He Qinglian

Saat orang-orang percaya negosiasi perdagangan Amerika Serikat-Tiongkok yang berlangsung selama 14 bulan akan berakhir secara memuaskan, Komunis Tiongkok membuat langkah mengejutkan untuk menelusuri kembali semua perjanjian utama, yang sangat mengganggu Washington. Selain kenaikan tarif berikutnya, keseluruhan hubungan bilateral Amerika Serikat– Tiongkok juga menuju zona bahaya.

Menurut Forbes, beberapa langkah di mana Washington berpotensi akan terus memerangi Tiongkok termasuk proposal Departemen Perdagangan pada tanggal 23 Mei untuk memberlakukan tarif pada negara-negara yang mendepresiasi mata uangnya, untuk menekan Morgan Stanley Capital International -MSCI- untuk meniadakan saham-A Tiongkok dari indeks pasar yang sedang naik daun, dan untuk menekan Bloomberg Barclays meniadakan obligasi dalam negeri Tiongkok dari Global Bond Aggregate Index-nya. Semua kemungkinan ini menandakan bahwa hubungan Amerika Serikat-Tiongkok sedang memburuk.

Tiongkok diselamatkan oleh ‘Juru Selamat’ Amerika Serikat pada tahun 2018

Untuk benar-benar memahami dinamika antara depresiasi mata uang suatu negara dengan kenaikan tarif negara lain, perlu dikembangkan model statistik canggih untuk menganalisis data yang sesuai, yang membutuhkan keahlian dan banyak investasi waktu. Artikel ini berfokus pada langkah kedua yang disebutkan.

Tak lama setelah dimulainya perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok, MSCI dan FTSE Russell memasukkan saham-A Tiongkok dalam indeks saham mereka pada bulan Juni 2018. Hal ini diikuti oleh pengumuman Bloomberg Barclays untuk memasukkan obligasi Tiongkok dan sekuritas bank kebijakan Tiongkok di pendapatan tetap Global Bond Aggregate Index yang dilacak secara luas. Keputusan ini menyebabkan masuknya dana asing ke Tiongkok, yang membebaskan pasar modal Tiongkok dari krisis.

Seperti yang saya tulis dalam tweet pada tanggal 25 Maret, “Tiongkok tiba-tiba menemukan beberapa penyelamat ketika prospek ekonominya terlihat cukup suram pada tahun 2018. Penyelamat No. 1 adalah Partai Demokrat Amerika Serikat yang sedang mencari setiap kesempatan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump dan memenangkan kembali Dewan Perwakilan Rakyat. Juru selamat No. 2 adalah pembuat indeks global teratas: MSCI dan FTSE Russell secara resmi memasukkan saham-A ke dalam indeks mereka.”

Pada tanggal 1 April, Bloomberg Barclays membuat pengumuman sesuai rencana. Obligasi yang disertakan adalah sekuritas pemerintah dan bank kebijakan Tiongkok. Itu adalah berita bagus untuk pasar modal Tiongkok, dan merupakan satu sumber kepercayaan yang mendorong pemimpin Tiongkok Xi Jinping untuk mengingkari perjanjian negosiasi perdagangan. Dukungan Bloomberg Barclays telah menjadikan mata uang yuan sebagai komponen mata uang terbesar keempat setelah dolar, euro, dan yen.

Pengakuan dari tiga penyedia indeks yang berfungsi sebagai akreditasi saham-A dan obligasi Tiongkok, umumnya tidak dipercaya oleh investor domestik Tiongkok. Diperkirakan bahwa pengumuman Bloomberg Barclays itu sendiri akan menarik miliaran dolar Amerika Serikat ke pasar obligasi Tiongkok senilai USD 13 triliun.

‘Tangan Tuhan’ di Pasar Modal Global

Mengenai kekuatan yang dimiliki oleh lembaga pemeringkat keuangan (termasuk pembuat indeks), perusahaan konsultan McKinsey mengatakan dalam bukunya pada tahun 1996, “Market Unbound: Unleashing Global Capitalism, “bahwa pasar modal global memiliki kekuatan yang kuat atas negara-negara berdaulat, sementara kendali negara berdaulat atas pasar modal adalah melemah. Dan mereka yang memiliki hak untuk mempengaruhi penetapan harga di pasar modal akan mengendalikan aliran modal, dan dengan demikian mengendalikan mata uang dan kebijakan keuangan negara-negara berdaulat, serta nasib negara-negara berdaulat.

Tak lama setelah buku tersebut diterbitkan, krisis ekonomi muncul di Asia pada tahun 1997. Penasihat Presiden Bill Clinton bernama James Carville pernah menyindir, “Saya dulu berpikir jika ada reinkarnasi, saya ingin hidup kembali sebagai presiden atau Paus atau pemukul bisbol dengan pukulan hit .400 (40%) dalam satu musim. Tetapi kini saya ingin hidup kembali sebagai pasar obligasi. Pasar obligasi dapat mengintimidasi semua orang. Tentu saja, bahkan lebih baik jika saya dapat secara bebas menentukan harga obligasi, seperti seorang pengawas di lembaga pemeringkat kredit.”

Bertahun-tahun kemudian, Thomas L. Friedman menggambarkan perusahaan pemeringkat kredit dalam bukunya “The World is Flat” sebagai salah satu dari dua adidaya dalam masyarakat saat ini: Amerika Serikat, dan Moody’s Investors Service. Thomas L. Friedman berkata bahwa Amerika Serikat dapat menghancurkan anda dengan bom,  sedangkan Moody’s Investors Service menghancurkan anda dengan menurunkan peringkat kredit anda. Dan terkadang tidak seorang pun tahu yang mana dari keduanya yang lebih mematikan, kata Thomas L. Friedman dalam buku tersebut.

Itulah sebabnya perubahan peringkat dari perusahaan pemeringkat kredit internasional ini dapat mempengaruhi suasana hati Beijing. Peringkat yang lebih tinggi memberi sebuah pedang baru kepada rezim Tiongkok, sementara peringkat yang lebih rendah membuat Beijing menjadi galau. Misalnya, ketika tiga perusahaan teratas — S&P Global, Moody’s Investors Service, dan Fitch Ratings — menurunkan peringkat kredit Tiongkok pada tahun 2017, Beijing harus menoleransi hal tersebut, karena Beijing tidak dapat menyinggung banyak agen top.

Pada tanggal 7 Mei, Morgan Stanley menurunkan peringkat ekuitas empat bank terbesar Tiongkok menjadi “bobot yang sama” dari “kelebihan berat badan.” Dua dari empat bank tersebut melihat harga saham langsung turun setelah pengumuman itu, yang menerima banyak kritik dari Beijing.

S&P dan Moody’s Investors Service, dua perusahaan pemeringkat terbesar, mengendalikan peringkat kredit dunia sementara MSCI dan Bloomberg memegang kunci pasar keuangan. Didukung oleh organisasi-organisasi kuat ini, pasar modal Tiongkok berkinerja baik: Pada tahun 2018, arus masuk modal asing ke Tiongkok mencapai sekitar USD 100 miliar, menyumbang 80 persen dari semua aliran masuk ke pasar saham yang sedang naik daun.

Pada kuartal pertama pada tahun 2019, lebih dari USD 18,6 miliar memasuki pasar saham Tiongkok melalui Shanghai-Hong Kong Stock Connect dan Shenzhen-Hong Kong, sekitar tiga kali lipat dari tahun 2018.

Pada tanggal 10 April, Bank of China menerbitkan obligasi multi-mata uang senilai USD 3,8 miliar untuk mengumpulkan dana murah untuk mendukung inisiatif “One Belt, One Road.” Obligasi tersebut diterbitkan dalam lima mata uang, termasuk dolar Amerika Serikat, euro, yuan, dolar Hong Kong, dan pataca Macau. Investor Eropa menyumbang rekor 83 persen dari investor untuk obligasi berdenominasi euro, termasuk 45 persen dari ekonomi zona euro besar yaitu Italia, Jerman, dan Prancis.

The New York Times masih mengklaim bahwa negara-negara Eropa dipaksa oleh Washington untuk memilih satu pihak; sebenarnya, negara-negara Eropa telah lama memilih pihak mereka. Amerika Serikat tidak dapat membuat sekutunya bekerja sama untuk memaksa Beijing menandatangani Plaza Accord lain seperti yang Amerika Serikat lakukan dalam perang dagang melawan Jepang selama tahun 1980-an. Washington bahkan tidak dapat memaksa perusahaan pemeringkat kredit Amerika Serikat untuk menunda perubahan peringkat untuk Tiongkok. Ruang gerak tambahan yang diterima Tiongkok dari peristiwa ini telah membantu mengimbangi tekanan dari Donald Trump.

Seberapa Kuat Pukulan Donald Trump?

Tiongkok telah memainkan permainan “pasar-untuk-teknologi” selama hampir tiga dekade dengan taktik utama adalah “mengemis, meminjam, dan mencuri.” Bill Clinton membutuhkan pasar Tiongkok untuk mendorong maju globalisasi; Presiden George W. Bush membutuhkan kolaborasi Tiongkok dalam kampanye anti-terorisme pasca-9/11; Presiden Barack Obama memberi banyak peluang bagi Tiongkok untuk mencuri kekayaan intelektual. Akhirnya, kini adalah saatnya untuk menyelesaikan semuanya itu. Tetapi tikungannya  sangat tajam sehingga semua pembalap-bebas (termasuk negara-negara Eropa) mengeluh mengenai Donald Trump.

Jika Donald Trump benar-benar dapat menekan MSCI dan Bloomberg Barclays untuk meniadakan sekuritas Tiongkok dari indeks global mereka, maka hal tersebut akan menjadi pukulan berat bagi Tiongkok. Melemahnya kemampuan musuh untuk menarik modal adalah pertempuran pos terdepan sebelum perang keuangan seutuhnya.

Di sisi lain, strategi logam tanah jarang yang dibanggakan oleh juru bicara propaganda Tiongkok kemungkinan besar hanyalah gertak sambal. Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengakui bahwa logam tanah jarang adalah kebutuhan dari banyak sistem senjata negara, termasuk pembuatan laser, radar, sonar, penglihatan malam, rudal, mesin jet, dan paduan untuk kendaraan tempur lapis baja. Namun, ketergantungan Amerika Serikat pada logam tanah jarang Tiongkok telah menjadi sangat rendah.

“Data bea cukai Tiongkok menunjukkan bahwa Amerika Serikat hanya membeli 3,8 persen dari ekspor logam tanah jarang Tiongkok tahun lalu,” kata sebuah artikel New York Times. Selain itu, Tiongkok telah menjadi importir logam tanah jarang terbesar sejak tahun 2018, di mana  Amerika Serikat sebagai salah satu pemasok terbesarnya.

Namun upaya Donald Trump dapat menghadapi perlawanan. Sementara presiden Amerika Serikat adalah panglima tertinggi Amerika Serikat, namun sang presiden hanya dapat secara lembut menekan perusahaan pemeringkat kredit Amerika Serikat, dan sang presiden tidak dapat memaksa perusahaan tersebut untuk membuat kesimpulan “profesional” kecuali Tiongkok telah secara resmi mengumumkan musuh.

Hal ini mengingatkan saya pada sesuatu yang sudah dimainkan sebelumnya. S&P Global mengumumkan penurunan peringkat peringkat kredit negara Amerika Serikat dari “AAA” menjadi “AA-plus” pada tanggal 5 Agustus 2011, dan memperingatkan penurunan peringkat tambahan di masa depan. S&P Global juga memotong peringkat kredit Amerika Serikat jangka panjang menjadi “AA-minus.”

Ini adalah pertama kalinya pemerintah federal Amerika Serikat diberi peringkat di bawah “AAA” (luar biasa). Namun, Moody’s Investors Service tidak mengubah peringkat kredit Amerika Serikat, meskipun Moody’s Investors Service memperingatkan kemungkinan penurunan peringkat kredit Amerika Serikat.

Saat ini, baik Amerika Serikat maupun Tiongkok masih mengancam untuk meningkatkan “perang,” tetapi pada tingkat yang berbeda. Di sisi Amerika Serikat, hal itu diwujudkan oleh kicauan Donald Trump atau melalui pejabat senior; di pihak Tiongkok, hal itu disuarakan oleh corong Komunis Tiongkok seperti People’s Daily, Xinhua, dan orang-orang yang berkepentingan seperti Ren Zhengfei, sementara pemimpin puncak dan pejabat senior rezim Komunis Tiongkok secara misterius bungkam.

Dunia luar hanya dapat menebak apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Zhongnanhai, sebanding dengan seni “Kremlinologi” Uni Soviet selama Perang Dingin. Kunjungan Xi Jinping ke tambang logam tanah jarang ditafsirkan sebagai isyaratnya untuk membalas dengan larangan “logam tanah jarang”.

Seruan Xi Jinping untuk “bersiap Pawai Panjang baru” setelah meletakkan keranjang bunga di sebuah monumen untuk Pawai Panjang Tentara Merah dianggap sebagai pernyataan tekad untuk mempertahankan posisinya dalam perang dagang. Di Tiongkok, sistem politik memastikan bahwa semua perusahaan komersial mematuhi  Komunis Tiongkok, dan bahwa tidak ada perusahaan yang berani membantu musuh selama perang dagang yang dikepalai oleh pemimpin Partai Komunis Tiongkok sendiri.

Tetapi menurut saya, Xi Jinping percaya bahwa ia memiliki informasi yang cukup untuk secara yakin melanjutkan “strategi berlengah-lengah”  (saya akan menguraikan dalam artikel berikutnya) dengan harapan bahwa Donald Trump akan kalah dalam pemilihan presiden Amerika Serikat berikutnya dan bahwa hubungan Amerika Serikat-Tiongkok akan kembali pada situasi saat Partai  Demokrat menguasai Gedung Putih.

Donald Trump, melihat strategi seperti itu secara jelas, kini ia hanya dapat mengatakan bahwa ia tidak terburu-buru untuk mengakhiri kesepakatan. Sampai ada kejelasan tambahan pada pemilihan umum Amerika Serikat tahun 2020, negosiasi, jika terus berlanjut, tidak akan menghasilkan apa-apa.

Sampai saat itu, kedua belah pihak akan perlahan tapi pasti beringsut menuju zona bahaya.

He Qinglian adalah penulis dan ahli ekonomi Tiongkok yang terkemuka. Saat ini berbasis di Amerika Serikat, ia menulis “China’s Pitfalls yang menyangkut korupsi dalam reformasi ekonomi Tiongkok pada tahun 1990-an, dan The Fog of Censorship: Media Control in China,” yang membahas manipulasi dan pembatasan pers. Ia secara teratur menulis mengenai masalah sosial dan ekonomi Tiongkok kontemporer.

Share

Video Popular