Erabaru.net. “Oh tidak, apa yang harus saya lakukan? Saya tidak bisa menyelesaikan pekerjaan saya, saya terkutuk! ”Ini adalah kata-kata terakhir dari Hu Jia Yi, 26, yang meninggal dunia karena terlalu banyak bekerja dan sayangnya, penyebab kematiannya tidak jarang terjadi di banyak bagian kota di dunia.

Bahkan ketika dia jatuh sakit dan harus tinggal di tempat tidurnya sepanjang hari, Jia Yi masih memaksakan dirinya menyelesaikan beban kerjanya hingga empat atau lima jam sehari. Pikirannya dipenuhi oleh pekerjaannya sehingga kesehatannya perlahan menurun dan dia kemudian didiagnosis dengan gangguan sistem kekebalan tubuh.

Namun, itu tidak menghentikan Jia Yi dari bekerja sampai dia koma. Sayangnya, wanita muda itu menghembuskan napas terakhirnya pada 1 Mei, di Hari Buruh.
  

Ilustrasi. (Foto: Pexels)

Sangat disayangkan, kasus Jia Yi bukanlah kasus yang terisolasi di Hong Kong. Hong Kong memiliki jam kerja terpanjang di dunia bersama dengan Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.

Namun demikian, tidak seperti Jepang dan Taiwan yang mengakui pekerjaan berlebihan sebagai salah satu bentuk bahaya pekerjaan dan mereka yang terkena dampaknya mendapat kompensasi, Hong Kong masih menyelidiki apakah kasus-kasus kematian pekerja kota dan bekerja yang berlebihan ada kerterkaitan.

Menurut South China Morning Post, baru-baru ini Pemerintah Hong Kong menugaskan Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk mengeksplorasi “kaitan antara kematian dan kelelahan fisik yang disebabkan oleh pekerjaan”.

Laporan UBS’s Price and Earnings 2018 juga mengungkapkan bahwa pekerja Hong Kong rata-rata bekerja lebih dari 50 jam per minggu.
  

Ilustrasi. (Foto: Pexels)

Jamnya bahkan lebih lama hingga 72 jam per minggu untuk mereka yang bekerja sebagai penjaga keamanan.

Sebagai salah satu kota termahal di dunia untuk hidup seperti yang dilaporkan oleh The Economist Intelligence Unit dalam Survei Biaya Hidup Sedunia tahunannya, tidak mengherankan bahwa sebagian besar pekerja di Hong Kong harus bekerja dengan jam kerja yang lebih lama seperti Jia Yi yang hanya dibayar 14.000 HKD (sekitar Rp 25 juta) per bulan.

Jia Yi yang bertanggung jawab untuk pembelian dan pemasaran di sebuah pabrik rajutan, sering memulai pekerjaannya pada jam 9 pagi setiap pagi dan meninggalkan pekerjaan setelah jam 10 malam.

Selain tugasnya, ia juga sering harus bepergian ke dan dari Provinsi Guangdong pada hari yang sama.
  

Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Pada 16 Oktober 2018, seperti biasa, Jia Yi melakukan perjalanan ke sebuah pabrik di Kota Zhuhai di Provinsi Guangdong, Tiongkok untuk tugas kerja. Seharusnya dia kembali ke Hong Kong pada hari itu, tetapi dia tidak kembali.

Untungnya, Jia Yi ditemukan aman di Shenzhen pada hari berikutnya tetapi sudah agak terlambat. Ketika rekan-rekannya menemukannya, Jia Yi menjadi gila dan tidak waras. Rekan-rekannya harus menyuapi makan karena dia tidak bisa makan sendiri.

Rekan-rekannya dilaporkan memberi tahu media setempat bahwa Jia Yi telah mengeluhkan tekanan pekerjaan sebelum kejadian itu.

Jia Yi kemudian dikirim ke North District Hospital di Hong Kong. Selama tinggal di rumah sakit, Jia Yi tidak bisa mengenali orangtuanya dan sering berteriak di tempat tidurnya bahwa dia harus dibius untuk menenangkan diri.

Tiga hari setelah dia dirawat di rumah sakit, dia mengalami koma yang panjang dan akhirnya meninggal pada 1 Mei tahun ini karena pneumonia (paru-paru basah) dan komplikasi kesehatan lainnya.
  

lustrasi. (Foto: Pixabay)

Setelah kematiannya, perusahaannya diduga berusaha menghindari untuk memberikan kompensasi kepada keluarga Jia Yi karena mereka mengklaim bahwa kematiannya disebabkan oleh pneumonia dan itu tidak terkait dengan pekerjaan yang berlebihan, seperti yang dilaporkan oleh HK01.

Sampai Pemerintah Hong Kong mengeluarkan peraturan tentang jam kerja standar dan meningkatkan kesejahteraan pekerja, akan ada banyak cerita seperti Jia Yi dalam waktu dekat.(yant)

Sumber: Goodtimes.

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular