Li Muyang

Netizen Hongkong mengungkapkan yang sedang diperjuangkan warga Hong kong melalui unjuk rasa besar-besaran selama 2 kali berturut-turut di Hongkong  adalah karena mereka tidak ingin menjadi warga daratan Tiongkok. Ungkapan lainnya, rakyat Hong kong tidak puas dengan permintaan maaf dari Kepala Eksekutif Carrie Lam. Total yang terlibat hampir sepertiga dari jumlah warga Hongkong.

Kalangan akademis pada hari Rabu 19 Juni menyatakan bahwa jika pemerintah Hongkong pada 20 Juni tidak menanggapi permintaan Civil Human Rights Front – CHRF- maka aksi warga akan ditingkatkan.

Reporter media Perancis Francois Lenglet berpendapat, jika Beijing mengalah, mungkin dapat memicu efek domino dari rakyat di daratan Tiongkok, jika Beijing bersikeras, selain mengacaukan, rencana menyatukan Taiwan juga akan terhambat. Bagaimanapun, krisis ini akan mengubah dunia warga etnis Tionghoa.

Di mata banyak orang, kampanye menentang hukum jahat adalah perjuangan antara sistem demokrasi liberal dan “model Tiongkok”. Persisnya adalah perjuangan melawan model komunis Tiongkok.

Dari pihak berwenang Carrie Lam dan kelompok di Beijing yang berada di belakang layar, keterpaksaan dari Beijing mundur, bagi orang-orang yang mengejar kebebasan dan demokrasi mungkin mendapatkan beberapa inspirasi penting darinya.

Dalam menghadapi masalah hidup atau mati, para pemuda Hong kong telah menjadi perintis. ‘Hari ini kita tidak bersuara, esok kita tidak akan bisa bersuara’. Ini adalah inspirasi pertama. The New York Times menyebutnya sebagai awal dari kebangkitan politik generasi muda.

Dalam rekaman video kita sering melihat bahwa para pemuda membagikan helm dan kacamata di tempat-tempat perkumpulan. Ketika polisi menembakkan gas air mata, mereka mengejar tabung gas yang mengeluarkan asap dan mematikannya dengan disiram air.

Huang Zhifeng, sekretaris Organisasi Demosisto Hong kong yang baru saja dibebaskan dari penjara kepada VOA mengatakan bahwa Beijing telah memaksa seluruh generasi anak muda biasa di Hongkong menjadi “pembangkang”.

Seorang remaja putri berumur 16 tahun, So Hiu-ching sering bertanya pada diri sendiri : “Apakah upayanya masih belum cukup ? Apalagi yang bisa saya lakukan ?” Setelah ikut mogok sekolah di dekat gedung pemerintah, ia pulang dan menangis. Tetapi usai menangis ia memberitahu dirinya sendiri : “Aku harus bangkit dan bekerja lebih keras untuk menyatukan lebih banyak orang”.

Para pemuda menggunakan metode kontak yang aman untuk mencegah komunis tiongkok mendapatkan informasi. Ini adalah inspirasi kedua.

Para pemuda Hong kong telah belajar dari pengalaman masa lalu, dan kali ini mereka tidak lagi menggunakan media sosial untuk berkomunikasi. Fayton, pemuda berusia 27 tahun yang berada di garis depan protes mengatakan : “Semua orang menggunakan telegram untuk berkomunikasi”. WhatsApp juga dapat dienkripsi, tetapi membutuhkan nomor telepon dan mudah jadi incaran polisi.

Telegram, dapat menyembunyikan nomor telepon dan dapat pula dienkripsi. Perusahaan Telegram pekan lalu mengatakan bahwa mereka dilanda serangan cyber yang sangat serius dari daratan Tiongkok, sampai menyebabkan kelumpuhan perangkat lunak. Ini juga membuktikan bahwa komunis Tiongkok tidak bisa berbuat apa-apa dengan anak-anak muda Hongkong yang menggunakan perangkat lunak ini.

Tidak diorganisir dan tanpa pemimpin adalah inspirasi ketiga. Unjuk rasa menentang RUU Ekstradisi di Hong Kong kali ini tanpa pemimpin. Ada pepatah Tiongkok berbunyi : Senjata api diarahkan kepada burung yang menampakkan diri, tetapi karena tanpa pemimpin,  komunis Tiongkok pun kehilangan sasaran dan hanya menangkap beberapa pengikut yang melempar batu dan menuduh mereka melakukan “kerusuhan”.

Nie Ke, remaja yang juga berada di garis depan protes mengatakan bahwa tidak ada perencanaan sebelumnya.  Semua materi dan peralatan terkait adalah sumbangan spontan dari masyarakat Hong Kong. “Semua orang bergerak secara spontan”. Nie Ke mengungkapkan : Semua orang membawa air, masker, kertas pembungkus, dan barang-barang penting lainnya untuk menghadapi gas air mata dan semprotan merica. Semua orang membawanya, “Bahan-bahannya ada di sana, sangat sukses.”

Skala protes di Hongkong kali ini begitu besar tetapi tanpa organisator. The Associated Press percaya bahwa ini menyoroti fitur baru perlawanan sipil di era pengawasan digital. Dibandingkan dengan gerakan payung, berbagai cara yang digunakan oleh kaum muda di Hong Kong saat ini telah menghindari pelacakan digital pihak berwenang.

Inspirasi ke empat adalah seluruh lapisan masyarakat Hong Kong bergerak untuk menentang model komunis Tiongkok, dan membuat Beijing merasakan tekanan dari berbagai aspek.

Di antara semua, lapisan elit mungkin yang paling memusingkan komunis Tiongkok. Seperti semua orang tahu, kebebasan telah membuat Hong Kong tak terkalahkan. Hong Kong menarik banyak orang asing dan orang-orang daratan Tiongkok untuk datang berkunjung, melakukan  bisnis dan hidup di sana, karena nilai-nilai bebasnya maka prinsip negara diatur oleh konstitusi diterapkan. Di Hong Kong Anda bisa bebas berbicara, jaringan internet tidak tunduk pada sensor, dan ada media bebas yang tidak takut akan kekuasaan dan berani mengungkap skandal politik dan bisnis.

Ini sepenuhnya berbeda dengan model yang diberlakukan di daratan Tiongkok oleh komunis Tiongkok. Ini yang tidak dapat ditoleransi oleh model Tiongkok yang dipromosikan oleh komunis Tiongkok.

Hal ini telah menimbulkan kekhawatiran dari para elit, dan segala yang mereka miliki di Hong Kong mungkin bisa lenyap. Sedikit saja mereka tidak berhati-hati, bakal akan diekstradisi ke daratan Tiongkok untuk diadili, menerima keputusan pengadilan yang disetir komunis Tiongkok.

Para elit khawatir kehilangan kebebasan, menghadapi model Tiongkok yang diatur oleh komunis Tiongkok, mungkin dapat menyebabkan mereka dikeluarkan dari pasar oleh pesaing dari daratan Tiongkok dengan tuduhan yang tidak beralasan. Kekhawatiran ini telah mendorong mereka untuk secepatnya meninggalkan Hong Kong sambil mengalihkan semua aset yang mereka miliki.

Hu Zuliu, mantan kepala Goldman Sachs Greater China dan pendiri Primavera Capital Group kepada The New York Times mengatakan bahwa komunitas bisnis dan komunitas keuangan sangat khawatir dengan masa depan Hong kong. Laporan itu menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap masa depan Hong Kong diam-diam sudah menyebar di kalangan konsultan asing, investor dan kalangan eksekutif Hong Kong.

Seorang konsultan keuangan yang namanya tidak mau disebutkan mengatakan : “(Orang kaya mengalihkan kekayaan) sudah mulai, tetapi berlangsung secara diam-diam, khawatir Beijing membekukan aset mereka yang ada di Hong kong”.

Meskipun komunis Tiongkok mengklaim bahwa model Tiongkok lebih unggul daripada model demokrasi liberal Barat, namun, pada kenyataannya banyak perusahaan internasional dan Tiongkok tidak mau dikendalikan oleh komunis Tiongkok. The Frankfurter News percaya bahwa mengesampingkan model Tiongkok oleh lapisan elit lebih berfungsi daripada protes siswa.

Saat ini, Warga Hongkong membela sistem demokrasi liberal yang erat hubungannya dengan semua orang. Komunis Tiongkok ingin mendorong modelnya ke dunia, tetapi telah menghadapi perlawanan keras di Hongkong.

Sebenarnya, dunia bebas telah menghadapi ancaman komunis Tiongkok dan menghadapi penerapan model Tiongkok oleh komunis Tiongkok.

Surat kabar Prancis Le Monde mengimbau mereka yang berharap bahwa sistem demokrasi liberal pada akhirnya akan keluar sebagai pemenang, untuk menaruh perhatian terhadap Hong Kong, karena Hong Kong tidak jauh.

Seorang netizens menulis dengan tanpa tedeng aling-aling : Jika masyarakat Taiwan tidak mau berjuang, maka mereka akan menjadi orang Hong Kong. Jika masyarakat Hong Kong tidak mau berjuang, maka mereka akan menjadi orang daratan Tiongkok. Dan jika masyarakat daratan Tiongkok tidak mau berjuang, maka mereka akan menjadi orang Korea utara.

Senator senior AS Cory Gardner menunjukkan bahwa perluasan pengaruh ekonomi, politik dan militer komunis Tiongkok mengancam dunia. Amerika Serikat dan sekutunya perlu bergandeng tangan untuk menantang model komunis Tiongkok. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular