Erabaru.net. Belum lama ini, saya mendengar sebuah kisah dari teman saya, perihal tetangganya. Tetangganya adalah seorang Nenek yang tinggal bersama seorang anak kecil, yang adalah cucunya. Karena kedua orangtua anak itu harus bekerja, maka sang cucu harus tinggal dan dirawat oleh Neneknya.

Setiap hari mereka akan sarapan mie ayam bakso di sebuah kedai. Setiap hari, Nenek itu akan memesan dua mangkuk mie bakso, kemudian diam-diam meminta agar daging dan bakso di mangkuknya, ditaruh saja di mangkuk cucunya. Jadi setiap hari, cucunya itu akan makan mie ayam dengan banyak daging dan dua butir bakso besar, sementara si Nenek hanya akan makan mie dan kuah saja.

Suatu hari, Nenek lupa membawa uang yang cukup, jadi dia hanya bisa membeli satu mie ayam bakso saja untuk cucunya, dan satunya lagi hanya mie polos untuk dirinya sendiri. Cucunya setelah memakan mie ayamnya, merasa heran, mengapa hari ini dagingnya sedikit dan bakso besarnya hanya ada satu butir.

Orangtua harus mengajar etika kepada anak-anak mereka. Ilustrasi. Kredit: eurotalk.com

Akhirnya si cucu marah, berteriak, dan menuduh Neneknya telah memakan daging dan bakso di mangkuknya.

Sekalipun sudah dijelaskan, cucunya tetap tidak mau mengerti. Nenek tidak bisa apa-apa selain merasa malu di depan orang-orang di kedai. Akhirnya mereka pulang, dan si Nenek menyadari satu hal…

Kisah mengenai Khong Dung

Khong Dung adalah cucu ke-20 dari Konfusius, yang masih mewarisi kebijakan Kakek buyutnya, dia memiliki kebaikan dan kerendahan hati, serta memikirkan orang lain lebih dulu.

Ketika Khong Dung berusia 4 tahun, saat itu sangat panas, dia sedang bermain di taman, sementara kakaknya sedang belajar di kelas. Kemudian, datanglah seorang teman dari Ayah Khong Dung dan memberikan sekeranjang buah pir untuk keluarga mereka. Ayah Khong Dung menyuruh mereka untuk segera mencuci tangan dan memakan buah pir untuk menyejukkan tubuh.

Ketika kakak adik itu selesai mencuci tangan, Ayah Khong Dung menyuruh Khong Dung untuk memilih buah pir untuk dimakan. Khong Dung tidak langsung memilih namun malah menaruh buah-buah pir itu di atas meja. Ayah Khong Dung mengira bahwa putranya yang paling kecil ini akan memilih buah terbaik, dan itu adalah sangat egois, dia ingin menegur putranya namun tidak enak karena saat itu ada tamu di rumahnya.

Diluar dugaan, setelah menaruh semua buah, ternyata Khong Dung justru memilih buah yang paling kecil, padahal ada buah lain yang lebih besar dan lebih matang.

Khong Dung justru memilih buah paling kecil untuk dirinya sendiri. Ilustrasi. Kredit: Pngtree

Ketika ditanya mengapa melakukan itu, Khong Dung menjawab bahwa dia adalah yang paling muda di dalam keluarga, jadi seharusnya dia mendapat yang paling kecil, sedangkan yang lebih besar dan matang biarlah untuk Ayah dan Ibunya saja.

Menurut cerita, Khong Dung tidak pernah dimanja oleh orangtuanya. Sejak kecil, dia sudah diberi tanggung jawab dan tugas kecil, dan saat melakukan kesalahan, orangtuanya tidak segan menegurnya, bahkan menghukumnya.

Faktanya, sifat bajik dan kerendahan hati adalah tanda orang berbakat. Setelah dewasa Khong Dung kemudian menjadi penyair sukses, sajak yang dia gubah nya terkenal di seluruh negeri, dan dia dianggap sebagai orang hebat dari daerahnya. Dia juga menjadi orang yang sangat berguna di masyarakat.

Banyaknya anak-anak egois di masa kini

Keegoisan bukan hanya membuat seseorang menjadi kecil, itu juga akan membuat mereka sulit mendapat tempat dan selaras di masyarakat.

Memang secara alami, Kakek Nenek dan orangtua, akan menginginkan yang terbaik untuk anak cucu mereka, namun kita juga harus menyadari, jika anak kita selalu bisa mendapatkan sesuatu dengan begitu mudahnya, mereka akan kesulitan ketika Anda sebagai orangtua tidak lagi mampu memenuhi keinginan mereka.

Memanjakan anak sama saja menghancurkan mereka. Ilustrasi. Kredit: vietbf.com

Lebih dari itu, anak yang selalu terpenuhi keinginannya akan menjadi egois, dan akibatnya, dia juga tidak tahu bagaimana menghargai orang lain, termasuk juga menghargai apapun dalam hidupnya, dia akan tidak peduli pada tanggung jawab dan kewajiban yang seharusnya dia penuhi.

Ketika Anda sudah tidak bisa lagi berada di sisi mereka, mereka akan kesulitan menjalani kehidupan. Jadi ingatlah untuk mengatakan “Tidak” pada satu atau beberapa momen kehidupan mereka. Biarkan mereka paham tentang pentingnya sesuatu, tentang berharganya sesuatu.

Seorang anak lahir bagai selembar kertas putih, dan ingatlah cinta yang tidak tepat juga dapat merusak kertas putih tersebut! (Jul)

Sumber: dkn.tv

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular