Erabaru.net. Ayah dan ibu merawat kakak dan aku dengan baik-baik saja. Keluarga kami miskin dan kami tinggal di pedesaan tetapi kami hidup bahagia. Begitulah, sampai aku tahu bahwa ibuku bukanlah siapa yang aku kira.

Ketika aku bertambah dewasa, aku mendengar bisik-bisik dan desas-desus di sekitar desa bahwa ibuku bukan orangtua kandungku. Penduduk desa mengatakan bahwa ayahku membawa pulang seorang wanita segera setelah aku lahir. Aku tidak percaya dengan omong kosong seperti itu dan memutuskan untuk mengabaikannya.

Suatu hari desas-desus itu semakin santer dan untuk membuat mereka berhenti untuk membicarakannya, aku pulang dan bertanya kepada ayah tentang hal itu. Mata ayah tidak berkedip dan aku pikir ayah akan memarahiku, tetapi kemudian ekspresinya melunak ketika dia berkata,: “Ibumu meninggal ketika kamu lahir, kamu tidak bisa mengingatnya.”

Hatiku hancur, aku merasa lututku lemas ketika menyadari bahwa wanita dalam keluarga itu bukanlah ibu kandungku.

Ilustrasi. (Foto: Pexels)

Mengetahui hal ini, aku tidak bisa memandang orangtuaku dengan cara yang sama lagi. Aku merasa ayah seperti telah mengkhianati ibuku untuk menikah lagi dan bahwa wanita ini tidak memiliki tempat dalam keluarga.

Aku mulai sering bertengkar dengan orangtuaku sejak saat itu. Ketika teman-temaku datang, aku akan mengatakan dia bukan ibuku, aku mengatakannya dengan cukup keras sehingga dia bisa mendengar tetapi dia tidak pernah bereaksi terhadap perkataanku itu.

Ketika aku diterima di perguruan tinggi, aku akhirnya pindah dari rumah itu. Aku merasa lega hidup sendirian, tetapi ibu tiriku akan meneleponku hampir setiap hari untuk bertanya apakah aku baik-baik saja.

Aku menelepon ayahku secara teratur tetapi dia selalu sibuk dengan pekerjaan dan percakapan kami singkat. Ketika aku sudah di semester akhir , ibu tiriku menghubungiku dan mengatakan ayah kecelakaan. Ayahku dalam kondisi kritis.

Aku segera mengepak barang-barangku dan mengambil penerbangan pertama kembali ke rumah untuk melihat ayah di rumah sakit.

Ilustrasi. (Foto: Pexels)

Ayah koma dan operasinya menghabiskan banyak uang. Aku mencari pinjaman untuk membayar tagihan rumah sakit dan mengambil beberapa pekerjaan untuk membayar hutan-hutanku.

Ibu tiriku tinggal di sisinya di bangsal rumah sakit dan menjaganya. Saat itulah aku menyadari betapa dia benar-benar mencintainya.

5 tahun berlalu dan kondisi ayah tidak membaik, kami kehilangan harapan tetapi ibu tiriku tidak mau menyerah padanya.

Satu tahun berlalu dan ayahku meninggal dalam tidurnya. Itu terasa pahit karena kami tahu ayah akhirnya bisa beristirahat dengan enang, tetapi kami kehilangan ayah selamanya.

Aku mendorong ibu tiriku untuk menikah lagi sehingga dia memiliki teman di usia senja, tetapi dia menolak dengan keras.

Suatu hari ibu tiriku datang ke kamarku dan ingin berbicara.

Dia berkata,: “Ayahmu bukan ayah biologismu. Kami sebenarnya adalah bibi dan pamanmu. “

Ilustrasi. (Kredit: Pexels)

“Orangtua kandungmu meninggal saat kau masih bayi. kamu menjadi yatim piatu di usia dini. Kami sudah memiliki dua anak sendiri dan pamanmu mengatakan kita tidak mampu memberi makan mulut lain tetapi aku bersikeras mengadopsimu, ”katanya.
 
Air mata panas mengalir di wajahku. Betapa jahatnya aku telah memperlakukan seorang wanita malaikat ini. Aku tidak pernah bisa membalas apa yang telah ia lakukan untukku, tetapi aku berjanji untuk mencobanya. Sejak saat itu aku memastikan untuk merawat bibiku.(yant)

Sumber: Goodtimes

Share

Video Popular