7. ‘Cita-cita’ Komunis: Menggoda Manusia Menuju Kehancurannya Sendiri

Meskipun teori komunis penuh dengan celah dan kontradiksi, banyak manusia masih tertipu olehnya, karena Karl Marx menggambarkan surga komunis akan dinikmati manusia di seluruh dunia. Ini adalah fantasi dan khayalan utama.

Penggambaran oleh Karl Marx meliputi “kelimpahan materi yang luar biasa,” standar moral yang jauh lebih tinggi, dan “dari masing-masing sesuai dengan kemampuannya, untuk masing-masing sesuai dengan kebutuhannya.” Tidak akan ada kepemilikan pribadi, tidak ada kesenjangan antara si kaya dan si miskin, tidak ada kelas yang berkuasa, tidak ada eksploitasi, kebebasan, dan kesetaraan untuk semua, dan setiap orang akan dapat mengembangkan bakat khususnya. Hidup akan menjadi luar biasa.

Seperangkat argumen yang menipu ini menarik banyak orang untuk memperjuangkannya. Banyak orang Barat saat ini tidak pernah mengalami tragis hidup di negara totaliter komunis, sehingga terus menyimpan harapan ilusif akan firdaus komunis, dan oleh karenanya mengobarkan api dengan mendukung gagasan komunis dan sosialis.

Faktanya, semua ide yang dikemukakan oleh Karl Marx hanyalah ilusi.

Marxisme mengklaim bahwa masyarakat komunis akan menikmati barang material yang berlimpah. Namun, nafsu dan keinginan manusia tidak terbatas. Di bawah kendala pengetahuan manusia yang terbatas, jam kerja yang terbatas, dan sumber daya yang terbatas, kekurangan dan kerugian tidak terhindarkan. Ini adalah titik awal paling dasar untuk semua studi ekonomi. Tanpa kendala ini, manusia tidak perlu menjelajahi metode produksi seperti apa yang paling efisien, karena keadaan yang berlimpah seharusnya menyediakan untuk semua manusia dan dapat dihamburkan sesuka hati.

Marxisme mengklaim bahwa standar moral dalam masyarakat komunis akan sangat meningkat. Namun, kebaikan dan kejahatan hidup berdampingan di setiap orang, dan peningkatan standar moral membutuhkan bimbingan keyakinan dan nilai-nilai ortodoks, serta upaya pribadi dalam kultivasi diri.

Apa yang dikhotbahkan Marxisme adalah ateisme dan perjuangan kelas, yang memperbesar sisi jahat manusia. Rakyat tidak diizinkan memiliki kebebasan berkeyakinan, dan agama hanyalah alat politik Partai Komunis.

Terlebih lagi, di bawah komunisme, lembaga keagamaan digunakan untuk melindungi tirani, untuk menyesatkan dunia, untuk melawan Tuhan, untuk menentang Tuhan, dan untuk membuat rakyat menjauh dari Tuhan.

Tanpa kepercayaan yang benar kepada Tuhan dan disiplin diri, moralitas pasti akan menurun. Selain itu, semua pemimpin komunis adalah tiran – sombong, cabul, dan sama sekali tidak etis. Mengharapkan standar moral pengikutnya bertentangan dengan akal sehat.

Marxisme juga menyatakan akan ada kesetaraan untuk semua manusia. Tetapi seperti yang telah dibahas sebelumnya, sosialisme pasti mengarah pada totaliterisme. Kekuasaan adalah dasar dari distribusi sumber daya, namun distribusi kekuasaan di bawah negara totaliter adalah yang paling tidak adil.
Oleh karena itu, distribusi sumber daya di bawah totalitarianisme juga akan paling tidak adil. Di semua negara di mana sosialisme berkuasa, rakyat melihat ada rakyat yang diistimewakan, serta kesenjangan ekstrem antara si kaya dan si miskin dan penindasan rakyat oleh negara.

Marxisme menipu rakyat dengan janji “dari masing-masing sesuai dengan kemampuannya, untuk masing-masing sesuai dengan kebutuhannya.” [26] Namun, ekonomi sosialis terikat pada kekuasaan. Rakyat biasa tidak memiliki kebebasan dasar, apalagi bertindak sesuka hati sesuai kemampuannya sendiri.
Mengingat bahwa keinginan manusia tidak ada habisnya, bahkan orang terkaya di bumi tidak dapat mendapatkan semua yang diinginkannya, apalagi rakyat kebanyakan. Tidak mungkin untuk mencapai barang yang berlimpah, mengingat kelangkaan sumber daya alam, apalagi mendistribusikannya kepada rakyat yang membutuhkan.

Komunisme juga menipu rakyat dengan berjanji bahwa setiap anggota masyarakat dapat memberikan kemampuannya yang terbaik. Marxisme mengatakan bahwa pembagian kerja menciptakan keterasingan. Namun pada kenyataannya, pembagian kerja diperlukan untuk masyarakat mana pun.
Adam Smith berpendapat dalam “Kekayaan Bangsa-Bangsa” bahwa pembagian kerja dapat sangat meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kesejahteraan. Perbedaan yang diciptakan oleh pembagian kerja tidak selalu konflik, juga tidak perlu mengarah pada keterasingan dan depersonalisasi. Rakyat dari semua lapisan masyarakat dapat meningkatkan moralnya, berkontribusi pada masyarakat, dan membawa kebahagiaan bagi umat manusia.

Pandangan ekonomi komunis adalah anti-moral. Kerusakannya sudah terlihat di negara-negara sosialis dan komunis. Berbagai bentuk ekonomi komunis terselubung di Barat juga telah merusak masyarakat.

Komunisme pasti menciptakan tirani totaliter, kemiskinan, dan kelaparan. Komunisme terus-menerus memperluas kejahatan dalam sifat manusia dan menghancurkan moral manusia. Ini adalah arus balik paling jahat dan terburuk dalam sejarah manusia.

Melihat kembali sejarah komunisme selama lebih dari seabad, kenyataan kejam berkali-kali membuktikan bahwa komunisme adalah sejarah menghasut kebencian, pembunuhan massal, dan kejahatan.

Semua negara totaliter komunis melihat pembunuhan paling kejam, dan rakyat di negara totaliter komunis memiliki paling sedikit kebebasan dan hak asasi manusia. Sumber daya habis untuk keperluan militer. Barang-barang milik rakyat dirampok supaya masuk dalam kelas kaya yang istimewa serta berkuasa, sementara mayoritas rakyat dibiarkan bekerja dalam kemiskinan.

Gerakan komunis tidak hanya merampas kehidupan rakyat, tetapi juga mengarah pada penghancuran besar-besaran terhadap nilai dan budaya tradisional. Secara khusus, di negara komunis Tiongkok, standar moral telah turun ke tingkat yang mengerikan, jauh melampaui apa yang dengan mudah dibayangkan. Pengambilan organ dari rakyat yang masih hidup, rakyat yang baik yang mempraktikkan kultivasi diri, telah menjadi operasi industri yang disetujui negara.

Komunis telah mengubah manusia menjadi monster. Personel medis, yang seharusnya membantu orang sakit, telah menjadi pembunuh berhati iblis. Kejahatan Partai Komunis Tiongkok telah mencapai seluruh dunia. Negara-negara yang seharusnya menegakkan HAM dibujuk dengan insentif ekonomi untuk menutup mata terhadap kejahatan yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok.

Selama abad yang lalu, komunis telah menggunakan ajaran-ajaran komunis yang asli untuk menarik perhatian masyarakat umum, kaum intelektual, dan generasi muda.

Setelah runtuhnya rezim komunis Eropa Timur, rezim komunis yang tersisa tidak lagi mempertahankan citra komunis mereka yang kejam, dan sebaliknya menyerap sistem ekonomi kapitalis dan berubah menjadi rezim yang mempromosikan pajak tinggi, tunjangan kesejahteraan tingkat tinggi, dan redistribusi kekayaan.
Mereka mengklaim bahwa mereka meningkatkan standar hidup secara keseluruhan dan bahwa setiap orang akan menikmati “hari baik” sosialisme. Dengan demikian, mereka terus menipu.

Komunisme melayani pengejaran kebaikan manusia sementara mengarahkannya untuk berubah menjadi fanatik agama untuk ideologi komunis. Komunisme menggunakan pengejaran kebaikan sebagai panji untuk menarik rakyat menjauh dari Tuhan, sehingga mencemari pikiran rakyat, memperkuat sifat jahat rakyat, dan mengarahkan rakyat untuk melakukan segala macam kejahatan.

Rakyat menikmati kesenangan material, mengesampingkan keyakinan yang lebih tinggi dan lebih mulia dalam tujuan hidup yang lebih tinggi. Komunisme membuat rakyat berdarah dan berkeringat. Sebagai imbalannya, rakyat diracuni dan dibunuh. Jika rakyat di dunia tidak sadar akan hal ini sekarang ini, mereka akan menghadapi konsekuensi yang lebih mengerikan.

Kesimpulan: Kemakmuran dan Kedamaian Hanya Dapat Diperoleh Melalui Moralitas

Berjuang untuk kebahagiaan adalah sifat manusia. Ekonomi yang makmur dapat mendatangkan kebahagiaan, namun ekonomi tidak berada dalam ruang hampa. Ketika jalur pembangunan ekonomi menyimpang dari etika dan moralitas, sebuah krisis ekonomi mungkin terjadi.

Jika sebuah masyarakat hanya kaya belaka, maka masyarakat tersebut tidak mampu membawa sukacita dan kebahagiaan, serta kemakmurannya juga akan singkat. Ketika fondasi etika dan moralitas runtuh, akibatnya bencana pun menanti.

Pada tahun 2010, People’s Daily melaporkan bahwa terlepas dari perkembangan ekonomi, Indeks Kebahagiaan Nasional Bruto telah menurun di Tiongkok dari tahun ke tahun.
Ekonomi terbesar kedua di dunia ini diliputi oleh korupsi, pencemaran lingkungan, dan insiden keamanan pangan, membuat rakyat Tiongkok merasa sangat tidak aman terhadap hidupnya. Dalam hal ini, kekayaan telah meningkat karena moralitas dan kebahagiaan telah menurun.

Ini mencerminkan cacat fatal dalam komunisme: Manusia tidak hanya terdiri dari daging, tetapi jauh lebih banyak terdiri dari pikiran dan roh. Sebelum manusia datang ke dunia, Tuhan meletakkan jalan hidup yang akan ditempuh oleh manusia.

Orang Tiongkok mengatakan “setiap gigitan makanan dan setiap tegukan air sudah ditakdirkan,” serupa dengan orang Barat yang setia mengucapkan rahmat sebelum makan malam untuk berterima kasih kepada Tuhan atas pemeliharaannya.

Rakyat yang percaya pada Tuhan memahami bahwa kekayaan adalah anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka. Rakyat seperti itu adalah rendah hati dan bersyukur, oleh karena itu mereka merasa puas dan bahagia.

Di antara penumpang yang berada di atas kapal Titanic yang hancur menjelang tenggelam pada tahun 1912 adalah jutawan John Jacob Astor IV, yang kekayaannya dapat membangun 30 kapal Titanic. Namun menjelang ajalnya, ia memilih apa yang menurutnya benar secara moral dan melindungi wanita dan anak-anak — ia memberikan tempat duduknya di sekoci terakhir untuk dua anak kecil yang ketakutan. [27]

Demikian pula, Isidor Straus, salah satu pemilik department store Macy, mengatakan, “Saya tidak akan meninggalkan kapal sebelum pria lain meninggalkan kapal.” Istrinya, Ida, juga menolak untuk naik sekoci, memberikan tempat duduknya di sekoci kepada nyonya Ellen Bird, pembantu rumah tangga mereka yang baru. Ida memilih menghabiskan saat-saat terakhirnya bersama suaminya. [28]

Orang-orang kaya ini memilih untuk mengedepankan nilai-nilai dan kepercayaan tradisional di atas kesempatan untuk menyelamatkan aset dan kehidupan mereka.
Pilihan mereka akan moralitas dan keadilan memanifestasikan pancaran peradaban manusia dan sifat manusia: Karakter yang mulia lebih berharga daripada kehidupan, yang lebih berharga daripada kekayaan.

Master Li Hongzhi, pendiri Falun Dafa, menulis dalam “Kekayaan Dengan Kebajikan”:

Adalah tugas penguasa dan pejabat untuk membawa kekayaan kepada rakyat, namun promosi penyembahan terhadap uang adalah kebijakan terburuk yang diadopsi oleh seseorang. Kekayaan tanpa kebajikan (de) akan membahayakan semua makhluk, sementara kekayaan dengan kebajikan adalah apa yang semua orang harapkan. Karena itu, seseorang tidak dapat menjadi makmur tanpa membela kebajikan.

Kebajikan terakumulasi dalam kehidupan lampau. Menjadi raja, pejabat, kaya, atau bangsawan semuanya berasal dari kebajikan. Tidak ada kebajikan, tidak ada keuntungan; hilangnya kebajikan berarti hilangnya segalanya. Karena itu, mereka yang mencari kekuasaan dan kekayaan pertama-tama harus mengumpulkan kebajikan. Dengan menderita kesulitan dan melakukan perbuatan baik, seseorang dapat mengumpulkan kebajikan di antara massa. Untuk mencapai ini, seseorang harus memahami prinsip sebab dan akibat. Mengetahui prinsip sebab dan akibat memungkinkan para pejabat dan masyarakat untuk menahan diri, dan kemakmuran serta kedamaian akan berlaku di bawah langit. [29]

Jika umat manusia mempertahankan nilai-nilai kekayaan dan kehidupan yang disebutkan di atas, tantangan ekonomi yang berakar pada keserakahan, kemalasan, dan kecemburuan manusia akan sangat berkurang. Begitu manusia menindas keegoisannya, ideologi komunisme tidak akan lagi mampu memikat hati manusia.

Kemudian Tuhan akan memberkati umat manusia dengan standar moral yang tinggi. Hasilnya, kita akan memiliki ekonomi yang ideal untuk umat manusia: kekayaan untuk dunia, ketenangan di hati kita, dan kedamaian dalam masyarakat.

Roh jahat komunisme telah membuat pengaturan yang rumit untuk menghancurkan umat manusia. Pengaturan ekonomi hanyalah satu bagian dari cerita. Untuk membebaskan diri dari kendali “cita-cita komunis”, kita perlu membongkar konspirasi, mengidentifikasi pesan-pesan palsu, dan berhenti menaruh harapan kita pada ideologi yang bangkrut ini.

Kita juga perlu mengembalikan nilai-nilai tradisional dan memulihkan moralitas dan kebajikan.
Dengan demikian, umat manusia akan dapat merangkul kemakmuran dan kebahagiaan abadi serta memiliki kedamaian sejati. Peradaban manusia kemudian akan memancar dengan vitalitas baru.

Lanjut Baca Bab Sepuluh.

Referensi:

[1] “United States Declaration of Independence,” http://www.ushistory.org/declaration/document/.

[2] Karl Marx and Friedrich Engels, “Manifesto of the Communist Party,” Marx/Engels Selected Works, Vol. One (Moscow: Progress Publishers, 1969)

[3] Fred Schwartz and David A. Noebel, You Can Trust the Communists… to Be Communists (Socialists and Progressives too) (Manitou Springs, CO: Christian Anti-Communism Crusade, 2010), 43–45.

[4] Friedrich Hayek, The Fatal Conceit: The Errors of Socialism (Routledge, August. 2013).

[5] Thomas Sowell, Intellectuals and Society, Revised and Expanded Edition (New York: Basic Books, 2012), Chapter 2.

[6] F. A. Hayek. “The Use of Knowledge in Society,” The American Economic Review, Vol. 35, No. 4. (September 1945), 519–530.

[7] Ludwig von Mises. “Economic Calculation in the Socialist Commonwealth.” Mises Institute. Accessed July 26, 2018. https://mises.org/library/economic-calculation-socialist-commonwealth.

[8] Shi Shan. “Quagmire in the Reform of China’s State-Owned Enterprises,” Radio Free Asia, September 22, 2015, https://www.rfa.org/mandarin/yataibaodao/jingmao/xql-09222015103826.html.

[9] Linette Lopez, “Zombie Companies Are Holding China’s Economy Hostage,” Business Insider, May 24, 2016, https://www.businessinsider.com/chinas-economy-is-being-held-hostage-2016-5.

[10] Jason Long, “The Surprising Social Mobility of Victorian Britain,” European Review of Economic History, Volume 17, Issue 1, February 1, 2013, 1–23, https://doi.org/10.1093/ereh/hes020.

[11] John Kenneth Galbraith, The Good Society: The Humane Agenda (Boston, MA: Houghton Mifflin Co., 1996), 59–60; Karl Popper, The Open Society and Its Enemies (Routledge, 2012).

[12] Michael Rothschild, Bionomics: Economy as Business Ecosystem (Washington, D.C.: BeardBooks, 1990), 115.

[13] Adam Smith, The Theory of Moral Sentiments (Philadelphia: Anthony Finley, J. Maxwell Printer, 1817).

[14] Lawrence Kudlow, American Abundance: The New Economic and Moral Prosperity (New York: Harper Collins Publishers, 1997).

[15] Thomas Sowell, Economic Facts and Fallacies (New York: Basic Books, 2008), 174.

[16] Friedrich Engels, “1881: Trades Unions,” Marxists.org, May 20, 1881, https://www.marxists.org/archive/marx/works/1881/05/28.htm.

[17] Vladimir Lenin, n.d., “The Trade Unions, The Present Situation and Trotsky’s Mistakes,” Accessed July 8, 2018, https://www.marxists.org/archive/lenin/works/1920/dec/30.htm.

[18] Lü Jiamin, “A History of Leninist Theory on Unions.” Liaoning People’s Press (1987).

[19] James Sherk, “What Unions Do: How Labor Unions Affect Jobs and the Economy,” Heritage Foundation Website, May 21, 2009, https://www.heritage.org/jobs-and-labor/report/what-unions-do-how-labor-unions-affect-jobs-and-the-economy

[20] Edwin J. Feulner, “Taking Down Twinkies,” Heritage Foundation Website, November 19, 2012, https://www.heritage.org/jobs-and-labor/commentary/taking-down-twinkies.

[21] James Sherk, “What Unions Do: How Labor Unions Affect Jobs and the Economy,” Heritage Foundation, May 21, 2009, https://www.heritage.org/jobs-and-labor/report/what-unions-do-how-labor-unions-affect-jobs-and-the-economy.

[22] Ibid.

[23] Sherk (2009) Ibid.

[24] Steve Inskeep, “Solidarity for Sale: Corruption in Labor Unions,” National Public Radio, February 6, 2007, https://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=5181842.

[25] Ibid.

[26] Karl Marx, “Critique of the Gotha Programme,” https://www.marxists.org/archive/marx/works/1875/gotha/ch01.htm.

[27] Children on the Titanic (a documentary, 2014).

[28] Isidor Straus, Autobiography of Isidor Straus (The Straus Historical Society, 2011), 168–176.

[29] Li Hongzhi, “Wealth With Virtue,” Essentials For Further Advancement, January 27, 1995, https://www.falundafa.org/eng/eng/jjyz02.htm.

BACA SEBELUMNYA 

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Pengantar

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita: Pendahuluan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab I – Strategi Iblis untuk Menghancurkan Kemanusiaan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab II – Awal Komunisme Eropa

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab III – Pembunuhan Massal di Timur

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab IV – Mengekspor Revolusi

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab V – Infiltrasi ke Barat (Bagian I)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab V – Infiltrasi ke Barat (Bagian II)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VI – Pemberontakan Terhadap Tuhan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VII – Penghancuran Keluarga (Bagian I)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VII – Penghancuran Keluarga (Bagian II)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VIII – Bagaimana Komunisme Menabur Kekacauan dalam Politik (I)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VIII – Bagaimana Komunisme Menabur Kekacauan dalam Politik (II)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab IX – Perangkap Ekonomi Komunis (Bagian I)

Share

Video Popular