Gu Xiaohua

Ribuan warga di desa Mintang, Kabupaten Yunan, Provinsi Guangdong, Tiongkok, mengggelar aksi protes pada Sabtu (22/6/2019). Mereka dalam aksinya memprotes pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga sampah.

Lin, seorang warga desa setempat kepada jurnalis Epoch Times di lokasi aksi mengatakan, sebagian besar penduduk desa yang berada di luar daerah turut pulang ke kampung untuk berpartisipasi dalam aksi protes tesebut. Penduduk desa yang berpartisipasi pada aksi itu mencapai tiga hingga empat ribu orang.

Para penduduk desa berasal dari tiga lokasi, yakni Kota kabupaten Liantan, Nanjiangkou dan desa yang diapit oleh kedua kota kabupaten ini berkumpul di Desa Mintang, provinsi Guangdong.

Warga menggelar aksi mereka pada pukul 8 pagi waktu setempat sabtu lalu. Ribuan Warga ini awalnya berkumpul di desa tersebut. Akan tetapi aksi mereka tidak ditanggapi.

Mereka kemudian menggelar pawai sepanjang jalan menuju ke pintu masuk dan keluar gerbang Tol Guangkun, Kabupaten Liantan, Guangdong. Mereka sempat membentangkan spanduk sebagai bentuk protes. Pada lokasi  inilah mereka berhadapan dengan ratusan petugas polisi antihuru hara dan sempat terlibatan bentrokan fisik.

Sebuah rekaman video menunjukkan, seorang pria jatuh ke tanah dan terdengar teriakan penduduk desa “polisi memukul orang.” Namun beberapa penduduk desa mengatakan kepada wartawan bahwa pria yang jatuh ke tanah itu pingsan karena cuaca panas.

Penduduk desa di kabupaten Liantan sempat dihadang polisi dalam perjalanan di gerbang desa Xiaoyao, persimpangan jalan tol setempat. Polisi melarang penduduk desa berkumpul bersama, bahkan petugas polisi memukul warga, satu orang sempat pingsan di tempat.

Saksi mata mengatakan bahwa beberapa warga desa di Kota kabupaten Nanjiangkou juga dicegat oleh polisi lalu lintas di tengah jalan. Sebelumnya polisi telah menyiapkan penghalang jalan di persimpangan menuju Desa Mintang untuk mencegah semua kendaraan lewat.

Kini proyek tersebut ditangguhkan sementara. Namun demikian, penduduk desa tetap menuntut agar proyek itu dibatalkan secara permanen.

Saat aksi demo digelar, seorang penduduk desa lainnya mengatakan, pemerintah setempat mengerahkan tiga hingga empat ratus petugas polisi bersenjata lengkap untuk mencegat warga di berbagai persimpangan jalan.

Penduduk di desa ini mengatakan : awalnya mereka bersikap tenang dan rasional saat menggelar aksi. Ketika cuaca di lokasi semakin terik, sempat terjadi bentrokan fisik antara penduduk desa dengan polisi. Akhirnya, penduduk desa berang dengan melemparkan botol air dan semangka.

Menurut laporan, Kepala Daerah Kabupaten setempat sempat berkunjung ke lokasi kejadian, tetapi selalu mengatakan bahwa proyek di lokasi itu akan ditunda. Akan tetapi ditentang oleh semua penduduk desa. Kemudian, pengumuman resmi pemda setempat menyebutkan, bahwa pemerintah daerah akan membuat keputusan setelah mendengarkan pendapat dari semua masyarakat.

Seorang wanita dari warga desa setempat menegaskan : “Kami ingin bukan penundaan, tapi pembatalan proyek secara permanen. Kami akan terus melakukan protes hingga proyek itu tidak dibatalkan.”

Seorang warga dengan marah berkata: “Desa kami berada di sekitar stasiun pembangkit listrik tenaga sampah. Banyak orangtua dan anak-anak tinggal di sana. Bagaimana dengan nasib mereka, apa yang harus mereka lakukan dan mau k emana mereka jika proyek itu diteruskan? di sini adalah tanah kelahiran kami.”

Sebuah sumber mengatakan, pada 21 Juni sebelumnya, pejabat desa di Desa Mintang sempat “mengunjungi” penduduk desa dari rumah ke rumah. Akan tetapi mereka malah mengancam penduduk desa untuk tidak menentang proyek tersebut.

Penduduk desa meresponnya dengan melakukan protes pembangunan stasiun pembangkit listrik tenaga sampah selama empat hari berturut-turut.

Proyek ini berlokasi di Damantang/kolam Daman seluas sekitar 52,5 hektar Desa Mintang. Setelah selesai, proyek ini akan mengolah 1.050 ton sampah per hari. Kapasitas pemrosesan proyek adalah 700 ton per hari, dan cadangan jangka panjang sekitar 350 ton per hari.

Lokasi proyek hanya 400 meter dari sumber air setempat dan 400 meter dari area pemukiman penduduk desa. Puluhan ribu penduduk desa sekitar di kabupaten Liantan, Nanjiangkou, Dongba, Xiba dan Hekou dalam jarak 10 kilometer dikhawatirkan akan terkena dampak dari proyek energi kotor itu. (jon/asr)

Share

Video Popular