karena upaya investor. Karenanya, adalah normal bahwa jumlah tambahan akan diperoleh sebagai imbalan. Prinsipnya tidak berbeda dari pinjaman dengan bunga.

Ada juga banyak faktor “kebetulan” yang terlibat dalam menentukan nilai suatu komoditas. Faktor kebetulan seperti itu hanya dapat dijelaskan secara wajar dengan kerangka acuan yang didasarkan pada kepercayaan dan budaya tradisional.

Dalam situasi tertentu, penciptaan dan penghancuran nilai dapat sepenuhnya tidak terkait dengan masalah kerja. Sebuah berlian senilai 10 juta dolar Amerika Serikat hari ini mungkin tidak bernilai lima ribu tahun yang lalu karena tidak ada yang menginginkannya. Sebidang tanah tandus yang diwarisi dari kakek dapat 100 kali lebih berharga karena kemakmuran kota terdekat atau penemuan logam yang langka di bawah tanah.

Di sini, peningkatan nilai tidak melibatkan tenaga kerja. Kekayaan yang begitu besar dan tak terduga hanya disebut keberuntungan. Tradisi budaya Barat dan Timur mengakui bahwa keberuntungan adalah berkah yang diberikan oleh dewa kepada manusia.

Untuk menunjukkan “rasionalitas” dan “keharusan” kepemilikan publik, Karl Marx menyusun teori eksploitasi berdasarkan nilai lebih, yang mengubah kegiatan ekonomi yang dilakukan orang sebagai bagian dari kehidupan normal menjadi perilaku negatif dan tidak etis. Teorinya menuangkan kebencian dan cemoohan pada tatanan ekonomi yang ada sebagai bagian dari upayanya untuk merusak dan menggulingkannya.

Kaum kapitalis dan kaum buruh, tuan tanah dan kaum tani, pada kenyataannya membentuk sebuah komunitas yang memiliki kepentingan bersama. Hubungan mereka harus berupa kerja sama dan saling ketergantungan; masing-masing saling mendukung untuk bertahan hidup.

Karl Marx sengaja membuat kontradiksi yang mutlak, ekstrem, dan dilebih-lebihkan secara berlebihan di antara mereka — seolah-olah mereka memiliki hubungan bermusuhan antara hidup dan mati. Bahkan, ada orang baik dan buruk di antara kapitalis, sama seperti ada di antara buruh juga. Dalam pertukaran ekonomi, apa yang harus benar-benar diekspos dan dikenai sanksi bukanlah kapitalis atau buruh, tetapi siapa pun yang merusak kegiatan ekonomi normal. Dasar penilaian haruslah berdasarkan kualitas moral dan perilaku, bukan kekayaan.

Orang dapat mengubah status ekonomi dan sosialnya melalui upayanya sendiri. Buruh dapat menjadi investor melalui akumulasi kekayaan. Investor dapat menjadi buruh karena kegagalan dalam berinvestasi. Masyarakat terus berubah dan mengalir seperti sungai. Peran tenaga kerja dan investor dalam masyarakat modern sering berubah.

Kebanyakan orang juga memainkan kedua peran tersebut — menempatkan keuntungan yang mereka hasilkan ke dalam kapasitas produktif di masa depan, sehingga menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kekayaan sosial, dan memberi manfaat bagi masyarakat umum. Bahkan seorang pendiri gerakan serikat buruh Amerika Serikat mengatakan, “Kejahatan terburuk terhadap buruh adalah perusahaan yang gagal beroperasi dengan untung.” [12]

“Teori nilai lebih” yang mustahil melekat pada label “eksploitasi” pada aktivitas normal pemilik tanah dan kapitalis. Ini telah menghasut kebencian, pemikiran kacau, dan perjuangan, dan telah menghancurkan kehidupan jutaan orang.

Share

Video Popular