Erabaru.net. Sanne berusia 25 tahun ketika hidupnya menjadi sangat sibuk sehingga dia hampir tidak bisa beristirahat sampai-sampai hampir kehilangan nyawanya.

Kemudian, dia membuat keputusan ekstrem untuk meninggalkan semuanya dan memulai kehidupan baru di negara lain, Philipina.

Sanne adalah seorang mahasiswa berusia 25 tahun di The University of Skövde, Swedia. Pada saat yang sama, ia juga bekerja sebagai manajer proyek di perusahaan pakaian Stockholm, juga sambil menjalankan perusahaannya sendiri.
 
Menambah resume yang mengesankan, dia juga memberi kuliah di seluruh negeri!

(Foto: Ett Annat Liv)

“Aku punya terlalu banyak hal yang terjadi sekaligus dan tidak pernah puas,” kata Sanne.

Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan yang sibuk dengan sedikit istirahat, Sanne akhirnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Dia tidak bisa mentolerir sendirian dan sulit tidur di malam hari.

(Foto: Ett Annat Liv)

“Saya perokok saat itu dan saya tidak bisa keluar untuk merokok dengan tenang di tengah waktu dua menit yang dibutuhkan. Saya mengalami serangan panik. Itu sangat tidak tenang dan saya merasa seperti sampah. Pada titik itu muncul perasaan bahwa saya tidak bisa hidup seperti ini lagi, ”katanya.
 
Kemudian, pada 2012, dia terlibat dalam kecelakaan di mana dia pingsan di dalam kendaraannya dan keluar dari jalanan. Untungnya, dia tidak terluka saat kecelakaan.

Itulah titik balik dalam hidupnya dan Sanne kemudian memutuskan untuk membuat keputusan untuk mendapatkan kembali kesehatannya dan dirinya sendiri dengan meninggalkan semuanya.

(Foto: Ett Annat Liv)

Hari berikutnya, dia berhenti dari pekerjaannya dan memutuskan untuk pindah ke Manila berdasarkan saran teman-teman Facebooknya. Seorang temannya yang pergi untuk perjalanan backpacking memberi tahu dirinya bahwa dia telah pindah ke Manila dan tinggal di sana secara bebas.

Sanne kemudian mengambil keputusan dan empat minggu kemudian, dia tiba di Manila.
 
Segera setelah dia mendarat di Manila, dia jatuh cinta pada daerah itu sehingga dia memutuskan untuk tinggal di sana selamanya.

Mengikuti keputusannya, Sanne kemudian menjual semua miliknya di Swedia dan membuka sebuah asrama di Pulau Siargao.

Menurutnya, kehidupan barunya merupakan kebalikan dari kehidupannya yang sibuk di Swedia.

(Foto: Ett Annat Liv)

“Di rumah, saya tidak merasakan apa-apa. Saya hidup dengan tingkat stres yang terus-menerus tinggi. Saya jauh lebih selaras dengan emosi saya di sini, dan saya menyukai sisi saya itu. Saya ingin menjadi asli. Saya tidak ingin menjadi sempurna. Saya hanya ingin menjadi saya, ”katanya.

Tonton kisah lengkapnya di sini.(yant)

Sumber: Goodtimes

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular