Li Yen – The Epochtimes

Bawang putih adalah bumbu yang merupakan bagian penting dari masakan Asia. Tanpa aroma bawang putih yang menyengat, masakan Asia yang membutuhkannya tidak akan terasa enak sebagiamana seharusnya.

Tidak sulit menemukan bawang putih di supermarket dan pasar. Bawang putih sering dikemas dalam paket yang bagus dan terlihat bersih.

Tetapi apakah bawang-bawang ini benar-benar bersih? Pernahkah Anda bertanya-tanya dari mana bawang putih ini berasal? lalu bagaimana diproses? Mengapa tampak sangat putih di permukaaannya?

Seperti yang dinyatakan di situs web Pusat Pemasaran Sumber Daya Pertanian, Tiongkok, sejauh ini merupakan produsen bawang putih terbesar.

Pada tahun 2016, negara ini memproduksi dua pertiga dari 468,8 juta pound bawang putih dunia. Meski demikian, ada hal yang mengganggu banyak orang.

Illustration – Shutterstock | Krasula

Mengutip dari wawancara dengan media Australia, The Age, Henry Bell, dari Australian Garlic Industry Association, beberapa tahun lalu mengatakan bawang putih dari Tiongkok mungkin telah diobati dengan penghambat pertumbuhan untuk mencegahnya tumbuh di rak-rak pusat perbelanjaan, diputihkan dengan klorin untuk mencapai penampilan putihnya yang sempurna, dan difumigasi dengan metil bromida — dibuat wajib oleh hukum Tiongkok — untuk membunuh serangga dan tanaman.

Bell berkata : “Saya tahu benar bahwa beberapa petani bawang putih di sana menggunakan kotoran manusia untuk menyuburkan tanaman mereka.”

Yang lebih mengejutkan, sebagian besar bawang putih yang sudah dikupas sebelumnya mungkin melewati dari olahan tangan tahanan hati nurani di penjara Tiongkok sebagaimana diungkapkan dalam dokumenter Netflix “Rotten”.  Para tahanan ini dikatakan mengupas bawang putih dengan gigi mereka ketika kuku mereka copot.

Rotten Garlic

This episode of a food documentary is more intense than most dramas.

Netflix စာစုတင်ရာတွင် အသုံးပြုမှု ၂၀၁၈၊ ဇန်နဝါရီ ၂၇၊ စနေနေ့

Laporan Minghui.org, sebuah situs web yang menerbitkan laporan langsung terkait dengan penganiayaan terhadap Falun Gong di Tiongkok menyebutkan penjara Tiongkok, kamp kerja paksa, pusat rehabilitasi narkoba, dan pusat penahanan telah berkolusi dengan pedagang untuk melakukan operasi ekonomi yang menyeramkan ini.

Para tahanan dipaksa untuk mengupas bawang putih siang dan malam untuk memenuhi kuota mereka dalam kondisi yang lebih buruk dari dari pada sweatshop. Istilah Sweatshop adalah julukan dari para aktivis untuk pabrik-pabrik yang dianggap memeras keringat pekerjanya atau kondisi kerja yang melanggar hak azasi manusia. 

Paling umum, ada toilet bersama oleh semua narapidana di sel yang sama di mana bawang putih dikupas, dan tidak ada wastafel untuk mencuci tangan.

Pekerjaan ini sangat melelahkan sehingga pada akhirnya, tangan, kaki, dan bibir tahanan membusuk, berdarah, dan mengeluarkan nanah, adalah sebuah fenomena yang biasa.

Kisah nyata yang dialami  oleh Ming Xin, seorang praktisi Falun Gong di Tiongkok. Dia dipenjara secara ilegal pada tahun 2004 hanya karena kedapatan membaca buku Falun Gong.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa , adalah disiplin spiritual bertujuan peningkatan diri secara tradisional dengan latihan meditasi berdasarkan prinsip Sejati-Baik-Sabar. Praktik ini diperkenalkan kepada publik di Tiongkok pada tahun 1992. Latihan ini dengan cepat memperoleh popularitas hingga menyebar dari Tiongkok ke lebih dari 80 negara di dunia.

Ming, meskipun bukan penjahat, ia  terpaksa mengupas bawang putih di Pusat Penahanan Kereta Api Kota Lanzhou di Kota Lanzhou, Provinsi Gansu, Tiongkok.

Ming dalam penjelasannya yang diterbitkan di Minghui pada Januari 2013 mengatakan : “Saya pikir mengupas bawang putih sebagai tugas yang mudah, tapi itu sama sekali tidak seperti yang saya bayangkan.”

Ming melanjutkan : “Kami membuat sarung tangan jari dari kemasan susu untuk melindungi jari kami. Kalau tidak, kuku kami akan  retak, dan getah bawang putih akan masuk ke bawah kuku kami dan membakar kulit kami. ”

Illustration – Shutterstock | abinkung

Ming menambahkan bahwa jika mereka terlalu lambat mengupas bawang putih, mereka akan dicaci dan disiksa oleh penjaga. Teriakan dan ratapan dapat didengar ketika para tahanan disiksa karena gagal memenuhi kuota mereka. Beberapa narapidana akan dipaksa untuk bergadang paling lambat pukul 3 pagi untuk mengupas bawang putih.

Selain itu, mereka akan dihukum jika mereka merusak terlalu banyak bawang putih. “Karena itu, kami tidak punya pilihan selain menyembunyikan yang rusak dari penjaga setiap hari.”

Biasanya, bawang putih yang dikupas tidak diizinkan untuk terbelah. Apa yang telah diamati oleh para praktisi Falun Gong ketika ditahan secara ilegal di penjara-penjara ini adalah bahwa para tahanan melepaskan kemarahan mereka dengan meludah, dan menghembuskan melalui hidung mereka ke bawang putih.

Banyak tahanan di Kamp Kerja Paksa Kabupaten Yuzhong dan beberapa pusat penahanan di Provinsi Gansu menderita sakit. Beberapa menderita penyakit menular, termasuk HIV, hepatitis, dan phthisis (atrofi bagian tubuh).

Di antara para tahanan ada beberapa di antara mereka adalah praktisi Falun Gong yang tidak bersalah. Mereka ditangkap karena keyakinan mereka.

Ketika para praktisi Falun Gong ini menolak untuk bekerja, mengatakan bahwa mereka bukan penjahat, para penjaga menggunakan berbagai cara kejam untuk menghukum mereka – seperti menyetrum mereka dengan tongkat listrik, menyiksa mereka di tempat tidur, membatasi mereka ke sel isolasi kecil dan menambah masa kurungan mereka.

Di Kamp Kerja Paksa Masanjia yang terkenal kejam,  penjaga mengabaikan keamanan makanan dan prosedur sanitasi demi meningkatkan keuntungan semata.

©Minghui

Di sana, narapidana yang dipaksa bekerja pada produk ekspor beracun juga diperintahkan untuk mengupas bawang putih. Kantong-kantong bawang putih diturunkan ke area kerja yang terkontaminasi atau tanah penjara yang penuh dengan residu kimia beracun, debu, dan kerikil.

Siung bawang putih yang sudah dikupas kemudian ditempatkan ke dalam mangkuk dan baskom yang tidak bersih. Sebelumnya pernah digunakan untuk menampung bahan-bahan seni dan kerajinan beracun.

Setiap tahun, truk bermuatan bawang putih yang sudah dikupas terkontaminasi ini dikirim ke luar kamp kerja paksa dan akhirnya dikemas dan dijual ke supermarket, hotel, dan restoran di Tiongkok dan luar negeri.

Walaupun Komunis Tiongkok mengumumkan pada 2013 silam bahwa mereka akan menutup kamp-kamp kerja paksa dan menghapuskan sistem “pendidikan ulang melalui kerja”.

Namun, Amnesty International mengamati perubahan itu hanya kosmetik dan janji belaka. Faktanya, perbudakan kerja paksa masih berlanjut hingga hari ini, seperti diungkapkan oleh Wang Zhiyuan, dari juru bicara World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong – WOIPFG.

Wang kepada Epoch Times mengatakan : “Banyak orang malah dimasukkan ke penjara, Nama pendidikan ulang melalui kerja dibatalkan, tetapi tidak ada perubahan yang sebenarnya.”

Kini bagaimana perasaan Anda tentang bawang putih “Made In China” ?

Ada banyak orang tak bersalah, tahanan hati nurani yang bukan penjahat, masih mendekam di penjara Tiongkok dan dipaksa kerja untuk mengupas bawang putih itu untuk diekspor.

Meskipun pada umumnya lebih murah daripada bawang putih lokal – atau produk murah lainnya yang diproduksi di Tiongkok. 

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular