Karena simpati, pengertian dan cinta, Thinh dan Hau memutuskan untuk menikah. Kehidupan begitu sulit untuk mereka, namun pasangan yang tinggi badannya hanya sekitar 1 meter ini, tetap bersemangat menjalaninya dan berupaya keras demi masa depan putri mereka.

Erabaru.net. Di dalam sebuah ruangan seluas 10 meter persegi di Phu La, distrtk Ha Dong, Hanoi, tinggal sepasang suami istri Que Van Thinh (suami, 26 tahun) dan Tran Thi Hau (istri 27 tahun). Tempat mereka tinggal sangat panas dan penuh barang.

Thinh dan Hau di dalam rumah sewaannya. Kredit: tinnhanh.dkn.tv

Di dalam rumah beratap seng itu juga, tinggallah putri mereka, yang berusia 3 tahun. Baik Thinh maupun Hau, memiliki tinggi badan sekitar 1 meter, tubuh mereka kecil seperti anak berusia 5 tahun. Orang-orang di sekitar mereka, sering menyebut mereka sebagai keluarga mini. Setiap harinya, keluarga itu akan mencari nafkah dengan menjadi pedagang asong, menjual kapas dan permen karet di sebuah gang kecil di Hanoi.

Pasangan “mini,” Thinh dan Hau. Kredit: tinnhanh.dkn.tv

Putri mereka Quang Thi Hong Phuc (berusia hampir 3 tahun), disekolahkan di sebuah taman kanak-kanak di dekat rumah. Setiap harinya, entah apakah dagangannya habis terjual atau tidak, Hau dan Thinh akan naik bus untuk menjemput putri mereka. Dengan tubuh yang kecil, kedua pasangan itu selalu menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihatnya.

Thinh dan Hau bersama putri mereka. Kredit: tinnhanh.dkn.tv

Thinh terlahir di keluarga miskin di sebuah desa di provinsi Dien Bien, dengan 5 saudara kandung, tapi hanya Thinh saja yang memiliki tubuh yang tidak biasa. Setelah lulus SMP, dia pergi ke Hanoi untuk bekerja dan mencari nafkah sendiri, dari bekerja di pabrik alumunium dan kaca, tukang cuci piring , pelayan restoran… Bagaimanapun juga, tubuhnya lebih lemah dari orang pada umumnya, jadi ketika kesehatannya bermasalah, dia hanya bisa bekerja sebentar dan kemudian beristirahat.

Kemudian, suatu hari Thinh diajak untuk bergabung dalam sebuah teater seni cinta untuk orang-orang disabilitas. Di situ, dia bertemu Hau dalam sebuah pertemuan rutin kelompok. Sama seperti Thinh, Hau juga memiliki bentuk tubuh yang tidak biasa. Merasa empati, Thinh kemudian meminta nomor telepon Hau.

“Awalnya saya memanggil Hau sebagai adik perempuan, saat itu saya tidak punya niat untuk merayunya. Kadang saya mengajaknya makan bersama di luar. Perlahan-lahan perasaan itu muncul, dan setelah sekitar satu bulan, saya meminta Hau untuk balik memanggil saya kakak laki-laki, tapi dia masih tidak mau, namun hubungan kami terus terjalin dengan baik.” Kata Thinh mengenang sambil tersenyum.

Thinh mengenang masa lalunya sambil tersenyum. Kredit: tinnhanh.dkn.tv

Kemudian, kelompok pertunjukan Hau dipindahkan ke Dak Lak, sementara Thinh masih tetap tinggal dengan kelompok seni yang sebelumnya. Saat itu, Thinh mengumpulkan keberanian dan menyatakan perasaannya kepada Hau. Hau meledeknya dengan berkata, “kakak laki-laki yang ingin menjalin hubungan cinta dengan adik perempuannya,” namun kemudian Hau menantangnya: “Jika kamu memang tulus mencintai saya, mari kita sama-sama ke Dak Lak.”

Setelah mendengar jawaban Hau, tanpa pikir panjang Thinh langsung mengajukan surat pengunduran diri dari kelompoknya, dan segera bergabung dengan kelompok yang pindah ke Dak Lak, dia langsung bersiap dan mengejar bus yang membawa kelompok pertunjukan itu pindah ke Dak Lak. Melihat apa yang dilakukan Thinh, Hau menangis dan menyadari ketulusannya. Saat itu di sepanjang perjalanan, Thinh terus memegang tangan Hau. Thinh mengatakan bahwa saat itu “Jantung saya berdegup kencang, saya berkeringat karena gugup sekaligus sangat bahagia.”

Thinh dan Hau memutuskan untuk menikah. Kredit: tinnhanh.dkn.tv
Thinh dan Hau memutuskan untuk menikah. Kredit: tinnhanh.dkn.tv

Akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Setelah beberapa waktu, akhirnya keduanya memutuskan untuk kembali ke Hanoi. Kemudian Hau dinyatakan hamil, namun masing-masing pihak keluarga tidak setuju kalau mereka punya anak.

“Saat itu, kedua keluarga tidak setuju kami punya anak, kami sudah hidup susah, dan akan lebih susah lagi jika kami sampai punya anak, lagipula anak itu akan ikut menderita, namun akhirnya mereka setuju kalau kami memiliki anak.” Kata Hau berbagi.

Untungnya, proses persalinannya berjalan lancar, bayi itu lahir dengan berat lebih dari 3 kg dengan metode operasi cesar. Sejak memiliki seorang anak, kehidupan mereka menjadi lebih sulit.

Setelah melahirkan, kondisi kesehatan hau sangat lemah, jadi Thinh harus berhenti bekerja selama 4 bulan untuk membantu istrinya dan merawat bayi mereka. Untuk mendapatkan lebih banyak pemasukan, setelah selesai membantu mengurus pekerjaan rumah tangga, Hau menggunakan waktu untuk berjualan sayur, sementara Thinh, setelah memiliki waktu luang, dia langsung menjadi pedagang asong sampai malam hari.

Mereka ingin agar putri mereka memiliki masa depan yang baik, jadi mereka berusaha keras untuk mencari uang agar putri mereka bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Setelah berusia 3 tahun mereka menyekolahkan putri mereka di sebuah sekolah Taman Kanak-Kanak. Untungnya sekolah memahami keadaan mereka jadi hanya perlu membayar 1 juta VND (sekitar Rp. 60 ribu) saja sebulan.

Hau dan putrinya. Kredit: tinnhanh.dkn.tv

Putri dari pasangan mini ini memiliki wajah yang menyenangkan.

Kata Thinh, selain belajar di sekolah, dia juga mendaftarkan putrinya untuk belajar bahasa Inggris.

Putri mereka sangat pintar, cepat tanggap dan cepat belajar. Kemudian putri mereka  mendapat beasiswa dari sekolah, yang membuat Thinh dan Hau merasa sangat senang.

Putri mereka mendapat beasiswa. Kredit: tinnhanh.dkn.tv

Setiap harinya, pasangan itu akan bangun pagi-pagi, mempersiapkan segalanya dan kemudian mengantar putri mereka ke sekolah, kemudian mereka berdua berjualan. Siang hari mereka akan menjemput putri mereka, dan jika ada waktu dan kesempatan, mereka akan kembali keluar rumah untuk berjualan. Thinh berkata, jika beruntung, sehari dia bisa mendapatkan hingga 200-300 ribu Dong (sekitar Rp. 120 ribu-Rp.180 ribu), tapi ada kalanya juga sangat sepi, sampai sama sekali tidak ada yang beli.

Dengan uang yang mereka dapatkan dari hasil penjualan, mereka mambagi-bagikannya, sebagian untuk biaya sekolah anak, sebagian untuk uang sewa rumah, sebagian untuk biaya kehidupan sehari-hari.

Beberapa hari lalu, suhu udara di Vietnam sangat panas, jadi Thinh dan istrinya tidak bisa keluar mencari nafkah

“Kadang-kadang hari sangat panas hingga 40 derajat Celcius, jadi saya dan istri saya terpaksa hanya tinggal di rumah. Saya sendiri menderita pneumonia dan tubuh kami berdua sangat lemah, jadi saat hari sangat panas, kepala kami sering pusing. Hari-hari belakangan ini sangat panas sekali, di malam hari saya harus bangun sampai 8 kali, dan harus mandi setiap kali bangun, agar badan saya tidak terlalu panas.”

Pasangan ini memutuskan untuk membeli AC bekas model lama yang murah, namun uang mereka masih belum cukup, Thinh merasa sedih karena belum bisa membeli AC dan memberi kenyamanan untuk keluarganya, tapi dia berkata bahwa dia akan terus berusaha.

Kehidupan awal dari Thinh dan Hau sangat tidak mudah, mereka menemui sangat banyak kesulitan, namun keduanya berhasil melewati semua itu karena mereka percaya kasih Tuhan akan membantu mereka.

Thinh dan Hau yang tetap semangat dan tidak mau menyerah, demi masa depan putri mereka. Kredit: tinnhanh.dkn.tv

Jangan mengeluh dan jangan menyerah, Tuhan selalu ada bersama kita dan akan membantu kita, selama kita yakin kepadaNya, dan terus berupaya. (Jul)

Sumber: tinnhanh.dkn.tv

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular