- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab XII – Menyabotase Pendidikan (Bagian I)

The Epoch Times menerbitkan serial khusus terjemahan dari buku baru berbahasa Tionghoa berjudul Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita

oleh Tim Editorial “Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis”

Roh komunisme tidak lenyap dengan disintegrasi Partai Komunis di Eropa Timur

Daftar ISI

Pengantar

1. Roh Komunisme di Universitas di Barat

a. Keparahan Sayap Kiri di Fakultas-Fakultas Universitas
b. Membentuk Kembali Akademisi Tradisional Dengan Ideologi Komunis
c. Menggunakan Bidang Akademik Baru untuk Penyusupan Ideologis
d. Mempromosikan Radikalisme Kiri
e. Menyangkal Tradisi Amerika yang Hebat
f. Berjuang Melawan Klasik Peradaban Barat
g. Memonopoli Buku Teks dan Seni Liberal
h. Universitas ‘Pendidikan-Ulang’: Cuci Otak dan Kerusakan Moral

Daftar Pustaka

Pengantar

Pendidikan berperan penting dalam membina kesejahteraan dan pemenuhan diri individu, menjaga stabilitas sosial, dan mengamankan masa depan suatu negara. Tidak ada peradaban besar dalam sejarah kemanusiaan yang menganggap remeh pendidikan.

Tujuan pendidikan adalah untuk mempertahankan standar moral umat manusia dan melestarikan kebudayaan manusia yang dianugerahi Tuhan. Ini adalah cara di mana pengetahuan dan pengerjaan diberikan, dan manusia disosialisasikan.

Secara tradisional, manusia yang berpendidikan menghormati Surga, percaya pada dewa, dan berusaha untuk mengikuti nilai kebajikan. Mereka memiliki pengetahuan luas mengenai kebudayaan tradisional serta penguasaan atas satu atau lebih perdagangan. Didedikasikan untuk panggilan hidup mereka, mereka percaya dalam memperlakukan orang lain dengan kebaikan. Mereka berfungsi sebagai pilar masyarakat, elit nasional, dan penjaga peradaban. Karakter dan perilaku mereka yang luar biasa mendapatkan nikmat dan berkah Ilahi.

Untuk menghancurkan umat manusia, roh komunisme bertujuan untuk memutuskan hubungan manusia dengan para dewa. Merusak pendidikan tradisional adalah langkah yang sangat diperlukan. Jadi, komunisme mengadopsi berbagai strategi untuk menyerang dan merusak pendidikan di Timur dan Barat.

Di negara-negara Timur yang memiliki tradisi kebudayaan yang mendalam, penipuan saja tidak cukup untuk menipu seluruh manusia. Komunisme secara sistematis membantai elit tradisional untuk menghentikan para pembawa kebudayaan supaya tidak memberikan warisan tradisi kebudayaannya kepada generasi berikutnya.

Bersamaan dengan itu, roh komunisme membombardir seluruh penduduk dengan propaganda tanpa henti.

Sejarah dan akar kebudayaan Barat adalah relatif sederhana, sehingga memberikan lahan subur bagi komunisme untuk mencemari masyarakat Barat secara rahasia dengan menumbangkan dan menyabotase pendidikan Barat. Faktanya, kerusakan pemuda di Barat jauh lebih parah jika dibandingkan dengan pemuda di Tiongkok.

Selama pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016, fitnah yang sudah berlangsung lama oleh media arus utama dari kandidat konservatif, ditambah dengan jajak pendapat yang menyesatkan yang dilakukan sebelum pemungutan suara, membuat banyak orang kaget — terutama mahasiswa muda — begitu hasil aktual pemilihan diumumkan.

Setelah kemenangan Donald Trump, sebuah fenomena konyol muncul di universitas di seluruh Amerika Serikat. Beberapa mahasiswa merasakan ketakutan, kelelahan, atau trauma emosional akibat pemilihan presiden di mana kelas tempat mereka sedang menuntut ilmu dibatalkan dan ujian dijadwalkan ulang. Untuk meringankan stres dan kecemasan mahasiswa, beberapa universitas terkemuka menyelenggarakan berbagai kegiatan terapi, yang mencakup bermain dengan Play-Doh atau membangun blok, mewarnai, dan meniup gelembung. Beberapa universitas bahkan menyediakan kucing dan anjing peliharaan bagi mahasiswa untuk menghibur mereka. Banyak universitas memberi mahasiswa konseling psikologis, kelompok bantuan terorganisir, dan layanan yang didirikan seperti “pemulihan pasca pemilihan presiden” atau “sumber daya dan dukungan pasca pemilihan presiden.”[1]

Kemustahilan bagaimana proses demokrasi yang normal berubah menjadi lebih menakutkan daripada bencana alam atau serangan teroris menunjukkan kegagalan sistem pendidikan Amerika. Mahasiswa, yang harusnya berpikiran matang dan rasional, menjadi tidak toleran dan kekanak-kanakan ketika dihadapkan dengan perubahan dan kesulitan.

Kegagalan total pendidikan Amerika adalah salah satu hal paling menyedihkan yang terjadi di negara ini dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini menandakan keberhasilan misi komunisme untuk menyusup dan merusak masyarakat Barat.

Bab ini terutama berfokus pada Amerika Serikat sebagai contoh bagaimana pendidikan di masyarakat bebas disabotase oleh komunisme. Pembaca dapat menerapkan logika yang sama untuk menyimpulkan bagaimana pendidikan sedang dirusak di negara-negara lain dalam pembahasan yang sama.

Penyusupan komunis terhadap pendidikan Amerika terwujud setidaknya dalam lima bidang.

Langsung Mempromosikan Ideologi Komunis Di Kalangan Muda. Ideologi komunis secara bertahap mengambil alih akademisi Barat dengan menyusup ke bidang studi tradisional yang penting, serta mengarang ilmu-ilmu baru yang terikat pada pengaruh ideologisnya. Sastra, sejarah, filsafat, ilmu sosial, antropologi, studi hukum, multimedia, dan konsentrasi lainnya dibanjiri dengan berbagai turunan dari teori Marxis. “Kebenaran politik” menjadi pedoman untuk menyensor pemikiran bebas di kampus.

Mengurangi Paparan Generasi Muda ke Kebudayaan Tradisional. Kebudayaan tradisional, pemikiran ortodoks, sejarah asli, dan sastra klasik difitnah dan disingkirkan dalam berbagai cara.

Menurunkan Standar Akademik Dimulai di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Karena pengajaran telah semakin berkurang, siswa dari generasi baru menjadi kurang melek huruf dan secara matematis mampu. Mereka kurang memiliki pengetahuan, dan kemampuan mereka untuk berpikir kritis terhambat. Sulit bagi para siswa ini untuk menangani pertanyaan penting mengenai kehidupan dan masyarakat dengan cara yang logis dan terus terang, dan bahkan lebih sulit bagi mereka untuk melihat melalui tipuan komunisme.

Mengindoktrinasi Siswa Muda Dengan Gagasan Menyimpang. Seiring bertambahnya usia anak-anak ini, konsep yang ditanamkan di dalamnya menjadi begitu kuat sehingga hampir mustahil untuk mengidentifikasi dan memperbaikinya.

Mencekoki Siswa dengan Keegoisan, Keserakahan, dan Sesuka Hatinya. Ini termasuk mengkondisikan siswa untuk menentang otoritas dan tradisi, menggembungkan ego dan rasa memiliki hak mereka, mengurangi kemampuan siswa untuk memahami dan mentolerir pendapat yang berbeda, dan mengabaikan pertumbuhan psikologisnya.

Komunisme telah mencapai tujuannya di hampir semua dari lima bidang tersebut. Ideologi Kiri adalah tren terkemuka di universitas di Amerika. Para sarjana dengan ide yang berbeda telah tersingkirkan dalam posisi mengajar atau dilarang menyuarakan pandangan tradisionalnya.

Empat tahun indoktrinasi intensif membuat lulusan perguruan tinggi memiliki kecenderungan untuk liberalisme dan progresivisme. Mereka cenderung menerima ateisme, teori evolusi, dan materialisme tanpa berpikir dua kali. Mereka menjadi “kepingan salju” yang berpikiran sempit yang tidak memiliki akal sehat dan mengejar gaya hidup hedonistik tanpa bertanggung jawab atas tindakannya. Mereka kurang pengetahuan, memiliki pandangan dunia yang sempit, tahu sedikit atau tidak tahu sama sekali mengenai sejarah Amerika atau dunia, dan telah menjadi sasaran utama penipuan komunis.

Di mata dunia, Amerika Serikat masih menjadi pemimpin di bidang pendidikan. Selama lebih dari seabad, Amerika Serikat telah menjadi negara adikuasa politik, ekonomi, dan militer. Dana untuk pendidikannya jauh melebihi kebanyakan negara. Setelah Perang Dunia II, demokrasi dan kemakmuran Amerika menarik orang-orang berbakat dari seluruh dunia. Program pascasarjana STEM (science technology engineering mathematics) dan sekolah profesional di Amerika Serikat tidak ada duanya.

Namun, krisis sedang berlangsung di Amerika. Proporsi mahasiswa asing dalam program pascasarjana STEM jauh melebihi mahasiswa Amerika, dan kesenjangannya meningkat setiap tahunnya. [2] Hal ini mencerminkan erosi pendidikan dasar, menengah, dan pasca-sekolah menengah di seluruh Amerika Serikat. Para siswa dengan sengaja dibodohi dan dihancurkan. Konsekuensinya sedang berlangsung di depan mata kita, dan masih banyak lagi konsekuensi yang akan datang.

Pembangkang KGB Yuri Bezmenov, yang diperkenalkan di Bab Lima, menjelaskan pada awal tahun 1980-an bagaimana penyusupan ideologis komunis di Amerika hampir selesai: “Bahkan jika anda mulai sekarang, di sini saat ini, anda mulai mendidik generasi baru Amerika, anda masih membutuhkan waktu 15 hingga 20 tahun untuk mengubah gelombang persepsi ideologis realitas kembali menjadi normal.”[3]

Sepertiga abad telah berlalu sejak Yuri Bezmenov memberikan wawancara. Selama periode ini, bahkan ketika kita menyaksikan jatuhnya Uni Soviet dan rezim sosialis lainnya di Eropa Timur, penyusupan dan subversi komunisme di Barat tidak berhenti sama sekali. Unsur-unsur komunis di Barat menetapkan pandangannya pada pendidikan sebagai target utama. Unsur-unsur komunis di Barat mengambil alih institusi di semua tingkatan, mempromosikan teorinya sendiri mengenai pendidikan, ilmu mendidik, dan mengasuh anak.

Harus ditekankan bahwa hampir semua orang di dunia, terutama mereka yang kuliah setelah tahun 1960-an, telah terkena pengaruh komunis. Kemanusiaan dan ilmu sosial adalah yang paling terpengaruh. Walaupun hanya beberapa individu yang secara sengaja mempromosikan ideologi komunis, tetapi sebagian besar orang di bidang ini secara tidak sadar telah diindoktrinasi. Di sini kami mengungkap tujuan komunisme sehingga seseorang dapat mengenali dan menjauhkan diri dari komunisme.

1. Roh Komunisme di Universitas di Barat

a. Keparahan Sayap Kiri di Fakultas-Fakultas Universitas

Salah satu penyebab terpenting dari mahasiswa memeluk ideologi sosialis atau komunis, atau mahasiswa dipengaruhi oleh ideologi radikal seperti feminisme dan lingkunganisme (akan dibahas kemudian dalam buku ini), adalah kenyataan bahwa sebagian besar staf di universitas Amerika bersandar ke Kiri.

Dalam sebuah studi tahun 2007 berjudul “Pandangan Sosial dan Politik Profesor Amerika,” di antara 1.417 anggota fakultas perguruan tinggi penuh-waktu yang disurvei, 44,1 persen menganggap dirinya adalah liberal, 46,1 persen menganggap dirinya adalah moderat, dan hanya 9,2 persen menganggap dirinya adalah konservatif. Di antara mereka, proporsi konservatif di masyarakat universitas sedikit lebih tinggi (19 persen), dan liberal sedikit lebih rendah (37,1 persen).

Di perguruan tinggi seni, 61 persen anggota fakultas adalah liberal, sedangkan konservatif hanya 3,9 persen. Studi ini juga mencatat bahwa anggota fakultas yang hampir pensiun lebih berhaluan Kiri daripada anggota fakultas baru. Dalam kelompok usia 50-64 tahun, 17,2 persen menyatakan diri sebagai aktivis sayap Kiri. Studi ini juga menyatakan bahwa sebagian besar anggota fakultas universitas mendukung hak homoseksualitas dan aborsi. [4]

Studi setelah tahun 2007 juga memastikan para profesor di universitas empat-tahun di Amerika Serikat lebih berhaluan Kiri. Sebuah studi yang diterbitkan di Econ Journal Watch pada tahun 2016 mensurvei pemilih status pendaftaran profesor di departemen sejarah dan ilmu sosial di empat puluh universitas terkemuka di Amerika Serikat. Di antara 7.243 profesor yang disurvei, ada 3.623 profesor adalah Partai Demokrat dan 314 profesor adalah Partai Republik, atau rasio 11,5:1. Di antara lima departemen yang disurvei, departemen sejarah adalah yang paling tidak seimbang, dengan rasio 35:1. Bandingkan ini dengan survei serupa di tahun 1968: Di antara para profesor sejarah pada saat itu, rasio Demokrat:Republik adalah 2,7:1. [5]

Survei lain untuk fakultas universitas empat-tahun pada tahun 2016 menemukan bahwa kecenderungan politis fakultas adalah tidak seimbang, terutama di wilayah New England. Berdasarkan data tahun 2014, survei menemukan bahwa rasio profesor liberal dengan profesor konservatif di perguruan tinggi dan universitas nasional adalah 6:1. Di wilayah New England, rasio ini adalah 28:1.[6] Sebuah studi tahun 2016 oleh Pew Research Center menemukan bahwa 31 persen orang yang pernah belajar di sekolah pascasarjana memiliki pandangan liberal, 23 persen cenderung berpandangan liberal, hanya 10 persen memiliki pandangan konservatif, dan 17 persen cenderung berpandangan konservatif. Studi ini menemukan bahwa sejak tahun 1994, orang-orang yang telah menerima pendidikan tingkat pascasarjana telah meningkat secara bermakna dalam memegang pandangan liberal. [7]

Para sarjana yang menghadiri seminar di American Enterprise Institute pada tahun 2016 mengatakan bahwa sekitar 18 persen ilmuwan sosial di Amerika Serikat menganggap dirinya adalah kaum Marxis, dan hanya 5 persen menganggap dirinya adalah konservatif. [8]

Senator Ted Cruz pernah mengomentari fakultas hukum dari sebuah universitas bergengsi tempat ia pernah menuntut ilmu. “Di fakultas tersebut, lebih banyak yang mendeklarasikan dirinya sebagai Komunis daripada dari Partai Republik. Jika anda meminta mereka untuk memilih apakah negara ini harus menjadi negara sosialis, 80 persen akan memilih ya, dan 10 persen akan berpikir hal tersebut terlalu konservatif,” kata Ted Cruz.[9]

Komunisme memulai memasuki pendidikan Amerika sejak ia berakar di Amerika Serikat. Sejak awal abad ke-20, banyak intelektual Amerika telah menerima ide komunis atau varian sosialis Fabian. [10]

Gerakan kontra-kebudayaan tahun 1960-an menghasilkan sejumlah besar mahasiswa muda anti-tradisional. Dalam tahun-tahun pembentukan orang-orang ini, mereka sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Marxisme dan teori Sekolah Frankfurt. Pada tahun 1973, setelah Presiden Nixon menarik pasukan Amerika dari Perang Vietnam, kelompok-kelompok mahasiswa yang terkait dengan gerakan anti-perang mulai memudar menjadi tidak jelas, karena alasan utama untuk melakukan protes telah hilang. Tetapi radikalisme yang digodok oleh gerakan mahasiswa berskala besar ini tidak lenyap.

Mahasiswa radikal tetap melanjutkan studi pascasarjana di bidang sosial dan budaya — dalam bidang jurnalisme, sastra, filsafat, sosiologi, pendidikan, studi budaya, dan sejenisnya. Setelah menerima gelar tersebut, mereka mulai berkarier di lembaga-lembaga yang paling berpengaruh terhadap masyarakat dan kebudayaan, seperti universitas, media berita, lembaga pemerintah, dan organisasi non-pemerintah. Apa yang membimbing mereka pada waktu itu terutama adalah teori “pawai panjang menuju lembaga-lembaga” yang diajukan oleh seorang Marxis bernama Italia Antonio Gramsci. “Pawai panjang” ini bertujuan untuk mengubah tradisi terpenting peradaban Barat.

Filsuf Sekolah Frankfurt, Herbert Marcuse dianggap sebagai “bapak baptis spiritual” oleh mahasiswa Barat yang memberontak. Pada tahun 1974, Herbert Marcuse menegaskan bahwa Kiri Baru adalah tidak mati, “dan Kiri Baru akan bangkit kembali di universitas.” [11] Faktanya, Kiri Baru tidak hanya berhasil bertahan: Pawai panjang melalui lembaga-lembaga itu adalah sukses besar-besaran. Seperti yang ditulis oleh seorang profesor radikal:

“Setelah Perang Vietnam, banyak dari kami tidak hanya merangkak kembali ke bilik sastra kami; kami melangkah ke posisi akademik. Dengan berakhirnya perang, visibilitas kami hilang, dan tampaknya untuk sementara waktu — bagi yang tidak patuh — bahwa kami telah menghilang. Sekarang kami memiliki masa jabatan, dan pekerjaan membentuk kembali universitas telah dimulai dengan sungguh-sungguh.”[12]

Istilah “radikal kedudukan tetap” diciptakan oleh Roger Kimball dalam bukunya dengan nama yang sama, diterbitkan pada tahun 1989. Istilah ini merujuk pada mahasiswa radikal yang telah aktif dalam gerakan anti-perang, hak sipil, atau feminis tahun 1960-an dan kemudian masuk universitas untuk mengajar dan memperoleh masa jabatan pada tahun 1980-an.

Dari sana, mereka menanamkan sistem nilai politik mereka kepada mahasiswa dan menciptakan generasi baru radikal. Beberapa generasi baru radikal ini menjadi kepala departemen dan dekan. Tujuan karya ilmiah mereka bukan untuk mengeksplorasi kebenaran, tetapi untuk memanfaatkan akademisi sebagai alat untuk merusak peradaban dan tradisi Barat. Mereka bertujuan untuk menumbangkan masyarakat arus utama dan sistem politik dengan menghasilkan lebih banyak revolusioner seperti mereka.

Setelah radikal kedudukan tetap, profesor dapat berpartisipasi dalam berbagai komite dan memiliki suara yang berpengaruh dalam merekrut anggota fakultas baru, menetapkan standar akademik, memilih topik untuk tesis pascasarjana, dan menentukan arah penelitian. Mereka memiliki banyak kesempatan untuk menggunakan kekuasaannya untuk menyingkirkan kandidat yang tidak sesuai dengan ideologi mereka. Karena alasan ini, individu yang lebih berpikiran tradisional yang mengajar dan melakukan penelitian sesuai dengan konsep tradisional terus disingkirkan. Ketika profesor dari generasi yang lebih tua pensiun, mereka yang menggantinya kebanyakan adalah cendekiawan sayap Kiri yang telah diindoktrinasi dengan ide komunis.

Antonio Gramsci, yang menciptakan “pawai panjang melalui lembaga-lembaga,” membagi para intelektual menjadi dua kubu: intelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional adalah tulang punggung yang mempertahankan budaya tradisional dan tatanan sosial, sementara intelektual organik, yang tergabung dalam kelas atau kelompok yang baru muncul, berperan kreatif dalam proses memperjuangkan hegemoni di kelas atau kelompoknya.[13] “Kelas sosial rendah” menggunakan intelektual organik dalam perjalanannya untuk merebut hegemoni kultural dan politis.

Banyak radikal kedudukan tetap mendefinisikan dirinya sebagai “intelektual organik” yang menentang sistem saat ini. Seperti Antonio Gramsci, mereka mengikuti aksioma Marxis: “Para filsuf hanya menafsirkan dunia, dengan berbagai cara. Namun, intinya adalah mengubahnya.”[14]

Dengan cara ini, pendidikan untuk kaum Kiri bukanlah menanamkan esensi pengetahuan dan peradaban manusia, tetapi mengutamakan mahasiswa untuk politik radikal, aktivisme sosial, dan “keadilan sosial.” Setelah lulus dan setelah bergabung dengan masyarakat, para mahasiswa tersebut melampiaskan ketidakpuasannya terhadap sistem masyarakat saat ini dengan cara memberontak terhadap kebudayaan tradisional dan menyerukan revolusi destruktif.

b. Membentuk Kembali Akademisi Tradisional Dengan Ideologi Komunis

Marxisme-Leninisme adalah ideologi penuntun untuk setiap subjek di negara komunis, sementara di Barat, kebebasan akademik adalah fokus utama. Selain standar moral dan norma akademik di mana-mana, tidak boleh ada bias yang mendukung tren intelektual tertentu. Tetapi sejak tahun 1930-an, sosialisme, komunisme, Marxisme, dan Sekolah Frankfurt telah memasuki perguruan tinggi Amerika yang berlaku, sangat mengubah kemanusiaan dan ilmu sosial.

Wacana Revolusioner Menguasai Kemanusiaan di Amerika

Dalam bukunya “Revolusi Korban: Bangkitnya Studi Identitas dan Penutupan Pikiran Liberal,” Bruce Bawer bertanya kepada Alan Charles Kors, seorang sejarawan di Universitas Pennsylvania, mengenai tiga orang yang ia pikir memiliki paling berpengaruh terhadap kemanusiaan di Amerika Serikat. Dengan jeda, Alan Charles Kors menyebut tiga buku: “Buku Catatan Penjara” karya Antonio Gramsci, “Ilmu Mendidik Orang-Orang Tertindas,” karya Paulo Freire, dan “Keburukan Bumi” karya Frantz Fanon.

Antonio Gramsci, seorang Marxis Italia, tidak membutuhkan pengenalan lebih lanjut karena karyanya telah dijelaskan dalam bab-bab sebelumnya. Paulo Freire, seorang ahli teori pendidikan Brasil, yang mengagumi Lenin, Mao Zeding, Fidel Castro, dan Che Guevara. “Ilmu Mendidik Orang-Orang Tertindas” milik Paulo Freire, yang diterbitkan pada tahun 1968 dan dicetak ulang dalam bahasa Inggris dua tahun kemudian, telah menjadi bagian dari bacaan wajib untuk lembaga akademik di Amerika Serikat.

Bruce Bawer mengutip pendidik Sol Stern, yang mengatakan bahwa “Ilmu Mendidik Orang-Orang Tertindas” tidak peduli dengan masalah pendidikan tertentu, tetapi lebih merupakan “saluran politik utopis yang menyerukan penggulingan hegemoni kapitalis dan penciptaan masyarakat tanpa kelas.” [16] Pekerjaan Paulo Freire tidak lebih dari mengulangi sudut pandang tertentu, yaitu hanya ada dua jenis manusia di dunia: penindas dan yang tertindas. Maka, manusia yang tertindas harus menolak pendidikannya, disadarkan karena keadaannya yang menyedihkan, dan bangkit untuk memberontak.

Frantz Fanon lahir di pulau Martinique di Laut Karibia dan bergabung dengan perang Aljazair melawan pemerintahan kolonial Prancis. Karyanya, “Keburukan Bumi,” diterbitkan pada tahun 1961, dengan kata pengantar oleh eksistensialis dan komunis Perancis Jean-Paul Sartre. Jean-Paul Sartre merangkum teorinya sebagai berikut: Penjajah Barat adalah perwujudan kejahatan; sedangkan orang non-Barat pada dasarnya mulia karena mereka dijajah dan dieksploitasi.

Frantz Fanon meminta rakyat di koloni untuk memberontak melawan kelas penguasa kolonial, menggunakan kekerasan sebagai titik temu mereka. Ia mengatakan bahwa pada tingkat individu, kekerasan adalah kekuatan pembersihan. “Ini membebaskan orang pribumi dari rasa rendah diri dan dari keputusasaan serta kelambanannya; hal tersebut membuatnya tidak takut dan mengembalikan harga dirinya.”[17]

Memeluk ide Frantz Fanon, Jean-Paul Sartre menulis dalam kata pengantar: “Karena pada hari-hari pertama pemberontakan anda harus membunuh: menembak jatuh satu orang Eropa berarti membunuh dua burung dengan satu batu, untuk menghancurkan seorang penindas dan orang yang ia tindas pada saat yang sama: Tetap ada orang yang mati, dan ada orang yang bebas; ada orang yang selamat, untuk pertama kalinya, merasakan tanah nasional di bawah kakinya.”[18] Gagasan Antonio Gramsci, Paulo Freire, dan Frantz Fanon adalah narasi menipu yang membujuk orang untuk menganggap sejarah dan masyarakat melalui kacamata perjuangan kelas. Begitu percikan kebencian kelas memasuki hatinya, mahasiswa belajar untuk membenci dan menentang struktur dan cara kerja masyarakat yang normal, di mana solusi yang tak terelakkan adalah pemberontakan dan revolusi.

Ahli teori atau aliran pemikiran mana yang memiliki pengaruh terbesar pada kemanusiaan dan ilmu sosial di perguruan tinggi Amerika adalah masalah perdebatan. Bagaimanapun juga, yang jelas adalah bahwa Marxisme, Sekolah Frankfurt, teori Freudian, dan pasca-modernisme (yang bekerja berdampingan dengan komunisme dalam menghancurkan kebudayaan dan moralitas) telah mendominasi bidang ini.

Teori Komunis Menembus Akademisi

Sejak tahun 1960-an, disiplin penelitian sastra di Amerika Serikat telah mengalami perubahan paradigma mendasar di berbagai sub-bidangnya, seperti sastra Inggris, sastra Prancis, dan sastra komparatif. Secara tradisional, kritikus sastra menghargai nilai moral dan estetika dari karya-karya klasik, menganggap sastra sebagai sumber penting untuk memperluas wawasan pembaca, mengembangkan karakter moralnya, dan menumbuhkan selera intelektualnya. Sebagai prinsip, teori sastra akademis adalah yang kedua setelah sastra itu sendiri, berfungsi sebagai bantuan untuk pemahaman dan interpretasinya.

Menanamkan tren populer dalam filsafat, psikologi, dan kebudayaan, berbagai jenis teori sastra baru muncul dalam komunitas akademik selama puncak kontra-kebudayaan di tahun 1960-an. Hubungan antara teori dan sastra dilemparkan secara terbalik karena karya aktual direduksi menjadi bahan untuk memvalidasi pendekatan interpretatif modern.[19]

Apa hakekat teori-teori ini? Secara bersama-sama, teori-teori akademis modern membuat kekacauan disiplin akademik tradisional, seperti filsafat, psikologi, sosiologi, dan psikoanalisis, dalam penggambaran kemerosotan masyarakat dan kebudayaannya. Seperti yang dikatakan oleh ahli teori sastra, Jonathan Culler: “Teori sering kali merupakan kritik yang menyebalkan terhadap akal sehat, dan lebih jauh, upaya untuk menunjukkan bahwa apa yang kita anggap remeh sebagai ‘akal sehat’ sebenarnya adalah konstruksi sejarah, khususnya teori yang kelihatannya sangat alami bagi kita sehingga kita bahkan tidak melihatnya sebagai teori.”[20]

Dengan kata lain, teori-teori akademis modern meremehkan, membalikkan, dan menghancurkan pemahaman mengenai benar dan salah, baik dan jahat, keindahan dan keburukan yang berasal dari keluarga tradisional, agama, dan etika, sementara menggantinya dengan sistem jahat tanpa memiliki nilai positif.

Mengupas kemasan akademik labirinnya, teori-teori ini disebut tidak lebih dari campuran klasik dan neo-Marxisme, Sekolah Frankfurt, psikoanalisis, dekonstruksionisme, pasca-strukturalisme, dan pasca-modernisme. Bersama-sama teori-teori ini membentuk poros yang bertujuan untuk menghancurkan fondasi peradaban manusia dan berfungsi sebagai kamuflase bagi komunisme untuk mencuri ke akademia Barat. Sejak tahun 1960-an, komunisme telah membuat terobosan cepat di bidang seperti sastra, sejarah, dan filsafat, membangun dominasinya dalam kemanusiaan dan ilmu sosial.

“Teori” seperti yang telah dibahas kurang lebih sama dengan “teori kritis.” Permutasi termasuk studi kritis yang baru muncul mengenai hukum, ras, gender, masyarakat, sains, kedokteran, dan sejenisnya. Peresapannya adalah manifestasi dari ekspansi sukses komunisme ke bidang akademik dan pendidikan, merusak anak muda dengan pemikiran menyimpang dan meletakkan jalan bagi penghancuran umat manusia yang akhirnya terjadi.

Politisasi Penelitian Sastra

Dari perspektif kritikus sastra Marxis, pentingnya teks sastra tidak terletak pada nilai intrinsiknya, melainkan pada bagaimana hal tersebut mencerminkan bahwa ideologi kelas penguasa — misalnya dalam hal jenis kelamin atau ras — menjadi kelas yang dominan. Dari perspektif ini, klasik dikatakan tidak memiliki nilai intrinsik sama sekali. Seorang ahli teori sastra Marxis Amerika langsung menyatakan bahwa “perspektif politik” merupakan “cakrawala absolut dari semua bacaan dan semua interpretasi.” [21] Dengan kata lain, semua karya sastra harus diperlakukan sebagai alegori politik, dan hanya ketika makna kelas, ras, jenis kelamin, atau penindasan seksual yang lebih dalam tidak ditemukan dapatkah pemahaman seseorang dianggap mendalam atau memenuhi syarat.

Rakyat negara komunis akrab dengan kritik sastra dogmatis semacam ini. Pemimpin komunis Tiongkok Mao Zedong mengevaluasi “Mimpi Rumah Mewah Berwarna Merah,” salah satu dari empat klasik Tiongkok yang hebat, sebagai berikut: “Empat keluarga, perjuangan kelas yang sengit, dan beberapa lusin kehidupan manusia.”

Di negara komunis, wacana sastra tidak selalu terbatas pada perdebatan menara gading yang beradab dan canggih. Kadang wacana sastra dapat berubah menjadi dorongan untuk perjuangan berdarah. Menanggapi seruan Mao Zedong untuk belajar dari pejabat Dinasti Ming bernama Hai Rui yang jujur dan tulus, sejarawan Wu Han menulis drama panggung “Hai Rui Dipecat.”

Pada tanggal 10 November 1965, Shanghai Wenhui News menerbitkan ulasan kritis dari drama tersebut. Ulasan tersebut ditulis oleh Yao Wenyuan dan direncanakan bersama oleh istri keempat Mao Zedong bernama Jiang Qing, dan ahli teori radikal Zhang Chunqiao. Dikatakan bahwa “Hai Rui Dipecat” adalah singgungan kepada Peng Dehuai, seorang jenderal Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok yang disingkirkan karena menentang “Tiga Bendera Merah” – tiga kebijakan Partai Komunis Tiongkok mengenai Garis Umum untuk Konstruksi Sosialis, Lompatan Jauh ke Depan, dan Komune Rakyat. (Tiga kebijakan ini menyebabkan Kelaparan Hebat di Tiongkok.) Kritik terhadap “Hai Rui Dipecat” menjadi sumbu yang memicu kebrutalan selama sepuluh tahun Revolusi Kebudayaan.

Pendekatan kasar komunis Tiongkok untuk menafsirkan semua karya sastra dalam hal perjuangan kelas dapat dikontraskan dengan kritik sastra yang jauh lebih halus yang ditemukan di perguruan tinggi Barat selama beberapa dekade terakhir.

Kritik sastra neo-Marxis Barat bagaikan virus yang menjadi lebih ganas dan lebih mematikan melalui mutasi tanpa akhir. Kritik sastra neo-Marxis Barat mengadaptasi teori lain sebagai senjatanya, menyeret karya-karya besar kebudayaan manusia — dari klasik Yunani dan Roma hingga novel karya Dante, Shakespeare, dan zaman Victoria — untuk dibedah dan dikonfigurasi ulang. Meskipun jenis komentar ini menggunakan jargon misterius untuk membuat lapisan kecanggihan, argumen utama biasanya bermuara pada tuduhan prasangka terhadap kelas, wanita, atau etnis minoritas yang dicabut haknya.

Kritik modern menyebut karya-karya ini sebagai milik suprastruktur kelas penguasa, dan menggambarkannya sebagai berefek mematikan massa pada saat mereka menindas dan mencegah mereka mencapai kesadaran kelas revolusioner. Seperti yang dikatakan oleh sarjana bahasa Inggris Roger Scruton, “Metode teoritikus sastra yang baru benar-benar merupakan senjata subversi: Upaya untuk menghancurkan pendidikan manusiawi dari dalam, untuk memutus rantai simpati yang mengikat kita pada kebudayaan kita.” [22]

Teori Ideologi Marxis

“Ideologi” adalah konsep inti kemanusiaan yang dipengaruhi Marxis. Karl Marx memandang moralitas, agama, dan metafisika secara kolektif sebagai ideologi. Karl Marx percaya bahwa ideologi dominan dalam masyarakat berbasis-kelas adalah ideologi kelas penguasa, dan bahwa nilai-nilainya tidak mencerminkan kenyataan sebagaimana adanya, tetapi sebaliknya. [23]

Neo-Marxisme abad kedua puluh telah menjadikan perusakan kebudayaan sebagai tahap revolusi yang diperlukan dan membuat referensi luas ke ideologi dalam sastranya. Marxis Hongaria Georg Lukács mendefinisikan ideologi sebagai “kesadaran palsu” sebagai lawan dari “kesadaran kelas.” Marxis Prancis Louis Althusser mengusulkan konsep “aparat negara ideologis,” yang meliputi agama, pendidikan, keluarga, hukum, politik, serikat buruh, komunikasi, kebudayaan, dan sebagainya, yang akan bekerja bersama dengan aparat negara yang brutal.

Kecanggihan yang licik dapat ditemukan dalam konsep ideologi. Setiap masyarakat atau sistem memiliki kekurangannya yang harus dijelaskan dan diperbaiki. Namun, Louis Althusser dan kaum Marxis lainnya tidak peduli dengan masalah khusus. Sebaliknya, mereka menolak sistem secara keseluruhan dengan alasan bahwa sistem tersebut adalah struktur yang didirikan dan dikelola oleh kelas yang berkuasa untuk menjaga kepentingannya.

Penyingkiran adalah aspek penting dari fiksasi Marxis pada ideologi, dan dapat dilihat dalam kritik ideologis Louis Althusser yang rumit. Bukannya memeriksa keunggulan yang terbukti dari argumen, pendekatan ideologis bergantung pada menuduh lawan menyembunyikan motif tersembunyi atau dari latar belakang yang salah. Sama seperti tidak ada yang dapat minum air dari sumur yang diracuni, membuat seseorang terkena desas-desus atau terkena bentuk pembunuhan karakter lainnya membuat pendapatnya tidak dapat diterima oleh publik — tidak peduli seberapa masuk akal atau logis pendapatnya tersebut.

Konsep Louis Althusser yang mencakup semuanya mengenai “aparatur negara ideologis” mencerminkan penghinaan ekstrem komunisme terhadap masyarakat manusia — tidak ada yang dapat diterima, kecuali penolakan dan penghancuran total. Ini adalah manifestasi tujuan komunisme untuk memberantas kebudayaan manusia.

Konsep ideologi Marxis bertumpu pada dalil yang keliru, abstrak, umum, dan berlebihan yang bertujuan membersihkan nilai-nilai moral tradisional. Sambil menutupi niat mereka yang sebenarnya dengan mengungkapkan kemarahan moral yang tampak, para Marxis telah menipu dan memengaruhi banyak orang.

Marxisme Pasca-modern

Pada awal 1960-an, sekelompok filsuf Prancis menciptakan apa yang segera menjadi senjata ideologis paling kuat untuk Marxisme dan komunisme dalam komunitas akademik Amerika. Perwakilan mereka di antaranya adalah Jacques Derrida dan Michel Foucault, dan data terbaru memberikan beberapa gambaran pengaruh mereka hari ini.
Pada tahun 2007, Michel Foucault adalah penulis kemanusiaan yang paling banyak dikutip, dikutip sebanyak 2.521 kali. Jacques Derrida berada pada peringkat ketiga, dikutip sebanyak 1.874 kali. [24] Telah dilakukan pengamatan yang membuka mata mengenai hubungan antara pasca-modernisme dengan Marxisme. [25] Kami merasa cenderung untuk menyebut mereka secara kolektif sebagai Marxisme pasca-modern.

Fakta bahwa bahasa memiliki dua makna dan beragam arti, dan bahwa sebuah teks mungkin memiliki interpretasi yang berbeda, telah menjadi pengetahuan umum setidaknya sejak zaman Yunani kuno dan pra-kekaisaran Tiongkok.

Teori dekonstruksi Jacques Derrida adalah tipuan rumit yang menggabungkan ateisme dan relativisme dan bekerja dengan membesar-besarkan ambiguitas bahasa untuk mengacaukan teks bahkan teks yang artinya jelas dan terdefinisi dengan baik.

Tidak seperti ateisme konvensional, Jacques Derrida mengekspresikan pandangannya dalam bahasa para filsuf. Akibatnya, sudut pandangnya tidak hanya merusak gagasan mengenai Tuhan, tetapi juga merusak konsep rasionalitas, otoritas, dan makna yang dikaitkan dengan kepercayaan tradisional, ketika para ahli teori yang sejalan dengan Jacques Derrida melaksanakan dekonstruksi mereka terhadap istilah-istilah ini. Setelah menipu banyak orang dengan melapis bagian luar kedalaman intelektualnya, teori dekonstruksionis merajalela di seluruh umat manusia dan menjadikannya sebagai salah satu alat komunisme yang paling ampuh untuk menghancurkan keyakinan, tradisi, dan kebudayaan.

Michel Foucault pernah bergabung dengan Partai Komunis Prancis. Inti teori Michel Foucault berkisar pada gagasan bahwa tidak ada kebenaran, yang ada hanyalah kekuatan. Karena kekuasaan memonopoli hak untuk menafsirkan kebenaran, segala sesuatu yang mengaku kebenaran adalah munafik dan tidak dapat dipercaya. Dalam bukunya “Discipline and Punish,” Michel Foucault mengajukan pertanyaan berikut: “Apakah mengejutkan bahwa penjara menyerupai pabrik, sekolah, barak, rumah sakit, di mana semuanya itu menyerupai penjara?” [26] Dalam menyamakan institusi masyarakat yang sangat dibutuhkan dengan penjara dan berseru pada rakyat untuk menggulingkan “penjara-penjara ini,” Michel Foucault menjelaskan sifat antisosial teorinya.

Dipersenjatai dengan senjata dekonstruksi, teori Michel Foucault, dan teori kritis lainnya, para sarjana telah menstigma tradisi dan moralitas dengan merelatifkan semuanya. Mereka berkembang dengan aksioma seperti “semua penafsiran adalah penafsiran yang salah,” “tidak ada kebenaran, yang ada hanyalah penafsiran,” atau “tidak ada fakta, yang ada hanyalah penafsiran.” Mereka telah merelatifkan pemahaman konsep dasar seperti kebenaran, kebaikan, keindahan, keadilan, dan seterusnya, lalu membuangnya sebagai sampah.

Para mahasiswa muda yang memasuki fakultas seni liberal tidak berani mempertanyakan otoritas instrukturnya. Tetap berpikiran jernih di bawah pemboman ideologis berkelanjutan yang mengikuti adalah tetap lebih sulit. Setelah diarahkan untuk mempelajari teori Marxis pasca-modern, sulit untuk membuat mahasiswa muda berpikir dengan cara lain. Ini adalah sarana utama di mana ideologi komunis telah mampu digunakan untuk mengacaukan kemanusiaan dan ilmu sosial.

c. Menggunakan Bidang Akademik Baru untuk Penyusupan Ideologis

Dalam masyarakat yang sehat, studi mengenai wanita atau penelitian terhadap ras yang berbeda mencerminkan kemakmuran komunitas akademik, tetapi setelah gerakan kontra-kebudayaan pada tahun 1960-an, beberapa kaum radikal memanfaatkan disiplin baru ini untuk menyebarkan ide mereka yang berhaluan Kiri di universitas dan lembaga penelitian. Sebagai contoh, beberapa sarjana percaya bahwa pembentukan departemen yang didedikasikan untuk studi Afrika-Amerika bukan karena permintaan yang melekat untuk pembagian akademik seperti itu, melainkan hasil dari pemerasan politik. [27]

Pada tahun 1968, pemogokan mahasiswa memaksa San Francisco State College ditutup. Di bawah tekanan Black Student Union, perguruan tinggi tersebut mendirikan Departemen Studi Afrika, yang pertama dari jenisnya di Amerika Serikat. Departemen Studi Afrika terutama diimpikan sebagai sarana untuk mendorong mahasiswa kulit hitam, dan seiring dengan itu muncul ilmu Afrika-Amerika yang unik. Prestasi ilmuwan kulit hitam dibawa ke garis depan, dan materi kelas diubah untuk lebih banyak menyebutkan Afrika-Amerika. Matematika, sastra, sejarah, filsafat, dan mata pelajaran lain mengalami modifikasi serupa.

Pada bulan Oktober 1968, 20 anggota Black Student Union menyebabkan kampus lain di Universitas California-Santa Barbara ditutup ketika mereka menduduki pusat komputer kampus. Setahun kemudian, universitas tersebut mendirikan Departemen Studi Kulit Hitam dan Pusat Penelitian Kulit Hitam.
Pada bulan April 1969, lebih dari seratus mahasiswa kulit hitam di Universitas Cornell menduduki gedung administrasi sekolah, mengayunkan senapan dan amunisi, untuk menuntut pembentukan Departemen Penelitian Kulit Hitam yang hanya dikelola oleh orang kulit hitam. Ketika seorang dosen datang untuk menghentikan mereka, seorang pemimpin mahasiswa mengancam bahwa Universitas Cornell “memiliki waktu tiga jam untuk hidup.” Universitas Cornell akhirnya menyerah kepada mahasiswa kulit hitam tersebut dan mendirikan Departemen Penelitian Kulit Hitam ketiga di Amerika Serikat. [28]

Shelby Steele, yang kemudian menjadi peneliti senior di Institut Hoover di Universitas Stanford, pernah menjadi pendukung pembentukan Departemen Penelitian Kulit Hitam di universitas. Ia mengatakan bahwa para pemimpin universitas sebagai orang kulit putih merasa sangat bersalah sehingga mereka menyetujui permintaan dari perwakilan serikat mahasiswa kulit hitam. [29] Pada saat yang sama, studi mengenai wanita, studi mengenai Amerika Latin, studi mengenai homoseksual, dan sebagainya diperkenalkan ke universitas-universitas Amerika dan sekarang ada di mana-mana.

Dasar pikiran dari studi mengenai wanita adalah bahwa perbedaan jenis kelamin bukanlah hasil dari perbedaan biologis, tetapi lebih merupakan konstruksi sosial. Diduga bahwa wanita telah lama ditindas oleh pria dan patriarki, bidang studi wanita memiliki misi untuk memicu kesadaran sosial wanita, membawa perubahan dan revolusi sosial secara keseluruhan, sesuai dengan perspektif ini.

Seorang profesor feminis di Universitas California – Santa Cruz tumbuh dalam keluarga komunis yang terkenal. Ia dengan bangga menunjukkan kepercayaannya sebagai seorang komunis dan aktivis lesbian. Sejak tahun 1980-an, ia telah mengajarkan feminisme dan menganggap orientasi seksualnya sebagai semacam gaya hidup untuk membangkitkan kesadaran politik. Inspirasinya untuk menjadi profesor adalah seorang rekan komunis, yang mengatakan kepadanya bahwa itu adalah misinya untuk melakukannya. Dalam sebuah pernyataan publik, ia berkata bahwa “mengajar menjadi suatu bentuk aktivisme politik untuk saya.” Ia mendirikan Departemen Studi Feminis di Universitas California – Santa Cruz. [30] Dalam salah satu silabusnya, ia menulis bahwa homoseksualitas wanita adalah “bentuk feminisme tertinggi.”[31]

Universitas Missouri telah merancang programnya kepada mahasiswa unggulan untuk melihat masalah feminisme, sastra, gender, dan perdamaian dari posisi kaum Kiri. Misalnya, kursus Outlaw Gender melihat jenis kelamin sebagai “kategori buatan yang diproduksi oleh kebudayaan tertentu,” daripada diproduksi secara alami. Hanya satu sudut pandang yang ditanamkan pada mahasiswa — narasi penindasan berbasis gender dan diskriminasi terhadap identitas multi-gender. [32]

Seperti dibahas dalam Bab Lima, gerakan anti-perang di dunia Barat setelah Perang Dunia II sangat dipengaruhi oleh penyusup komunis. Dalam beberapa dekade terakhir, subjek baru, Studi Perdamaian, telah muncul di universitas-universitas Amerika. Sarjana David Horowitz dan Jacob Laksin mempelajari lebih dari 250 organisasi yang memiliki koneksi ke bidang akademik baru. Mereka menyimpulkan bahwa organisasi-organisasi ini bersifat politis, bukan bersifat akademis, dan tujuan mereka adalah merekrut para mahasiswa ke Kiri anti-perang. [33]

Mengutip buku teks populer “Peace and Conflict Studies,” atau “Studi Perdamaian dan Konflik,” David Horowitz dan Jacob Laksin menjabarkan motivasi ideologis lapangan. Buku teks tersebut menggunakan argumen Marxis untuk menjelaskan masalah kemiskinan dan kelaparan. Penulis mengutuk pemilik tanah dan pedagang pertanian, mengklaim bahwa keserakahan mereka menyebabkan kelaparan ratusan juta orang. Meskipun intinya adalah menentang kekerasan, ada satu bentuk kekerasan yang tidak ditentang oleh penulis, dan pada kenyataannya memuji – kekerasan yang dilakukan selama revolusi kelas sosial bawah.

Sebuah bagian dari “Studi Perdamaian dan Konflik” mengatakan sebagai berikut: “Sementara Kuba jauh dari surga duniawi, dan hak-hak individu dan kebebasan sipil tertentu belum dipraktikkan secara luas, kasus Kuba menunjukkan bahwa revolusi dengan kekerasan kadang dapat menghasilkan peningkatan secara umum kondisi hidup banyak orang.” Buku itu tidak menyebutkan kediktatoran Fidel Castro atau akibat bencana Revolusi Kuba.

Sejak ditulis setelah kejadian tanggal 11 September 2001, “Studi Perdamaian dan Konflik” juga menyentuh masalah terorisme. Anehnya, para penulisnya tampaknya sangat simpati pada para teroris sehingga istilah “teroris” dimasukkan dalam tanda kutip. Para penulisnya membela sikapnya dengan mengatakan: “Menempatkan‘ teroris “dalam tanda kutip mungkin menggelegar bagi beberapa pembaca, yang menganggap penunjukan itu adalah jelas. Namun, kami melakukannya bukan untuk meminimalkan kengerian tindakan seperti itu tetapi untuk menekankan nilai kualifikasi kemarahan orang benar dengan pengakuan bahwa seringkali satu orang ‘teroris’ adalah ‘pejuang kebebasan’ lainnya.” [34]

Akademisi harus objektif dan menghindari menyembunyikan agenda politik. Bidang-bidang akademik baru ini telah mengadopsi pendirian ideologis: Profesor studi wanita harus merangkul feminisme, sementara profesor yang terlibat dalam studi kulit hitam harus percaya bahwa kesulitan politik, ekonomi, dan budaya Afrika-Amerika dihasilkan akibat diskriminasi oleh orang kulit putih. Keberadaan mereka bukan untuk mengeksplorasi kebenaran, tetapi untuk mempromosikan narasi ideologis.

Mata pelajaran baru ini adalah produk sampingan dari revolusi kebudayaan Amerika. Setelah didirikan di universitas, mata pelajaran baru ini berkembang dengan menuntut lebih banyak anggaran dan merekrut lebih banyak mahasiswa, yang semakin memperkuat mata pelajaran ini. Mata pelajaran baru ini sudah tertanam dalam di dunia akademis.

Bidang-bidang akademik baru ini diciptakan oleh orang-orang yang beritikad buruk yang bertindak di bawah pengaruh ideologi komunis. Tujuan mereka adalah untuk memicu dan memperluas konflik di antara kelompok yang berbeda dan untuk menghasut kebencian dalam persiapan untuk revolusi kekerasan. Mereka memiliki sedikit hubungan dengan rakyat (Afrika-Amerika, wanita, atau orang lain) yang mereka klaim sebagai pendukung.

d. Mempromosikan Radikalisme Kiri

Dalam buku “One-Party Classroom: How Radical Professors at America’s Top Colleges Indoctrinate Students and Undermine Our Democracy,” David Horowitz dan Jacob Laksin mendaftarkan sekitar 150 kursus aliran Kiri yang ditawarkan di 12 universitas. Kursus-kursus ini menutupi niat politiknya dengan bahasa ilmiah, tetapi beberapa dari kursus ini bahkan mengabaikan prinsip akademik dasar, sehingga menjadikannya sangat mirip dengan kursus politik yang diwajibkan di negara komunis.

Universitas California – Santa Cruz menawarkan kursus seminar Teori dan Praktek Perlawanan dan Gerakan Sosial. Deskripsi kursus seminar ini adalah sebagai berikut: “Tujuan seminar ini adalah untuk belajar bagaimana mengatur revolusi. Kami akan mempelajari apa yang telah dilakukan oleh masyarakat di masa lalu dan apa yang sedang dilakukan oleh masyarakat saat ini untuk melawan, menantang, dan mengatasi sistem kekuasaan termasuk (tetapi tidak terbatas pada) kapitalisme global, penindasan negara, dan rasisme.”[35]

Bill Ayers, dengan gelar Profesor Terhormat di Universitas Illinois di Chicago, adalah radikal era 1960-an dan pemimpin Weather Underground, yang awalnya bernama Weatherman, yang merupakan faksi Mahasiswa untuk Masyarakat Demokratis. Pada tahun 1969, Weatherman bergerak di bawah tanah dan menjadi organisasi teroris domestik pertama di Amerika Serikat. Ini mendedikasikan upayanya untuk mengorganisir mahasiswa radikal, yang mengambil bagian dalam kegiatan teroris yang dirancang untuk mengobarkan konflik rasial.

Kelompok Weatherman melakukan pemboman terhadap Capitol, Markas Besar Kepolisian New York City, Pentagon, dan kantor Garda Nasional Amerika Serikat. Seperti kutipan terkenal dari Bill Ayers: “Bunuh semua orang kaya. Hancurkan mobil dan apartemen mereka. Bawa pulang revolusi ke rumah, bunuh kedua orangtuamu.”[36] Publikasi akademik Bill Ayers adalah konsisten dengan resume-nya. Dalam tulisannya, Bill Ayers berpendapat bahwa kita harus mengatasi “prasangka” kita mengenai pelaku kekerasan remaja. [37]

Jaring progresif sayap Kiri berhasil mencegah FBI menangkap Bill Ayers. Bill Ayers muncul kembali pada tahun 1980 dan mengelak hukum untuk menghindari peradilan pidana. Ia menjadi anggota fakultas di Universitas Illinois – Chicago, tempat ia belajar pendidikan anak usia dini. Pandangan politiknya tidak berubah, dan ia tidak menunjukkan penyesalan atas serangan terorisnya. Bill Ayers berturut-turut menjadi profesor madya, profesor, dan akhirnya mencapai kedudukannya yang sekarang sebagai Profesor Terhormat. Ia juga menerima gelar Sarjana Universitas Senior, kehormatan tertinggi lembaga tersebut.

Setiap gelar yang diterima Bill Ayer adalah hasil keputusan bersama dari rekan-rekannya di departemen tersebut. Hal ini mencerminkan pengakuan dan dukungan universitas secara diam-diam untuk masa lalu terorisnya.

E. Menyangkal Tradisi Amerika yang Hebat

Sekelompok mahasiswa yang terlibat secara politis di kampus Universitas Teknologi Texas melakukan survei di kampus pada tahun 2014 dengan mengajukan tiga pertanyaan: “Siapa yang memenangkan Perang Sipil?” “Siapa wakil presiden kita?” dan “Dari siapa kita mendapatkan kemerdekaan?” Banyak mahasiswa tidak tahu jawabannya, padahal seharusnya pertanyaan tersebut adalah pengetahuan umum. Sementara tidak mengetahui fakta-fakta dasar mengenai politik dan sejarah negara mereka, para mahasiswa sangat mengenal detail bintang film dan skandal percintaan bintang film tersebut. [38]

Pada tahun 2008, Intercollegiate Studies Institute melakukan survei acak terhadap 2.508 orang Amerika dan menemukan bahwa hanya setengah yang dapat menyebutkan ketiga cabang pemerintahan. [39] Menjawab 33 pertanyaan kewarganegaraan secara langsung, 71 persen responden menerima skor rata-rata 49 persen, sebuah tanda gagal. [40]

Mempelajari sejarah Amerika bukan hanya proses memahami bagaimana bangsa itu didirikan, tetapi juga proses memahami nilai-nilai seperti apa bangsa itu dibangun dan apa yang diperlukan untuk melestarikan tradisi ini. Hanya dengan begitu rakyatnya akan menghargai apa yang mereka miliki hari ini, melindungi warisan nasional, dan meneruskannya ke generasi berikutnya.
Lupa sejarah sama dengan menghancurkan tradisi. Rakyat yang tidak mengetahui tugas kewarganegaraannya memungkinkan terbentuknya pemerintahan totaliter. Seseorang bingung apa yang terjadi dengan sejarah Amerika dan pendidikan kewarganegaraan Amerika? Jawabannya ada di buku teks yang digunakan siswa dan di guru mereka.

Penganut Marxisme Howard Zinn adalah penulis sebuah buku sejarah populer berjudul “A People’s History of the United States.” Buku ini berkisar pada dasar pikiran bahwa semua tindakan heroik dan episode inspiratif dari sejarah Amerika adalah kebohongan yang tak tahu malu, dan bahwa sejarah sebenarnya dari Amerika Serikat adalah perjalanan gelap penindasan, perampasan, dan genosida. [41]

Seorang profesor ekonomi di sebuah universitas di Boston percaya bahwa para teroris yang merupakan musuh Amerika Serikat adalah pejuang kebebasan sejati, dan bahwa Amerika Serikat adalah kejahatan sejati. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada tahun 2004, ia menyamakan para teroris yang melakukan serangan 11 September 2001 dengan para pemberontak Amerika, pada tahun 1775, yang menembakkan tembakan pertama di Lexington dan memulai Perang untuk Kemerdekaan. [42]

F. Berjuang Melawan Klasik Peradaban Barat

Pada tahun 1988, mahasiswa dan dosen radikal di Universitas Stanford memprotes kursus Peradaban Barat. Mereka meneriakkan, “Hei, hei, ho, ho! Enyahlah peradaban Barat!” Universitas Stanford memenuhi tuntutan para pengunjuk rasa dan menggantikan Peradaban Barat dengan kursus Kebudayaan, Ide, Nilai, dengan karakteristik multikultural yang jelas. Sementara kursus baru tidak menghapus beberapa kebudayaan klasik Barat seperti Homer, Plato, St. Augustine, Dante Alighieri, dan Shakespeare, kursus ini memang mengharuskan kursus harus mencakup karya-karya dari beberapa wanita, kelompok minoritas, dan kelompok rakyat yang dianggap telah mengalami penindasan.

Kemudian Menteri Pendidikan Amerika Serikat William Bennett mengutuk perubahan tersebut sebagai kurikulum dengan intimidasi. Meskipun demikian, banyak universitas terkemuka melakukan hal yang sama, dan perguruan tinggi yang lebih rendah mengikutinya agar tidak ketinggalan. Dalam beberapa tahun, pendidikan seni liberal di universitas-universitas Amerika telah mengalami transformasi besar.

Dalam bukunya “Illiberal Education,” pemikir konservatif Dinesh D’Souza menggunakan buku “I, Rigoberta Menchu: An Indian Woman in Guatemala” untuk menjelaskan arah ideologis dari kursus Kebudayaan, Ide, Nilai yang baru di Universitas Stanford. Buku ini menggali pengalaman hidup seorang wanita muda Indian Amerika, bernama Menchu Rigoberta, dari Guatemala. Setelah kedua orangtuanya dibunuh dalam sebuah pembantaian, ia berada di jalur pemberontakan, di mana dia menjadi semakin radikal.

Rigoberta Menchu datang untuk mengidentifikasi diri dengan gerakan Indian Amerika di Amerika Selatan untuk memperjuangkan hak penentuan nasib mereka serta menentang budaya Latin Eropa. Ia pertama-tama menjadi seorang feminis, kemudian menjadi seorang sosialis, dan, pada akhirnya, menjadi seorang Marxis. Menjelang akhir bukunya, ia menceritakan bagaimana ia mulai berpartisipasi dalam majelis Front Populer di Paris, membahas topik-topik seperti remaja borjuis dan bom Molotov. Satu bab dari buku ini berjudul “Rigoberta Renounces Marriage and Motherhood” atau “Rigoberta Meninggalkan Pernikahan dan Masa Menjadi Seorang Ibu.” [43]

Dorongan yang benar secara politis untuk mengeluarkan klasik dari universitas-universitas Amerika telah menyebabkan berbagai hasil yang merusak, termasuk yang berikut:

1. Tulisan berkualitas rendah dengan konten dangkal yang berisi narasi revolusioner atau dapat lulus sebagai sastra korban menggantikan karya klasik dan kedalamannya yang abadi.

2. Membandingkan jenis-jenis sastra ini dengan sastra klasik tampaknya memberi mereka tempat di antara klasik dan sangat meningkatkan pengaruhnya terhadap pikiran mahasiswa. Menempatkan karya klasik pada level yang sama dengan karya rata-rata ini berarti meremehkan karya klasik dan membuat karya klasik menjadi tidak mutlak.

3. Tema panduan di balik klasik sekarang ditafsirkan menggunakan teori kritis, studi budaya, politik identitas, dan kebenaran politik. Para cendekiawan dengan antusias meneliti rasisme dan seksisme tersembunyi dalam drama Shakespeare, tren homoseksual di antara para tokoh, dan sebagainya, memutarbalikkan dan menghina karya-karya klasik.

4. Mahasiswa yang ditanamkan dengan sikap mental seperti ini menemukan karakter yang mulia, prestasi yang hebat, dan pelajaran moral yang digambarkan dalam klasik adalah sulit untuk dipercaya, dan sebaliknya mengembangkan naluri melihat moral klasik dalam pandangan yang negatif dan sinis.

Dalam pendidikan sastra tradisional, tema utama yang disampaikan dalam klasik kebanyakan mengenai cinta universal, keadilan, kesetiaan, keberanian, semangat pengorbanan diri, dan nilai moral lainnya. Pendidikan sejarah berkisar pada peristiwa besar menyangkut pendirian dan pengembangan bangsa dan nilai fundamentalnya.

Karena klasik sastra Barat hampir semuanya ditulis oleh pria kulit putih Eropa, kaum kiri mengangkat tema multikulturalisme dan feminisme untuk menegaskan bahwa orang yang membaca sastra adalah wanita, orang kulit berwarna, dan sebagainya. Seperti pengajaran sejarah, pendidikan modern lebih suka menggambarkan jalur sejarah suatu negara sebagai sepenuhnya gelap, penuh dengan perbudakan dan eksploitasi wanita dan kelompok minoritas lainnya. Tujuannya bukan lagi untuk mengingat warisan tradisional, tetapi untuk menanamkan perasaan bersalah terhadap wanita dan minoritas.

Rakyat hanya memiliki waktu terbatas yang dapat mereka gunakan secara wajar untuk membaca. Ketika pendidikan sengaja dirancang untuk menekankan pekerjaan yang benar secara politis, waktu yang dihabiskan orang untuk membaca klasik adalah berkurang. Hasilnya adalah bahwa generasi mahasiswa terlepas dari asal-usul kebudayaannya, terutama sistem nilai yang diturunkan melalui kebudayaan dan berasal dari kepercayaan agama. Setiap kebudayaan dan setiap ras berasal dari yang Ilahi. Hal ini dapat beragam, tetapi tidak boleh dicampur. Pencampuran suatu kebudayaan berarti penghancuran hubungan antara ras yang dimiliki kebudayaan tersebut dengan dewa-dewa yang menciptakannya.

G. Memonopoli Buku Teks dan Seni Liberal

Ahli ekonomi Paul Samuelson menggambarkan kekuatan buku teks: “Saya tidak peduli siapa yang menulis undang-undang suatu negara – atau membuat perjanjian yang lebih maju – jika saya dapat menulis buku pelajaran ekonomi.” [44] Buku teks, yang memiliki sirkulasi besar dan membawa otoritas suara, dapat memberikan pengaruh yang luar biasa pada mahasiswa. Siapa pun yang menulis buku teks memiliki kunci untuk membentuk pikiran yang mudah dipengaruhi orang muda.

Setelah para sarjana dan profesor radikal menerima jabatan dan reputasi, mereka memperoleh kendali atas kantor dan komite publikasi universitas. Mereka menggunakan kekuatannya untuk memuat bahan ajar dengan ideologinya dan memaksakan ideologinya kepada mahasiswanya.
Dalam beberapa bidang akademik, buku pelajaran dan bacaan wajib yang dipilih oleh para profesor mengandung lebih banyak karya Marxisme daripada aliran pemikiran lainnya. “Sejarah Rakyat Amerika Serikat” yang disebutkan sebelumnya oleh Howard Zinn adalah bacaan wajib untuk banyak jurusan sejarah, ekonomi, sastra, dan studi wanita.

Begitu kaum Kiri menikmati kekuatan dalam jumlah, mereka dapat menggunakan mekanisme penelaah sejawat di komunitas akademik Amerika Serikat untuk menekan orang-orang yang berbeda pendapat. Sebuah makalah yang menantang ideologi sayap Kiri pasti akan ditolak oleh kaum Kiri dan rekan-rekannya.

Banyak jurnal kemanusiaan dipandu oleh teori kritis dan diisi dengan jargon teknis yang tidak jelas, sementara tema utamanya adalah menolak yang Ilahi, menolak kebudayaan tradisional, dan mendorong revolusi untuk membalikkan tatanan sosial, politik, dan ekonomi saat ini. Ada satu kategori beasiswa yang bertujuan untuk membuktikan bahwa semua moral dan standar tradisional, bahkan termasuk proses ilmiah, adalah konstruksi sosial yang tujuannya adalah untuk melindungi kekuatan kelas penguasa dengan memaksakan norma-norma mereka pada seluruh masyarakat.

Pada tahun 1996, profesor fisika Universitas New York Alan Sokal menerbitkan sebuah makalah dalam Teks Sosial, jurnal studi kebudayaan Universitas Duke, berjudul “Melanggar Batas: Menuju Hermeneutika Transformatif Gravitasi Kuantum.” Mengutip 109 catatan kaki dan merujuk 219 sumber, makalah tersebut berpendapat bahwa “gravitasi kuantum” dibuat oleh masyarakat dan bahasa. [45]

Pada hari yang sama ketika makalah itu diterbitkan, Alan Sokal menerbitkan deklarasi di majalah lain, Lingua Franca, yang menyatakan bahwa makalahnya tersebut adalah sebuah lelucon. Ia mengatakan bahwa ia telah mengirim makalah ke Sosial Teks sebagai percobaan fisikawan mengenai studi kebudayaan. [46]

Selama wawancara dengan program radio “Semua Hal Dipertimbangkan,” Alan Sokal mengatakan ia menemukan inspirasi dalam buku tahun 1994 “Takhayul Tinggi.” Penulis buku tersebut mengatakan bahwa beberapa publikasi dalam kemanusiaan akan menerbitkan apa saja asalkan mengandung “pemikiran Kiri yang tepat” dan mengutip para pemikir Kiri terkenal. Alan Sokal menguji hal ini dengan mengisi makalahnya dengan ideologi Kiri, kutipan tidak berguna, dan omong kosong. [47]

Alan Sokal kemudian menulis: “Hasil percobaan kecil saya menunjukkan, paling tidak, bahwa beberapa sektor modis dari akademisi Amerika telah menjadi malas secara intelektual. Para editor Teks Sosial menyukai artikel saya karena mereka menyukai kesimpulannya: bahwa ‘isi dan metodologi sains pasca-modern memberikan dukungan intelektual yang kuat untuk proyek politik progresif.’ Mereka tampaknya merasa tidak perlu menganalisis kualitas bukti, daya meyakinkan masyarakat, atau bahkan relevansi argumen dengan kesimpulan yang mengakui.”[48] Pendekatan sindiran Alan Sokal menyoroti kelangkaan prinsip akademik atau kredibilitas di bidang teori kritis dan studi kebudayaan.

Dengan melihat judul jurnal pada pertemuan tahunan asosiasi akademik besar-besaran di Amerika Serikat, beberapa dekade terakhir masuknya komunis ke dalam ilmu sosial adalah jelas terlihat. Asosiasi Bahasa Modern adalah yang terbesar dari masyarakat semacam itu, di mana 25 ribu anggota yang sebagian besar terdiri dari para profesor dan cendekiawan di bidang penelitian dan pendidikan bahasa modern. Lebih dari 10 ribu bergabung dengan konferensi tahunan asosiasi.

Sebagian besar makalah yang tercantum di situs web asosiasi memanfaatkan kerangka kerja ideologis Marxisme, sekolah Frankfurt, dekonstruksi, pasca-strukturalisme, dan teori menyimpang lainnya. Makalah lainnya menggunakan feminisme, penelitian homoseksual, politik identitas, dan tren radikal lainnya. Organisasi serupa, termasuk Asosiasi Sosiologikal Amerika Serikat, mencerminkan banyak hal yang sama, meskipun dengan berbagai tingkatan.

Universitas-universitas di Amerika memiliki tradisi pendidikan seni liberal, dan beberapa kursus kemanusiaan yang diperlukan terlepas dari jurusan mahasiswa. Saat ini, kursus yang diperlukan sebagian besar diajarkan oleh para profesor di bidang sastra, sejarah, filsafat, dan ilmu sosial.

Sarjana Amerika Thomas Sowell telah mencatat bahwa, seperti yang tersirat dalam istilah ini, mata kuliah wajib membuat mahasiswa tidak memiliki pilihan terhadap para profesor yang lebih sering menggunakan ruang kelas mereka sebagai kesempatan untuk menyebarkan ideologi Kiri mereka, bahkan menggunakan nilai sebagai insentif untuk membuat mahasiswa menerima ideologi Kiri mereka.

Mahasiswa yang berani menentang pandangan profesor dihukum dengan nilai lebih rendah. [49] Pandangan Marxis dari para profesor kemanusiaan dan ilmu sosial ini tidak hanya merusak mahasiswa di bidang akademik mereka, tetapi juga mempengaruhi hampir seluruh badan mahasiswa.

Mahasiswa ingin dihormati sebagai orang dewasa, tetapi pengetahuan dan pengalaman praktisnya terbatas. Dalam lingkungan universitas yang relatif tertutup, beberapa mahasiswa curiga bahwa profesor mereka yang terhormat akan mengambil keuntungan dari kepolosan dan kepercayaan mereka untuk menanamkan pada mereka serangkaian ideologi dan nilai yang benar-benar salah dan merusak.
Orangtua membayar mahal uang kuliah supaya anak-anaknya menguasai pengetahuan dan keterampilan yang akan digunakan anak-anaknya sebagai dasar untuk menemukan tempat mereka di masyarakat. Bagaimana orangtua dapat membayangkan bahwa anak-anaknya sebenarnya dirampok selama tahun-tahun berharga mereka, dan diubah menjadi pengikut ideologi radikal yang akan memengaruhi mereka seumur hidup?

Generasi demi generasi muda telah memasuki sistem pendidikan ini yang telah banyak disusupi oleh hantu komunisme. Mahasiswa mempelajari buku-buku teks yang ditulis oleh kaum Kiri dan menginternalisasi teori-teori mereka yang menyimpang, sehingga mempercepat kemerosotan kebudayaan, moral, dan kemanusiaan.

H. Universitas ‘Pendidikan-Ulang’: Cuci Otak dan Kerusakan Moral

Dengan tumbuhnya ideologi Marxis di seluruh universitas, kebijakan kampus sejak tahun 1980-an semakin terfokus untuk mencegah pernyataan “yang menghina”, terutama ketika menyinggung masalah wanita atau etnis minoritas.

Menurut cendekiawan Amerika Donald Alexander Downs, dari tahun 1987 hingga 1992, sekitar tiga ratus universitas di Amerika Serikat menerapkan kebijakan untuk pengaturan bicara, menciptakan sistem pelarangan paralegal yang melarang penggunaan bahasa yang dianggap menghina kelompok dan topik sensitif. [50]

Mereka yang mendukung larangan ini mungkin bermaksud baik, tetapi tindakan mereka mengarah pada hasil yang menggelikan, karena semakin banyak orang mengklaim hak untuk tidak tersinggung karena alasan apa pun. Sebenarnya, tidak ada hak seperti itu menurut hukum, tetapi keunggulan kebudayaan Marxisme telah memungkinkan siapa pun untuk mengklaim hubungan dengan kelompok tertindas, dengan alasan seperti kebudayaan, keturunan, warna kulit, jenis kelamin, orientasi seksual, dan sebagainya. Staf administrasi di universitas secara konsisten memberikan perlakuan istimewa kepada mereka yang mengklaim menjadi korban.

Menurut logika Marxis, yang tertindas secara moral adalah benar dalam semua keadaan, dan banyak orang tidak berani mempertanyakan keaslian klaim mereka. Logika yang mutahil ini didasarkan pada pemelintiran kriteria untuk menilai apa yang bermoral. Ketika identitas dan sentimen kelompok meningkat (dalam Leninisme dan Stalinisme, ini disebut tingkat kesadaran kelas yang tinggi), rakyat secara tidak sadar meninggalkan standar tradisional mengenai kebaikan dan kejahatan, menggantikannya dengan pemikiran kelompok. Ini paling nyata dimanifestasikan di negara komunis totaliter, di mana kelas sosial rendah yang “tertindas” diberi pembenaran karena membunuh “penindas” yaitu pemilik tanah dan kapitalis.

Kecenderungan untuk membuat klaim sewenang-wenang atas bahasa yang menghina atau diskriminatif dimulai oleh para sarjana kebudayaan Marxis yang mengarang serangkaian konsep baru untuk memperluas definisi diskriminasi. Di antara ini adalah ide seperti “agresi-mikro,” “memicu peringatan,” “ruang yang aman,” dan seterusnya. Administrator universitas memperkenalkan kebijakan terkait dan pendidikan wajib, seperti pelatihan sensitivitas dan pelatihan keragaman.

Mikro-agresi mengacu pada pelanggaran non-verbal tersirat yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, dengan dugaan pelaku mungkin sama sekali tidak menyadari implikasinya. Jenis pelanggaran atau ketidaktahuan yang tidak disengaja ini diberi label “tidak sensitif” (Leninisme atau Stalinisme akan menganggap ini sebagai kesadaran sosial yang rendah). Pelatihan kepekaan telah menjadi aspek utama dalam menyesuaikan mahasiswa baru yang masuk perguruan tinggi. Mahasiswa diberitahu apa yang tidak boleh diucapkan dan pakaian mana yang tidak boleh dikenakan, jangan sampai mereka melakukan mikro-agresi yang melanggar peraturan universitas.

Di beberapa kampus, frasa “selamat datang di Amerika” tidak dapat dikatakan karena itu mungkin merupakan diskriminasi dan dianggap sebagai agresi-mikro: Hal ini dapat menyinggung kelompok etnis yang secara historis menderita perlakuan tidak adil di Amerika Serikat, seperti penduduk asli Amerika, Afrika, Jepang, dan Tiongkok, mengingatkan mereka mengenai sejarah memalukan yang diderita oleh nenek moyang mereka.

Berikut ini adalah di antara daftar panjang pernyataan yang dianggap sebagai agresi-mikro oleh Universitas California: “Amerika Serikat adalah wadah peleburan” (diskriminasi rasial), “Amerika Serikat adalah negeri yang penuh peluang,” dan “pria dan wanita memiliki peluang keberhasilan yang sama” (menyangkal ketidaksetaraan gender atau etnis). [51] Agresi-mikro adalah alasan untuk disiplin administrasi, karena agresi-mikro mencegah pembentukan “ruang yang aman.”

Sebuah agresi-mikro tipikal terjadi di kampus Universitas Indiana-Universitas Purdue di Indianapolis. Seorang mahasiswa kulit putih, yang juga bekerja sebagai petugas kebersihan, diberitahu oleh Kantor Tindakan Afirmatif kampus bahwa ia telah melanggar Peraturan Pelecehan Rasial karena ia telah membaca buku berjudul “Notre Dame vs Klan: Bagaimana Orang Irlandia Bertempur Mengalahkan Ku Klux Klan” di ruang istirahat kampus. Dua rekan mahasiswa tersebut yang juga adalah karyawan merasa tersinggung karena sampul buku tersebut menampilkan foto pertemuan Ku Klux Klan, dan mengajukan keluhan bahwa pilihan sang mahasiswa untuk membaca buku tersebut di ruang istirahat merupakan pelecehan ras. Kemudian, setelah tekanan dari kelompok-kelompok seperti Yayasan Hak Individu dalam Pendidikan, Universitas Indiana-Universitas Purdue di Indianapolis mengakui bahwa mahasiswa tersebut tidak bersalah. [52]

Pelatihan sensitivitas dan pelatihan keanekaragaman pada dasarnya sebanding dengan program pendidikan-ulang yang berlangsung di bekas Uni Soviet dan di Tiongkok. Tujuan pendidikan-ulang adalah untuk memperkuat konsep kelas: “Kelas borjuis” dan “kelas tuan tanah” (mirip dengan pria kulit putih) harus mengenali dosa asal mereka sebagai anggota kelas yang menindas, dan kelompok yang seharusnya tertindas harus memiliki pemahaman “yang benar” mengenai kebudayaan “borjuis”. Tekanan diberikan pada mereka untuk membersihkan “penindasan yang terinternalisasi” yang mereka alami sehingga mereka dapat mengenali kondisi penindasan mereka. Ini mirip dengan bagaimana pendidikan feminis mengajarkan wanita untuk melihat feminitas tradisional sebagai konstruksi patriarki.

Menurut analisis kelas Marxis, pribadi adalah politis: Dianggap salah untuk memahami masalah dari sudut pandang penindas yang ditunjuk. Oleh karena itu, untuk mereformasi pandangan rakyat mengenai dunia dan memastikan rakyat sepenuhnya mengikuti program Marxis, setiap kata dan tindakan yang menyangkal penindasan kelas atau perjuangan kelas akan dihukum berat. Pelatihan sensitivitas diadakan untuk sepenuhnya mengungkapkan “ketidakadilan sosial,” untuk mengubah orientasi sudut pandang kelompok “yang tertindas” (wanita, etnis minoritas, homoseksual, dan sebagainya).

Sebagai contoh, pada tahun 2013, Universitas Northwestern mengharuskan semua mahasiswa untuk menyelesaikan kursus mengenai keanekaragaman sebelum lulus. Menurut instruksi universitas tersebut, setelah menyelesaikan kursus, mahasiswa akan dapat “memperluas kemampuannya untuk berpikir kritis” (belajar untuk mengklasifikasikan kelas), “mengenali posisinya sendiri dalam sistem yang tidak adil” (mengenali komponen kelas mereka), dan memikirkan kembali “kekuatan dan hak istimewa mereka” (untuk menempatkan diri pada posisi kelas “tertindas”). [53]

Contoh khas lainnya adalah program pendidikan-ulang ideologis yang dimulai pada tahun 2007 di Universitas Delaware. Disebut sebagai “pengobatan” untuk sikap dan kepercayaan yang salah, program ini diwajibkan untuk 7.000 mahasiswa. Tujuannya adalah untuk membuat mahasiswa menerima pandangan yang mengatur isu-isu seperti politik, ras, gender, dan lingkungan.

Asisten residen di universitas tersebut diminta untuk membahas kuesioner satu per satu dengan para mahasiswa, dan memberikan mahasiswa kuesioner mengenai ras dan jenis kelamin apa yang akan mereka kencani, dengan tujuan membuat mahasiswa menjadi lebih terbuka untuk berkencan di luar kelompoknya. Ketika seorang asisten residen bertanya kepada seorang mahasiswi kapan ia menemukan identitas gendernya (sebagai lawan dari seks biologis), mahasiswi tersebut mengatakan bahwa hal itu bukanlah urusan asisten residen. Asisten residen tersebut melaporkan mahasiswi tersebut ke administrasi universitas. [54]

Indoktrinasi politik massa ini tidak hanya mencampurkan standar untuk membedakan nilai-nilai moral, tetapi juga sangat memperkuat egoisme dan individualisme.
Apa yang dipelajari oleh para mahasiswa muda adalah bahwa mereka dapat menggunakan perasaan kelompok yang sangat dipolitisasi (politik identitas) untuk mengejar keinginan individu mereka sendiri. Hanya dengan mengklaim diri sebagai anggota kelompok yang diduga menderita penindasan, seseorang dapat menuduh dan mengancam orang lain atau menggunakan identitas ini untuk keuntungan pribadi. Ketika pendapat orang lain tidak sejalan dengan pendapat seseorang, orang lain tersebut dapat dianggap sebagai pelanggaran dan dilaporkan ke universitas, yang akan membatasi hak orang tersebut untuk berbicara.

Jika seseorang tidak menyukai ide-ide yang diungkapkan di surat kabar mahasiswa konservatif, misalnya, beberapa orang bahkan mungkin merasa pantas untuk membakar kertas surat kabar tersebut.

Apakah seseorang tersinggung atau tidak adalah masalah perasaan subyektif, tetapi hari ini, bahkan perasaan dianggap sebagai bukti objektif. Ini telah sampai pada titik di mana profesor universitas harus terus bertele-tele.

Baru-baru ini, mahasiswa di banyak universitas mulai menuntut bahwa sebelum mengajarkan konten tertentu, profesor harus terlebih dahulu mengeluarkan “pemicu peringatan,” karena beberapa topik diskusi atau bahan bacaan dapat menyebabkan reaksi emosional negatif. Dalam beberapa tahun terakhir, bahkan karya-karya seperti Shakespeare “The Merchant of Venice” dan

penyair Romawi kuno Ovid “Metamorphoses” berakhir pada daftar sastra yang memerlukan peringatan pemicu. Beberapa universitas bahkan menganjurkan agar karya yang dianggap memicu emosi sebagian mahasiswa sedapat mungkin dihindari. [55]

Banyak mahasiswa yang tumbuh dalam suasana seperti ini dengan mudah menyakiti ego dan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari perasaan tersinggung. Identitas kelompok (yaitu, versi lain dari “kesadaran kelas” yang diberitakan oleh komunisme) yang dipromosikan di kampus-kampus membuat para mahasiswa tidak mengetahui pemikiran independen dan tanggung jawab pribadi. Seperti mahasiswa radikal tahun 1960-an yang sekarang menjadi profesor mereka, para mahasiswa ini menentang tradisi.
Mereka menikmati seks bebas yang membingungkan, kecanduan alkohol, dan penyalahgunaan narkoba. Pidato mereka penuh dengan kata-kata kasar. Namun di bawah penghinaan mereka terhadap kebaktian duniawi, terdapat hati dan jiwa yang rapuh, tidak mampu menanggung pukulan atau kemunduran sedikit pun, apalagi mengambil tanggung jawab nyata.

Pendidikan tradisional mendorong pengendalian diri, berpikir mandiri, rasa tanggung jawab, dan pemahaman orang lain. Hantu komunisme ingin agar generasi berikutnya benar-benar meninggalkan sikap moralnya dan menjadi antek-antek hantu komunisme supaya hantu komunisme menguasai dunia.

Lanjut Baca Bab 12 Bagian II.

Daftar Pustaka :

[1] [1] Robby Soave, “Elite Campuses Offer Students Coloring Books, Puppies to Get Over Trump,” Daily Beast,

https://www.thedailybeast.com/elite-campuses-offer-students-coloring-books-puppies-to-get-over-trump [2].

[2] [3] Elizabeth Redden, “Foreign Students and Graduate STEM Enrollment,” Inside Higher Ed, October 11, 2017, https://www.insidehighered.com/quicktakes/2017/10/11/foreign-students-and-graduate-stem-enrollment [4].

[3] [5] G. Edward Griffin, Deception Was My Job: A Conversation with Yuri Bezmenov, Former Propagandist for the KGB, (American Media, 1984).

[4] [6] Scott Jaschik, “Professors and Politics: What the Research Says,” Inside Higher Ed, February 27, 2017, https://www.insidehighered.com/news/2017/02/27/research-confirms-professors-lean-left-questions-assumptions-about-what-means [7].

[5] [8] Ibid.

[6] [9] Ibid.

[7] [10] Ibid.

[8] [11] “The Close-Minded Campus? The Stifling of Ideas in American Universities,” American Enterprise Institute website, June 8, 2016, https://www.aei.org/events/the-close-minded-campus-the-stifling-of-ideas-in-american-universities/ [12].

[9] [13] Fred Schwartz and David Noebel, You Can Still Trust the Communists… to Be Communists (Socialists and Progressives too) (Manitou Springs, Colo.: Christian Anti-Communism Crusade, 2010), 2–3.

[10] [14] Zygmund Dobbs, “American Fabianism,” Keynes at Harvard: Economic Deception as a Political Credo. (Veritas Foundation, 1960), Chapter III.

[11] [15] Robin S. Eubanks, Credentialed to Destroy: How and Why Education Became a Weapon (2013), 26.

[12] [16] Walter Williams, More Liberty Means Less Government: Our Founders Knew This Well (Stanford: Hoover Institution Press, 1999), 126.

[13] [17] David Macey, “Organic Intellectual,” The Penguin Dictionary of Critical Theory (London: Penguin Books, 2000), 282.

[14] [18] Karl Marx, “Theses On Feuerbach” (Marx/Engels Selected Works, Volume One), 13–15.

[15] [19] Bruce Bawer, The Victims’ Revolution: The Rise of Identity Studies and the Closing of the Liberal Mind (New York: Broadside Books, 2012), Chapter 1.

[16] [20] Ibid.

[17] [21] Franz Fanon, The Wretched of the Earth, trans. Constance Farrington (New York: Grove Press, 1963), 92.

[18] [22] Jean Paul Sartre, “Preface,” The Wretched of the Earth, by Franz Fanon, 22.

[19] [23] Roger Kimball, Tenured Radicals: How Politics Has Corrupted Our Higher Education, revised edition (Chicago: Ivan R. Dee, 1998), 25–29.

[20] [24] Jonathan Culler, Literary Theory: A Very Short Introduction (Oxford: Oxford University Press, 1997), 4.

[21] [25] Fredrick Jameson, The Political Unconscious: Narrative as a Socially Symbolic Act (Ithaca, NY: Cornell University Press, 1981), Chapter 1.

[22] [26] Roger Kimball, “An Update, 1998,” Tenured Radicals: How Politics Has Corrupted Our Higher Education, 3rd Edition (Chicago: Ivan R. Dee, 2008), xviii.

[23] [27] Karl Marx, “The German Ideology” (Progress Publishers, 1968).

[24] [28] “Most Cited Authors of Books in the Humanities, 2007,” Times Higher Education, https://www.uky.edu/~eushe2/Bandura/BanduraTopHumanities.pdf [29].

[25] [30] Joshua Phillip, “Jordan Peterson Exposes the Postmodernist Agenda,” The Epoch Times, June 21, 2017, https://www.theepochtimes.com/jordan-peterson-explains-how-communism-came-under-the-guise-of-identity-politics_2259668.html [31].

[26] [32] Roger Kimball, “The Perversion of Foucault,” The New Criterion, March 1993, https://www.newcriterion.com/issues/1993/3/the-perversions-of-m-foucault [33].

[27] [34] David Horowitz and Jacob Laksin, One Party Classroom (New York: Crown Forum, 2009), 51.

[28] [35] Ibid., 51–52.

[29] [36] Bawer, The Victims’ Revolution: The Rise of Identity Studies and the Closing of the Liberal Mind, Chapter 3.

[30] [37] Horowitz and Laksin, One Party Classroom, 3.

[31] [38] David Horowitz, The Professors: The 101 Most Dangerous Academics in America (Washington D.C.: Regnery Publishing, Inc., 2013), 84–5.

[32] [39] Horowitz and Laksin, One Party Classroom, 212.

[33] [40] David Horowitz, Indoctrinate U.: The Left’s War against Academic Freedom (New York: Encounter Books, 2009), Chapter 4.

[34] [41] Ibid.

[35] [42] Horowitz and Laksin, One Party Classroom, 1–2

[36] [43] Quoted from http://www.azquotes.com/author/691-Bill_Ayers [44].

[37] [45] Horowitz, The Professors: The 101 Most Dangerous Academics in America, 102.

[38] [46] “Who Won the Civil War? Tough Question,” National Public Radio, November 18, 2014, https://www.npr.org/sections/theprotojournalist/2014/11/18/364675234/who-won-the-civil-war-tough-question [47].

[39] [48] “Summary of Our Fading Heritage: Americans Fail a Basic Test on Their History and Institutions,” Intercollegiate Studies Institute Website, https://www.americancivicliteracy.org/2008/summary_summary.html [49].

[40] [50] “Study: Americans Don’t Know Much About History,” July 17, 2009, https://www.nbclosangeles.com/news/local/Study-Americans-Dont-Know-About-Much-About-History.html [51].

[41] [52] Howard Zinn, A People’s History of the United States (New York: Harper Collins, 2003).

[42] [53] Horowitz, The Professors: The 101 Most Dangerous Academics in America, 74.

[43] [54] Dinesh D’ Souza, Illiberal Education: The Politics of Race and Sex on Campus (New York: The Free Press, 1991), 71.

[44] [55] Paul Samuelson, “Foreword,” in The Principles of Economics Course, eds. Phillips Saunders and William B. Walstad (New York: McGraw-Hill College, 1990).

[45] [56] Alan D. Sokal, “Transgressing the Boundaries: Toward a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity,” Social Text No. 46/47 (Spring–Summer, 1996), 217–252.

[46] [57] Alan D. Sokal, “A Physicist Experiments with Cultural Studies,” Lingua Franca (June 5, 1996). Available at http://www.physics.nyu.edu/faculty/sokal/lingua_franca_v4/lingua_franca_v4.html [58].

[47] [59] Alan D. Sokal, “Parody,” “All Things Considered,” National Public Radio, May 15, 1996, https://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=1043441 [60].

[48] [61] Alan D. Sokal, “Revelation: A Physicist Experiments with Cultural Studies,” in Sokal Hoax: The Sham That Shook the Academy, ed. The Editors of Lingua Franca (Lincoln, NE: University of Nebraska Press, 2000), 52.

[49] [62] Thomas Sowell, Inside American Education: The Decline, The Deception, The Dogma (New York: The Free Press, 1993), 212–213.

[50] Donald Alexander Downs, Restoring Free Speech and Liberty on Campus (Oakland, CA: Independent Institute, 2004), 51.

[51] Eugene Volokh, “UC Teaching Faculty Members Not to Criticize Race-Based Affirmative Action, Call America ‘Melting Pot,’ and More,” The Washington Post, June 16, 2015, https://www.washingtonpost.com/news/volokh-conspiracy/wp/2015/06/16/uc-teaching-faculty-members-not-to-criticize-race-based-affirmative-action-call-america-melting-pot-and-more/?utm_term=.c9a452fdb00f [63].

[52] “Victory at IUPUI: Student-Employee Found Guilty of Racial Harassment for Reading a Book Now Cleared of All Charges,” Foundation for Individual Rights in Education, https://www.thefire.org/victory-at-iupui-student-employee-found-guilty-of-racial-harassment-for-reading-a-book-now-cleared-of-all-charges/ [64].

[53] “Colleges Become Re-Education Camps in Age of Diversity,” Investor’s Business Daily,  https://www.investors.com/politics/editorials/students-indoctrinated-in-leftist-politics/ [65].

[54] Greg Lukianoff, “University of Delaware: Students Required to Undergo Ideological Reeducation,” Foundation for Individual Rights in Education, https://www.thefire.org/cases/university-of-delaware-students-required-to-undergo-ideological-reeducation/ [66].

[55] Alison Flood, “US Students Request ‘Trigger Warnings’ on Literature,” The Guardian, May 19, 2014, https://www.theguardian.com/books/2014/may/19/us-students-request-trigger-warnings-in-literature [67].

BACA SEBELUMNYA 

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Pengantar [68]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita: Pendahuluan [69]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab I – Strategi Iblis untuk Menghancurkan Kemanusiaan [70]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab II – Awal Komunisme Eropa [71]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab III – Pembunuhan Massal di Timur [72]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab IV – Mengekspor Revolusi [73]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab V – Infiltrasi ke Barat (Bagian I) [74]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab V – Infiltrasi ke Barat (Bagian II) [75]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VI – Pemberontakan Terhadap Tuhan [76]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VII – Penghancuran Keluarga (Bagian I) [77]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VII – Penghancuran Keluarga (Bagian II) [78]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VIII – Bagaimana Komunisme Menabur Kekacauan dalam Politik (I) [79]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VIII – Bagaimana Komunisme Menabur Kekacauan dalam Politik (II) [80]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab IX – Perangkap Ekonomi Komunis (Bagian I) [81]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab IX – Perangkap Ekonomi Komunis (Bagian II) [82]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab X – Menggunakan Hukum untuk Kejahatan [83]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab XI – Menodai Seni [84]